Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fatwa Ulama: Apakah Al-Qur’an Diambil oleh Jibril ‘alaihis salaam dari Lauh Mahfudz?

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
6 Mei 2018
di Akidah
Lauh Mahfudz
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Fatwa Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir Al-Barrak
    • Pertanyaan:
    • Jawaban:

Apakah benar Al-Qur’an diambil oleh Jibril ‘alaihis salaam dari Lauh Mahfudz? Berikut fatwa Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir Al-Barrak.

Fatwa Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir Al-Barrak

 

Pertanyaan:

Apakah pernyataan (ungkapan) ini benar: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan wahyu Al-Qur’an dari Jibril ‘alaihis salaam, dari Lauh Mahfudz, dari Rabb Yang Maha Perkasa?”

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Ta’ala. Amma ba’du.

Madzhab (aqidah) ahlus sunnah wal jamaa’ah menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah (yang hakiki, pen.). Allah Ta’ala berbicara, kemudian disampaikan kepada Jibril (Ruh Al-Amin), lalu diturunkan oleh Jibril ‘alaihis salaam untuk diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disampaikan melalui pendengaran dan hati beliau. Maka permulaan turunnya Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta’ala adalah melalui perantaraan malaikat Jibril ‘alaihis salaam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ؛ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ؛ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ ؛ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 192-195)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ

“Katakanlah, “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar.” (QS. An-Nahl [16]: 102)

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ؛ ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwiir [66]: 19-20)

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Kitab (Al-Qur’an ini) diturunkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Az-Zumar [39]: 1)

Ungkapan yang disebutkan (oleh sang penanya) pada pertanyaan di atas memiliki konsekuensi bahwa Jibril ‘alaihis salaam tidaklah mendengar Al-Qur’an dari Allah Ta’ala. Akan tetapi, Jibril ‘alaihis salaam mengambil Al-Qur’an tersebut dari Lauh Mahfudz.

Memang betul, Al-Qur’an itu tertulis di Lauh Mahfudz, yang merupakan ummul kitaab (induk kitab-kitab). Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ؛ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 3-4)

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ ؛ فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ

“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruuj [85]: 21-22)

Berdasarkan penjelasan ini, maka ungkapan tersebut tidak benar. Karena ungkapan tersebut mengandung makna yang keliru (batil), yaitu Jibril ‘alaihis salaam tidak mendengar Al-Qur’an dari Allah Ta’ala. Ini adalah madzhab (aqidah) Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan yang mengikuti keduanya, baik kelompok Asy’ariyyah dan selain Asy’ariyyah. Mereka (Jahmiyyah dan Mu’tazilah, pen.) mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu tidak berbicara, adapun Al-Qur’an adalah makhluk.” Bahkan setiap ucapan (kalam) yang disandarkan kepada Allah Ta’ala adalah makhluk.

Adapun Asy’ariyyah, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kalam Allah adalah makna yang ada dalam jiwa (nafs) yang qadim (sejak dulu tanpa permulaan, pen.), kalam Allah tidak bisa didengar, tidak berkaitan dengan kehendak (masyi’ah) Allah. Adapun Al-Qur’an, yang tertulis di mushaf, yang diucapkan oleh lisan, yang dihapal, yang didengar, adalah ungkapan dari makna yang ada dalam jiwa (nafs) Allah.”

Hakikat dari ucapan Asy’ariyyah adalah bahwa Al-Qur’an ini adalah makhluk. Maka ucapan Asy’ariyyah ini mirip dengan ucapan Mu’tazilah. Ini adalah aqidah (madzhab) yang baru, (aqidah yang) dibuat-buat dan (aqidah yang) batil, bertentangan dengan akal dan dalil syar’i, juga bertentangan dengan madzhab ahlus sunnah wal jama’ah yang diriwayatkan dari para salaf, yaitu dari para sahabat dan tabi’in, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka seluruhnya. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Jagalah Allah, Ia Akan Menjagamu

***

Selesai diterjemahkan di malam hari, Rotterdam NL, 8 Sya’ban 1439/ 25 April 2018

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dari: https://www.alukah.net/sharia/0/3995/

ShareTweetPin2
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

oleh Mochammad Wibisono
9 September 2026
0

Menempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri. Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat...

Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia

oleh Mochammad Wibisono
6 September 2026
0

Kesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata. Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik...

Mengenal Nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”

oleh Muhammad Insan Fathin
4 September 2026
0

Di antara perkara yang paling menenteramkan hati seorang mukmin saat mengarungi ujian kehidupan adalah keyakinan bahwa tidak ada satu pun...

Artikel Selanjutnya

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 8)

Komentar 1

  1. Aldi says:
    6 tahun yang lalu

    Nice infonya

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah