Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?

Glenshah Fauzi oleh Glenshah Fauzi
11 Maret 2026
di Ramadan
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Malam potensial berdasarkan waktu
  • Penutup

Malam potensial berdasarkan waktu

Potensi lailatul qadar lebih besar lagi terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan, utamanya pada malam ganjilnya, dan bertepatan dengan malam Jumat. Konteks ini didapatkan dari pendapat para ulama terdahulu.

Berkaitan dengan malam ganjil diutamakan, berdasarkan riwayat Bukhari berikut,

في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Dalam riwayat Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum,

التمسوا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان في تاسعة تبقى في سابعة تبقى في خامسة تبقى

“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Dari hadis tersebut, terdapat isyarat di mana malam-malam khusus tersebut dan bagaimana cara menentukannya. Hadis ini mengisyaratkan perhitungannya dari hari yang tersisa. Ulama berbeda pendapat tentang yang mana menjadi patokan antara menghitung malam ganjil, apakah dari depan atau dari ujung Ramadan.

وعلى قياس من حسب الليالي الباقية من الشهر على تقدير نقصان الشهر فينبغي أن يكون عنده أول العشر الأواخر ليلة العشرين لاحتمال أن يكون الشهر ناقصا فلا يتحقق كونها عشر ليال بدون إدخال ليلة العشرين فيها

“Berdasarkan perhitungan sisa malam dalam bulan tersebut, dengan asumsi bulan tersebut tidak lengkap, maka malam pertama dari sepuluh malam terakhir seharusnya adalah malam kedua puluh, karena kemungkinan bulan tersebut tidak lengkap. Oleh karena itu, sepuluh malam tersebut tidak dapat dipastikan tanpa memasukkan malam kedua puluh.” (Lathaiful Maarif, hal. 357)

Syekh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya,

وقد تواترت الأحاديث في فضلها، وأنها في رمضان، وفي العشر الأواخر منه، خصوصًا في أوتاره، وهي باقية في كل سنة إلى قيام الساعة.

“Inilah yang dikuatkan dalam syariat bahwasanya malam lailatul qadar terjadi dengan potensi besar di sepuluh malam terakhir. Sebabnya adalah adanya hadis Nabi ﷺ yang khusus memerintahkan kaum muslimin untuk menghidupkannya. Selain itu, adanya perbuatan Nabi ﷺ yang lebih bersemangat lagi beramal setelah masuk fase ketiga ini. Tidak hanya bersemangat sendiri, tetapi mengajak keluarganya demikian juga.” (Tafsir As-Sa’di QS. Al-Qadr: 5)

Kemudian terdapat riwayat yang lebih menekankan malam ganjil dibandingkan malam genap. Namun, ingat dalam hal ini terjadi perbedaan para ulama dalam metode menghitungnya, apakah dari depan atau dari akhir? Semua ini menunjukkan ketidaktahuan kita secara pasti akan adanya lailatul qadar di hari apa.

Adapula malam-malam yang lebih dikuatkan oleh sebagian para sahabat dan ulama terdahulu, di antaranya:

1) Malam ke-21: Disebutkan riwayatnya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ini juga yang dikuatkan oleh Imam Syafii.

2) Malam ke-23: Pendapat Ahli Madinah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abdullah bin Unais. Dalam Shahih Bukhari dan juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, diriwayatkan bahwa Bilal menguatkan malam ke-23.

إنها أَوَّل السَّبْع من العشر الأواخر

“Sungguh ia terjadi pada tujuh hari tersisa di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 4470)

Ini pendapat Malik juga yang menghitung tujuh malam terakhir jika jumlah malam Ramadan adalah 29 saja. Menurut Abdul Malik bin Habib, ini dengan asumsi Ramadan tak sempurna/genap.

