Hukum Sebab (5)

Hukum Sebab (5)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al-Qaulus Sadiid :

ثانيها: أن لا يعتمد العبد عليها، بل يعتمد على مسببها ومقدرها، معقيامه بالمشروع منها، وحرصه على النافع منها.

Kedua: Seorang hamba tidak bersandar (hatinya) kepada sebab, namun bersandar kepada Allah, Sang Penyebab berpengaruhnya suatu sebab dan Sang Pentakdirnya, diiringi dengan usaha yang disyari’atkan (untuk dilakukan) dan semangat melakukan yang (paling) bermanfa’at diantaranya.

Penjelasannya

Maksud perkataan beliau : Seorang hamba tidak bersandar (hatinya) kepada sebab, namun bersandar kepada Allah” adalah bahwa dalam mengambil sebab yang bermanfa’at, seorang hamba wajib bertawakal hatinya kepada Allah saja, dan tertuntut mengharap dan memohon pertolongan kepada-Nya, demi tercapainya apa yang ia tuju. Hatinya tidak condong kepada sebab tersebut, sehingga tidak bersandar kepadanya dan tidak merasa tenang dengannya.

Sedangkan maksud perkataan beliau : “Sang Penyebab berpengaruhnya suatu sebab dan Sang Pentakdirnya”, kalimat ini hakekatnya menunjukkan bahwa alasan wajibnya seorang hamba bertawakal kepada Allah saja dan tidak boleh bertawakal kepada sebab adalah karena Allah lah satu-satunya Sang Penyebab berpengaruhnya suatu sebab, maka mustahil suatu sebab berpengaruh dan berbuah sebagaimana yang diharapkan jika tanpa Allah kehendaki sebab tersebut berpengaruh.

Dia lah satu-satunya Sang Pentakdir sebab itu berpengaruh dan bukanlah makhluk yang pada asalnya tidak berdaya apa-apa! Oleh karena itulah, wajib hati kita bergantung dan bertawakal hanya kepada-Nya saja dan bukan justru kepada sebab!

Adapun maksud perkataan beliau : “diiringi dengan usaha yang disyari’atkan (untuk dilakukan) dan semangat melakukan yang (paling) bermanfa’at diantaranya”, kalimat ini hakekatnya untuk menjaga seseorang dari malas dalam mengambil sebab atau putus asa dalam berusaha.

Karena sikap yang benar bagi seorang hamba dalam mengambil sebab adalah :

  1. Ia wajib berusaha dengan mengambil sebab yang benar, bahkan ia tertuntut untuk mengambil sebab yang paling bermanfa’at secara maksimal,

  2. Sembari hati bertawakal kepada Allah saja dalam urusan keberhasilan usahanya.

Indikasi seseorang bersandar hatinya kepada selain Allah (kepada sebab) adalah :

  1. Saat sukses
    Ketika seseorang telah berusaha mengambil sebab yang terbaik, diiringi dengan usaha secara maksimal, ditambah pengalaman yang panjang dan “jam terbang” yang tinggi dalam mengambil sebab tersebut, lalu ia merasa yakin dirinya bisa berhasil mencapai tujuannya dengan sebab yang istimewa tersebut dan ketika berhasil mencapai tujuannya, dirinya begitu membangga-bangakan dan mengandalkan kehebatannya dalam mengambil usaha tersebut, maka berarti pada dirinya ada indikasi bahwa hatinya bersandar pada sebab tersebut.

  2. Saat gagal
    Adapun jika orang yang disebut di atas merasa kecewa berat, stress dan shock, ketika ternyata sebab yang istimewa itu tidak berpengaruh apa-apa, ia pun gagal mencapai tujuannya. Ia sama sekali tidak menyangka akan menemui kegagalan itu, sehingga ia tidak siap menghadapi kenyataan itu, berarti pada dirinya ada indikasi bahwa hatinya bersandar pada sebab tersebut.

Sikap yang benar dalam mengambil sebab dalam dua keadaan tersebut adalah:

  1. Saat sukses
    Seseorang, yang walaupun telah sempurna dalam mengambil sebab yang terbaik dan bahkan telah berhasil meraih tujuannya, namun ia yakin bahwa semua itu berkat taufik Allah dan pertolongan-Nya kepadanya dan pada hakekatnya, kalau bukan karena Allah memberi taufik dan menolongnya, tentulah ia tidak mampu berbuat apa-apa.

    Ia pun menyadari bahwa kesuksesan yang ia dapatkan itu semata-mata dari Allah ‘Azza wa Jalla, sebagai ujian baginya, apakah ia bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

    قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

    Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Nabi Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml: 40).

  1. Saat gagal
    Seseorang yang mengalami kegagalan dalam meraih apa yang ia harapkan, padahal telah mengambil sebab yang istimewa secara maksimal, lalu iapun hadapi kegagalan itu dengan bersabar, karena ia sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah, tugasnya adalah menghamba kepada-Nya, baik di saat senang dengan bersyukur, maupun di saat sedih atau gagal dengan bersabar.
    Ia juga ridha kepada Allah sebagai satu-satunya Rabb Sang Pengatur dirinya. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik baginya.
    Maka orang yang seperti ini sikapnya, ketika menghadapi kegagalan adalah terdorong untuk senantiasa semangat dalam mengambil sebab baru, sebagai bentuk penghambaan kepada Allah yang baru, guna mencari solusi yang paling diridhoi-Nya dan yang paling bermanfa’at bagi dirinya di Dunia maupun Akherat.
    Allah Ta’ala berfirman :

    لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

    (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan terlalu berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan oleh-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadiid:23).

Dampak ketika menyelisihi hukum sebab yang kedua ini

Seseorang yang tidak memenuhi kriteria pada hukum sebab kedua ini, maka dihukumi pelakunya telah melakukan syirik kecil yang khofiy/samar, karena walaupun ia masih meyakini usahanya tersebut sekedar sebagai sebab dan Sang Pentakdir berpengaruhnya sebuah sebab adalah Allah semata, namun hatinya bersandar kepada sebab, sehingga melemahkan tawakalnya kepada Allah.

Oleh karena itu Syaikh Bin Baaz rahimahullah ketika menjelaskan alasan memakai jimat divonis sebagai syirik kecil beliau mengatakan,

والعلة في كون تعليق التمائم من الشرك هي والله أعلم -: أن من علقها سيعتقد فيها النفع ويميل إليها وتنصرف رغبته عن الله إليها، ويضعف توكله على الله وحده، وكل ذلك كافٍ في إنكارها والتحذير منها

“Dan sebab status menggantungkan jimat (tamimah) termasuk kedalam kesyirikan adalah – wallahu a’lam- bahwa (karena) siapapun yang menggantungkannya, maka ia akan meyakini ada manfa’at pada jimat tersebut dan hatinya condong kepadanya, harapannya pun beralih dari Allah menuju kepadanya, dan melemahkan tawakalnya kepada Allah. Semua penyebab ini sudah cukup menjadi alasan untuk mengingkarinya dan memperingatkannya (agar tidak melakukannya)”1

Berkata Syaikh Shaleh Alusy-Syaikh rahimahullah,

ثمّ لِمَ كان لُبس الحلقة أو الخيط من الشرك الأصغر؟ الجواب: لأنه تعلق قلبه بها، وجعلها سببا لرفع البلاء، أو سببا لدفعه

“Kemudian mengapa memakai jimat gelang atau (jimat yang terbuat dari) benang termasuk kedalam syirik kecil? Jawabannya: karena hatinya bergantung kepadanya dan menjadikannya sebagai sebab terangkatnya atau tertolaknya mara bahaya”2

(Bersambung, in sya Allah)

___

Catatan kaki

1. http://binbaz.org.sa/node/3334

2. At-Tamhiid, hal. 93.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

View all posts by Sa'id Abu Ukkasyah »