Shalat, Ibadah Seluruh Nabi Dan Rasul (2)

Shalat, Ibadah Seluruh Nabi Dan Rasul (2)

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam

Allah pun berfirman mengenai kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam ketika beliau melarang kaumnya beribadah kepada selain Allah dan melarang kaumnya curang dalam timbangan dan takaran. Maka kaumnya berkata kepada Syu’aib ‘alaihissalam

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?” (QS. Hud: 87)

Hal ini menunjukkan bahwa kaumnya Syu’aib tidak menganggap ibadah shalat ini adalah ibadah yang sangat agung.

Al Allamah As Sa’di rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat ini, “Sesungguhnya shalat itu sudah di disyariatkan semenjak zaman para Nabi dahulu, dan shalat itu adalah amalan yang paling utama. Bahkan para Nabi telah mendakwahkan hal ini kepada orang-orang kufar, mendakwahkan keutamaannya dan bahwa ibadah ini didahulukan sebelum amalan-amalan lainnya. Shalat pun mencegah dari kemungkaran, dan shalat adalah standar keimanan dan syariat. Dengan mendirikan shalat, maka ibadah seorang hamba kan sempurna. Sebaliknya, ketika shalat ditinggalkan maka kehidupan agama seorang hamba tidak akan teranggap”

Nabi Musa ‘alaihissalam

Nabi Musa ‘alaihissalam, salah seorang Nabi yang Allah dekati dan Allah berbicara dengan langsung kepadanya. Hal pertama yang Allah wajibkan kepada Musa, setelah Allah syariatkan ibadah kepadanya, adalah shalat. Bahkan tidak ada nash yang menyebutkan ibadah lain yang Allah bebankan kepada Musa selain shalat. Allah berfirman kepada Nabi Musa, dengan kalimatNya tanpa ada penerjemah,

فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ  إِنَّنِي أَنَا اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha: 13, 14)

Maka hal ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari ibadah shalat dibandingkan amalan-amalan lainnya. Allah memulai perkataanNya kepada Musa dengan perintah untuk shalat. Demikian pula hal pertama yang Allah perintahkan kepada Musa untuk didakwahkan kepada Bani Israil –setelah beriman kepadaNya- adalah ibadah shalat. Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat’” (QS. Yunus: 87)

Nabi Daud ‘alahissalam

Nabi Daud ‘alaihissalam, salah seorang Nabi Allah. Allah sucikan beliau ketika beliau melakukan sebuah kekeliruan dan beliau hendak bertaubat, maka Allah jadikan shalat sebagai jalan keluar untuk taubatnya. Allah berfirman

فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat” (QS. Shad: 24)

Nabi Sulaiman bin Daud ‘alaihimassalam

Nabi Sulaiman putra Nabi Daud ‘alaihimassalam, diperlihatkan kepadanya kuda-kuda di waktu sore hingga akhirnya beliau tersibukkan memandang keindahan kuda-kudanya sampai terlewat waktu shalat Ashar, beliaupun menyesal dan bersedih. Beliau mencera dirinya sendiri yang telah melewatkan waktu shalat karena kuda-kudanya. Allah berfirman:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ  رُدُّوهَا عَلَيَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu” (Shad: 30-33)

Ibnu Katsir berkata, “Para mufassir dan dan para salaf menyebutkan bahwa Sulaiman sibuk dengan melihat kuda-kudanya sampai diapun terlewat waktu shalat Ashar. Sulaiman tidak meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja akan tetapi karena lupa, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terlewat shalat Ashar di waktu perang Khandaq sampai-sampai beliau baru mengerjakan shalat Ashar setelah matahari tenggelam” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/65)

 

Diterjemahkan dari: Ta’zhiimus Shalah, Syaikh Prof Dr Abdurrazaq bin Abdul Mushin al Badr

Penerjemah: Amrullah Akadhinta

Artikel Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Amrullah Akadhinta, ST.

alumni dan pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Teknil Sipil UGM, ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Atsary Yogyakarta 2007-2013, koordinator Al Madinah International University Yogyakarta 2008-2012, pimpinan Radio Muslim Yogyakarta 2010-2013

View all posts by Amrullah Akadhinta, ST. »