وتأوَّله عبدُ الملك بنُ حَبيبٍ على أنَّه إنما يُحسَبُ كذلك إذا كان الشهر ناقصًا

“Pemaknaan dari Abdul Malik bin Habib dibangun di atas perkiraan perhitungan hari yang kurang, yakni 29 hari/malam.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)

Perhitungan dari belakang dengan asumsi 29 hari/malam ini dinilai tidak beralasan menurut Ibnu Rajab. Karena Nabi ﷺ memerintahkan perhitungannya dengan hitungan standar. Sedangkan penanggalan Ramadan tidak kita ketahui apakah 29 atau 30 di tahun tersebut.

وليس هذا بشيء؛ فإنَّه إنَّما أمر بالاجتهاد في هذه الليالي على هذا الحساب، وهذا لا يمكن أن يكونَ مراعىً بنقصان الشهرِ في آخره

“Adapun pendapat ini tidaklah berdasar, karena perintah Nabi ﷺ adalah mencarinya berdasarkan perhitungan standar. Tentu cara seperti itu tidak bisa digunakan karena utuh atau tidaknya bulan tidak diketahui kecuali di akhir waktu.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)

3) Malam ke-24: Berdasarkan perselisihan di atas, maka lahirlah pendapat yang menguatkan malam ke-24 sebagai malam lailatul qadar seperti Ayub As-Sikhtiyani, Ahli Bashrah, juga Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,

رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها

“Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam.” (ibid)

Artinya, pendapat ini datang dari penelitian yang dilakukan oleh beliau selama 20 tahun. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Rajab sendiri sebagai perwakilan Hanabilah.

4) Malam ke-25: Berdasarkan keumuman hadis berikut,

Nabi ﷺ bersabda,

اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di bulan Ramadan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 1917)

5) Malam ke-27: Ini adalah pendapat Ubay bin Kaab dengan kalimat yang sangat tegas, serta Zir bin Hubays dan Abdah bin Abi Lubabah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram hadis no. 705 menyebutkan hadis Mu’awiyah,

عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي

“Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata mengenai lailatul qadar itu terjadi pada malam ke-27.” (Nukilan dari Bulughul Maram)

Namun pendapat yang kuat, hadis ini mauquf, yaitu hanya perkataan sahabat. Para ulama berselisih mengenai tanggal pasti lailatul qadar. Ada 24 pendapat dalam masalah ini yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat menguatkan malam ini.

6) Malam ke-29: sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang malam lailatul qadar,

إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Sesungguhnya malam itu malam yang ke(dua puluh) tujuh atau kedua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir).” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albani)

7) Malam ke-30 pun mungkin: Dalam riwayat Abu Bakrah,

عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ

“Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata, “Ayahku telah mengabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang lailatul qadar kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam lailatul qadqr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’.” Abdurrahman berkata, “Dan Abu Bakrah salat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadan seperti salat-salat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun; tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani) [1]

Penutup

Tujuan dari artikel ini ditulis adalah mengajak kita semua untuk memaksimalkan apapun yang tersisa, dan memulai perburuan lailatul qadar sesegera mungkin. Perdebatan tentang kapannya malam lailatul qadar yang sering menghiasi timeline Ramadan kita sejatinya tidaklah produktif. Mari kita salurkan energi Ramadan kita untuk memaksimalkan amalan dan melakukan perburuan lailatul qadar dengan menyalakan mesin amal kita. [2]

Baca juga:

  • Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
  • Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] almanhaj.or.id

[2] Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

ShareTweetPin
Glenshah Fauzi

Glenshah Fauzi

- Alumnus Ma'had Al Ilmi 2023-2024 - Mahasiswa Kimia UGM '20

Artikel Terkait

Wafat Sebelum Membayar Kaffarat Jimak di Bulan Ramadan

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
2 April 2026
0

Hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan Bukan lagi menjadi hal yang tabu terkait hukum jimak (berhubungan...

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
31 Maret 2026
0

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat...

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

oleh Fauzan Hidayat
17 Maret 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada...

Artikel Selanjutnya

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 7): Sangat Masifnya Kesesatan Menyebar dan Melemahnya Kondisi Kaum Muslimin

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah