Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial

Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial

Alhamdulillah, majelis ilmu di zaman ini begitu mudah, misalnya kajian melalui youtube atau kajian LIVE di media sosial. Kita perlu bijak menyikapi fenomena ini:

  1. Jika mampu mendatangi majelis ilmu, maka datangilah. Hendaknya jangan sampai kita malas mendatangi majelis ilmu apabila tempatnya dekat dengan kita dan mudah dijangkau;
  2. Jika tidak mampu mendatanginya, misalnya sangat jarang kajian di daerahnya, barulah mengikuti kajian di youtube dan LIVE media sosial.

Jangan sampai selalu mengandalkan kajian di youtube dan LIVE media sosial sehingga tidak pernah lagi menghadiri majelis ilmu. Bisa diusahakan, misalnya sepekan sekali atau sebulan sekali menghadiri majelis ilmu di daerah yang ada majelis ilmunya.

Sekiranya tempat kajian agak jauh, masih bisa kita usahakan datang sebulan sekali atau dua bulan sekali. Majelis ilmu adalah taman surga tempat rekreasi hati dan jiwa.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir (salah satunya majelis ilmu, pent).”[1]

Agar lebih bersemangat, mari kita lihat perjuangan orang-orang shalih terdahulu yang berkorban menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan untuk mendapatkan ilmu.

Seorang tabi’in terkenal bernama Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah berjalan kaki berhari-hari hanya untuk mencari satu hadits, beliau menceritakan

إن كنت لأسير الليالي والأيام في طلب الحديث الواحد

“Sesungguhnya aku berjalan kaki berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.”[2]

Ibnul Jauziy menceritakan bahwa Imam Ahmad keliling dunia sampai dua kali untuk mengumpulkan musnad. Tentunya perjalan saat itu bukan perjalan yang mudah seperti saat ini menggunakan pesawat, kapal dan kondisi jalan yang mudah. Beliau berkata,

طاف الإمام أحمد بن حنبل الدنيا مرتين حتى جمعالمسند

“Imam Ahmad bin Hambal keliling dunia dua kali hingga dia bisa mengumpulkan musnad.”[3]

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bercerita sendiri,

سَافَرت فى طلب الحَدِيث وَالسّنة إِلَى الثغور والشامات والسواحل وَالْمغْرب والجزائر وَمَكَّة وَالْمَدينَة والعراقين وَأَرْض حوران وَفَارِس وخراسان وَالْجِبَال والأطراف

“Aku mengembara mencari hadits dan sunah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko, Al-Jazair, Makkah, Madinah, Iraq, Wilayah Hawran, Persia, Khurasan, gunung-gunung dan penghujung dunia.”[4]

Seorang ulama berjalan kaki sangat jauh dan melelahkan sampai seribu farsakh (sekitar 8000 km) untuk menuntut ilmu. Dari Abdurrahman, aku mendengar Ubay berkata,

أول سنة خرجت في طلب الحديث أقمت سبع سنين أحصيت ما مشيت على قدمي زيادة على ألف فرسخ : لم أزل أحصى حتى لما زاد على ألف فرسخ تركته

“Tahun pertama mencari hadits, aku keluar mengembara mencari hadits selama 7 tahun, menurut perkiraanku aku telah berjalan kaki lebih dari seribu farsakh (sekitar 8000 km). Aku terus menghitung hingga ketika telah lebih dari seribu farsakh, aku menghentikannya.”[5]

Ibnu Mandah juga berkeliling ke timur dan barat dua kali untuk belajar agama. Beliau berkata,

طُفت الشَّرقَ وَالغربَ مرَّتين

“Saya mengelilingi timur dan barat (untuk menuntut ilmu) sebanyak dua kali.”[6]

@ Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1]. HR. Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2562

[2] Jaami’u bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, I/395 no. 569, Daru Ibnul Jauzi, cet. I, 1414 H, Syamilah

[3] Shaidul Khatir, hal. 246, dikutip dari www.alhanabila.com

[4] Al-Maqshadul Arsyad, 1/113-114, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, cet. I, 1410 H, Syamilah

[5] Al-Jarh wa At-Ta’dil, 1/359, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. I, 1427 H, Syamilah

[6] Siyar A’lam An-Nubala, 12/503, Darul Hadits, Kairo, 1427 H, Syamilah

Print Friendly, PDF & Email
iklan
App Muslim.or.id

About Author

dr. Raehanul Bahraen

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim"

View all posts by dr. Raehanul Bahraen »