Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Penghalang Ittiba’ (1) : Kebodohan Terhadap Ajaran Agama

Kholid Syamhudi, Lc. oleh Kholid Syamhudi, Lc.
5 Agustus 2013
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • 1. Kebodohan Terhadap Ajaran Agama
    • Catatan Kaki

Ittiba’ artinya meneladani dan mencontoh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan oleh beliau. Di sana ada banyak hal yang menghalangi seorang hamba dari ittiba’ kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan benar. Yang paling nampak adalah:

1. Kebodohan Terhadap Ajaran Agama

Kebodohan adalah penghalang terbesar dari ittiba’. Bahkan ia adalah sebab terbesar yang menjerumuskan seseorang ke dalam seluruh perkara yang haram, baik berupa kekufuran, bid’ah maupun kemaksiatan.1 Kebodohan itu bisa berupa kebodohan terhadap nash-nash, yaitu tidak mengetahui nash-nash tersebut. Atau kebodohan terhadap kedudukan nash-nash tersebut di dalam agama – bahwa nash-nash itulah yang berhak didahulukan, sedangkan sumber-sumber yang lain mengikutinya. Atau kebodohan terhadap penunjukan lafadz, maksud-maksud syariat dan kaidah-kaidah serta landasan-landasan dalam ilmu, seperti mutlaq dan muqayyad, umum dan khusus, nasikh dan mansukh, mujmal dan mubayyan.2

Dan karena besarnya bahaya kebodohan ini, kita dapati al-Qur’an al-Karim dan sunnah shahihah penuh dengan nash-nash yang memberikan peringatan dari kebodohan dan menjelaskan bahayanya, serta memberi anjuran untuk berilmu dan menjelaskan keutamaannya.

Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, sesungguhnya Rabbku hanyalah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji yang lahir maupun batin, mengharamkan perbuatan dosa, kezhaliman tanpa hak, mengharamkan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak ada bukti padanya dan Dia mengharamkan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui” (QS. Al-A’raaf: 33)

As-Sa’di berkata, “Dan Dia mengharamkan kalian berkata atas nama Allah, sesuatu tidak kalian ketahui, di dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dan syariatNya.”3

Ibnul Qayyim berkata, “Adapun berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, maka ini adalah perkara yang paling haram dan paling besar dosanya. Oleh karena itu, dia disebutkan pada tingkatan yang ke empat di antara perkara-perkara haram yang telah disepakati keharamannya oleh berbagai syariat dan agama, dan tidak dibolehkan sama sekali, bahkan senantiasa diharamkan. Kemudian beralih darinya kepada sesuatu yang lebih besar lagi. Yaitu Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“dan Dia mengharamkan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui”

Maka ini lebih besar keharamannya dan lebih berat dosanya di sisi Allah. Karena mengandung kedustaan atas nama Allah, penisbatan Allah kepada sesuatu yang tidak layak bagiNya, perubahan dan penggantian terhadap agamaNya, penolakan terhadap apa yang Dia tetapkan, penetapan terhadap apa yang Dia tiadakan, pembenaran sesuatu yang Dia batalkan, pembatalan sesuatu yang Dia benarkan, permusuhan terhadap wali-waliNya, kecintaan terhadap musuh-musuhNya, kecintaan terhadap apa yang Dia benci, kebencian terhadap apa yang Dia cintai, pensifatan Allah dengan sesuatu yang tidak layak bagiNya di dalam dzatNya, sifat-sifatNya, perkataan-perkataanNya dan perbuatan-perbuatanNya. Maka tidak ada jenis keharaman yang lebih besar dan lebih berat di sisi Allah dari pada hal ini. Dia adalah pangkal kesyirikan dan kekufuran, pondasi bid’ah dan kesesatan. Maka seluruh bid’ah yang menyesatkan di dalam agama, pondasinya adalah perkataan atas nama Allah tanpa ilmu …”4

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban darinya” (QS. Al-Isra: 36)

Sayyid Quthb berkata, “Aqidah Islamiyah adalah aqidah yang jelas, lurus dan murni. Tidak ada sedikitpun darinya yang tegak di atas persangkaan, dugaan atau syubhat. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya,” janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui dengan yakin dan belum engkau pastikan kebenarannya, baik berupa perkataan atau riwayat yang disampaikan, dari suatu zhahir yang ditafsirkan atau kenyataan yang dijelaskan sebabnya, dan dari hukum syar’i atau masalah keyakinan.”5

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari hamba-hambaNya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga jika tidak menyisakan seorang alim pun, manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Lalu mereka ditanya kemudian berfatwa (menjawab pertanyaan) tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan”6

Dari Ali radhiallahu’anhu, dia berkata tentang sifat orang-orang khawarij, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Pada akhir zaman nanti akan keluar suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh pikirannya. Mereka berkata dengan sebaik-baik perkataan makhluk, mereka membaca al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka melesat menembus agama ini sebagaimana anak panah menembus sasarannya …”7

Di antara perkataan salaf tentang hal itu, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, dia berkata, “Pergilah kamu sebagai pengajar atau pelajar atau yang mendengarkan. Dan janganlah kamu menjadi orang yang ke empat, nanti kamu akan binasa.”8

Dari Salman Al-Farisi rahimahullah, dia berkata, “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama orang-orang yang pertama masih ada sehingga orang yang terakhir mempelajari ilmu. Jika orang-orang yang pertama telah meninggal sebelum orang-orang yang akhir mempelajari ilmu, niscaya manusia akan binasa.”9

 

Catatan Kaki

1 Lihat Haqiqatul Bid’ah wa Ahkamuha karya Al-Ghamidi (1/177, 178, …).

2 Tafsir As-Sa’di (3/22).

3 Lihat Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (14/22).

4 Madarijus Salikin (1/378).

5 Fii Zhilaalil Qur’an (4/2227).

6 Al-Bukhari dengan Fathul Bari (1/23) no. 100.

7 Muslim (2/746, 747) no. 1066.

8 Ad-Darimi (1/84) no. 252.

9 Idem (1/84) no. 253.

—

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Kholid Syamhudi, Lc.

Kholid Syamhudi, Lc.

Alumni S1 Jusuran Hadits Universitas Islam Madinah, pembina Pondok Pesantren Ibnu Abbas Sragen, pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwwah Sukoharjo, pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya

Shalat, Ibadah Seluruh Nabi Dan Rasul (2)

Komentar 1

  1. Muhammad Adam Hussein says:
    11 tahun yang lalu

    Subhanallah, makasih banyak ustadz pencerahannya.

    Sangat membantu saya dalam mengenali Islam.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah