Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 4)

Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 3)

Allah Ta’ala Membutuhkan ‘Arsy?

Di antara dalih yang dilontarkan oleh mereka yang menolak sifat ‘uluw adalah perkataan mereka bahwa jika kita menetapkan Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy, berarti Allah Ta’ala membutuhkan tempat, yaitu ‘arsy. Sebagai konsekuensinya, ‘arsy lebih besar daripada Dzat Allah Ta’ala.

Perkataan ini adalah perkataan yang batil. Karena tidaklah sesuatu yang di atas itu pasti butuh kepada sesuatu yang di bawah dan lebih kecil daripada sesuatu yang di bawah. Misalnya, langit ada di atas bumi, dan keduanya sama-sama makhluk Allah Ta’ala. Tapi langit tidak butuh bumi sebagai penyangga. Langit juga lebih besar daripada bumi dan tidak menempel dengan bumi. Jika hal ini saja bisa kita saksikan dan terjadi di antara makhluk, tentu Allah Ta’ala sebagai Pencipta langit dan bumi, lebih layak lagi. Bahkan kita katakan, ‘arsy-lah yang butuh Allah Ta’ala, sebagaimana semua makhluk lainnya juga membutuhkan Allah Ta’ala.

Syubhat ini hanyalah muncul berdasarkan logika mereka semata. Sebelum mereka menolak sifat, yang ada di benak dan logika mereka adalah jika mereka menetapkan sifat istiwa’, maka hal ini berarti menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk. Di benak mereka, istiwa’ Allah Ta’ala itu sama dengan istiwa’ makhluk, sehingga mereka pun akhirnya terjerumus dalam penolakan terhadap sifat istiwa’. Jadi, merekalah yang sebetulnya menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, para ulama mengatakan,

كل معطل مشبه

“Setiap orang yang menolak sifat, pada hakikatnya mereka menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.”

Adapun ahlus sunnah, mereka menetapkan sifat istiwa’ Allah Ta’ala, adapun hakikat bagaimanakah bentuk sebenarnya istiwa’ tersebut, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui.

Menyelewengkan Makna Istiwa’

Perlu diketahui bahwa secara bahasa (lughoh), terdapat empat makna istiwa’ jika kata tersebut berdiri sendiri. Hal ini sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam risalah beliau, An-Nuniyyah. Ke empat makna tersebut adalah:

  1. Istaqarra (menetap).
  2. Sha’uda (naik).
  3. Irtafa’a (tinggi atau terangkat).
  4. ‘Ala (tinggi).

Akan tetapi, jika kata istiwa’ disambungkan dengan kata ‘ala sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an, maknanya adalah ‘uluw dan irtifa’ (tinggi di atas). [1]

Salah satu cara dan metode yang digunakan oleh orang-orang yang menyimpang dari aqidah ahlus sunnah untuk menolak sifat al-‘uluw dan istiwa’ adalah dengan menyelewengkan firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia tinggi (istiwa’) di atas ´arsy (QS. Al-Hadid [57]: 4).

Mereka menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “istawa” dalam ayat di atas adalah  استولى  (istaula), yang berarti “menguasai”.  Maksud mereka dengan menyelewengkan makna ayat tersebut adalah untuk mengingkari sifat ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Dan telah berlalu dalil-dalil dari Al Qur’an, As-Sunnah, ijma’, akal, dan dalil fitrah yang menunjukkan hal tersebut.

Memaknai kata istiwa’ dengan istaula adalah penyelewengan makna yang batil. Pertama, istiwa’ dengan makna “istaula” tidaklah dikenal dalam Bahasa Arab. Kedua, dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata “  ثم“ (kemudian) yang menunjukkan adanya urutan waktu. Jika istiwa’ dimaknai dengan istaula, maka konsekuensinya, sebelum penciptaan langit dan bumi, ‘arsy tidak dikuasai oleh Allah Ta’ala. Atau dengan kata lain, ‘arsy baru dikuasai oleh Allah Ta’ala setelah penciptaan langit dan bumi. Ini adalah konsekuensi yang batil, karena ada di antara makhluk-Nya yang tidak berada dalam kekuasaan Allah Ta’ala.

Penyelewengan makna seperti ini juga telah dibantah oleh Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dalam kitab beliau, Al-Ibaanah. Beliau rahimahullahu Ta’ala berkata,

وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية: إن معنى قول الله تعالى: (الرحمن على العرش استوى) أنه استولى وملك وقهر، وأن الله تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون الله عز وجل مستو على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الاستواء إلى القدرة.

“Orang-orang Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah berkata bahwa makna firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas ‘Arsy’ adalah menguasai dan memiliki ‘arsy, dan bahwasannya Allah Ta’ala ada di segala tempat. Mereka menolak bahwa Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy, sebagaimana yang dikatakan oleh ahlul haq (ahlus sunnah). Mereka menyelewengkan makna istiwa’ (tinggi di atas) menjadi qudrah “kekuasaan”.

ولو كان هذا كما ذكروه كان لا فرق بين العرش والأرض السابعة؛ لأن الله تعالى قادر على كل شيء والأرض لله سبحانه قادر عليها، وعلى الحشوش، وعلى كل ما في العالم، فلو كان الله مستويا على العرش بمعنى الاستيلاء، وهو تعالى مستو على الأشياء كلها لكان مستويا على العرش، وعلى الأرض، وعلى السماء، وعلى الحشوش، والأقذار؛ لأنه قادر على الأشياء مستول عليها،

“Seandainya benar apa yang mereka katakan, maka tidak ada bedanya antara ‘arsy dan bumi yang tujuh. Karena Allah Ta’ala menguasai semua makhluk, Allah Ta’ala menguasai (memiliki) bumi, menguasai rerumputan, dan menguasai semua yang ada di alam semesta. Jika Allah istiwa’ di atas ‘arsy berarti istaula (menguasai), maka Allah Ta’ala menguasai semua makhluk, Allah Ta’ala menguasai ‘arsy, menguasai bumi, menguasai langit, menguasai rerumputan, menguasai kotoran, karena Allah Ta’ala berkuasa atas segala sesuatu.”

وإذا كان قادرا على الأشياء كلها لم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول إن الله تعالى مستو على الحشوش والأخلية، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، لم يجز أن يكون الاستواء على العرش الاستيلاء الذي هو عام في الأشياء كلها، ووجب أن يكون

معنى الاستواء يختص بالعرش دون الأشياء كلها.

“Meskipun Allah Ta’ala menguasai segala sesuatu, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengatakan bahwa Allah Ta’ala istiwa’ di atas rumput dan tanah kosong, Maha Suci Allah atas semua itu. Oleh karena itu, tidak boleh memaknai istiwa’ di atas ‘arsy dengan makna istaula (menguasai) yang maknanya umum mencakup seluruh makhluk. Wajib untuk menetapkan makna istiwa’ dengan makna yang khusus berkaitan dengan ‘arsy, bukan seluruh makhluk.” [2]

Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah Ta’ala. Bahkan kita juga menetapkan sifat kekuasaan bagi Allah Ta’ala. Namun, bukan itu makna yang terkandung dalam sifat istiwa’.

[Bersambung]

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1]     Lihat An-Nuniyyah, 1/215.

[2]    Lihat Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, 1/108-109.

 

Print Friendly, PDF & Email
iklan
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »