Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 3)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
31 Januari 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pembelaan para ulama terhadap aqidah ahlus sunnah yang meyakini sifat Al-‘Uluw dan Istiwa’
  • Pertanyaan “Di manakah Allah” adalah pertanyaan yang batil?

Baca pembahasan sebelumnya: Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 2)

Pembelaan para ulama terhadap aqidah ahlus sunnah yang meyakini sifat Al-‘Uluw dan Istiwa’

Demikianlah, karena sangat banyaknya dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya, sampai-sampai banyak sekali di antara para ulama yang menulis tentang hal ini. Di antaranya adalah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah yang menulis kitab Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyyah (Bersatunya pasukan Islam untuk memerangi Sekte Mu’aththilah dan Jahmiyyah), sebagai bantahan atas kelompok (sekte) Mu’aththilah dan Jahmiyyah yang mengingkari ketinggian Dzat Allah Ta’ala di atas ‘arsy-Nya.

Sesuai dengan nama kitab yang beliau berikan, kitab ini berisi puluhan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala itu tinggi di atas ‘arsy. Beliau mengutip perkataan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, ulama madzhab, ulama ahli hadits, dan para ulama lainnya, yang juga meyakini hal ini. Semuanya ini menunjukkan bersatunya aqidah mereka di atas aqidah yang lurus ini. Meskipun mereka hidup dalam zaman dan tempat yang berbeda, akan tetapi bersatunya dan persamaan aqidah mereka di atas aqidah yang lurus ini, seolah-olah menjadikan mereka semua sebagai sebuah pasukan Islam yang sangat kuat dan siap melawan dan memerangi siapa saja yang menyeleweng dari aqidah tersebut.

Ulama lainnya adalah Adz-Dzahabi rahimahullah dengan kitabnya yang berjudul Al-‘Uluww. Di dalam kitab tersebut beliau menyebutkan banyak dalil dari Al-Qur’an dan kurang lebih 200-an dalil dari As-Sunnah yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi, berada di atas ‘arsy, dan ‘arsy berada di atas langit.

Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu Ta’ala. Beliau secara khusus membantah aqidah orang-orang Jahmiyyah yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit dalam kitabnya, “Ar-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyyah” (Bantahan kepada orang-orang zindiq dan Jahmiyyah). Juga Imam Bukhari rahimahullah, mengkhususkan sebuah bab dalam kitab Shahih Bukhari, “Fi Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah” (Bab tentang bantahan kepada Jahmiyyah). Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membantah mereka secara khusus dalam kitabnya, “Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah” (Penjelasan atas kerancuan paham Jahmiyyah). Demikian pula muridnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya, “Ash-Shawaiq Mursalah ‘alal Jahmiyyah wal Mu’aththilah” (Petir yang menyambar kepada Jahmiyyah dan Mu’aththilah).

Selain kitab-kitab tersebut, masih banyak lagi ulama yang menulis tentang hal ini, baik dengan menulis masalah ini secara khusus atau dengan menulis aqidah ahlus sunnah secara umum (seperti kitab ‘Aqidah Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah).

Oleh karena itu, orang-orang dewasa ini yang mengatakan atau berfatwa barangsiapa yang memiliki keyakinan bahwa Allah Ta’ala di atas ‘arsy adalah orang yang sesat, maka pada hakikatnya orang tersebut telah berusaha menghidupkan kembali paham Jahmiyyah yang telah dibantah oleh para ulama sejak zaman dahulu kala. Karena fitnah Jahmiyyah ini telah muncul sejak zaman dahulu. Sehingga perjuangan para ulama saat ini untuk menjelaskan kepada umat tentang aqidah al-‘uluw dan al-istiwa’, pada hakikatnya adalah melanjutkan perjuangan para ulama terdahulu kala ketika mereka menghadapi fitnah Jahmiyyah di zamannya.

Pertanyaan “Di manakah Allah” adalah pertanyaan yang batil?

Akan tetapi, meskipun sudah sedemikian jelasnya dalil-dalil yang ada, tetap saja masih banyak di antara kaum muslimin yang kebingungan ketika mendapat pertanyaan seperti ini. Di antara mereka bahkan ada yang menganggap bahwa pertanyaan ini tidak perlu diungkapkan karena hanya akan menimbulkan kebingungan. Di antara mereka bahkan mengingkari pertanyaan seperti ini dan menganggap bahwa pertanyaan “di manakah Allah?” adalah pertanyaan yang tidak layak untuk ditanyakan.

Padahal bagaimana mungkin mereka mengingkari pertanyaan ini, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan pertanyaan ini sebagai ujian keimanan bagi seorang budak wanita sebelum dibebaskan? Oleh karena itu, setelah membawakan hadits budak perempuan yang telah kami sebutkan sebelumnya, Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

وهكذا رأينا كل من يسأل أين الله يبادر بفطرته ويقول في السماء  ففي الخبر مسألتان إحداهما شرعية قول المسلم أين الله وثانيهما قول المسؤول في السماء فمن أنكر هاتين المسألتين فإنما ينكر على المصطفى صلى الله عليه و سلم

“Demikianlah yang kami lihat bahwa setiap orang yang ditanya, ’Di manakah Allah?’ dia akan segera menjawab dengan fitrahnya, ’Di atas langit.’ Dan di dalam hadits ini terdapat dua hal. Yang pertama, disyariatkannya pertanyaan seorang muslim, ’Di manakah Allah?’ Yang ke dua, (disyariatkannya) jawaban orang yang ditanya, ’(Allah) di atas langit.’ Maka barangsiapa yang mengingkari dua hal ini, berarti dia telah mengingkari Al-Mushthafa (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-‘Uluw lil ‘Aliy Al-Ghaffar, 1: 28)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan,

فإن هذا النص قاصمة ظهر المعطلين للصفات فإنك ما تكاد تسأل احدهم بسؤاله ( صلى الله عليه وسلم ) أين الله ؟ حتى يبادر إلى الإنكار عليك ! ولا يدري المسكين أنه ينكر على رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) أعاذنا الله من ذلك ومن علم الكلام

“Hadits ini (yaitu pertanyaan Rasulullah kepada budak perempuan di atas, pen.) telah menghancurkan orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah. Jika Engkau bertanya kepada salah seorang di antara mereka dengan pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, maka tentu mereka akan segera mengingkari pertanyaanmu itu! Orang-orang yang patut dikasihani itu (yaitu yang mengingkari pertanyaan tersebut, pen.) tidak mengetahui bahwa dia telah mengingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu dan dari ilmu kalam (ilmu filsafat, pen.).” (Al-Irwa’ Al-Ghalil, 2: 113)

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 4

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
allah lebih dekat dari urat leher

Makna Ayat: "Kami Lebih Dekat dari Urat Lehernya"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah