Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Kisah Jihad Syekhul Islam Ibnu Taimiyah (Bag. 2)

Gazzeta Raka Putra Setyawan oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
21 Agustus 2025
di Biografi
Kisah Jihad Ibnu Taimiyah
Share on FacebookShare on Twitter

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah senantiasa mendapatkan ujian yang menyertainya dalam hidupnya, dan penulis tidak bermaksud dengan ujian sang syekh sebagai penghinaan terhadapnya, karena ia rahimahullah hidup dalam keadaan dimuliakan dan dihormati, bahkan ketika dalam penjara sekalipun. Di mana pun ia berada, selalu ada penghormatan dan penghargaan. Yang penulis maksud dengan ujian di sini adalah penjara dan pembatasan kebebasannya dalam berdakwah. [1]

Hal yang paling berat bagi seorang ulama adalah ketika ia terhalang untuk menyampaikan syariat Allah dan mengajarkannya kepada manusia. Seorang muslim memang diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai cobaan. Ini adalah ujian dari Allah, yang dengannya Dia menguji hamba-Nya, dan kewajiban seorang muslim dalam menghadapinya adalah bersabar dan mencari hiburan dalam ketetapan-Nya. [2]

Secara lahiriah, hal-hal ini tampak sebagai ujian, tetapi sebenarnya itu adalah anugerah dan karunia dalam bentuk cobaan. Ibnu Taimiyah ini diuji dengan berbagai cobaan sepanjang hidupnya karena kedudukannya telah mencapai puncaknya, ia melampaui semua persaingan, namanya dikenal di setiap tempat, dan ia memiliki tekad sekuat baja, lidah yang fasih dan tajam, serta kehendak yang kuat untuk berjuang. Semua itu demi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Namun, kedudukannya yang tinggi telah membangkitkan kebencian dari mereka yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut dan tidak mampu mencapai derajat yang sama dengannya. [3]

Ketulusan dan keikhlasan dalam berdakwah menjadikan dirinya unggul di antara para ulama pada zamannya, yang sebagian besar terjebak dalam taklid buta, fanatisme yang tercela, atau hawa nafsu, demi mengejar jabatan yang tidak abadi. Begitulah kita menemukan Ibnu Taimiyah sebagai seorang reformis dan pendidik, yang terlibat dalam pertempuran di berbagai medan, berjuang di berbagai tempat, membela Al-Qur’an dan Sunnah, serta membantah segala bentuk perantara apapun itu dan siapapun yang menghadapinya. Hal ini menimbulkan permusuhan dari lawan-lawannya yang berasal dari berbagai mazhab dan aliran, serta dari penguasa pada masanya yang memasukkannya ke dalam penjara hingga ia meninggal di sana, rahimahullah.

Namun, ia meninggalkan warisan besar bagi kita, yang menjadi dasar bagi metodologi tauhid dalam bidang agama dan pendidikan umat, yang menjadi referensi penting bagi kaum muslimin setelahnya.

Dan pada akhirnya, ujian yang dihadapi oleh imam ini dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai anugrah baginya dan bagi siapa pun yang berada di sekitarnya. Ketika ia pergi ke Mesir pada tahun 705 H, di mana pun ia berada, ia menjadi cahaya dan petunjuk. Ketika ia melewati Gaza, ia mengadakan sebuah majelis besar di masjidnya dan memberikan pengajaran yang bijak. Begitu juga pada tahun 707 H, ia mulai mengajar di Mesir, hingga Allah memberikan manfaat yang besar melalui dirinya, dan orang-orang melihatnya sebagai seorang yang tulus dalam hati dan pikirannya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. [4]

Namun, yang terjadi adalah adanya orang-orang dengan rasa iri yang mendalam dalam hati mereka yang sakit, yang disebabkan oleh keberanian beliau dalam menyuarakan kebenaran dan ketundukan mereka kepadanya. Mereka juga merasa terganggu dengan perintahnya untuk menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, serta penolakan mereka terhadapnya. Bahkan, beberapa di antara mereka melaporkannya kepada penguasa karena ia berbeda pendapat dengan mereka. Seperti para pengikut tasawuf yang sudah berlebihan, para pelaku bid’ah, orang-orang jahil yang hanya ikut-ikutan, dan mereka yang memiliki jabatan dan takut kehilangan kedudukan, serta mereka yang telah menjual agama mereka demi dunia.

Begitu pula, kehidupan Ibnu Taimiyah penuh dengan serangkaian ujian yang berturut-turut datang menimpanya. Ia dipenjara tujuh kali [5]: empat kali di Mesir (di Kairo dan Alexandria) dan tiga kali di Damaskus. Awal mula ia dipenjara adalah ketika usianya menginjak dua puluh dua tahun, setelah kembali dari ibadah haji, di mana ia mulai menghadapi cobaan berupa penahanan, penyiksaan, dan pengawasan ketat selama 34 tahun, mulai dari tahun 693 H hingga hari wafatnya di penjara Qal’ah di Damaskus pada hari Senin, 20 Zulkaidah 728 H.

Ada berbagai alasan di balik penahanan-penahanannya:

1) Penahanan pertama terjadi di Damaskus pada tahun 693 H untuk waktu yang singkat.

2) Penahanan kedua terjadi di Mesir karena perbedaan pendapat mengenai sifat-sifat Allah, seperti masalah ‘arsy dan turunnya Allah, dan berlangsung selama satu tahun enam bulan dari Ramadan 705 H hingga Syawal, Rabi’ul Awal 707 H.

3) Penahanan ketiga di Mesir terjadi karena ia melarang tawassul dan istighatsah kepada makhluk, serta pernyataannya tentang Ibnu Arabi si sufi, dan durasinya juga singkat, mulai dari awal Syawal 707 H hingga 18 Syawal 707 H.

4) Penahanan keempat di Mesir adalah kelanjutan dari penahanan ketiga, berlangsung lebih dari dua bulan dari akhir Syawal 707 H hingga awal tahun 708 H.

5) Penahanan kelima terjadi di Mesir, kelanjutan dari penahanan keempat, di mana ia dipindahkan ke Alexandria dan dijaga secara ketat selama tujuh bulan lebih, dari awal Rabi’ul Awal 709 H hingga Syawal 709 H, atas hasutan beberapa pihak yang memiliki kepentingan.

6) Penahanan keenam terjadi di Damaskus karena pernyataannya mengenai sumpah dengan talak, yang dianggapnya sebagai sumpah yang harus ditebus. Penahanan ini berlangsung lima bulan dua puluh delapan hari, dari 12 Rajab 720 H hingga 10 Muharam 721 H.

7) Penahanan ketujuh dan terakhir terjadi di Damaskus karena perbedaan pendapat mengenai ziarah kubur yang dianggap sunnah dan bid’ah, yang berlangsung selama dua tahun, tiga bulan, dan empat belas hari, dimulai pada hari Senin, 6 Sya’ban 726 H hingga malam wafatnya pada Senin, 20 Zulkaidah 728 H. [6]

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan semua itu sebagai kebaikan Ibnu Taimiyah dan umatnya. Dengan izin Allah, melalui penjara-penjara tersebut, banyak orang yang mendapat hidayah. Ilmunya tersebar dari Mesir ke Afrika Utara dan Andalusia. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Mungkin kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [7]

Dan firman Allah,

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [8]

[Selesai]

Kembali ke bagian 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Ibnu Taimiyah karya Syekh Muhammad Abu Zuhroh, hal. 49.

[2] Al-Waabilu Ash-Shayyib, karya Ibnul Qayyim, hal. 7.

[3] Op. Cit, hal. 49; dengan perubahan.

[4] Ibid, hal. 55, 60-62; dengan perubahan.

[5] Al-Madaakhil Ila Aatsari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, karya Syekh Dr. Bakr bin Abdillah Abu Zaid, hal. 31-37; dengan perubahan dan diringkas oleh penulis.

[6] Ibid, hal. 32-37; dengan perubahan dan diringkas oleh penulis.

[7] QS. An-Nisa’: 19.

[8] QS. Al-Baqarah: 216.

ShareTweetPin
Gazzeta Raka Putra Setyawan

Gazzeta Raka Putra Setyawan

- Mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember (2023-sekarang) - Alumnus Ma'had Aly Al Furqon Magelang - Alumnus I'dad Lughowy STDI Imam Syafi'i Jember - Alumnus Safwa University (Online)

Artikel Terkait

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme

oleh Glenshah Fauzi
10 Agustus 2026
0

Jauhi favoritisme Thahir memberikan wasiat, ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد “Jangan sekali-kali...

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 2)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
4 Agustus 2026
0

Ibadah Al-Hasan Al-Bashri Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah. As-Sarri bin...

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
1 Agustus 2026
0

Nama dan nasab Beliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah...

Artikel Selanjutnya
Ibadurrahman

Sifat 'Ibadurrahman (Bag. 2): Menjaga Salat, Tak Terkecuali Salat Malam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah