Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Macam-Macam Syirik dalam Ibadah (Bag. 16): Menyembelih yang Bernilai Syirik

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
11 Agustus 2019
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Menyembelih yang bernilai syirik
  • Contoh menyembelih binatang yang bernilai syirik
  • Jangan berputus asa dari rahmat Allah

Baca pembahasan sebelumnya Macam-Macam Syirik dalam Ibadah (bag. 15): Menyembelih yang Bernilai Tauhid

Menyembelih yang bernilai syirik

Menyembelih yang bernilai syirik memiliki ciri khas inti adanya unsur penyembahan atau penghambaan diri seseorang kepada selain Allah.

Berikut ini beberapa ciri khas yang menggambarkan kesyirikan :

– Pada menyembelih yang syirik, bukan daging atau bagian tubuh binatang lainnya yang dimaksud, namun yang menjadi tujuan adalah ritual penumpahan darah binatang dalam rangka mengagungkan dan menyembah selain Allah sebagaimana mengagungkan dan menyembah Allah.

Sehingga selepas ritual penumpahan darah (penyembelihan), binatang yang telah disembelih itu dibuang ke laut, atau dibiarkan begitu saja sehingga diambil oleh siapa saja yang mau, atau dimakan binatang buas, karena dagingnya bukanlah menjadi tujuan.

– dalam rangka mengagungkan-selain Nya sebagaimana mengagungkan Allah Ta’ala,

– merendahkan diri kepada selain-Nya sebagaimana merendahkan diri kepada Allah ,

– mendekatkan diri dan menghamba (taqarrub) kepada selain-Nya,

– ngalap berkah kepada selain-Nya dalam aktifitas menyembelih, sebagaimana memohon keberkahan kepada Allah,

– memohon pertolongan kepada selain-Nya dalam aktifitas menyembelih tersebut sebagaimana ibadah isti’anah kepada Allah,

–menyebut selain nama-Nya ketika akan menyembelih yang mengandung isti’anah dan tabarruk kepada selain-Nya,

– hati bergantung kepada selain-Nya sebagaimana bergantungnya hati seorang hamba kepada Allah.

Baca Juga: Menjadikan Kyai Sebagai Sesembahan Selain Allah

Menyembelih sesembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah seperti inilah yang diharamkan, bahkan ini termasuk syirik akbar yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, wal ‘iyadzdu billah!

Hal itu dikarenakan seseorang yang mengagungkan dan mendekatkan diri kepada sesuatu dengan cara menumpahkan darah binatang (menyembelih) adalah sebuah bentuk pengagungan dan penghambaan diri yang bernilai ibadah, dan semua ibadah tidak boleh dipersembahkan untuk selain Allah!

Hanya Allah-lah yang mampu menghidupkan, mematikan dan menciptakan binatang , serta hanya Dia-lah yang mampu mengalirkan darah di dalam tubuh binatang, , maka hanya Dia-lah pula yang berhak mendapatkan pengagungan dan penghambaan diri berupa penyembelihan binatang dengan cara menumpahkan darah binatang tersebut!

Baca Juga: Menggapai Ketentraman Hakiki Dengan Tauhid

Contoh menyembelih binatang yang bernilai syirik

Berikut ini beberapa contoh menyembelih binatang yang bernilai syirik :

1. Menyembelih untuk mengagungkan raja, pejabat atau ketua suku saat menyambut kedatangannya. Mereka dihormati dan diagungkan dengan upacara ritual penumpahan darah binatang (menyembelih) sebagaimana mengagungkan Allah Ta’ala. Daging binatang tersebut bukanlah menjadi tujuan, namun yang menjadi tujuan adalah pengagungan manusia dengan ritual penumpahan darah binatang.

2. Seseorang menyembelih binatang yang dipersembahkan untuk nabi, atau wali yang telah meninggal dunia, kuburan, malaikat, dewa, nyai roro kidul atau jin yang diyakini menguasai daerah tertentu, dalam rangka agar nabi, wali, malaikat atau jin itu menyelamatkannya dari segala malapetaka.

Baik hal itu dilakukan ketika hendak membangun bangunan, jembatan, atau ketika tertimpa musibah besar paceklik dan kekeringan yang berkepanjangan, saat sakit keras, atau keadaan yang semisalnya.

3. Menyembelih binatang dengan menyebut nama selain Allah, dan dipersembahkan untuk selain Allah.

Seperti: seseorang menyembelih dengan menyebut nama wali fulan yang sudah meninggal, dan diniatkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada wali tersebut.

Atau dengan menyebut nama jin penguasa rumah ini, dan diniatkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada jin tersebut.

Maka perbuatan ini termasuk syirik dalam Rububiyyah dan dalam Isti’anah (memohon pertolongan) sekaligus termasuk syirik dalam Uluhiyyah.

4. Menyembelih binatang dengan menyebut nama selain Allah, meskipun dipersembahkan untuk Allah saja, atau sebaliknya: Menyembelih binatang meskipun menyebut nama Allah, namun dipersembahkan untuk selain Allah.

Maka kedua contoh kasus ini sama-sama syiriknya, karena pada kasus pertama: syirik dalam Rububiyyah dan dalam Isti’anah, sedangkan pada kasus kedua : syirik dalam Uluhiyyah (ibadah).

Baca Juga: Terorisme dan Pengeboman

Jangan berputus asa dari rahmat Allah

Apabila seseorang terlanjur melakukan kesyirikan, maka rahmat Allah amatlah luas, Allah mengampuni hamba-Nya yang memohon ampunan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya, Allah berfirman :

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ

(38) Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”. [QS. Al-Anfaal: 38].

Baca Juga:

  • Kami Tidak Tinggal Diam Wahai Palestina!!!
  • Bulan Suro Dalam Persepsi Islam dan Masyarakat (Bag.2)

Wallahu a’lam.

Penulis: Said Abu Ukasyah

Artikel: Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Hakikat Tauhid adalah Kalimat Laa ilaaha illallah (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah