Pelajaran dari Palestina

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Amma Ba’du

Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.

Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].

Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.

Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5]: 64)

Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)

Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)

Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:

Pelajaran Pertama

Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul ‘Surat-surat kepada gerakan HAMAS’ http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]

Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)

Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)

Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin (pengikut Isa).

Pelajaran Kedua

Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ [http://www.islamancient.com/books,item,50.html].

Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.

Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)

Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin [http://www.islamancient.com/books,item,70.html].

Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].

Pelajaran Ketiga

Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’ [http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]

Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].

Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.

Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.

Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdul Aziz bin Rays ar-Rays

Pengawas situs al-Islam al-‘Atieq

http://www.islamancient.com

Permulaan tahun 1430 H

diterjemahkan dari:

Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah

http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html
***

Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Ari Wahyudi, Ssi.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Ma'had Umar bin Khathab Yogyakarta, alumni S1 Biologi UGM, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil", pembina Ma'had Al Mubarok Yogyakarta

View all posts by Ari Wahyudi, Ssi. »
  • ya2n

    Penyerangan roket oleh Hamas terhadap yahudi Laknatulloh di Palestina selama ini tidak menimbulkan kerugian yang berarti bagi mereka (yahudi),namun sebaliknya menjadi petaka bagi kaum muslimin !!! lihatlah bagaimana bangsa yahudi terlaknat justru semakin menjadi-jadi dalam serangannya yang sangat biadab yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari kaum Muslimin!!!. Allahumma, ya Allah berikanlah pertolonganmu terhadap saudara-saudara kami kaum Muslimin di Palestina dan dinegeri lainnya yang kini sedang terzholimi, dan segerakanlah kebinasaan bagi musuh-musuh Islam, bangsa yahudi dan sekutu-sekutunya. Amiiin

  • Abdurrohman

    Lalu apa yg hrs kita lakukan jika kita adl warga palestina?

  • Muhammad Rafliansyah

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Saya sebagai Pribadi sangat setuju apa yang dikatakan Oleh saudara kita Abdul Aziz bin Rays ar-Rays bahwa seharusnya dalam melakukan tindakan seorang Muslim harus melihat Diri dan kekuatannya sehingga bisa memutuskan untuk kemaslahatan bersama Umat Muslim tidak untuk kepentingan sendiri ataupun organisasi sebagaimana yang kita lihat dalam kejadian Palestina, saya sangat sedih melihat wanita dan Anak- anak menjadi korban dari kekejian bangsa yahudi laknat.
    Semoga Allah Swt memberikan kekuatan dan Ridho bagi bangsa Palestina untuk dapat bertahan dan tempatkanlah para Wanita, Anak- Anak dan Pria yang menjadi Korban kebiadaban yahudi di sisi Allah Swt.
    Dan Hancur dan binasakanlah bangsa yahudi dan sekutunya dari bumi ini

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  • abu_urwah

    Sampai detik ini yang nampak lebih mendekati kebenaran bagi saya adalah fatwa imam Al Albani -rahimahullah- agar penduduk Palestina untuk sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu kemudian menyusun kekuatan sampai dirasa mampu untuk mengusir yahudi dari bumi mereka. Wallahu a’lam!

  • abu umar

    masalah palestina bukan hanya masalah kaum palestna saja, tapi merupakan tanggung jawab bersama kaum muslimin di seluruh dunia, oleh karena itu, usaha untuk “menghimpun kekuatan” sebagaimana yang diutarakan saudaraku abu urwah tidak cukup dibebankan kepada kaum palestin saja, tapi usaha bersama dari kaum muslimin. apakah kita sudah berkonsolidasi demi mneghimpun kekuatan itu? ato hanya ongkang2 kaki sambil nunggu keajaiban? hal itu terserah kaum muslimin saja. jika tidak ingin melihat pembantaian kaum muslimin di palestine maka saatnya seluruh kaum muslimin ikut campur tangan dengan cara yang mereka mampu tuk melakukannya. AllahuAkbar

  • Andy

    Saya setuju dengan Akh Abu Urwah berkaitan dengan fatwa tersebut. Namun hijroh-nya kaum muslimin dari Palestina bukanlah hanya menyusun kekuatan melainkan selamatkan aqidah mereka yang telah rusak. Saya pernah menonton vidio yang ditayangkan oleh kaum hizbiyyun di masjid kantor tempat saya bekerja ba’da sholat Jum’at beberapa tahun yang lalu. Vidio tersebut menayangkan hasil kekejaman Yahudi laknatulloh, salah satunya bocah Palestina yang mengadu dengan nasibnya, keluarganya dan negerinya dengan bersya’ir yang setiap bait syairnya berkata (artinya) “Ya Matahari … “. Mengapa tidak “Ya Alloh … ” ?!?!?!? Sungguh ini adalah bukti kesyirikan. Bagaimana mungkin Alloh Ta’ala memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berbuat syirik? Ditambah lagi di Palestina banyak berbagai macam firqoh dan hizb yang masing-masing berbangga dengan dirinya dan memiliki tujuan sendiri. Al-Wala wal Baro’ bukan atas dasar kepada Alloh Ta’ala. Semoga kaum muslimin di Palestina kembali kepada aqidah yang haq sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Sholih.

  • WHY

    Assalamu ‘alaikum..
    waah…nanti klo smua orang palestina meninggalkan negrinya untuk mengungsi, itu berarti yahudi laknatullah bs menguasai palestina? dan mereka brhasil menjajah palestina? trus jika dmkn saudara2 kita d palestina mjd banggsa yg terusir? seharusnyalah qta semua kaum muslimin di dunia bersatu padu untuk membantu saudara kita d palestina. yg terpenting bgmn tindakan kita selanjutnya, hrs difikirkan scr matang.wassalamu ‘alaikum..

  • Warga Palestina adalah saudara muslim, semua orang sedunia tahu. Begitu ada penyerangan (pembantaian) oleh Israel, semua orang meributkan (menghujat) bangsa Israel.

    Berita / informasi hanya terfokus pada penyerangan (pembantaian) saja. tetapi aku sedikit sempatkah berfikir kenapa negara Israel berani menyerang Palestina secara membabibuta ??????

    Karena……ukhuwah islamiyah hanya sebagai slogan di tulisan dan ucapan saja.
    Hanya beda partai / kelompok, sesama islam berantem…….
    Hanya beda faham, sesama islam gencar menghujat…..
    Disinilah sumber kelemahan Islam yang sangat diketahui oleh Bangsa-bangsa kafir (wabilkhusu Israel).

    Jika setiap muslim hanya pandai menghujat dan berantem sesama muslim. Insya Allah, bisa terjadi Palestina – Palestina di dunia lain.

    Aku mencoba merenungkan dan berfikir tentang ayat-ayat Al Qur’an diatas. Masya Allah,
    Semua intinya adalah agar kita selalu menegakkan ukhuwah islamiyah (persatuan yang kokoh), karena ada sekelompok manusia yang tidak suka dan senang tehadapa Islam sampai hari kiamat.

    Wahai saudaraku,
    Kita bela dan dukung moral bangsa Palestina, tetapi setelah masalah Palestina selesai, jangan kita sesama muslim saling berantem dan menghujat.

    Ingat !,
    Kelemahan yang sangat besar di Palestina adalah berantem (perang) sesama islam (Kelompok FATAH ; HAMMAS ; HIZBULLAH).

    Andaikan Kelompok Islam di Palestina (HAMMAS;FATAH;HIZBULLAH) bersatu……………….?

    Andaikan Partai dan Organisasi Islam di Inodnesia BERSATU…….?

    Andaikan Semua umat Islam BERSATU…….? tanpa melihat bendera dan faham.

    Ya Allah, berilah kami ; kaum muslimin jiwa persatuan yang seperti Engkau berikan kepada kaum Muhajirin dan Anshor di jaman Rosulullah yang engkau rahmati.

    Salam,
    Ghofilin ukhuwah islamiyah

  • Rangga_Abu_Ilyasa

    mbahjogo berkata:
    Ya Allah, berilah kami ; kaum muslimin jiwa persatuan yang seperti Engkau berikan kepada kaum Muhajirin dan Anshor di jaman Rosulullah yang engkau rahmati.

    Saya berkata:
    Amin. Kemudian

    “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaannya sendiri.” [Ar-Ra’d: 11]

    Jika kita kaum muslimin ingin bersatu, maka setiap dari kita harus kembali kepada benang merah yg akan mempersatukan kita, yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah.

    Dan jika kita kaum muslimin ingin bersatu sebagaimana persatuannya Kaum Muhajirin dan Anshor dahulu, maka kita harus memahami & mengaplikasikan Al-Qur’an dan As-sunnah tsb berdasarkan pemaham dan pengaplikasian Kaum Muhajirin dan Anshor (para shahabat radhiallahu’anhuma ajmain).

    Wallahua’lam.

    Laknat Allah bagi yahudi dan nashrani.

  • semoga Alloh menabahkan saudara2 qt disana dan saatnya qt kembali kpd Agama ALLOH. untuk melihat fatawa masyaikh silahkan kunjungi sofyanalatsari.blogspot.com

  • abu muhammad

    Rahimakallah…

    to: @mbahjogo

    “Kelemahan yang sangat besar di Palestina adalah berantem (perang) sesama islam (Kelompok FATAH ; HAMMAS ; HIZBULLAH).”

    jawab:
    ya anda benar..salah satu kelemahan kaum muslimin adalah karena kaum muslimin berpecah belah..kaum muslimin saat ini terkotak kotak..masing-masing saling bangga apa yang ada pada kelompok mereka..
    hamas bangga akan kelompoknya…fatah bangga akan kelompoknya..dan hizbullah(syi’ah lebanon) pun bangga akan kelompoknya…dan begitulah semua kelompok2 yang ada..semua bangga akan diri mereka masing masing…

    2. “Andaikan Kelompok Islam di Palestina (HAMMAS;FATAH;HIZBULLAH) bersatu……………….?

    Andaikan Partai dan Organisasi Islam di Inodnesia BERSATU…….?

    Andaikan Semua umat Islam BERSATU…….? tanpa melihat bendera dan faham.”

    jawab:
    semoga Allah Ta’ala merahmatimu
    ana punya pertanyaan kepada antum..

    bagaimana cara hamas,fatah dan hizbullah bersatu?,bersatu di atas apa?..di atas aqidah yang berbeda beda?,..wallahi jika mereka tetap demikian,mereka tidak akan bersatu selama-lamanya, ada yang khawarij,ada yang syi’ah, ada yang sufiyah, ada yang ber aqidah tafwidh..
    bagaimana mungkin mereka bersatu?..dan ingat ya akhi..menyatukan hati berbeda dengan menyatukan badan..

    hati hanya bisa disatukan di atas aqidah yang shahih,manhaj yang benar,sebagaimana Aqidah dan manhaj Rosulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in…tidak ada jalan selain kembali kepada Al-qur’an dan sunnah Rosulullah salallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in…

    maka mari kita satukan ukhuwah islamiyah dengan kita kembali kepada agama kita..kembali kepada cara beragama Rosulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in..kembali kepada pemahaman salafus shaleh..

    semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan NYA kepada kita semua dan juga penduduk palestina serta kaum muslimin lainnya..

    wallahul musta’an

  • ibnu muhammad

    Palestina gak bisa lepas dari cengkraman Zionis Yahudi selama mereka masih didalam kubangan maksiat, aqidah yg amburadul, perpecahan diantara mereka menjadi beberapa faksi2 dsb.
    Dan juga Palestina tidak bisa lepas dari cengkraman Zionis Yahudi Laknatullah alaih hanya dengan teriak2 demonstrasi penggalangan masa dan demi kepentingan hizb-hizb yg ada.

    Palestina baru bisa merdeka dengan kembalinya kaum muslimin palestina ke agamanya yg haq.

  • komentar mbahjogo ckp menarik. Perpecahan kaum muslimin itu sudah ada di zaman Rasulullah, dan Rasulullah pun sudah mengingatkan akan fitnah perpecahan di tubuh kaum muslimin. Dan perlu diingat!! Rasulullah pun mencela, menghujat kelompok2 yg tidak berhaluan dengan kelompok yg berada di atas manhaj para sahabat. Jadi SALAH BESAR kalo kita menutup mata pada hari ini akan adanya perpecahan kaum muslimin, this is Sunnahtullah ya akhi!
    Maka tolong mbahjogo, jangan dijadikan alasan Jika ada muslim lain yg menghujat kelompok muslim lain-karena kebenaran- itu merusak barisan kaum muslimin, coba mbahjogo dan saya melihat bagmn celaan Rasulullah thd kaum khawarij, padahl mrk adlh kaum muslimin jg. Namun stlh itu apakah kita kemudian menuduh Rasulullah TIDAK menjaga ukhuwah Islamiyyah??? Permasalahannya, DEFINISI UKHUWAH ISLAMIYAH itulah yg perlu diluruskan
    Ingat, dalam keadaan apapun seorang muslim, tidak lebih penting baginya melainkan Aqidah yg lurus yg harus dia miliki. Maka, saya setuju dg artikel diatas yg melihat permasalahan di Palestina dg kacamata Al Quran was Sunnah, bukan hawa nafsu dan gembor2 mulut belaka. ALlahu akbar!!

  • binauf

    Hendaknya jangan melaknati kepada Israel, sebab ini nama nabi yg mulia ya’ni Yakub atau dari keturunan Yakub, akan tetapi yang di bolehkan adalah Yahudi, adalah salah satu bentuk keculasan kaum Yahudi adalah mengambil nama Israel atas nama dirinya,…yahudi laknatullah alaihi,…saudaranya syiah
    rafidlhah.

  • Dinda

    Al-Hujurat : 11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

    Hanya musuh ALLAH-lah yang tidak menginginkan ISLAM BERSATU. Hanya musuh ALLAH-lah yang meng-kafirkan sesama muslim. Padahal kriteria KAFIR dalam Al-Quran sudah sangat jelas.

    Wallahua’lam

  • arif

    Bismillaahirrohmaanirrohiim,

    Yaa ikwah,,skr ini yang di butuhkan oleh saudara2 qt di gaza adalah ‘bukti nyata’ dari kepedulian kita-kita ini yang sering mengucapkan “innamal mu’miniina ikhwa”…dalam bentuk apapun yang sesuai dengan tuntunan syar’i…..bukan obrolan ,komentar atau ‘dalih2’ yang cenderung kepada ‘pembenaran'(ro’yu) bukan KEBENARAN (Al-Qur;an & As sunnah).
    Mengapa kt begitu mudah menghakimi saudara2 kt yg lain tentang pemahaman mereka dalam ad diin ini…

    Bisa jadi belum sampai kepada mereka pemahaman yang haq..
    Sudahkah kita menasihati mereka?
    Sudahkah kita menda’wahi mereka?
    Sudahkah kita memohon agar Allooh ta’ala memberikan hidayah kpd mereka?
    Bukankah kt jg pernah menjadi seorang yang awam dan lama dalam “kejahilan”?(mungkin skrpun masih)
    Apakah kita merasa diri-diri kita ini ‘lebih baik’ ?(jgn sampai kt tergelincir spt syaithon laknatullooh,na’udzubillaah)..
    Bisa jadi ‘besok atau lusa’ saudara2 kt itu jauh lebih baik dan lebih tinggi derajatnya disisi Allooh tabaaroka wata’ala.

    Yaa Rohmaan,,bimbing dan lembutkanlah hati kami ,jadikan kami2 ini hambaMu yang penyayang,, dan jadikan setiap perkataan dan perbuatan kami ada dalam petunjuk dan ridloMu…

    walloohualam bishowab

  • abu faisal

    Allah berfirman:
    dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (8:63)

    Yaa ikhwah, yang sangat mendambakan ukhuwah islamiyah. Jangankan hanya sekedar tulis sana-sini. Seandainya antum memiliki kekayaan sebanyak yang ada di bumi, dan antum gunakan semua kekayaan yang ada dibumi itu, tidak akan hati umat ini akan bersatu. Perhatikan ayat diatas ya ikhwan, dengan imanmu, bukan dengan logika sebab-akibat sempitmu atau hawa nafsumu. Katakanlah padaku:

    1. Apa menurutmu yang akan membuat Allah mau mempersatukan hati kita? Toleransi dalam perbedaan (tanpa dibahas)? Ataukah Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran?

    2. Ataukah barangkali dengan seminar-seminar dan pendekatan antar kelompok, dengan berbagai kompromi? Ataukah dengan lantang meneriakkan marilah kita semua berpegang teguh kepada tali Allah dengan sebenar-benarnya?

    Sungguh sangat menyedihkan umat Islam saat ini. Mereka hanya memandang sebelah mata, ketika dikatakan solusi masalah umat ini adalah dengan taat kepada Allah. Mereka sudah kagum dengan akal2 mereka, dan taat kepada Allah, tidak masuk logika sebab-akibat mereka. Lihatlah buku-buku pergerakan (yang membahas membangkitkan kejayaan umat) yang banyak berserakan di toko-toko buku. Adakah yang kesimpulannya “jika kita melakukan yang Allah perintahkan ini, maka Allah akan memberikan begini dan begitu?”. Semua berkutat pada, kalau ekonomi … maka…, atau kalau umat islam menang pemilu maka…, kalau bersatu maka…., subhanallah, dimana posisi Allah? apakah hanya sekedar pemanis bibir saja? Wal iyyadzubillah. Padahal Allah memenangkan Rasul dan para sahabat pada perang Badar dengan segala kekurangan, dan sempat mengkocar-kacirkan mereka dalam segala kelebihan yang mereka miliki dalam perang Hunain. Adakah orang yang mengambil pelajaran? Sungguh tidak ada logika militer, ekonomi, politik dalam peristiwa itu. Yang ada hanya logika iman (kalau kami melakukan yang Allah perintahkan, maka Allah akan memberikan yang dijanjikanNya titik)

    Ana katakan: Sungguh telah masyhur dalam Al Qur’an dan hadits2 nabi yang mulia, bahwa Allah akan merendahkan umat ini, ketika mereka bermaksiat kepada Allah. Maka segala bentuk langkah nyata/kongkrit menuju kejayaan umat tidak lebih dari sekedar OMONG KOSONG, dan FATAMORGANA SEMU. Karena pada hakikatnya, mereka sedang berusaha melepaskan diri dari hukuman Allah (berupa kehinaan) dengan cara selain yang ditunjukkan oleh Al-Hakim (yaitu Allah). Mereka sedang memikirkan cara mendapatkan upah (yaitu kejayaan), tanpa harus mengerjakan tugas dari majikanNya (berupa ketaatan mutlaq kepada Allah)

    Maka ya ikhwah, tegakkanlah tauhid, tegakkan sunnah, perangi bid’ah. Dan jika telah tetap kaki umat ini diatasnya, baru kita ngomong langkah konkrit, karena baru pada saat itu, kita layak menuntut janji Allah menegakkan umat Islam dimuka bumi. Ibaratnya orang kerja, layaklah kita minta upah, ketika kita telah menyelesaikan pekerjaan.

    Adapun sebelum itu, yang bisa kita lakukan terhadap saudara kita tidaklah lebih dari sekedar meringankan beban, dan mengurangi dahaga. Dan hanya kepada Allahlah kita memohon ampunan dan pertolongan

    Wallahu A’lam

  • Kepada akhi arif semoga Allah senantiasa menjaga anda dalam kebaikan…

    Akhi, ‘bukti nyata’ apa yang antum maksudkan? Apakah nasehat bukanlah bukti nyata? Bagaimana dengan firman Allah:
    وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
    Artinya: “Saling menasehatilah dalam kebenaran dan saling menasehatilah kesabaran” [Al Ashr: 3]
    Apakah anda mengatakan ayat ini memerintahkan kepada hal yang tidak nyata, tidak konkret dan sia-sia saja? Sehingga orang-orang yang memberi nasehat disamakan dengan orang yang berpangku tangan?

    Apakah doa bukan bukti nyata? Apakah berdoa menurut antum adalah hal sia-sia? Atau menurut antum berdoa adalah tanda kelemahan dan ketidakmampuan? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    Artinya: “Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam“. [Al-Haitsami, Thabrani. Dishahihkan oleh Al Albani]

    Jadi, bukti nyata apa yang antum harapkan? Sehingga antum menuduh penulis artikel ini atau para ikhwah yang lain belum melakukan ‘hal yang nyata’!? Seolah-olah antum mengetahui semua apa yang mereka lakukan. Melakukan sesuatu ‘yang nyata’ tidak perlu diumumkan dan dipublikasikan bukan?
    [Karena ada sebagain kaum muslimin yang bila melakukan amalan-amalan kebaikan mereka mengumumkannya dan bahkan mereka membawa label-label berupa bendera, slogan-slogan, spanduk,dll untuk menekankan bahwa merekalah yang telah melakukan kebaikan itu. Untuk menarik simpati massa. Waallahu’musta’an]

    Ataukah ‘bukti nyata’ yang antum harapkan adalah turun ke jalan berdemonstrasi, memenuhi jalan membuat macet, berteriak-teriak mencela pemerintah yang juga dituduh tidak memberikan ‘bukti nyata’, bermain drama di jalanan sambil membawa patung-patung, para akhowat pun turun ke jalan sehingga para ikhwan bisa memandangi.

    Ataukah ‘bukti nyata’ bagi antum adalah dengan serta-merta mengharamkan makanan yang halal dengan dalih produsennya adalah orang kafir.

    Jika itu semua ‘bukti nyata’ yang antum harapkan, maka sungguh justru ini adalah ‘bukti nyata’ bahwa antum atau orang yang melakukannya tidak berjalan di atas ilmu sehingga banyak melanggar syariat Allah Ta’ala. Ya, mereka meneriakkan ‘Allahu Akbar’ sambil melanggar syariat Allah. Sama persis seperti HAMAS. Sehingga kerusakan yang mereka timbulkan lebih besar dari pada perbaikan yang diusahakan.

    Saya pun menyadari, bahwa seseorang yang melakukan kesalahan tidak serta-merta disalah-salahkan karena mungkin mereka jahil, sebagaimana kita pun masih jahil dan masih banyak harus menuntut ilmu. Orang jahil seperti saya ini mungkin kalau memberi nasehat akan dianggap sok pintar seperti tuduhan anda. Maka, apa solusinya? Nasehat dari orang yang tidak jahil, yaitu ulama. Dan walhamdulillah, artikel ini adalah bentuk nasehat dari seorang ulama, Syaikh Abdul ‘Aziz Ar Rays. Sebagaimana juga para ulama dari dahulu hingga sekarang sudah banyak yang menasehati para pemuda yang hanya berkobar semangat tanpa didasari ilmu semisal HAMAS. Namun entah mengapa nasehat hanya tinggal nasehat dan akhirnya kita melihat di Palestin ‘bukti nyata’ dari keengganan menerima nasehat ulama…

    Wallahu’alam..

  • Arahadia

    Assalamu’alaikum wr wb,
    Apakah menumpuk harta dengan Bermewah mewah, keran dari emas, handle pintu dari emas, kursi dari emas, banyakin bikin rumah peristirahatan di USA, istana yg berkilauan, daripada report perang, repot2 ngungsi, mending ngitung fulus and bagi2 sedikit lebih baik dari pada yg berjihad di jalan Allah? bukankah Allah berfirman:

    An Nisaa’ 95: Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,

  • assalammualaikum akhi……….

    salah satu perkataan salafuna soleh”tidaklah umat islam sekarang ini menjadi baik sebelum mengikuti apa2 yang menjadikan umat terdahulu(sahabat rasulullah radiallu anhu)menjadi baik”

    wassalammulaikum warohmatullah

  • abu faisal

    Ya Akhi arahadia, semoga Allah menunjukimu

    Adakah antum sekarang telah mendonasikan sebagian besar harta antum? Adakah antum membuat komentar ini di gaza ditengah dentingan rudal dan peluru atau dari kantor berAC antum, atau dari warnet atau dari rumah bersama keluarga antum? Ataukah antum ini sedang mengikuti jalannya orang-orang Yahudi?

    Allah berfirman?
    Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab ? Maka tidaklah kamu berpikir? (2:44)

    Tidak bolehkah kaum mu’minin menginginkan pahala Allah saja, dan takut terganggu keihklasannya? Ataukah harus diberitakan dikoran2, majalah dll seperti tingkah laku orang2 kafir itu, sehingga tidak tersisa disisi Allah kecuali kemurkaan (karena riya’), atau jangan2 manhaj orang kafir ini yang antum kehendaki dalam hal ini?

    Sudahkah antum memahami ayat yang antum bawakan itu dengan baik? Membaca tafsirnya yg mu’tabar? Apa makna jihad? apa syarat2nya? atau sebaiknya antum sibuk mencela dan mencurigai diri antum sendiri, jangan2 antum ini termasuk yang disabdakan Rasulullah yaitu orang2 muda, yg tidak menganggap amal orang lain dibanding dirinya dan tidak memahami Al Qur’an kecuali di kerongkongan saja.

    Dan beruntunglah orang2 yang merasa cukup bagiNya jika Allah saja yang mengetahui amalnya, dalam hal yg diperbolehkan utk melakukannya sendirian.

    Wallahul Musta’an

  • abu Nadif

    Syukron kepada akh Binauf atas mengingatkan tentang istilah Israel dan yahudi. Mari kita berjuang di atas manhaj Rasulullah yang agung. Ana mencintai antum sekalian karena Allah.

  • andy

    Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
    Semoga Allah menguatkan kesabaran kaum muslimin dipalestina, dan kepada kaum muslimin diseluruh dunia untuk membantu rakyat palestina dengan do’a, harta dan segala yang bisa membantu perjuangan kaum muslimin.
    untuk kaum muslimin di Indonesia yang paling tepat sekarang ini adalah belajar Agama, sebagaimana yang Allah perintahkan. dan, perlu juga bagi kita kaum muslimin di Indonesia untuk memperdalam ilmu pengetahuan agar mereka tidak tergantung terutama pada negara kafir. oleh karena itu diharafkan kepada kaum muslimin yang sekarang kuliah untuk memanfaatkan benar-benar untuk mencari ilmu sehingga bisa dimanfaatkan kaum muslimin nantinya.
    dan diharafkan juga, agar kaum muslimin mencari ilmu yang berguna untuk pertahanan negara kaum muslimin dari persenjataan2 muttakhir, dan berbagai senjata yang lainnya.

  • semoga Allah melindungi saudara kita kaum muslimin di Palestina dan seluruh dunia.

    semoga Allah memberikan hidayah kepada saudara kita kaum muslimin di Palestina dan seluruh dunia untuk kembali ke “agama” kita, yaitu agama yang murni sebagaimana para shahabat memahaminya, yang dengannya kejayaan Islam akan kembali.

    Semoga Allah mengampuni dosa saudara kita kaum muslimin di Palestina dan seluruh dunia, yang semoga dengannya terangkatlah segala musibah.

    Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengarkan Do’a dan Maha Mengabulkan…

  • O iya kelupaan, saya minta ijin untuk copy dan menyebarkannya kembali

    jazakumullaah khairan katsir

  • farhani

    Ya Allah gantilah jamaah minal muslimin ini dengan jamaah yang lebih baik. Aamiin

  • Hendaknya nasehat/2bantahan2, kita berikan dg cara yg ihsan dan lemah lembut. Hendaknya kita sbg seorang muslim berbaik sangka kpd saudara yg lain, mgkn saja mereka masih blm tau dan awam(termasuk yg ngomong ini) shingga komentar2 yg diberikan masih keliru. Jangan sampai orang menjauhi dakwah ini-dakwah salaf- hanya karena lisan kita yg kasar dlm menasehati. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah Ta’ala dlm mencontoh akhlaq salafus shalih dlm berdakwah.

  • duhai saudaraku, nasihat dari Syaikh tersebut merupakan sebuah “bukti nyata” dari Ahlus Sunnah akan nasib saudaranya yang diinjak-injak oleh kaum Kuffar Zionis Yahudi…

    betapa banyak nasihat ulama, yang seandainya (jika boleh berandai-andai) diikuti oleh seluruh umat Islam (terutama oleh para aktivis dakwah harokah) tidak akan pernah ada pembantaian kepada muslimin seperti saat ini di Gaza, bahkan kemenangan akan berada di barisan muslimin Palestina. sayang, para aktiviz dakwah Harokah semisal HAMAS -yang sok jago- tidaklah mau menerima nasinat ulama.

    wahai saudaraku, mengaka kalian selalu mencela Salafiyun, khususnya kepada negeri yang barokah Saudi Arabia? mengapa kalian mengatakan bahwa Saudi Arabia tidak mau menbantu muslim Palestin? padahal Menteri Keehatan Palestin sendiri sangat berterima kasih kepada Saudi Arabia atas bantuannya yang begitu besar kepada mereka, baik atas nama negara maupun individu ketika tragedi Gaza ini berlangsung.

    wahai saudaraku, mengapa kalian tidak pernah bertanya kepada para pengikut agama SYI’AH, menuntut “bukti nyata” atas kepedulian mereka terhadap umat Islam?
    Mana “BUKTI NYATA” dari HIZBULLAH-Syi’ah baca: HIZBUSYSAYITHAN) yang dahulu mengatakan akan siap berperang terhadap yahudi??!!

    Mana “BUKTI NYATA” dari negara SYI’AH IRAN, yang sejak dahulu menggembar-gemborkan siap berjihad dan membantu muslimin Palestina dari makar Yahudi?? bukankah IRAN malah melempar tanggung jawab ini kepada negeri muslim lain?
    Mana “BUKTI NYATA” dari IRan yang katanya punya rudal2 pemusnah yang dapat menyerang negara yahudi dari jarak jauh?? tanyakanlah kepada Ahmadinejed yang dahulu dengan lantang “menentang” Yahudi di Palestina, kini dia pun cuma bisa tersenyum melihat kaum muslimin dibantai!
    karena, mana mungkin mereka akan membantu muslimin, lha wong SYI’AH sendiri yang selama ini membantu kaum kuffar untuk membasmi muslimin, sepanjang zaman….!

    Semoga Allah menolong Mujahidin di Palestina membasmi makar Yahudi terlaknat!

    ALLAHU AKBAR!!

  • arahadia

    Akhi Abu Faisal, Ikhlas itu hanya pelaku dan Allah saja yg tahu, pahala itu adalah hak Allah, pertanyaan antum sangat bertentangan dengan pernyataan antum tentang keikhlasan, dan InsyaAllah mudah2an dengan tidak bermaksud ria Allah mengetahui isi dan niat seseorang, ana mengikut ijejak salafus shaleh dlm berinfaq.

    Ana tidak berada di Gaza saat ini, ana sedang berada ditengah keluarga yg sudah mengikhalskan ana pergi jika Allah mengizinkan, ana sudah menghubungi beberapa teman, tapi tidak bisa memenuhi persyaratannya.

    Akhi, antum menyamakan ana seperti yahudi (Kafir) ana tidak akan menjawabnya karena Allah sudah mempunyai hukum untuk masalah itu.

    Kalau ilmu mungkin ana tidaksebanyak antum,yang ana coba hanya mengamalkan apa yang pernah ana pelajari.

    Ana tahu persis rasanya hidup di pengungsian (walaupun bukan perang),

    Sebodoh-bodohnya ana menurut antum, mata dan hati ana hanya melihat bahwa ada kaum muslimin yg didzolimi oleh kaum kufar dan mereka menjalankan perintah Allah dan RasulNya untuk melawan dengan harta dan nyawanya, sedangkan disisi lalin ada sekelompok orang yang tidak berbuat apa2 tapi menyalahkan orang yg sedang berjihad, tentu ana akan berada difihak orang yg mengamalkan perintah Allah dari pada para penunut ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya.

    tidakah antum mendengar ibu ibu korban kebiadaban yahudi berteriak sambil memeluk mayat anaknya “biarkan orang arab tertawa bahagia”

    Bukan saatnya lagi ulama2 itu menyalah-nyalahkan orang lain hisab dulu diri sendiri, sudah yakinkah sesuai dengan salafu shaleh tindakan mereka?

    Kalau dari tulisan antum ana yakin antum sedang berada ditengan desingan peluru di Gaza, mudah2 antum mendapatkan syahid, karena itu yg dicita-citakan para sahabat, mudah2an ana bisa menyusul InsyaAllah…

    “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah”

    Somoga hamas salah satu faksi yang masih menentang yahudi laknatullah alaih mendapat ampunan dan ridlo Allah amin.

    “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui”

    Naudzubillahimindzal!!

  • ABU JUNDUL AL-bandungNi

    jangan dibeli produk yahudi, kfc, mc donald, cocacola, aqua semuanya produk yahudi

  • Jovinco banteng betawi

    Israeeeell…….. Lahknatullaaaaahh…..
    Kau hancurkan bumi dengan tanganmu kotormu……
    Walaupun pedangku tak sampai untuk menghunus jantungmu, tapi do’aku sampai untuk menenggelamkan engkau ke neraka jahanam…..

  • abu faisal

    Ya akhi arahadia, semoga Allah merahmatimu

    adakah dari tulisan ana yang memastikan keadaan antum? Cukupkah ikhlas dalam beramal? Ana rasa tidak perlu ana jawab. Antum bisa mendapatkan jawabannya di web yang insya Allah penuh berkah ini. Berkata sahabat Nabi: “betapa banyak yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa?”

    Bukankah mereka yang memberontak Ali bi Abi Thalib juga melakukan ikhlas karena Allah? Bukankah pembunuh Ali bin Abi Thalib juga mengaku ikhlas karena Allah?

    Jika antum merasa jahil, bukankah seharusnya antum belajar? bukannya berkomentar? Bahkan sampai mengatakan bukan saatnya ulama2 saling menyalahkan. Allahu Akbar, apakah ini bukan tuduhan bahwa ulama2 menempuh jalan yang salah? Vonis SALAH dari ORANG YANG MENGAKU BODOH TERHAPA DIEN? Terhadap orang2 yang menghabiskan hidupnya mempelajari dan mengamalkan sunnah? Siapakah yang seharusnya lebih berhak dicurigai tidak diatas manhaj salafusholeh? ahlul ‘ilmi ataukah orang Jahil yang bersemangat? Tunjukkanlah kepadaku salafusholeh yg mana yg engkau contoh dalam masalah ini? Apakah ini buah keikhlasan? Ataukah hawa nafsu? Hanya Alqur’an dan sunnahlah yg tepat untuk menimbangnya.

    Kalaulah pengakuan saja cukup, tidak ada gunanya Allah menyuruh beramal. Kalaulah niat dan semangat saja cukup, sia-sialah perintah Allah dan RasulNya untuk menuntut ilmu, sia-sialah Al Bukhari menulis dalam shahihnya “BAB ILMU SEBELUM BERKATA DAN BERBUAT”, dan sia-sialah Rasulullah memperingatkan umat dari Ruwaibidzah.

    Kalau antum baca dengan maksud mencari ilmu pada tulisan masyaikh diatas, tentulah antum akan dapati solusi dari masalah Palestina, maka jika rakyat Palestina tidak mau mengikuti fatwa ahlul ‘ilmi, siapakah yg pantas dicela? Siapakah yang salah? Apakah Rasulullah dan sahabat yg hijrah dari Makkah, ataukah mereka yg tetap dimakkah dan bertahan disiksa oleh org2 kafir quraisy saat itu? Bahkan tunjukkanlah kepadaku jika engkau mengklaim bahwa tanah palestina adalah tanah suci, sebagaimana makkah dan madinah. Akan tetapi bukan berarti saya mengatakan bahwa kita biarkan saudara2 kita di Palestina, tapi kita bantu mereka sesuai kesanggupan masing2.

    Jika antum merasa apa yg tertulis di artikel muslim.or.id diatas salah, maka datangkahlah hujjah antum, dari kitab wa sunnah diatas pemahaman sahabat. Adapun jika selain itu, maka sebaiknya persiapkan jawabanmu dihadapan Allah kelak. Yg jelas, merasa ikhlas dan bersemangat saja tidaklah cukup, dan tidak akan ada salafusholeh yang akan menjadi hujjahmu.

    Wallahu A’lam

  • Saudara arahadia yang baik, siapa sih yang antum maksud punya ilmu tapi tidak mengamalkan? dari mana antum tahu? apakah kedudukan ulama lebih rendah dari syuhada? bukankan kedudukan para shiddiq lebih tinggi dari syuhada, saya tidak bermaksud merendahkan para syuhada, kita harus bercita-cita berjihad apabila sudah sampai saatnya tapi merendahkan orang-orang yang tidak berjihad justru sikap syuhada’ palsu, berapa banyak orang terbunuh di jalan ALLAH hanya untuk dikatakan dirinya syuhada, atau mengaku berniat jihad supaya dikatakan dirinya calon syuhada. Perlu ikhwah ketahu para ulama itupun banyak yang terjun berjihad di medan perang secar langsung. Bahkan syaikh al-Albani pernah ikut berjihad di palestina. Ustadz-ustadz salafi di Jogja juga mantan mujahid Afghanistan, mujahid Ambon. Justru syuhada’ yang sebenarnya itu mau menerima nasihat dan berhusnudzdzan dengan nasihat-nasihat yang masuk. Syuhada’ yang sesungguhnya tidaklah merendahkan Ulama. Anda tahu siapa Muhammad ‘Izzu ad-Diin al-Qassam dan Muhammad Kami al-Qashshaab mujahid Palestina yang namanya jadi sayap militer HAMAS? Jihad beliau beriringan antara menegakkan tauhid dan sunnah menghancurkan syirik dan bid’ah bersama dengan memanggul senjata. Apakah anda tahu Syaikh Dr. Nizaar Rayyan yang insya ALLAH baru saja syahid adalah ‘ulama yang menegakkan sunnah dan melawan masuknya aqidah syi’ah di HAMAS? Apakah anda tidak tahu bahwa para salafiyyin di Palestina sekarang juga sedang ribath dan berjihad melawan Yahudi? Sudahi permusuhan di antara muslim, terimalah dan husnudzdzan lah dengan nasihat ulama’, nasihat bukanlah kebencian, nasihat adalah karena cinta kita pada HAMAS, walau bagaimanapun kita tetap berdoa dan berinfaq untuk mereka karena mereka adalah muslim saudara kita, tanpa harus setuju dan membenarkan seluruh aqidah dan perbuatan mereka yang bertentangan dengan sunnah.

  • Abdullah

    Bagaimana pendapat ikhwah semua terhadap tanggapan ust ahmad sarwat (pengaruh rubrik di web eramuslim) terhadap fatwa syaikh Abdul Aziz bin Rays ar-Rays di atas?

  • Akhi Abdullah, kami sudah membaca tanggapan ust Sarwat melalui kiriman pembaca muslim.or.id yang lain. Kami hanya ingin menanggapi singkat saja bahwa tanggapan ust Sarwat terhadap fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Rays ar-Rays di atas tidak nyambung sama sekali dengan esensi fatwa Syaikh tersebut, mungkin saja beliau ust Ahmad Sarwat belum membaca fatwa Syaikh di atas dengan seksama. Wallahul musta’an.

  • juhaiman

    Saya teringat pada fakta sejarah dimana pada jaman sekitar 600 M , terdapat 2 kekaisaran besar yang menguasai dunia , yaitu Rome dan Persia.
    Keduanya bergantian menguasai dunia dengan segala kemegahan , kekuataan pasukan dan persenjataanya.
    mungkin bisa dianalogikan dengan Amerika dan Rusia pada abad ini.
    Tetapi kedua kekaisaran itu dikalahkan oleh suatu bangsa nomad yang termasuk “terbelakang” dan bangsa yang tidak pernah tercatat dalam sejarah dunia.
    Bangsa yang dahulunya terpecah belah dan miskin .
    Dan wajar ada pertanyaan konyol , yang menyangsikan kemampuan bangsa tersebut , karena kekuatan pasukan dan persenjataan tidak sepadan.
    tetapi kemudian sejarah membuktikan , bangsa yang dianggap terbelakang, lemah dan lainnya dapat mengalahkan 2 kekaisaran tersebut .
    Bangsa tersebut dengan ke tauhid yang murni, dimana mereka hanya takut kepada Allah swt , tidak takut kepada pasukan yang besar dan dengan persenjataan yang canggih.
    Bisa kah kita mengambil pelajaran dari sejarah tersebut ?

    Dan ada contoh satu lagi, kejadiannya baru puluhan tahun yang lalu.
    Bagaimana ada suatu bangsa yang dianggap terbelakang, miskin dapat mengalahkan suatu bangsa yang sangat kuat pasukan dan persenjataannya .
    Mereka tidak takut dengan segala kecanggihan persenjataan yang dimiliki . dan mereka tidak takut dengan kekejaman tentara beruang merah yang membunuhi rakyat sipil . sehingga banyak jatuh korban .
    Dan atas izin Allah swt , bangsa Rusia dapat mengusir pasukan penjajah ke negeri mereka.

    Dan sesuai dengan sejarah kita tinggal menunggu kekalahan satu lagi bangsa yang dianggap besar , yaitu bangsat Amerika…..

  • juhaiman

    “Dan atas izin Allah swt , bangsa Rusia dapat mengusir pasukan penjajah ke negeri mereka. ”

    ralat : Dan atas izin Allah swt , bangsa Rusia dapat diusir pulang ke negeri mereka

  • Ibnu Muhammad

    Bubarkan HAMMAS dan FATAH sekarang juga… BUBARKAN
    Dengan terpecahnya kaum muslimin Palestina menjadi beberapa faksi-faksi justru memperlemah persatuan kalian…
    Benahi aqidah-aqidah kalian saudaraku Palestina

    wahai Palestina musuh kalian satu yaitu ZIONIS YAHUDI.

  • ABU JUNDUL AL-bandungNi

    mari kita boycot produk2 israel.

  • arahadia

    Saudara Abu Ali, Insya Allah ana setuju sepenuhnya dengan keterangan antum, pernyataan ini yang sebenarnya ana tunggu.

    Insya Allah ana pernah membaca tentang Izz al-Din ibn Abd al-Qadar ibn Mustapha ibn Yusuf ibn Muhammad al-Qassam, yang insya Allah beliau syahid 20 November 1935 dan dimakamkan di haifa,

    Terima kasih atas sindiran antum, mungkin ana harus bermuhasabah, melihat hati ana yang paling dalam, meluruskan niat kembali, dan mudah2an ana terhindar dari sifat ghurur.

    Untuk akhina Abu Faisal,
    Mungkin antum terlupa ayat berikut:
    Al Maa’idah 21. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu[409], dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

    Dan didalamnya ada masjid Al Aqso yang secara jelas disebut dalam Al-Quran, dan ada baitul maqdis yg pernah dijadikan qiblat shalat orang muslim.

    Surah An Najm 30. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

    Sahabat Abu Darda ra. juga pernah mengatakan: “Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba dan manusia biasa.”

    Pada masa tabi’in, seorang tokoh dan pakar fikih, Sa’id bin Musayyab, hampir tak pernah memberikan fatwa dan tidak membicarakan sesuatu selain, “Ya Allah, selamatkanlah saya dan selamatkanlah pula (orang lain) dari (kemungkinan kekeliruan fatwa) saya.”

    ‘Aidh Abdullah al-Qarni: Kunci surga itu milik Allah, bukan milik manusia manapun. Jadi kita tidak perlu pusing atau khawatir. Memang kalau kunci surga itu berada di tangan salah seorang manusia maka mungkin dia hanya mengizinkan jamaah atau kelompoknya saja untuk masuk ke dalam sorga.

    Terima kasih untuk saran antum yang memberikan semangat kepada ana untuk terus belajar, karena setahu ana belum ada yang sudah tamat belajar didunia ini selama hayat dikandung badan.

    Ana mohon ampun kepada Allah SWT dan mohon maaf pada antum semua karena banyak salah kata.

    Wallahu ‘alam

  • para pembaca muslim.or.id, mungkin ada baiknya antum mendengarkan rekaman kajian Ust Ali Musri ttg jihad yg dilakukan Hamas dan Fatah di palestin apakah sesuai syar’i ato ga…
    klik ajah di sini http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/12/31/download-audio-tanya-jawab-seputar-jihad-di-palestina-bersama-ust-dr-ali-musri-ma/

    gimana Allah akan memberi pertolongan kepada muslim palestina, sednagkan di antara mereka sendiri saling berperang (antara Hamas dan Fatah hingga saat ini). jihad yang mereka lakukan pada hakikatnya adalah untuk mencari kekuasaan di palestina. wallahu a’lam.
    semoga ALlah memberikan hidayah kepada mereka agar kembali ke jalan yang lurus. amin

  • benar kata bang Abu Ali di atas. sesungguhnya Salafiyyun lah yang pertama berada dibarisan terdepan dalam berjihad. buktinya telah banyak….
    contohnya saja, ketika terjadai perang di indonesia (ambon n poso) beberapa tahun silam. banyak ikhwah salafy dan ustadz2 pergi berjihad di sana, mengangkat perang melawan kaum kuffar….

    nah, sekarang coba kalian tanyakan sendiri kepada orang2 PKS ikhwanul muslimin…. mereka berangkat kagak perang?
    boro-boro mereka mau berangkat ke palestina untuk berjihad, jihad yg ada di Ambon n poso ajah, mereka kagak berangkat….

    sungguh, kalianlah pengecut wahai haroki….
    saat ini, kosan ana bersebelahan dengan sekretariat hizbiyyun KAMMI – UNPAd….setiap melewati kosan mereka, hanya suara nyanyian nasyid yg terdengar di kosan mereka! padahal muslimin palestin berteriak tersiksa di palestin! mana, katanya mereka peduli thd urusan umat ISlam?? bohong! dusta!
    itu cm sebagian contoh kedustaan mereka thd umat.

    wahai haroki….
    jika pemerintah kita mewajibkan muslim indonesia berjihad di pelestin, ana pengen liat apakah kalian berani utk berangkat jihad di palestin??
    ana yakin kalian kagak ada yg berani…karena nyali kalian hanya berada di corong microfon saat demonstrasi di jalan-jalan ala yahudi nashrani!

    gimana kalian akan bisa berjihad, klo sehari2 kalian hanya di isi dengan demo, aksi, nasyid.. bal bla bla..
    ga pernah kalian ngaji ttg aqidah yg shahih…juga latihan fisik.

    giman mo bisa perang, klo cowok2 haroki, bisa nya cuma nyanyi nasyid, kayak perempuan aja…
    ana sempat melihat sepintas aksi nasyid di panggung yg dilakukan oleh ikhwan PKS di unpad, sungguh penampilan mereka layaknya seorang wanita, bahkn mirip BANCI diterminal bandung!. wallahul musta’an..

    bertaubatlah wahai haroki hizbiyun!

  • juhaiman

    Untuk Amir :
    ” Hari orang beriman, jauhilah kebanyakan purba sangka, karena sebagian purba sangka adalah itu dosa. Dan janganlah mencari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain………..” QS Al hujuraat 12

  • juhaiman

    Untuk Amir :
    ” Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka ” QS 23:53

  • juhaiman

    melihat komentar komentar diatas , saya merasa aman untuk bersandar pada Al’Quran dan Sunnah rasul saja, tidak berdiri pada bendera salafiyun, salaf haraqah, ahlusunnah jamaah , syiah , tareqat , dll

  • Mas Juhaiman, untuk Anda ketahui bahwa Salafy atau Salafiyun adalah sebutan bagi orang-orang yang mengikuti manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap aspek kehidupan mereka. Mereka memurnikan Islam dari setiap noda Syirik dan Bid’ah. Mereka para salafiyun hanya berbangga dengan bendera Islam. Kesimpulannya: Salafy adalah Muslim yang sesungguhnya, Salafy adalah Muslim sejati yang mengibarkan panji-panji Islam. Siapakah mereka? Anda pun bisa masuk ke dalam golongan Salafy jika Anda memenuhi kriteria di atas.

    Kami sangat bahagia dengan komentar Anda yang terakhir; bersandar pada Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Itulah Salafy sejati.

    Jadi, mudah-mudahan Anda dapat memahami apa arti Salafy dan Salafiyun. Mudah-mudahan Anda dapat memahami bahwa Salafy tidak memiliki bendera partai! bukan pula Harokah Hizbiyyah yang hanya berbangga dengan golongan mereka saja. Salafy tidak sama dengan Syi’ah Rafidhah yang sudah terlempar jauh dari Islam. Aqidah Syi’ah sangat berbeda dengan aqidah Islam! Syahadat Syi’ah berbeda dengan syahadat Islam! Shalat Syi’ah berbeda dengan Shalat Islam! mudah-mudahan Allah memberikan kami kekuatan dan kemudahan untuk membeberkan berbagai fakta tentang agama Syi’ah Rafidhoh! Wallahul musta’an…

  • utk mas juhaiman….
    semga Allah senantiasa memberikan hidayah Sunnah kepada Antum, dan ana…

    apa yang ana sebutkan di atas, adalah “BUKTI NYATA” ttg apa yg dilakukan oleh orang2 Haroki…khususnya para pengikut PKS…hadahumullah…

    mereka selalu menggembar-gemborkan jihad ala hizbiyyah… klo mereka mau konsekuen dengan apa yg mereka ucapkan, mana tindakan mereka untuk berjihad di Palestin yg selama ini mereka besar-besarkan, seenaknya saja mereka melakukan tuduhan mterhadap Salafiyun bahwa Salafy menihilkan Jihad…

    nyatanya, mereka sendiri tidak berjihad saat ini…dimana “BUKTI NYATA” dari para tukang pidato PKS yg berkoar2 ttg jihad di atas mimbar selama ini ttg “AYO JIHAD DI PALESTIN”?
    bukankah mereka muslim palestin sangat membutuhkan bantuan kita semua?? sekarang saatnya buktikan ucapan kosang kalian selama ini wahai hizbiyun!

    tentang perkara jihad, antum n semuanya (ksususnya PKS) juga harus tahu, bahwa masalah jihad adalah perkara yg besar,bukan perkara sembarangan…seperti yg selama ini dielu-elikan oleh para pengikut hizbiyyah…karena jihad merupakan suatu ibadah , yg dengannya terdapat syarat2 dalam menunaikannya…dan semuanya dikembalikan kepada dalil…dan di antara syarat jihad, adalah harus di bawah bendera penguasa, bukan di bawah bendera kelompok/organisasi/ustadz..syarat lainnya adalah mempunyai persiapan, baik persiapan batin (iman, dan ini yg utama) juga persiapan fisik (senjata, materi, dll)…selain itu harus mempunyai wilayah… wallahu a’lam…

    beberapa hari lalu, ada seorang ikhwan yg memberi khabar kepada ana, beberapa waktu lalu salah seorang petinggi organisasi mahasiswa kepanjangan tangan dari PKS, yaitu KAMMI ketika diwawancarai oleh reporter salah satu TV swasta, dia (petinggi KAMMI -hizbiyun) tersebut mengatakan bahwa, “Peperangan antara muslim di palestin dengan yahudi bukanlah karena perkara agama, tp perkara kemanusiaan…”!! hingga reporter tersebut bertanya kembali ttg apa yg dia ucapkan, karena keheranannya thd ucapan orang KAMMI bahlul tersebut…Allahul musta’an…sungguh betapa bodohnya dia, ternyata apa yg diucapkannya tidak jauh berbeda dari perkataan orang-orang kafir di luar negeri sana, bahwa krisis GAZA hanya musibah kemanusiaan!

    dan afwan, kenapa ana meminta “BUKTI NYATA” dari para hizbiyun, krn sebenarnya ana hanya ingin mengembalikan kalimat tersebut yg selama ini mereka tuduhkan kepada Salafiyun, bahwa Salafiyun tidak pernah memberikan “BUKTI NYATA” terhadap umat!
    padahal selama ini, salafiyun dimana pun dia berada, selalu memberikan bukti nyata thd kepedulian umat Islam, khususnya kepedulian Salafiyun terhadap pembenahan Akidah dan Manhaj. karena ini lah pokok hidup di dunia, yaitu beraqidah shahihah, yg dapat menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran hakiki di akhirat!

    semoga mereka mau introspeksi diri, jangan cuma menyalahkan Salafiyin, juga negeri Saudi dan ulama di sana, apalagi sampe menjelek2an Manhaj salaf, karena Sesungguhnya Manhaj Salaf adalah Islam itu sendiri… Manhaj Salaf adalah Sunnah Rasulullah.
    ketahui pula bahwa Sunnah adalah Islam, dan Islam adalah Sunnah (lihat Syarhus Sunnah poin pertama)

    tentang bersandar manhaj Salaf, wajib bagi setiap muslim…ana pun senang karena Antum mau untuk bersandar kepada Al qur’an dan As Sunnah, akan tetapi harus dengan pemahaman Rasulullah dan para pengikut beliau yg shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in….

    bukan dengan pemahan para HIZBIYUN dengan bendera2 mereka masing2…ato dg pemahaman agama kafir SYIAH …

  • arahadia

    Amir, sadar ttidak sadar anda sedang merusak citra da’wah salafiyah, takutlah sama Allah, istigfar akhi.

    kalau membaca sirah sahabat,tak satupun yang punya karakter seperti ini

  • Saya usul, kalau bisa kita tidak perlu menyebut nama baik nama orang atau nama organisasi dalam berdiskusi kecuali kalau ada maslahat yang nyata dan mudharatnya tidak lebih besar dari maslahatnya. Perlu diketahui bagi muslim.or.id bahwa yang membaca artikel di sini mempunyai latar belakang berbeda yang mungkin akan timbul fitnah kerana ketidak fahaman mencerna apa yang kita diskusikan. Kemudian bagi ikhwah yang akan diskusi sebaiknya kedepankan sikap baik sangka kepada saudara kita. Kalau ada yang keras sekali menyampaikan pendapat, mungkin dia punya latar belakang yang kita belum tahu atau memahaminya. Kita harus sadar bahwa masing-masing orang itu akan berkata berdasarkan informasi yang ada di kepalanya sehingga wajar saja ada beda-beda pendapat. Yang penting diskusi itu harus mempunyai argumen syar’i maupun ‘aqli yang harus disampaikan jangan hanya menghukumi fulan dan fulan. Masalah keras atau lembut sebenarnya itu sekedar penyampaian saja, biasakan untuk membaca akar masalah bukan pada cara penyampaian sehingga tanggapan kita tidak emosional. Jangan hanya gara-gara beda uslub dan bahasa malah diskusi berubah jadi caci maki tidak masuk kepada inti permasalahan.

    Contoh bukan diskusi:
    “Kalau menurut manhaj salaf kamu itu sesat …”
    seharusnya menyebut referensinya, sesatnya bagaimana, bertentangan dengan manhaj salafnya yang seperti apa …

    “Kalau membaca sirah para salaf, tak satupun seperti antum”
    ini mudah dibantah dengan
    “kalau membaca sirah para salaf, ada sahabat yang lebih keras dari saya dalam bersikap”
    terus apa faidahnya bagi kita, mana yang benar ?
    dua-duanya tidak ada hujahnya hanya anggapan
    seharusnya memberi contoh: Ibnu Umar pernah berkata keras begini dan begitu, sukur2 ada referensinya.

    Kemudian prinsip dalam diskusi

    Orang yang tahu hujjah bagi orang yang tidak tahu

    Contoh: A berkata “Saya tidak tahu ada manhaj salaf sekeras antum dalam mengkritik”

    dijawab oleh B: ” Ada coba dibaca di buku atau kitab ini dan itu bahwa sahabat fulan berkata keras begini dan begitu”

    maka dalam hal ini B adalah hujjah atas A karena B tahu apa yang tidak diketahui A.

    ‘Afwan terlalu panjang silakan berdiskusi yang baik

  • Abu ‘Uzair

    untuk saudara2ku yg berkomentar,
    alangkah indahnya jika kita berkomentar dan memberi nasehat dengan kata2 yang lembut, tidak dengan kata2 yang kasar.

    kata2 yang kasar hanya akan membuat orang yang melakukan kesalahan semakin menjauh dari kebenaran.

    ingatlah akhi, saudara2 kita itu kebanyakan masih awwam…..

    jangan sampai mereka menjadi benci terhadap dakwah salaf hanya karena sikap kita yang tidak ahsan.

  • amir

    barokallahu fikum…atas nasihatnya…

    afwan klo mungkin komentar ana terkesan “sangat kasar” dan cenderung bermudhorot bagi dakwah…mungkin bagi admin muslim.or.id bisa menghapus saja komen ana tsb, jika ada maslahatnya…

    na’am… ya Akhi semuanya…mungkin inilah sedikit kekurangan ana, tapi ana selalu berusaha tuk menghilangkannya, insya Allah, walo kadang muncul kembali tanpa disadari… karena emang sifat ana keras, ini bawaan atas kondisi yang menuntut ana menjadi seorang yang keras

    kadang ana pun terlalu terbawa dengan sedikit bayangan masa lalu, khususnya jika berkaitan tentang penindasan kaum kuffar kepada muslimin…bayang2 tersebut selau muncul di hati ana.. hingga saat ini, dan mungkin tidak akan pernah terlupakan bagi ana yg belum lama ngaji ini.

    jujur saja, ana ikut merasakan apa yang saudara2 kita di palestina rasakan tentang kondisi mereka saat ini ketika perang..

    karena ana pun pernah mengalaminya seperti yang mereka rasakan, walao tidak sedahsyat yang dirasakan muslim palestina…

    ana pernah merasakan gimana hidup di kondisi konflik/ perang, karena ana berasal dari POSO…
    pembantaian terhadap muslimin di Palestina, juga seperti yang kami rasakan saat saudara2 kami di poso dibantai oleh Salibis…betapa teririsnya hati ini…

    tentang penyebutan nama merk organisasi, karena menurut ana hal tersebut perlu dilakukan, untuk sedikt “menyentil” mereka..

    karena jujur saja, ana sangat kecewa dan membenci terhadap “organisasi” tersebut… ketika ana belum ngaji, apalagi saat ini setelah ngaji..

    salah satu sebabnya -selain karena jelas2 mereka bermanhaj yg menyimpang- karena, melihat ulah mereka yang hanya bisa KOAR-KOAR ttg kepedulian sesama muslim…dusta mereka…wahai kaum muslimin jangan tertipu dengan ucapan basi mereka yg peduli thd umat! dusta itu!!

    afwan saja, ana melihat dengan kepala mata sendiri dahulu saat perang Ambon n poso…apa yang (afwan nyebut merk) “PKS” lakukan selain hanya KOAR-KOAR???

    mereka tidak berbuat apa2, mereka tidak berjihad…klo pun berbuat sesuatu hanya utk cari simpatik masyarakat…inilah hizbiyyah…

    dahulu ana belum ngaji, ketika melihat PKS / jama’ah tarbiyah yg besemangat utk “peduli” thd umat Islam Palestina…selalu berseru agar kaum muslimin utk jihad-jihad bebaskan Palestina…waktu itu ana senang..

    akan tetapi, ketika terjadi perang POSO, kaum muslimin di bantai..apa yang mereka lakukan??? datangkah mereka utk berjihad??? wallahi tidak!!! kalo pun ada itu cuma segelintir orang…
    padahal ketika itu tidak ada yg menghalangi mereka utk berangkat berjihad di POSO dan Ambon…karena masih satu negara (beda halnya dg Palestina)…

    dan kini mungkin (afwan) semua yg ana pendam selama ini bisa sedikit tertumpahkan…
    ana heran, mengapa mereka malah mencela Salafiyun, saudi arabia, katanya salafi anti jihad, ga peduli umat…

    padahal yg ana tahu justru salafi lah yg pertama kali maju berperang!

    jujur ajah, sebenarnya kami muslimin POSO waktu itu sangat terharu dan sangat berterima kasih terhadap bantuan yg tidak ternilai dari saudara2 kami di Laskar Jihad terhadap muslimin Poso ketika berperang melawan kaum Kuffar!

    kaum muslimin bertambah semangat, dan walhamdulillah atas izin Allah- kaum kuffar makin terpukul…kaum kuffar sangat takut terhadap semangat juang muslimin, khususnya Salafiyun…

    jadi hal ini yg mungkin antum semua harus tahu, mengapa komen2 ana rasanya begitu pedas bagi sebagian pembaca…ana bertaubat kepada ALlah jika apa yg ana lakukan salah…
    ghofarollahu liy w lakum..

  • Arahadia

    أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

  • Akhi Amir semoga ALLAH mengampuni kita, saya juga mempunyai kesan dan mengalami hal yang antum rasakan walaupun ana tidak di situasi perang, tapi saya saat sendirian berdakwah, difitnah dengan kabar-kabar bohong, dan dilecehkan di belakang saya (tidak terang-terangan) oleh saudara-saudara yang notabene sesama muslim. Memang kadang-kadang kita berkata ruhama bainahum yang seharusnya hum adalah sesama muslim menjadi hum adalah sesama anggota jama’ah. Justru orang-orang awam dan orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan gerakan dakwah yang membantu dan menolong saya dalam dakwah ini. Walhamdulillah. Tapi ingat tidak semua bisa merasakan yang antum rasakan sehingga apabila antum mengungkapkan secara vulgar justru mungkin mudharatnya lebih besar dari mashlahatnya (mungkin saya salah). Kejadian dibunuhnya Syaikh al-Mujahid Jamilurrahman as-Salafi -rahimahullah wa ja’alahullahu min asy-syuhada- di Kunar Afghanistan cukup menjadi pelajaran bagi kita semua. ALLAH a’lam.

  • arif

    Bismillaah..

    Asy-Sya’bi rohimahullooh berkata :
    ‘ Diantara adab ulama, yaitu :
    – Apabila mereka berilmu, mereka akan mengamalknnya
    – Bila mereka beramal, merekalah yang paling sibuk diantara manusia
    – Bila manusia (yang lain) sibuk beramal, mereka akan menyembunyikan amalannya
    – Bila manusia (yang lain) menyembunyikan amalnya, mereka akan mencarinya
    – Bila manusia (yang lain) mencari, mereka akan menghindar karena khawatir dirinya akan terfitnah. “.

    Habib bin Syahid berkata kepada anaknya :
    “ Wahai anakku, bertemanlah dengan kalangan fuqoha dan ulama, serta beradablah dengan adab mereka, hal ini lebih aku sukai dari banyaknya hadts. Sebagian dari mereka berkata kepada anaknya :
    “ Wahai putraku, aku lebih menyukai engkau mempelajari satu bab tentang adab, daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab diantara beberapa bab tentang ilmu “.

  • Anshari Taslim

    Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.
    Saya dapat mengerti perasaan dari saudara Arahadia dan bagaimana diskusi dgn Abu Ali dan Abu Faishal.
    Apa yg diutlis Syekh di atas memang tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
    HAMAS atau kelompok manapun yg sedang berjuang mempertaruhkan nyawa dan berada dalam kondisi sulit sangat rentan melakukan kealpaan baik disengaja maupun tidak.
    Hendaknya kita berhusnu zhann kepada mereka dgn tidak melupakan nasehat. Apa yg dilakukan syekh di atas dgn mengirim surat ke HAMAS dalam bentuk nasehat tentu baik sekali.
    Hanya saja tidak perlu berburuk sangka kepada setiap orang yang bersemangat untuk berjihad lalu divonis bahwa dia jahil, hanya karena tidak sesuai dgn pendapat Syekh Fulan dan Fulan, seolah kitalah yg berhak mengkavling ulama dan semua ulama yg tidak direkomendasikan berarti jahil atau ahli bid’ah.
    Saya yakin para masyayikh yang mulia tidak pernah melakukan itu. Syekh bin Baz sendiri adalah orang yang sangat santun, meski berbeda pendapat dengan Al-Qaradhawi beliau tidak pernah menghina atau menjelekkan Al-Qaradhawi dan lainnya.
    Biar bagaimanapun kenyataan membuktikan bahwa HAMAS adalah yang real berjuang di sana. Alangkah baiknya kalau ada kesempatan kita berdialog langsung dgn tokoh-tokoh mereka dan kalau memang mampu menjelaskan kesalahan mereka (kalau memang kesalahan itu tampak pada kita) sembari tetap memberikan dukungan, karena mereka ahlus sunnah, bukan syiah seperti HIzbullah, bukan pula sekuler seperti Fatah. wallahu ‘alam.

  • arahadia

    Subhanallah……. akh Arif, betapa sejuk nasihat ulama, betapa semakin malu dihadpan Allah.

    إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

    “Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk
    menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada
    Asyajj ‘Abdul Qais:

    إن فيك لخلقين يحبهما الله : الحلم والأناة

    “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai;
    sifat santun dan tidak tergesa-gesa”
    Ia berkata:

    ”Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan
    hasil usahaku, atau Allah-kah yang telah menetapkan keduany apadaku?”

    Beliau menjawab:

    بل جبلك الله عليهما

    Allahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”.
    Kemudian ia berkata:

    الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

    Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yang
    dicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya”.

    Membalas perbuatan yang tidak baik dengan kebaikan, kelak permusuhan yang terjadi antara dia dengan saudaranya akan berubah menjadi sebuah persaudaraan, rasa cinta dan persahabatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba
    orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolaholah telah menjadi teman yang sangat setia.”(QS. Fushshilat:34)

    wallahu’alam

  • arahadia

    Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuh,

    Jazakumullah akh Anshari, alhamdulillah atas nasihatnya ternyata kita benar benar mendapat pelajaran dari palestina.

    Mudah mudahan ana bisa menjalankannya dengan baik.

  • Sekedar tambahan informasi kepad al-Akah Anshari, pernyataan antum ” Biar bagaimanapun kenyataan membuktikan bahwa HAMAS adalah yang real berjuang di sana” perlu di tambahi bahwa tidak hanya HAMAS yang real berjuang di sana, tapi seluruh komponen rakyat palestina, jumlah HAMAS sangat sedikit akhi, banyak faksi di sana yang memang tidak berpolitik praktis sehingga gaungnya tidak terdengar di berita2 berbahasa indonesia, kalau kita sejenak mau membaca sumber-sumber berbahasa arab seperti Multaqa ahlul-hadith banyak ikhwah yang beraqidah salafi yang berada di garis depan, mereka tidak membawa nama selain Islam itu sendiri. Bahkan ada juga kelompok al-Qaida yang tidak sependapat dengan HAMAS dan selain kelompoknya, juga banyak faksi-faksi yang lain. Sumbangan kita dan doa kita bukan hanya untuk HAMAS saja tapi untuk seluruh muslim di Palestina baik mujahidin maupun non-mujahidin (wanita dan anak2 serta orang tua), tidak boleh kita menggunakan isu palestin ini untuk mengangkat kedudukan suatu kelompok dan merendahkan kelompok yang lain, tentu saja mujahidin yang beraqidah salaf lebih dekat ke kebenaran di banding yang lainnya entah dia berjihad di kelompok atau faksi apapun ALLAH a’lam.

  • ari wahyudi

    Saya berpendapat mungkin sebaiknya komentar untuk artikel ini ditutup saja, kecuali ada informasi penting yang sangat berharga terkait dengan isi penjelasan Syaikh. Di sini saya juga ingin meralat terjemahan saya, di artikel tertulis Khalid Masy’al, tapi yang benar Khalid Misy’al, mohon maaf kepada pembaca sekalian. Semoga Allah menghancurkan kekuatan Yahudi dan mengembalikan kemuliaan umat Islam di atas manhaj yang haq. Matur nuwun, jazakumullahu khairan atas perhatian anda semua

  • amir

    buat mas anshari taslim..

    Hasan al Bahsri berkata, “Tidak dianggap ghibah dalam membicarakan ahli bid’ah”. Dalam riwayat lain, “Tidak ada ghibah bagi ahli bid’ah dan orang fasik yang menampakkan kesesatan mereka.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah 1/140).

    Fudhail bin Iyadh berkata,”Saya sangat berharap di antara aku dengan ahli bid’ah ada tembok penghalang dari besi. Saya makan bersama orang Yahudi dan Nashrani, lebih baik daripada makan bersama ahli bid’ah”. (Al Ibanah al Kubra, 2/467 dan Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/131).

    Imam al Baghowi menukil riwayat bahwa para sahabat dan tab’in serta ulama sunnah telah berijma’ (bersepakat, red) dan sepakat untuk memusuhi ahli bid’ah dan memutuskan hubungan dengan mereka. (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, 2/638).

    juga Ibnu Shalah pun pernah berkata, ”Boleh menggunjing ahli bid’ah bahkan menyebutkan kesesatan mereka, baik di hadapan atau di belakang mereka, dengan syarat maksud utama adalah untuk menjelaskan kepada khalayak kebid’ahan mereka. Itulah yang telah dilakukan ulama salaf, baik ghibah tersebut untuk menjawab pertanyaan atau tidak”.

    itulah di antara perkataan ulama salaf ttg bolehnya menggunjing (ghibah) terhadap mubtadi’, hizbiyun. dan sejenis mereka…. dan kita harus ttp ikhlas mencari wajah-Nya dikala menggunjing kesalahan mereka…

    wallahu a’lam….

  • arahadia

    Amir,

    Silahkan baca Cuplikan dari Bahtera Da’wah salafiyyah di lautan Indonesia,
    oleh Muhammad Arifin Badri, Lc, MA
    (Alumni S-2 Universitas Islam Madinah, KSA)

    ………….
    Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul- Nya didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdady dalam kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).
    Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami’ah Al Islamiyyah), berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah termasuk saya sendiri menghubungi beberapa syekh yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna memohon agar sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :”Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil” (Penulis buku Manhaj dan Aqidah Imam Syafi’iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’I), dan ketika beliau sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest / menguji ke-50 thullab, satu demi satu. Dan
    diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka :”Sebutkan rukun-rukun sholat?”

    Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memeberanikan diri untuk menjawab, dan berkata :”Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya”.

    Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : “Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid’ah ataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata : Ahlul bid’ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini dan berkata: “Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!, Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!.

    Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramah dan berkata : “Sesungguhnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit”.

    Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ah banyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran ?!?!?!
    ……………….

    Wallahu ‘alam

  • amin

    alhamdulillah masih ada ikhwan salafy seperti arahadia, semoga cuplikan yg antum berikan bisa menjadi renungan buat kita semua…

  • amir

    insya ALlah kita semua percaya dg apa yg disampekan ustadz tsb….
    kita semua memang wajib mempelajari ttg ilmu2 yg lebih penting seperti aqidah, fikih khususnya dari ibadah yg fardhu ‘ain bagi diri sendiri (seperti sholat, dll)…dan tidak menyibukkan hari2 kita dengan masalah tahdzir!
    akan tetapi, bukan berarti kita melupakan tahdzir/ memperingatkan umat dari kesesatan/kesalahan mereka (mubtadi’, hibiyun, dll)..dan janganlah mengatakan bahwa tahdzir tidak pernah dilakukan oleh Salaf.
    tidak ya ikhwah. mereka (pelaku kesesatan) ttp perlu dijelaskan ttg kesalahannya…dan umat harus tahu ttg kesesatan mereka, baik secara naql maupun aql..

    ttg ahlul bid’ah dg yahudi aw kuffar lainnya, jelas yahudi n kuffar adalah kafir…semua orang percaya akan hal tersebut…dan kita tidak mengkafirkan hizbiyun, mubtadi’, krn mereka ttp sesama muslim…

    buat mas arahadia, barokallahu fikum..ana senang dg komen2 antum sebelumnya, hal tesebut menunjukkan bahwa antum orang yg alim….
    afwan tidak bermaksud menggurui antum, karena ana yakin antum lebih ‘alim daripada ana…

    mas, ana cuma ingin tanya ke antum, bukankah para ulama banyak yg menjelaskan ttg kejelekkan ahlul bid’ah, termasuk mencela mereka juga..
    hanya saja, di dalam bermuamalah dg muslim, ttp harus diperhatikan hak-hak mereka..

    bukankah Tahdzir, cercaan, dan sikap keras terhadap ahlul bid’ah juga ditunjukkan oleh Rasulullah kepada mereka?

    pasti, Kita semua sepakat, bahwa Rasulullah memiliki akhlaq yang termulia dan terbaik, sebagaimana direkomendasikan dengan tegas oleh Allah di dalam firman-Nya:
    و إنك لعلى خلق عظيم

    “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang sangat tinggi.” [Al Qalam:4]

    Kita semua sepakat bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah:

    لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله و اليوم الآخر و ذكر الله كثيرا

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi yang mengharap (rahmat) Allah dan (kemuliaan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:21]

    Maka merupakan akhlaq yang sangat mulia dan wajib kita teladani ketika Rasululah bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

    “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

    Begitu pula dalam mencela pelaku kebatilan, rasulullah pun pernah mencontohkannya, baik secara umum, maupun khusus.

    tahdzir secara umum, seperti perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg menegaskan kepada ‘Aisyah:
    إِذَا رَأَيْتِ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ، فَاحْذَرُوْهُمْ

    “Apabila kau melihat orang-orang yang sukanya mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih, maka merekalah yang Allah sebutkan (pada ayat tersebut). Maka hati-hatilah dari mereka.” [Muttafaqun ‘alaih]

    sednagkan secara khusus, beliau shallallahu a’alihi wasallam dengan keras dan tegas pula mencela kaum khawarij contohnya, bahkan menggelari mereka sebagai Anjing-anjing jahannam. Rasulullah berbicara pedas dan keras tentang khawarij dengan mengatakan:

    الخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّار

    Khawarij adalah anjing-anjing neraka. [HR. Ibnu Majah (172) dari ‘Abdurrahman bin Abi Aufa]

    juga ttg nenek moyang khawarij:
    .”..akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaishirah) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul Islam dan membiarkan hidup (tidak mereka bunuh) ahlul Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Ad [HR. Al Bukhari 3344, Muslim 1064; Abu Dawud 4764]

    Rasulullah juga bersabda tentang khawarij:

    هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَ الْخَلِيْقَةِ

    Mereka adalah sejahat-jahat makhluk dan ciptaan. [HR. Muslim. No. 1067, dari Abu Dzarr]

    apakah kita akan mengatakan bahwa Rasulullah, adalah orang yg tak beradab? tentunya tidak bukan? karena kita semua sepakat bahwa beliau pun adalah orang yg paling beradab di muka bumi ini…

    jika kita mengatakan bahwa orang2 takfiri memiliki ciri2 pemahaman khawarij, dan dengannya (khawarij) dikatakan sebagai anjing-anjing neraka, apakah hal tersebut kasar? tidak beradab? tidak lembut?
    mungkin ada sebagian orang yg mengatakan bahwa mengatakan khawarij adalah anjing neraka adalah keras, kasar…padahal hal tersebut adalah perkataan rasulullah thd mereka….

    jd janganlah kita mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian…
    janganlah kita terlalu lembut dlm menyikapi ahlul bid’ah, sehingga meninggalkan tahdzir thd mereka, karena mengedepankan sikap lembut Rasulullah serta meninggalkan (atau melupakan) bahwa Rasul pun pernah melakukan tahdzir dengan keras thd pelaku kesesatan.

    jangan pula kita menyibukkan hari2 kita untuk berlaku keras/mencela terhadap mubtadi’ krn melihat hadits dan atsar ttg sikap keras beliau thd pelaku kesesatan, dan meninggalkan (atau melupakan) contoh bahwa rasulullah adalah orang yg sangat lembut..serta meninggalkan hal2 yg lebih penting yaitu mempelajari dan menjelaskan ttg aqidah shohihah, ibadah, dan ilmu dan amalan lain kepada umat.

    ketahuilah, ada kalanya kita harus lembut dalam bermuamalah dg mereka (hizbiyun), adakalanya merekapun harus mendapatkan peringatan dg keras….

    ketahuilah ya ikhwah, pernyataan keras ana thd hizbiyun pada kolom diskusi di muslim.or.id ini, bukanlah karena ana ingin membela diri ana/ krn celaan thd ana..wallahi sama skali tidak!

    wallahu a’lam…

    mohon koreksi n nasihat kalo ada yg salah dari ana. jazakumullahu khoiron.
    inni uhibbukum fillah.

  • amir

    afwan, ana cukupkan komen ana di atas, karena isinya sudah makin jauh ttg isi artikel ttg Palestina, sebab ga akan selesai jika diteruskan..wallahu a’lam…

    ketahuilah, sikap keras dalam memperingati ahlul bid’ah, tidak melazimkan kita bermuamalah dg buruk thd mereka…kita harus memperhatikan hak-hak sesama muslim juga, sebab mereka ttp lah muslimin.

    afwan, klo ushlub ana keras dalam menyampaikan..

  • arahadia

    Cinta itu harus karena Allah demikian juga benci harus karena Allah, Ana yang jahil ini sangat yakin atas akhlaq yang mulia dari Rasulullah saw, seperti yakinnya ana bahwa yang si sampaikan beliau adalah wahyu.

    Ana setuju untuk menghentikan diskusi ini, mudah mudahan ada manfaat untuk ana dan mohon maaf atas segala kesalahan, dan mudah2an ini semua untuk mencari ridlo Allah SWT dan Allah menghilangkan sifat Ghurur dari diri ana amin.

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

  • abu ismail

    salamualaikum
    mari kita semua kembali kepada mazhab fiqh yang emapat hanafi,maliki,syafi’i,hambali
    insyaAllah kita ummat islam akan jaya kedepan, bukankah masa kejyaan islam yang dulu karna mereka masih bermazhab kepada mazhab yang empat ?

  • amin

    maaf aku cuma pengen tanya, apakah pengambilan hukum suatu hal bisa sama sedangkan kondisinya berbeda?
    misal begini pada zaman Rosululloh & sahabat kan mayoritas kaum muslimin berada diatas sunnah (hanya sedikit sekali dari golongan orang2 yg sesat yg melakukan bid’ah) sedangkan saat ini kondisi umat islam hampir sebagian besar berada dalam kebid’ahan (dengan berbagai macam penyebab) dan seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih “lunak” dibanding orang arab. apa sikap menasehati dengan kasar bisa tetep dilakukan dengan kondisi kaum muslimin seperti tsb?
    mohon penjelasannya, terimakasih.

  • @amin
    justeru saya balik tanya,anda mengatakan “…seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih “lunak” dibanding orang arab…”

    Darimana anda berkesimpulan spt itu? apakah sudah ada survey penelitian ttg perbedaan karakter org arab dengan indonesia, shg disimpulkan org kita lebih ‘lunak’ dr org arab?

  • abu faisal

    Afwan,

    Untuk akh arahadia, mengenai tanah yang suci, yang bani Israil disuruh masuk kedalamnya, yang ana tahu ada di 2:58 dan 5:21. Yang ana tahu, sebagaimana didalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud “Tanah Suci” hanyalah terbatas pada Baitul Maqdis (Jerusalem). Sebagaimana dikatakan as As-Suddi, Ar-Rabi` bin Anas, Qatadah and Abu Muslim Al-Asfahani, dan lain2. Maka dapat dipahami bahwa dalam terjemahan antum itu, kata-kata Palestina adalah tambahan dari antum sendiri, kecuali jika antum bisa memaparkan dalil ilmiyah, bahwa yang dimaksud “Tanah Suci” adalah Palestina secara keseluruhan.

    Yang ana ketahui agama ini adalah bersifat pertengahan. Siapa yang menghiasinya dengan perangai keras, maka ini bukanlah akhlaq salaf. Demikian juga bersikap lunak, tanpa pandang bulu. Maka yang benar adalah – Insya Allah- melazimkan lemah-lembut dan tegas jika diperlukan secara syar’i. Siapa yang tidak mengenal kelemah-lembutan Rasulullah? Tapi beliau tidak segan menyebut Khawarij anjing neraka. Siapa tidak mengenal kemuliaan akhlaq Imam Ahmad? Tapi beliau langsung berdiri, menyingsingkan lengan dan berkata zindiq, zindiq, zindiq, ketika sampai berita orang yang menolak hadits Nabi. Jadi masalahnya, bukanlah membahas apakah akhlaqul karimah itu harus lembut atau keras? Tapi bagaimanakah sikap yang cocok untuk HAMAS ini. Benarkah kita harus terus berhusnudzan terhadap mereka? Padahal mereka membantai da’i-da’i salafiyyin atas nama “kemaslahatan”? Atau barangkali kalimat pembantaian ini luput dari mata kita ketika membaca artikel diatas? Kenapa mudah sekali kita berhusnudzan terhadap orang-orang hizbiyyun, tapi sulit sekali berhusnudzan terhadap salafiyyun, bahkan para masyaikhnya sekalipun? Atau jangan-jangan hati kita yang ada penyakitnya. sehingga ketika kita mengucapkan su’udzan atau husnudzan hati kita sebenarnya sudah memihak?

    Maka -wallahu A’lam- kita ambil saja dhahirnya, karena Allah tidaklah membebani kita kecuali sesuai kemampuan kita. Bahwa yang berfatwa ini adalah ahli ilmu, maka menerimanya adalah sesuai perintah Allah. Dan tidak boleh menolaknya kecuali kita memiliki hujjah yang nyata. Dan faktanya bahwa HAMAS, telah sampai dakwah kepada mereka, dan itu mereka sambut dengan membantai da’i2 salafiyyin. Maka tidak boleh fakta-fakta dzahir ini, kita bantah atau abaikan dengan kata “jangan-jangan….”, “Mungkin….”, “Barangkali….”. Karena ini sama saja membantah hujjah/dalil dengan persangkaan semata. Maka tidak ada yang layak kecuali tahdzir atas mereka sebagai wujud dari nahyi munkar (tentunya disesuaikan situasi dan kondisi lawan bicara). Karena tidak ada setelah kebenaran melainkan kesesatan.

  • ismael aga

    assalamualaikum
    saya hanya orang awam dalam agama

    ketika saya menyimak khotib di masjid agung Sumber, cirebon, khotib membicarakan tentang seseorang yang gagah berani di medan perang bersama pasukan rasulallah. dia dengan tanpa takut menghapi musuh-musuh islam dalam perang bahkan setiap langkah dia dapat memenggal kepala musuh.
    sahabatpun bertanya pada rasulallah apakah dia masuk surga, rasulallah menjawab tidak.
    karena pada saat-saat terakhir dalam perang tangannya terpotong oleh pedang musuh. karena dia merasa orang yang gagah berani dan malu kalau tangannya terpotong lalu dia mengarahkan unjung pedangnya kearah tubuhnya dan nafasnya pun berhenti.
    kemudian ada orang yang baru bersahadat pada waktu sebelum perang dan dia pun ikut berperang. karena dia tidak ahli dalam menggunakan pedang maka terbunuhlah ia.
    lalu setelah perang jasadnya pun di angkat oleh para sahabat dan rasul yang mulia tersenyum melihat jasad orang tersebut, dan rasulpun menguraikan kejadiannya sebelum dia ikut berperang.
    subhanallah

    sebenarnya hati ini sedih melihat dunia yang seperti sekarang ini.
    semoga Allah mematikan kita dalam keadaan islam.

  • Ya Allah hanya kepada engkau kamii memohon perlindungan…
    Hanya kepada engkau kamii berserahh…
    Ya Allah lindungilah saudara hamba di Palestina…
    Ya Allah, jikalau pun wafat, wafatkanlah dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid… Amin…

  • Pingback: Sikap Ahlussunnah Terhadap Tragedi Palestina | {Maryam.Khadijah.Fathimah.Asiyah}()

  • Pingback: Pelajaran dari Palestina « Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari()

  • Pingback: Dari Palestina Kita Belajar | Sarana MuslimSarana Muslim()

  • Pingback: Pelajaran dari Palestina()