Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, namun Menyelisihinya

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
11 Juli 2019
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Kita jumpai sebagian orang yang ragu-ragu melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kemampuannya. Hal ini karena dia merasa bahwa dirinya belum sempurna, merasa bahwa masih banyak sunnah atau kewajiban yang belum dia tunaikan, dan juga merasa bahwa masih banyak perkara-perkara keburukan yang masih dia lakukan. 

Baca Juga: Haruskah Berdakwah dengan Lemah Lembut di Zaman Ini?

Dan juga khawatir kalau dia hanya bisa memerintahkan orang lain, namun melupakan dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, “Dikatakan kepada ‘Usamah, “Seandainya kamu temui si fulan (khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu) lalu kamu berbicara dengannya (menasihatinya).” 

‘Usamah berkata, “Sungguh jika kalian memandang aku tidak berbicara dengannya, selain setelah kuperdengarkannya kepada kalian semua. Sungguh aku sudah berbicara kepadanya secara rahasia, dan aku tidak membuka suatu pembicaraan yang aku menjadi orang pertama yang membukanya. Aku juga tidak akan mengatakan kepada seseorang yang seandainya dia menjadi pemimpinku, bahwa dia sebagai manusia yang lebih baik, setelah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

Baca Juga: Metode Dakwah kepada Orang Kafir

Mereka bertanya, “Apa yang Engkau dengar dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

‘Usamah berkata, “Aku mendengar beliau bersabda, 

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Pada hari kiamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin penggiling gandum. Penduduk neraka lalu berkumpul mengelilinginya seraya berkata, “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma’ruf dan melarang kami berbuat munkar?” 

Orang itu pun berkata, “Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma’ruf, tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku melarang kalian dari berbuat munkar, namun aku malah mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)

Namun sebagian orang salah paham dengan hadits di atas. Karena dia menyangka bahwa seseorang tidak selayaknya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, sampai dia menyempurnakan dirinya sendiri terlebih dahulu dengan melaksanakan semua kewajiban dan menjauhi semua perkara yang terlarang.

Baca Juga: Ilmu yang Dibutuhkan oleh Juru Dakwah

Jika maksud hadits demikian, maka tidak ada di dunia ini yang bisa menunaikan perintah Allah Ta’ala untuk menunaikan amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak ada di dunia yang berani mengingatkan dan mengajarkan tentang keikhlasan, karena kita tidak tahu apakah diri kita termasuk orang-orang yang ikhlas ataukah tidak. Tidak ada di dunia yang berani mengingatkan agar kita terus berusaha menyempurnakan keimanan, karena kita juga merasa bahwa keimanan kita belum tentu sempurna sebagaimana yang Allah Ta’ala jelaskan ciri-ciri orang yang beriman dengan keimanan yang sempurna.

Oleh karena itu, maksud hadits di atas adalah bahwa manusia itu memiliki dua kewajiban,

Kewajiban pertama, memerintahkan dirinya sendiri untuk melakukan hal-hal yang ma’ruf dan melarang dirinya sendiri untuk terjerumus dalam kemungkaran. Sehingga dia menjadi orang yang mengamalkan ilmunya, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan takut terhadap siksa-Nya. 

Kewajiban ke dua, dia memerintahkan orang lain untuk melakukan hal-hal yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. 

Jika seseorang sudah melaksanakan salah satu dari keduanya, dan meninggalkan satu kewajiban yang lain, maka yang tersisa adalah kewajiban yang belum dia tunaikan dan gugurlah kewajiban yang lain sesuai dengan niat atau keikhlasannya. Dan tentu saja, jika ditimbang dari sisi pelaksanaan kewajiban, orang yang sudah melakukan salah satu dari dua kewajiban di atas tentu lebih baik daripada yang tidak mengerjakan dua-duanya sama sekali.  Dengan kata lain, jika kita belum mampu melaksanakan semua kewajiban, maka minimal kita tidak meninggalkan semua kewajiban tersebut.

Oleh karena itu, yang terbaik kita lakukan adalah tetap berusaha memperbaiki diri sendiri, terus introspeksi diri, dan juga terus mengingatkan orang lain sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang kita miliki. 

Baca Juga:

  • Menunda Hal Yang Dianjurkan Demi Mengikat Hati Masyarakat
  • Indahnya Kelembutan Dalam Dakwah

[Selesai]

***

@Puri Gardenia i10, 11 Syawwal 1440/15 Juni 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 98-99.

ShareTweetPin2
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya

Bolehkah Membatalkan Ibadah Sunnah tanpa Alasan?

Komentar 1

  1. Ummu Salsabila says:
    7 tahun yang lalu

    Ustadz
    Kapan lanjut tafsir lughawi surat – surat pendek ?
    Ngajar seperti ini bagus. Pendengar konsentrasi dg suara dan kitabnya.

    https://youtu.be/z2YDTv14CVE

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah