Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sebab-Sebab yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi sebagai Dosa Besar (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
29 April 2015
di Akhlak dan Nasihat
dosa besar
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Sebab kedua: Meremehkan (Menganggap kecil) perbuatan dosa
  • Sebab ketiga: Bergembira (senang) atas perbuatan dosa yang dilakukan

Sebab kedua: Meremehkan (Menganggap kecil) perbuatan dosa

Sebab ke dua yang menjadikan sebuah dosa kecil dapat dihukumi sebagai dosa besar adalah meremehkan atau menganggap “enteng” dosa kecil. Sehingga dia pun tidak merasa bersedih hati atas perbuatan dosa yang dia lakukakn. Hal ini pada akhirnya menyebabkan orang tersebut mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dia lakukan dan lama-lama akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Al-Ghazali rahimahullah berkata, ”Di antara sebab dosa kecil menjadi besar adalah seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut dan tidak bersedih karena dosa (yang pernah dia lakukan).” (Al-Arba’in fii Ushuulid Diin, hal. 226)

Beliau rahimhaullah juga mengatakan, ”Sesungguhnya dosa, selama seorang hamba menganggap perbuatan dosa tersebut sebagai sesuatu yang besar dari dalam dirinya, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di sisi Allah Ta’ala. Ketika dia menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang besar, hal itu berasal dari larinya hatinya dari dosa tersebut dan kebencian hatinya terhadap dosa. Semua itu menyebabkan tercegahnya seorang hamba dari konsekuensi perbuatan dosa. Adapun ketika dia menganggap remeh perbuatan dosa, hal itu bersumber dari kegemarannya berbuat dosa. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat kuat di dalam hati.” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 4: 32)

Inilah seharusnya yang dilakukan oleh seorang yang beriman. Yaitu, dia senantiasa takut dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, menganggap besar dosa (kecil) yang dia lakukan dan lari (menjauh) darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” (HR. Bukhari no. 6308)

Demikianlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang paling menjauh dari perbuatan dosa, sekecil atau sebesar apa pun perbuatan dosa tersebut.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian melakukan suatu perbuatan yang lebih halus di mata kalian dibandingkan sehelai rambut, namun kami menilainya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam dosa yang membinasakan.” (HR. Bukhari no. 6492)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Kalian melakukan perbuatan yang kalian anggap remeh, padahal (perbuatan dosa tersebut) besar atau dapat dihukumi sebagai dosa besar” (Fathul Baari, 11: 330)

Sebab ketiga: Bergembira (senang) atas perbuatan dosa yang dilakukan

Bergembira atau merasa senang atas perbuatan dosa yang dilakukan menyebabkan dosa kecil tertentu dihukumi sebagai dosa besar. Seseorang yang terjatuh dalam perbuatan dosa, ketika dia merasa senang atau gembira dengan dosa yang dia lakukan, maka dia akan terus-menerus mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut. Bahagianya seseorang atas perbuatan yang dilakukan akan memalingkan orang tersebut dari merenungi dan memikirkan hukuman dan kemurkaan Allah Ta’ala. Sehingga dia pun tidak malu lagi ketika melakukan dosa tersebut, yang pada akhirnya dia pun melakukan perbuatan dosa tersebut secara terang-terangan (al-mujaaharah).

Dalil sebab ke tiga ini adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang al-mujaharah. Karena di antara konsekuensi dari al-mujaharah adalah seseorang merasa gembira dengan dosa kecil yang dilakukan. Adanya rasa gembira ini pada akhirnya akan menyebabkan seseorang terjatuh dalam perbuatan ishraar.

Adapun pembahasan tentang al-mujaaharah akan disampaikan dalam edisi berikutnya.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 3

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Selesai disusun ba’da subuh, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 8 Rajab 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab At-Taubah, fii Dhau’il Qur’anil Kariim, Dr. Amaal binti Shalih Naashir, Daar Andalus Khadhra’, cetakan pertama, tahun 1419, hal. 138-140.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Artikel Selanjutnya
membaca alquran tajwid

Apakah Wajib Membaca Al Qur'an Dengan Tajwid?

Komentar 2

  1. Ari says:
    6 tahun yang lalu

    Bismillah izin save dan share

    Reply
  2. Abu Zinad says:
    4 tahun yang lalu

    Afwan, Hadits : Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung dst sepengetahuan saya itu mauquf pada shahabat Ibnu Mas’ud.. jadi sebaiknya tidak menggunakan kata2 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda…

    silakan dicek kembali nggih..

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah