Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hakekat Puasa (6)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
20 Juni 2015
di Ramadan
hakikat puasa
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Dalil-dalil yang menunjukkan hakikat puasa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.
    • Puasa yang hakiki adalah puasa membuahkan ketakwaan
    • Puasa yang hakiki adalah puasa yang bersih dari ucapan dan perbuatan yang haram
    • Puasa yang hakiki adalah puasa yang berbuah ampunan Allah
    • Puasa yang hakiki adalah puasa  yang bersih dari ucapan keji dan tindakan bodoh
    • Puasa yang hakiki bukanlah sekedar menahan makan dan minum
  • Penutup:
    • Akibat ibadah yang tidak berbuah ketakwaan dan kesucian jiwa
    • Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Dalil-dalil yang menunjukkan hakikat puasa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.

Puasa yang hakiki adalah puasa membuahkan ketakwaan

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Allah Ta’ala telah kabarkan hikmah yang agung dan faedah yang mulia berupa diraihnya ketakwaan, sedangkan takwa adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan hikmah diperintahkannya berpuasa,

لما فيه من زكاة النفس وطهارتها وتنقيتها من الأخلاط الرديئة والأخلاق الرذيلة

“Di dalam ibadah puasa itu terdapat kesucian jiwa dan kebersihannya serta mensterilkan dari kotoran yang buruk dan akhlak yang hina” (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan lebih rinci tentang bentuk ketakwaan yang diperoleh dengan berpuasa, setelah menyebutkan firman Allah:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa”, dengan mengatakan,

فإن الصيام من أكبر أسباب التقوى, لأن فيه امتثال أمر الله واجتناب نهيه

“Sesungguhnya puasa termasuk salah satu sebab terbesar diraihnya ketakwaan, karena di dalam ibadah puasa terdapat bentuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”

فمما اشتمل عليه من التقوى: أن الصائم يترك ما حرم الله عليه من الأكل والشرب والجماع ونحوها, التي تميل إليها نفسه, متقربا بذلك إلى الله, راجيا بتركها, ثوابه، فهذا من التقوى.

“Yang termasuk dalam cakupan takwa (yang terdapat dalam ibadah puasa ini, pent.) adalah bahwa seorang yang berpuasa meninggalkan perkara yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum, bersetubuh, dan lainnya yang disenangi oleh nafsunya dengan niat mendekatkan dirinya kepada Allah, mengharap pahala-Nya dengan meninggalkan perkara-perkara tersebut, maka ini termasuk bentuk ketakwaan.”

ومنها: أن الصائم يدرب نفسه على مراقبة الله تعالى, فيترك ما تهوى نفسه, مع قدرته عليه, لعلمه باطلاع الله عليه،

“Di antara bentuk-bentuk ketakwaan dari ibadah puasa ini adalah bahwa orang yang berpuasa melatih dirinya untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, sehingga ia meninggalkan sesuatu yang disukai dirinya, padahal ia memiliki kemampuan untuk melakukannya, karena ia meyakini bahwa Allah mengawasinya.”

ومنها: أن الصيام يضيق مجاري الشيطان, فإنه يجري من ابن آدم مجرى الدم, فبالصيام, يضعف نفوذه, وتقل منه المعاصي،

“Di antaranya juga bahwa puasa itu menyempitkan jalan-jalan setan dalam tubuh manusia, karena setan berjalan dalam diri keturunan Nabi Adam -‘alaihis salam- di tempat aliran darah. Maka dengan puasa melemahkan kekuatan setan dan menjadi sedikit kemaksiatan karenanya.”

ومنها: أن الصائم في الغالب, تكثر طاعته, والطاعات من خصال التقوى،

“Di antaranya pula bahwa orang yang berpuasa pada umumnya banyak melakukan ketaatan, sedangkan ketaatan adalah bagian dari ketakwaan.”

ومنها: أن الغني إذا ذاق ألم الجوع, أوجب له ذلك, مواساة الفقراء المعدمين, وهذا من خصال التقوى.

“Di antaranya adalah orang yang kaya jika merasakan pedihnya lapar (saat berpuasa), hal itu mendorongnya untuk meringankan kesulitan orang-orang  fakir yang tak berharta, dan ini adalah bagian dari ketakwaan” (Tafsir As-Sa’di)

Puasa yang hakiki adalah puasa yang bersih dari ucapan dan perbuatan yang haram

Dalam Hadits dari riwayat Al-Bukhari, bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak menginginkan (tidak memberi pahala) aktifitas meninggalkan makan dan minum yang dilakukannya (puasanya)” (HR. Al-Bukhari).

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

فأما قول الزور فهو: كُلُّ قولٍ محرّم من السب، والشتم، والكذب، والغِيبة، والنّميمة والفحش… وأما العمل بالزور فهو: العمل بكل فعل محرم من الغش والخيانة والخيانة في البيع والشراء وغيرهما والربا صريحًا كان أو تحيُّلاً

“Maka adapun ucapan “az-zuur” adalah setiap ucapan yang haram, baik berupa mencela, mengumpat, dusta, menggunjing, mengadu domba…dan adapun amal “az-zuur” adalah setiap perbuatan yang haram berupa penipuan , khianat, khianat dalam jual beli dan selainnya, dan riba yang terang-terangan ataupun yang akal-akalan” (http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_144.shtml)

Adapun tentang makna  “maka Allah tidak menginginkan…” dalam hadits di atas, telah dijelaskan oleh Ibnul ‘Arabi rahimahullah yang dinukilkan dalam kitab Fathul Bari,

مقتضى هذا الحديث أن من فعل ما ذكر لا يثاب على صيامه ، ومعناه : أن ثواب الصيام لا يقوم في الموازنة بإثم الزور وما ذكر معه

“Konsekuensi yang ditunjukkan Hadits ini bahwa barangsiapa yang melakukan larangan yang disebutkan dalam Hadits ini maka puasanya tidak diberi pahala, maksudnya bahwa pahala puasanya tidak bisa mengalahkan dosa “az-zuur” dan apa yang disebutkan bersamanya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan perkataan Al-Baidhawi rahimahullah dalam Fathul Bari,

ليس المقصود من شرعية الصوم نفس الجوع والعطش ، بل ما يتبعه من كسر الشهوات وتطويع النفس الأمارة للنفس المطمئنة ، فإذا لم يحصل ذلك لا ينظر الله إليه نظر القبول ، فقوله : ليس لله حاجة مجاز عن عدم القبول ، فنفى السبب وأراد المسبب ، والله أعلم .

“Bukanlah maksud disyari’atkannya puasa adalah lapar dan dahaganya, namun maksudnya adalah perkara yang mengikutinya berupa menundukkan syahwat dan memudahkan jiwa yang sifatnya memerintahkan kepada yang buruk, untuk menjadi jiwa yang tenang dalam keimanan, maka jika tidak didapatkan hal itu ,maka Allah tidak melihatnya dengan pandangan penerimaan (tidak memberi pahala, pent.)”

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

أي: أن الله تعالى لا يريد منَّا من الصيام أن ندع الطعام والشراب ولكن يريد منَّا أن ندع قول الزور والعمل به والجهل

“Yaitu bahwa Allah Ta’ala tidaklah menghendaki dari ibadah puasa kita , (sekedar) meninggalkan makan dan minum, namun (hakekatnya) menghendaki dari kita agar kita meninggalkan ucapan dan perbuatan haram dan tindakan bodoh” (http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_144.shtml)

Beliau juga berkata:

فالذي لا يترك هذه الأشياء لم يَصُمْ حقيقةً، فهو قد صَامَ عمَّا أحلَّ اللهَ، وفعل ما حرَّم الله

“Maka orang yang tidak meninggalkan meninggalkan perkara-perkara ini (ucapan dan perbuatan haram dan tindakan bodoh), maka hakekatnya ia tidak puasa, karena memang (zhahirnya) ia puasa (menahan) dari perkara yang dihalalkan oleh Allah, namun ia melakukan perkara yang diharamkan oleh-Nya”
(http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29384).

Puasa yang hakiki adalah puasa yang berbuah ampunan Allah

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

صعد النبي صلى الله عليه وسلم المنبر فقال: آمين، آمين، آمين، قيل يا رسول الله إنك صعدت المنبر فقلت: آمين آمين آمين، قال: أتاني جبريل عليه الصلاة والسلام فقال: من أدرك شهر رمضان فلم يغفر له فدخل النار فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت: آمين

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata, ‘Amin, Amin, Amin’ Ditanyakan kepadanya, ‘Ya Rasulullah, (mengapa) Anda naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?’ Beliau bersabda,
‘Sesungguhnya Jibril ‘alaihish shalatu was salam datang kepadaku, dia berkata, ‘Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya, maka akan masuk Neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan, ‘Amin’, maka akupun mengucapkan, ‘Amin’” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kedua Hadits tersebut, nampaklah bahwa puasa yang dikehendaki oleh Allah adalah puasa yang membuahkan ampunan-Nya.

Puasa yang hakiki adalah puasa  yang bersih dari ucapan keji dan tindakan bodoh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

-‏الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ ـ مَرَّتَيْنِ

“Puasa itu adalah perisai, maka janganlah (seseorang yang sedang berpuasa) mengucapkan ucapan yang kotor, dan janganlah bertindak bodoh, dan jika ada orang yang sewenang-wenang merebut haknya atau mencelanya, maka katakan, ‘Saya sedang puasa’ -dua kali-” (HR. Al-Bukhari).

Penjelasan

Puasa adalah sebuah syari’at yang dimaksudkan agar orang yang melakukannya menahan diri dari menuruti hawa nafsu, agar menjadi perisai bagi dirinya dari api Neraka di akhirat kelak karena Neraka memang diliputi oleh hawa nafsu (syahwat).

Nah, untuk meraih maksud puasa yang hakiki inilah, kita diperintahkan untuk menahan diri dari semua perkara yang dilarang oleh Allah Ta’ala, di antaranya adalah menahan diri dari mengucapkan ucapan yang kotor dan bertindak bodoh, serta tidak meladeni orang yang memancing emosi kita, dikarenakan hal itu bisa menodai puasa kita.

Itulah hakikat puasa yang sesungguhnya, ia bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum semata.

Puasa yang hakiki bukanlah sekedar menahan makan dan minum

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش

“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata Hasan Shahih).

Penjelasan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan keadaan puasa banyak orang, bahwa mereka tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan dahaga. Dengan demikian sesungguhnya orang yang puasanya sekedar menahan dari makan dan minum, dan pembatal puasa yang lainnya, namun tidak menjauhi keharaman-keharaman yang lain, maka hakikatnya ia belum mencapai hakikat puasa yang sebenarnya.

Penutup:

Akibat ibadah yang tidak berbuah ketakwaan dan kesucian jiwa

Ada sebuah kisah yang di dalamnya terdapat pelajaran besar, agar kita dalam memandang suatu ibadah, tidak terbatas kepada lahiriyah amal semata, namun mampu meneropong hakikat sebuah amal ibadah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا – غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ .  قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! فَإِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا – وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ )

“Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah Seseungguhnya ada seorang wanita yang terkenal dengan banyaknya shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia dikenal pula suka menyakiti tetangganya dengan lisannya? Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia masuk Neraka.’ Lalu orang tersebut berkata lagi, “Wahai Rasulullah! seungguhnya ada seorang wanita yang dikenal sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya, dan dia bersedekah dengan sepotong keju, namun ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda ‘Dia masuk Surga’” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Mundziri).

Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Beliau suatu saat mengatakan, “Seharusnya bagi kita -ketika kita sedang puasa- takwa kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla lebih besar daripada takwa kita pada saat sedang tidak berpuasa, walaupun takwa itu wajib dilakukan, baik pada saat tidak puasa maupun pada saat puasa, akan tetapi seharusnya dalam memperhatikan ketakwaan pada saat berpuasa itu lebih besar. Dan saya menduga, seandainya seseorang menahan diri dari kemaksiatan sebulan penuh, maka ia akan berubah cara beragamanya dan tingkah lakunya” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29384).

Beliau juga mengatakan, “Janganlah Anda mensikapi hari-hari puasa Anda, sama seperti mensikapi hari-hari ketika tidak puasa” (http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_144.shtml). Walhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Wafat Sebelum Membayar Kaffarat Jimak di Bulan Ramadan

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
2 April 2026
0

Hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan Bukan lagi menjadi hal yang tabu terkait hukum jimak (berhubungan...

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
31 Maret 2026
0

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat...

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

oleh Fauzan Hidayat
17 Maret 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada...

Artikel Selanjutnya
tarawih keliling

Fatwa Ulama: Tarawih Keliling

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah