Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengungkap Keindahan Bertakbir Dalam Shalat (2)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
14 April 2015
di Tazkiyatun Nufus
takbir shalat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Rahasia Indahnya Takbir
  • Faidah ucapan takbiratul ihram
    • Referensi

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Setelah dijelaskan dalam artikel Mengungkap Keindahan Bertakbir Dalam Shalat (1) tentang tiga perkara berikut:

  1. Takbiratul Ihram adalah rukun shalat
  2. Makna “Allahu Akbar”
  3. Peringatan: Kesalahan pengucapan takbir

Maka dalam kesempatan kali ini dijelaskan tentang:

  1. Rahasia Indahnya Takbir
  2. Faidah ucapan takbiratul ihram 

Rahasia Indahnya Takbir

Dalam Kitaabush Shalaah, Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bentuk penghayatan yang selayaknya ada dalam hati seorang hamba ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”,

فإنه إذا انتصب قائما بين يدي الرب تبارك وتعالى شاهد بقلبه قيوميته وإذا قال الله اكبر شاهد كبرياءه وإذا قال سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالى جدك ولا إله غيرك شاهد بقلبه ربا منزها عن كل عيب سالما من كل نقص محمودا بكل حمد فحمده يتضمن وصفه  بكل كمال.

“Maka jika seorang hamba berdiri tegak di hadapan Ar-Rabb Tabaraka wa Ta’ala, (berarti) ia menyaksikan dengan hatinya (menghayati) kemahamandirian-Nya. Jika ia mengucapkan “ Allahu Akbar”, maka ia menghayati kesombongan (Kemahabesaran)-Nya. Dan jika ia mengucapkan “Subhanakallahumma wa bihamdika Tabaarakasmuka wa Ta’ala Jadduka, wa la ilaha ghairuka”, maka ia pun menyaksikan dengan hatinya (menghayati) Tuhan yang disucikan dari seluruh aib, senantiasa selamat dari seluruh kekurangan, terpuji dengan segala pujian. Pujian terhadap-Nya tersebut mengandung pensifatan bagi-Nya dengan setiap sifat-sifat sempurna” (Kitaabush Shalaah, Ibnul Qoyyim, hal. 171).

Dalam Badai’ul Fawaid, Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan tentang adab batin seorang hamba yang hendak menunaikan shalat. Ketika ia sudah mempersiapkan lahir dan batinnya untuk segera memulai shalat, maka ketika itu ia tertuntut untuk menghadirkan di dalam hatinya pengagungan dan pemuliaan terhadap Allah dengan puncak pengagungan dan pemuliaan, melebihi pemuliaan seorang budak terhadap rajanya, saat masuk menemui rajanya, beliau menuturkan,

لما كان المصلي قد تخلى عن الشواغل، وقطع جميل العلائق وتطهر، وأخذ زينته وتهيأ للدخول على الله ومناجاته، شرع له أن يدخل عليه دخول العبيد على الملوك، فيدخل بالتعظيم والإجلال، فشرع له أبلغ لفظ يدل على هذا المعنى وهو قول: الله أكبر

“Ketika seorang yang hendak menunaikan shalat telah kosong hatinya dari kesibukan-kesibukan (dunia), telah memutuskan ketertarikan hatinya dengan perkara yang disukainya, dan ia pun telah bersuci, berhias serta bersiap-siap untuk menghadap kepada Allah dan bermunajat dengan-Nya (untuk shalat), maka disyari’atkan baginya untuk masuk memulai shalatnya seperti keadaan masuknya seorang budak menghadap raja-raja, maka ia masuk memulai shalatnya dengan (puncak) pengagungan dan pemuliaan,  sehingga disyari’atkanlah baginya (ketika itu) lafadz yang paling  menunjukkan makna puncak pengagungan dan pemuliaan ini, yaitu ucapan “Allahu Akbar”. (Badai’ul Fawaid, Ibnul Qoyyim 2/695).

Di dalam perkataannya yang lain, beliau mengungkapkan mutiara-mutiara rahasia keindahan peribadatan takbiratul ihram,

و أُمر بأن يستقبل القبلة ـ بيته الحرام ـ بوجهه ، و يستقبل الله عز و جل بقلبه ، لينسلخ مما كان فيه من التولي و الإعراض ، ثم قام بين يديه مقام المتذلل الخاضع المسكين المستعطف لسيِّده عليه ، و ألقى بيديه مسلّماً مستسلماً ناكس الرأس ، خاشع القلب مُطرق الطرف لا يلتفت قلبه عنه ، و طرفة عين ، لا يمنة و لا يسرة ، خاشع قد توجه بقلبه كلِّه إليه.

“Seseorang yang hendak menunaikan shalat diperintahkan untuk menghadap kiblat dengan wajahnya (ke Baitullah), dan ia menghadap Allah ‘Azza wa Jalla dengan hatinya, agar sirna pelarian dan keberpalingannya (dari mengingat Allah) yang telah menimpanya, lalu ia menghadap-Nya dalam keadaan merendahkan diri, tunduk, merasa butuh, dan  mengharap kasih sayang Rabb nya kepadanya, dan “mengangkat kedua tangannya” pasrah menyerahkan (dirinya), menundukkan kepalanya, khusyu’ hatinya,  kosentrasi mengingat-Nya, tidak lalai dari-Nya, dan gerakan bola matanya pun tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri, khusyu’ telah menghadapkan hatinya kepada-Nya dengan totalitas”

و أقبل بكليته عليه ، ثم كبَّره بالتعظيم و الإجلال و واطأ قلبه لسانه في التكبير فكان الله أكبر في قلبه من كلِّ شيء ، و صدَّق هذا التكبير بأنه لم يكن في قلبه شيء  أكبر  من الله تعالى يشغله عنه فإنه إذا كان في قلبه شيء يشتغل به عن الله دلّ على أن ذلك الشيء أكبر عنده من الله فإنه إذا اشتغل عن الله بغيره ، كان ما اشتغل به هو أهم عنده من الله ، و كان قوله ” الله أكبر ” بلسانه دون قلبه ؛ لأن قلبه مقبل على غير الله ، معظما له ، مجلاً

“Dan ia menghadap kepada-Nya secara totalitas, kemudian ia mengucapkan takbir dengan mengagungkan dan memuliakan-Nya, hatinya selaras dengan lisannya dalam bertakbir, sehingga Allah lebih besar dari segala sesuatu dalam hatinya, dan ia pun membenarkan takbir itu, bahwa tidak ada dalam hatinya sesuatu apapun yang lebih besar dari Allah Ta’ala, yang menyibukkannya dari (mengingat)-Nya. Karena sesungguhnya jika di dalam hatinya ada sesuatu yang menyibukkan dirinya dari mengingat Allah, berarti ini menunjukkan bahwa sesuatu tersebut lebih besar dari  dari Allah (lebih menarik untuk diingat), karena jika hatinya sibuk dengan mengingat selain Allah, lalai dari mengingat Allah, berarti perkara yang menyibukkkan hatinya tersebut hakikatnya lebih penting (untuk diingat dalam shalatnya) dari Allah dan hakikatnya, ucapannya “Allahu Akbar” hanya dengan lisannya tanpa disertai hatinya, sebab hatinya mengarah kepada selain-Nya, mengagungkannya, dan memuliakannya” (Asraarush Shalah, Ibnul Qoyyim, hal.12).

Faidah ucapan takbiratul ihram

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan,

فالتكبير:

1- يخرجه من لبس رداء التكبر المنافي للعبودية.

2- ويمنعه من التفات قلبه إلى غير الله.

Ucapan takbir (mengandung faedah):

  1. Mengeluarkan seseorang dari mengenakan pakaian kesombongan yang bertentangan dengan peribadatan.
  2. Dan mencegah hatinya dari berpaling kepada selain-Nya (baca: mengingat selain-Nya).

(Dzauqush shalah: 18).

Dua bencana besar berupa kesombongan dan  berpaling kepada selain-Nya (mengingat selain-Nya) itu, beliau sebut sebagai salah satu tabir penghalang terbesar antara diri seseorang  dengan Rabb nya.

***

Referensi
  1. Badai’ul Fawaid, Ibnul Qoyyim (PDF).
  2. Dzauqush Shalah, Ibnul Qoyyim, Daarul Hadhaarah (PDF).
  3. Kitaabush Shalaah, Ibnul Qoyyim, Al-Maktab Al-Islami.
  4. Asraarush Shalaah, Ibnul Qoyyim (PDF).

—

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
0

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Mei 2026
0

Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita...

Artikel Selanjutnya
mengangkat tangan shalat

Hikmah Di Balik Mengangkat Kedua Tangan Dalam Shalat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah