Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fatwa MUI tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. oleh Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
29 September 2008
di Fikih Ibadah
Share on FacebookShare on Twitter

KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 2 Tahun 2004
Tentang
PENETAPAN AWAL RAMADAN, SYAWAL, DAN ZULHIJAH

Majelis Ulama Indonesia,

MENIMBANG:

  • (a) bahwa umat Islam Indonesia dalam melaksanakan puasa Ramadan, salat Idulfitri, dan Iduladha, serta ibadah-ibadah lain yang terkait dengan ketiga bulan tersebut terkadang tidak dapat melakukannya pada hari dan tanggal yang sama disebabkan perbedaan dalam penetapan awal bulan-bulan tersebut;
  • (b) bahwa keadaan sebagaimana tersebut pada huruf a dapat menimbulkan citra dan dampak negatif terhadap syi’ar dan dakwah Islam;
  • (c) bahwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia pada tanggal 22 Syawal 1424 H/16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, sebagai upaya mengatasi hal di atas;
  • (d) bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah dimaksud untuk dijadikan pedoman.

MENGINGAT:

1. Firman Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala), antara lain:

  • (QS Yunus [10]: 5) : Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
  • (QS. an-Nisa’ [4]: 59) : Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil-amri di antara kamu.

2. Hadis-hadis Nabi s.a.w. (shallallahu ‘alaihi wa sallam), antara lain :

  • (H.R. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar) : “Janganlah kamu berpuasa (Ramadan) sehingga melihat tanggal (satu Ramadan) dan janganlah berbuka (mengakhiri puasa Ramadan) sehingga melihat tanggal (satu Syawal). Jika dihalangi oleh awan/mendung, maka kira-kirakanlah”.
  • (Bukhari Muslim dari Abu Hurairah) : “Berpuasalah (Ramadan) karena melihat tanggal (satu Ramadan). Dan berbukalah (mengakhiri puasa Ramadan) karena melihat tanggal (satu Syawal). Apabila kamu terhalangi, sehingga tidak dapat melihatnya, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari”.
  • (H.R. Bukhari dari Irbadh bin Sariyah) : “Wajib bagi kalian untuk taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian itu seorang hamba sahaya Habsyi”.

3. Qa’idah fiqh: “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”.

MEMPERHATIKAN:

  1. Pendapat para ulama ahli fiqh; antara lain pendapat Imam al-Syarwani dalam Hasyiyah al-Syarwani.
  2. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.
  3. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 05 Zulhijah 1424/24 Januari 2004.

Dengan memohon rida Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala),

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PENETAPAN AWAL RAMADAN, SYAWAL, DAN ZULHIJAH

Pertama : Fatwa

  1. Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq. Menteri Agama dan berlaku secara nasional.
  2. Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
  3. Dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan instansi terkait.
  4. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’-nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.

Kedua : Rekomendasi

Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

Ditetapkan di: Jakarta, 05 Zulhijah 1424 H / 24 Januari 2004 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA,

KOMISI FATWA,

Ketua: KH. Ma’ruf Amin

Sekretaris: Hasanudin

Sumber: Fatwa Majelis Ulama Indonesia

ShareTweetPin
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

- Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. - Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). - S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). - S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). - Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. - Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
28 Juni 2026
0

Pengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang...

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

oleh Luqman Hasan Nahari
25 Mei 2026
0

Ibadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah...

Artikel Selanjutnya

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Komentar 15

  1. Ricky says:
    18 tahun yang lalu

    ana mau memberikan masukan kepada bapak-bapak di MUI agar menuliskan pujian kepada Allah Ta’ala bukan dengan singkatan tetapi ditulis dengan lengkap karena untuk menghindari penafsiran maksud tulisan seperti subhanahu wa ta’ala bukan SWT

    syukron

    Reply
  2. ummu ubay says:
    18 tahun yang lalu

    Alhamdulillah ana sangat senang membaca artikel2 anda yang sangat menambah ilmu dan wawasan. semoga bernilai ibadah disisi Allah, insyaAllah.

    Reply
  3. upi says:
    17 tahun yang lalu

    mohon informasi ketetapan hari pertama ramadhan, kalau bisa ada lampiran dalam bentuk pdf nya, terima kasih

    Reply
  4. amiroel moeslimin says:
    17 tahun yang lalu

    assalaamualaikum,kalo bisa tolong dikirim penetapan awal ramadhan dan jadwal imsakiyah 2009

    Reply
  5. fahrul says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamu ‘alaikum
    Ana hanya ingin mengomentari mengenai fatwa MUI di atas hanya masalah Idul Adha yang harus mengikuti Pemerintah RI,bukankah yang kuat dan rajih mengikuti waktu hari Arafah (Arab Saudi). Harap pihak Muslim.or.id menurunkan masalah yang khusus Idul Adha

    Reply
  6. Warjaya says:
    17 tahun yang lalu

    Saya harapkan semua ormas islam sama dalam menentukan awal ramadhan dan satu syawal nanti, karena kami tidak mau melihat adanya perbedaan dalam penentuan awal ramadhan

    Reply
  7. agusdi says:
    17 tahun yang lalu

    saya harapkan kpd Bapak2 yg ada di MUI brkonsekuensi dgn pntpn pntpn dlm mmtuskan suatu kptusn mgnai agama atau yg lainnya n jgn smpai ada kslahpahaman dgn kptusan yg lainnya shgga dpt mmbuat kontraversi n tntg pntpan hari raya idul fitri dari pihak muhammadiyah, NU, n pemerintah msh ada blm kekompkn dlm memtuskan trsbt.

    Reply
  8. wenday says:
    17 tahun yang lalu

    assalammualaikum wr.wb
    saya mau brtanya,bsakah MUI mnetapkan jauh2 hari pnetapan awal ramadhan,syawal n djulhizah tnpa hrus mnunggu hari H-nya tiba msalx sdah mngetahui tpat awal syawalnya tahun akan dtang mningat prkmbangan jaman yg teknologix smakin maju.
    mohon dijawab kealamat email saya
    atas perhatiannya trimakasih
    wassalmmualaikum wr.wb

    Reply
  9. Lia says:
    17 tahun yang lalu

    Ass.Klw bisa secepat’a umumin kapan penetapan tanggal 1 syawal’a

    Reply
  10. Ismet says:
    17 tahun yang lalu

    Sy usul agar MUI menyarankan kepada pemerintah untuk menetapkan pelaksanaan Idul Adha disesuaikan/sama dengan yang ditetapkan pemerintah Saudi, karena berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji, sehingga kita di Indonesia bisa serentak melaksanakan puasa Arafah bersamaan dengan hari pelaksanaan wukuf di Arafah.

    Reply
  11. Dhani says:
    16 tahun yang lalu

    Bagaimana penetapan yang dilakukan oleh salah satu Organisasi Islam (maaf tidak disebut nama) di Indonesia.
    Menurut pemahaman mereka katanya tidak boleh taklid tapi nyatanya para pengikutnya pada taklid.
    Menurut saya keterangan sudah jelas, ada sumber hukumnya (Al-Quran dan Hadist), dan mengambil keputusan bukan oleh sebagian orang (Ulama).
    Siapakah yang akan bertanggung jawab di akherat kelak?

    Reply
  12. Abu Hasna says:
    16 tahun yang lalu

    Apa ada sanksi bagi yang berbeda dalam penetapan hari2 tersebut….

    Reply
  13. Dhani says:
    16 tahun yang lalu

    Assalamualaikum.
    @Abu Hasna

    Ya jelas2 ada sanksi tapi di akherat kelak, namun untuk sanksi di dunia “belum ada” UU-nya.

    Maaf mengutif dari, Muh Abduh T :

    “Ketahuilah bahwa perbedaan adalah suatu hal yang tidak disukai dalam Islam. Memang bisa ada perbedaan pendapat di antara ULAMA, namun ingatlah bahwa yang kebenaran itu cuma satu dan tidak berbilang karena rujukan kita adalah sama yaitu Qur’an dan Nabi. Maka mana mungkin kebenaran itu berbilang.

    Cobalah akhi memperhatikan ayat-ayat berikut yang sangat mencela dan melarang adanya perselisihan di tengah-tengah umat. Di antara ayat tersebut adalah :
    [1] Firman Allah (yang artinya), “Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal : 46)
    [2] Firman Allah (yang artinya), “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum : 31-32)
    [3] Firman Allah (yang artinya), “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am : 153)

    Dan sudah jelas tujuannya dalam fatwa MUI tsb.

    Berarti anda senang dengan adanya perselisihan/perbedaan diantara umat ???

    Berarti anda ingin adanya UU mengenai penetapan tsb dan setuju mengenai topik yang sedang hangat2nya saat ini seperti RUU nikah siri, kawin kontrak dan poligami, dan penghapusan UU penodaan agama???

    Mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan !

    Wassalam.

    Reply
  14. el Qudsi Zamroni says:
    15 tahun yang lalu

    @winday, Lia , Ismet : maafkan saya, saya rasa mestinya sampeyan memahami dulu kenapa penetapannya jadi berbeda beda. kalau sudah tahu bagaimana cara MUI menetapkan, tentu sampeyan tidak akan komen seperti itu.

    Reply
  15. abu ilyas says:
    15 tahun yang lalu

    Bismillah..alhamdulillah kita bersyukur kpd Alloh yang telah menganugerahi kita para ulama yang selalu berpegang teguh kepada alquran dan assunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah.semoga Alloh selalu menjaga kalian disetiap tempat dan waktu.Amin.barakallohu fiekum.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah