Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Tahnik: Apakah Hanya Boleh Dilakukan oleh Rasulullah? (Bag. 1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
19 September 2017
di Fikih
Share on FacebookShare on Twitter

Berkaitan dengan tahnik, sebagian orang memiliki anggapan bahwa tahnik hanya khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak berlaku untuk umatnya. Hal ini berkaitan dengan anggapan bahwa tahnik adalah mengambil berkah dengan air liur, yang tidak boleh dikerjakan kecuali melalui air liur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tahnik bukan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berkaitan dengan hal ini, satu kaidah penting yang harus dipahami adalah hukum asal perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat, maksudnya juga berlaku untuk umatnya. Barangsiapa yang mengklaim bahwa suatu amal perbuatan hanya khusus berlaku bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak berlaku bagi umatnya, maka wajib baginya menunjukkan dalil khusus tentang klaim tersebut. Dan dalam hal ini tidak dijumpai adanya dalil khusus. Sehingga hukum tahnik kembali ke hukum asalnya, yaitu berlaku sebagi syariat untuk umatnya.

Dan inilah yang diamalkan dan ditegaskan oleh para ulama rahimahumullah dengan membuat judul bab yang menunjukkan bahwa hal ini sesuatu yang dianjurkan. Al-Bukhari rahimahullah membuat bab dalam kitab Shahih beliau,

بَابُ تَسْمِيَةِ المَوْلُودِ غَدَاةَ يُولَدُ، لِمَنْ لَمْ يَعُقَّ عَنْهُ، وَتَحْنِيكِهِ

“Bab memberi nama bayi pada pagi hari setelah dilahirkan dan ini berlaku bagi anak yang tidak diaqiqahi dan juga mentahniknya.” (Shahih Al-Bukhari, 7: 83)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

و يستحب تحنيك الصبي

“Dan dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir.” (Al-Iqna’, 1: 179)

Ibnul Qayyim rahimahullah meriwayatkan sebuah kisah dari Ummu Walad Ahmad bin Hanbal, yaitu budak perempuan Imam Ahmad rahimahullah yang disetubuhi oleh beliau sehingga menghasilkan keturunan. Dalam syariat Islam, hal ini diperbolehkan.

Ummu Walad menceritakan,

لما أَخذ بِي الطلق كَانَ مولَايَ نَائِما فَقلت لَهُ يَا مولَايَ هُوَ ذَا أَمُوت فَقَالَ يفرج الله فَمَا هُوَ إِلَّا أَن قَالَ يفرج الله حَتَّى ولدت سعيدا فَلَمَّا وَلدته قَالَ هاتوا ذَلِك التَّمْر لتمر كَانَ عندنَا من تمر مَكَّة فَقلت لأم عَليّ إمضغي هَذَا التَّمْر وحنكيه فَفعلت وَالله أعلم

“Ketika aku sudah merasakan sakit ketika hendak melahirkan, aku melihat tuanku (yaitu Imam Ahmad) masih tertidur. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai tuanku, aku hampir mati (maksudnya, hendak melahirkan, pen.).’ Imam Ahmad mendoakan, ‘Semoga Allah memudahkanmu.’ Ummu Walad berkata, ‘Belum selesai Imam Ahmad mendoakan, anakku lahir dan diberi nama Sa’id.’ Setelah aku melahirkan Sa’id, Imam Ahmad berkata, ‘Bawakan kurma ke sini.’ Yaitu kurma Mekah yang kami miliki. Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ummu Walad, ‘Kunyahlah kurma tersebut dan tahniklah sang bayi.’ Lalu aku pun mentahniknya.” (Tuhfatul Mauduud, 1: 33)

Kisah ini jelas menunjukkan pemahaman Imam Ahmad rahimahullah bahwa tahnik itu bukan khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau pun mempraktikkannya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa tidak mengapa jika sang ibu yang mentahnik bayi, tidak harus sang bapak.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Selesai disusun ba’da maghrib, Rotterdam NL, 10 Dzulhijjah 1438/1 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
30 Juni 2026
0

Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus...

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Artikel Selanjutnya

Tahnik: Apakah Hanya Boleh Dilakukan oleh Rasulullah? (Bag. 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah