Beberapa Kesalahan di Hari Jumat (Bag. 1): Mengkhususkan Hari Jumat untuk Berpuasa Sunah

Beberapa Kesalahan di Hari Jumat (Bag. 1): Mengkhususkan Hari Jumat untuk Berpuasa Sunah

Hari Jumat adalah hari yang penuh berkah dan memiliki banyak keutamaan. Hari Jumat adalah hari yang paling utama (paling afdal) dari semua hari dalam satu pekan. Di antara keberkahannya adalah disyariatkannya salat Jumat pada hari tersebut yang dapat menggugurkan dosa antara Jumat itu dengan Jumat pekan sebelumnya.

Dalam tulisan serial ini, penulis akan membahas beberapa kesalahan dan kekeliruan kaum muslimin yang umum terjadi berkaitan dengan ibadah di hari Jumat. Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat.

Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat

Mengkhususkan Hari Jumat untuk Berpuasa Sunah

Terdapat banyak hadis yang menunjukkan larangan untuk mengkhususkan hari Jumat dengan melaksanakan ibadah puasa.

Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abbad, beliau berkata,

سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الجُمُعَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Aku bertanya kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di hari Jumat?” Jabir berkata, “Iya.” (HR. Bukhari no. 1984 dan Muslim no. 1143)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan salat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula mengkhususkan hari Jumat dengan berpuasa, kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” (HR. Muslim no. 1144)

Hadis-hadis di atas menunjukkan larangan untuk mengkhususkan hari Jumat dengan ibadah berpuasa. Mayoritas ulama menilai hukumnya makruh. Sedangkan sebagian ulama lain, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, berpendapat hukumnya haram.

Baca Juga: Agar Khutbah Jumat Bermanfaat Dan Berkesan Bagi Jamaah

Adapun jika diiringi dengan berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat, maka hal ini diperbolehkan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Janganlah kalian berpuasa di hari Jumat, kecuali jika diiringi dengan berpuasa di hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144)

Diriwayatkan dari Juwairiyah binti Al-Harits rahiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ، فَقَالَ: «أَصُمْتِ أَمْسِ؟» ، قَالَتْ: لاَ، قَالَ: تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا؟ قَالَتْ: لاَ، قَالَ: فَأَفْطِرِي

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya (Juwairiyah) pada hari Jumat dan dia sedang berpuasa. Nabi berkata, “Apakah Engkau kemarin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi bertanya, “Apakah Engkau ingin berpuasa besok?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi berkata, “Berbukalah.” (HR. Bukhari no. 1986)

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala menjelaskan hikmah dari larangan ini dengan mengatakan,

سد الذريعة من أن يلحق بالدين ما ليس فيه، ويوجب التشبه بأهل الكتاب في تخصيص بعض الأيام بالتجرد عن الأعمال الدنيوية، وينضم إلى هذا المعنى: أن هذا اليوم لما كان ظاهر الفضل على الأيام، كان الداعي إلى صومه قويا، فهو في مظنة تتابع الناس في صومه، واحتفالهم به ما لا يحتفلون بصوم يوم غيره، وفي ذلك إلحاق بالشرع ما ليس منه. ولهذا المعنى – والله أعلم – نهي عن تخصيص ليلة الجمعة بالقيام من بين الليالي، لأنها من أفضل الليالي، حتى فضلها بعضهم على ليلة القدر

“Ini adalah dalam rangka mencegah agar (kaum muslimin) tidak menyandarkan sesuatu dengan agama yang tidak ada asal-usulnya. Hal ini juga menyebabkan tasyabbuh dengan ahli kitab dalam mengkhususkan sebagian hari untuk tidak melakukan aktivitas duniawi apa pun. Selain hikmah yang sudah disebutkan, juga ditambahkan bahwa ketika hari (Jumat) ini memiliki keutamaan dibandingkan hari-hari yang lain, maka dorongan untuk berpuasa pada hari itu menjadi lebih kuat. Sehingga terdapat persangkaan bahwa manusia ikut-ikutan berpuasa di hari itu dan menjadikannya sebagai perayaan dengan berpuasa yang tidak mereka lakukan di hari lainnya. Dalam perbuatan tersebut, mereka memasukkan (suatu amal) ke dalam agama yang tidak ada asal-usulnya dalam agama tersebut. Karena hikmah tersebut, wallahu a’lam, (syariat) melarang mengkhusukan malam Jumat dengan salat malam (yang tidak dilakukan di malam-malam lain) karena malam Jumat adalah malam yang paling afdhal. Sampai-sampai sebagian di antara mereka lebih mengutamakan malam Jumat dibandingkan dengan malam Lailatul Qadar.” (Zaadul Ma’aad, 1: 406-407)

Baca Juga:  Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat

Berdasarkan penjelasan di atas, sebab larangan berpuasa di hari Jumat adalah semata-mata karena hari itu adalah hari Jumat. Oleh karena itu, jika hari Jumat tersebut bertepatan dengan hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah); atau seseorang yang terbiasa berpuasa sehari dan berbuka sehari dan bertepatan giliran waktu puasanya dengan hari Jumat; atau bertepatan dengan puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14 dan 15 dalam kalender hijriyah); atau bertepatan dengan hari ‘Asyura; maka tidak mengapa berpuasa di hari Jumat saja, karena puasa di hari itu tidak dimaksudkan untuk mengagungkan hari Jumat secara khusus, dan juga termasuk dalam pengecualian yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 142-143)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

صوم يوم الجمعة مكروه، لكن ليس على إطلاقه، فصوم يوم الجمعة مكروه لمن قصده وأفرده بالصوم

“Puasa di hari Jumat itu makruh, namun tidak secara mutlak. Puasa di hari Jumat itu makruh bagi orang yang memaksudkan dan mengkhususkannya (karena semata-mata hari Jumat).” (Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 20: 29)

Baca Juga:

[Bersambung]

***

@Jogjakarta, 11 Rabi’ul akhir 1440/ 19 Desember 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »