Apakah Orang Kafir Terkena Kewajiban Syariat? (Bag. 1)

Apakah Orang Kafir Terkena Kewajiban Syariat? (Bag. 1)

Mungkin, seringkali kita jumpai saudara kita sesama muslim, jika mereka salah membeli suatu makanan yang ternyata haram (entah karena ternyata mengandung babi dan yang lainnya), mereka serta merta memberikannya kepada temannya yang orang kafir. Mungkin mereka berpikir, daripada barang tersebut dibuang, lebih baik diberikan kepada teman yang non-muslim supaya bisa mereka konsumsi.

Apakah tindakan seperti ini bisa dibenarkan? Inilah yang akan menjadi bahasan kita dalam tulisan singkat ini.

Baca Juga: Apakah Orang Kafir akan Dihisab di Akhirat?

Orang kafir wajib masuk Islam

Dalam Islam, orang kafir diwajibkan masuk Islam. Tidak ada kebebasan memilih aqidah atau memilih agama. Semua manusia WAJIB masuk Islam. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini.

Sebagai bukti, jika di dunia ini mereka memilih agama kekafiran, Allah Ta’ala kelak akan menghukum mereka dengan kekal di neraka. Ini adalah bukti yang paling mudah dipahami bahwa tidak ada kebebasan memilih agama. Jika manusia bebas memilih agama dan aqidah di dunia semau mereka, lalu mengapa Allah Ta’ala menghukum mereka di akhirat?

Meskipun demikian, kaum muslimin tidaklah diperintahkan untuk memaksa orang kafir masuk Islam. Haram atas kaum muslimin untuk memaksa orang-orang kafir, baik orang Yahudi, Nasrani atau selainnya, untuk mengubah agama mereka agar masuk ke dalam agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)

Dua hal ini, harus bisa kita bedakan.

Baca Juga: Menjawab Beberapa Syubhat Bolehnya Memilih Pemimpin Dari Orang Kafir

Apakah orang kafir terkena kewajiban-kewajiban dalam syariat dan harus menjauhi maksiat?

Jika sudah jelas bagi kita bahwa orang kafir wajib masuk Islam, lalu apakah mereka juga terkena berbagai kewajiban dalam agama Islam? Seperti mereka wajib shalat, zakat, puasa, haji dan kewajiban-kewajiban lainnya? Dan juga wajib menjauhi maksiat, seperti berzina, minum khamr, dan sebagainya?

Permasalahan ini adalah di antara perkara yang diperselisihkan oleh para ulama. Pendapat yang lebih kuat (lebih tepat) adalah bahwa orang kafir juga terkena kewajiban syariat. Hal ini karena pendapat inilah yang didukung oleh dalil-dalil yang sangat kuat.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ؛ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ؛ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ؛ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 42-47)

Baca Juga: Tahukah Anda, Apa Yang Paling Dibenci Orang Kafir?

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menceritakan keadaan penduduk neraka. Sebab mereka masuk neraka adalah “mendustakan hari pembalasan”, yang ini merupakan sebab mereka divonis sebagai orang kafir. Juga karena “tidak mengerjakan shalat”, menurut pendapat terkuat dalam masalah ini bahwa meninggalkan shalat termasuk kekafiran. Atau jika mengikuti pendapat ulama bahwa meninggalkan shalat bukan termasuk dosa kekafiran, maka ayat ini adalah dalil bahwa orang kafir mendapatkan adzab karena meninggalkan cabang (furu’) syariat.

Dalam ayat yang sama, Allah Ta’ala juga menjelaskan bahwa sebab mereka diadzab di neraka adalah “tidak memberi makan orang miskin”. “Tidak memberi makan orang miskin” alias zakat atau sedekah, tidaklah termasuk dosa kekafiran yang menyebabkan pelakunya divonis kafir. Sehingga ayat ini adalah dalil kuat bahwa orang kafir akan disiksa di akhirat karena mereka meninggalkan kewajiban dalam agama.

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى ؛ وَلَكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى

“Dan ia tidak mau membenarkan (rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran).” (QS. Al-Qiyamah [75]: 31-32)

Baca Juga: Apakah Orang Kafir Akan Ditanya Di Alam Kubur?

Juga perintah Allah Ta’ala yang bersifat umum kepada semua jenis manusia untuk melaksanakan berbagai kewajiban syariat. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 97)

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Dua ayat di atas menunjukkan perintah yang bersifat umum kepada seluruh manusia, tanpa terkecuali.

Oleh karena itu, pendapat terkuat adalah bahwa orang-orang kafir juga terkena perintah dan larangan dalam syariat. Namun, bukan maksudnya bahwa mereka diperintahkan untuk shalat atau puasa ketika masih kafir dan belum masuk Islam. Karena jika mereka shalat dan berpuasa ketika masih kafir, ibadah mereka tidak sah.

Sehingga maksud “orang-orang kafir juga terkena perintah dan larangan dalam syariat” adalah bahwa orang kafir akan mendapatkan tambahan adzab karena mereka di dunia tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat, juga karena mereka di dunia minum khamr, berzina dan sebagainya. Itu adalah hukuman yang akan mereka terima di samping adzab yang disebabkan oleh dosa kekafiran mereka.

Selain itu, hal ini juga menunjukkan hikmah dan keadilan Allah Ta’ala. Jika hamba-hambaNya yang beriman yang Allah Ta’ala cintai itu dihukum karena terjerumus dalam maksiat dan meninggalkan kewajiban, lalu bagaimana mungkin orang kafir justru tidak dihukum dengan sebab yang sama?

Baca Juga:

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »

8 Comments

Leave a Reply