fbpx

Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa Besar (2)

Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa Besar (2)

Sebab ke dua: Meremehkan (Menganggap kecil) perbuatan dosa

Sebab ke dua yang menjadikan sebuah dosa kecil dapat dihukumi sebagai dosa besar adalah meremehkan atau menganggap “enteng” dosa kecil. Sehingga dia pun tidak merasa bersedih hati atas perbuatan dosa yang dia lakukakn. Hal ini pada akhirnya menyebabkan orang tersebut mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dia lakukan dan lama-lama akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Al-Ghazali rahimahullah berkata, Di antara sebab dosa kecil menjadi besar adalah seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut dan tidak bersedih karena dosa (yang pernah dia lakukan).” (Al-Arba’in fii Ushuulid Diin, hal. 226)

Beliau rahimhaullah juga mengatakan, Sesungguhnya dosa, selama seorang hamba menganggap perbuatan dosa tersebut sebagai sesuatu yang besar dari dalam dirinya, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di sisi Allah Ta’ala. Ketika dia menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang besar, hal itu berasal dari larinya hatinya dari dosa tersebut dan kebencian hatinya terhadap dosa. Semua itu menyebabkan tercegahnya seorang hamba dari konsekuensi perbuatan dosa. Adapun ketika dia menganggap remeh perbuatan dosa, hal itu bersumber dari kegemarannya berbuat dosa. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat kuat di dalam hati.” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 4/32)

Inilah seharusnya yang dilakukan oleh seorang yang beriman. Yaitu, dia senantiasa takut dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, menganggap besar dosa (kecil) yang dia lakukan dan lari (menjauh) darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.(HR. Bukhari no. 6308).

Demikianlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang paling menjauh dari perbuatan dosa, sekecil atau sebesar apa pun perbuatan dosa tersebut.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المُوبِقَاتِ

Sesungguhnya kalian melakukan suatu perbuatan yang lebih halus di mata kalian dibandingkan sehelai rambut, namun kami menilainya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam dosa yang membinasakan.” (HR. Bukhari no. 6492).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, Kalian melakukan perbuatan yang kalian anggap remeh, padahal (perbuatan dosa tersebut) besar atau dapat dihukumi sebagai dosa besar” (Fathul Baari, 11/330).

Sebab ke tiga: Bergembira (senang) atas perbuatan dosa yang dilakukan

Bergembira atau merasa senang atas perbuatan dosa yang dilakukan menyebabkan dosa kecil tertentu dihukumi sebagai dosa besar. Seseorang yang terjatuh dalam perbuatan dosa, ketika dia merasa senang atau gembira dengan dosa yang dia lakukan, maka dia akan terus-menerus mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut. Bahagianya seseorang atas perbuatan yang dilakukan akan memalingkan orang tersebut dari merenungi dan memikirkan hukuman dan kemurkaan Allah Ta’ala. Sehingga dia pun tidak malu lagi ketika melakukan dosa tersebut, yang pada akhirnya dia pun melakukan perbuatan dosa tersebut secara terang-terangan (al-mujaaharah).

Dalil sebab ke tiga ini adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang al-mujaharah. Karena di antara konsekuensi dari al-mujaharah adalah seseorang merasa gembira dengan dosa kecil yang dilakukan. Adanya rasa gembira ini pada akhirnya akan menyebabkan seseorang terjatuh dalam perbuatan ishraar.

Adapun pembahasan tentang al-mujaaharah akan disampaikan dalam edisi berikutnya.

[Bersambung]

***

Selesai disusun ba’da subuh, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 8 Rajab 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Disarikan dari kitab At-Taubah, fii Dhau’il Qur’anil Kariim, Dr. Amaal binti Shalih Naashir, Daar Andalus Khadhra’, cetakan pertama, tahun 1419, hal. 138-140.

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
artikel corona
MPD Banner

About Author

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. »

One Comment

Leave a Reply