Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Kisah Jihad Syekhul Islam Ibnu Taimiyah (Bag. 1)

Gazzeta Raka Putra Setyawan oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 Agustus 2025
di Biografi
Kisah Jihad Ibnu Taimiyah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Perang melawan bangsa Tartar
  • Perang melawan kaum Nasrani
  • Jihad melawan Rafidhah dan para penyerang

Ulama rabbani adalah hamba Allah Ta’ala dalam setiap waktu dan keadaan. Jika ia berada di masjid, maka ia adalah pengajar, pemberi nasihat, dan pembimbing. Jika ia berada di mimbar, maka ia adalah khatib yang fasih dan berpengaruh. Jika ia berada di jalan, maka ia selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau memberikan nasihat. Dan jika panggilan jihad berkumandang, ia adalah yang pertama memenuhi seruan itu. Jika dua pasukan bertempur, ia adalah pejuang yang gagah berani, pembela yang berani dan tangguh. Jika ada tempat kosong di garis pertahanan, ia adalah yang pertama mengisinya karena ia mengetahui keutamaannya dan betapa pentingnya hal itu.

Ulama juga masuk ke tengah barisan, menyemangati para prajurit, mengangkat semangat mereka, membacakan ayat-ayat tentang jihad, syahid, dan penjagaan perbatasan, serta menjanjikan kemenangan yang telah Allah janjikan kepada mereka. Inilah yang menjadi keadaan Ibnu Taimiyah.

Keberaniannya di medan perang telah menjadi kisah yang dikenang banyak orang, baik dari mereka yang sezaman dengannya maupun yang menuliskan biografinya. Ia menghadapi kematian dengan gagah berani saat bertemu musuh, dan para pejuang tidak melihatnya kecuali setelah pertempuran usai. Namun, saat perang berlangsung, siapa pun yang melihatnya akan melihatnya seperti singa perkasa yang menyerang dengan gagah, bergerak lincah, bertempur melawan musuh dengan penuh keberanian, mengharapkan syahid.

Jika ia melihat pasukan lemah, ragu, atau takut, ia menyemangati mereka, menguatkan hati mereka dengan membacakan ayat-ayat jihad. Mereka yang melihatnya berperang dan menunjukkan keberaniannya pun ikut bersemangat. Menelusuri semua pertempuran yang diikuti oleh Ibnu Taimiyah serta mencatat seluruh keberaniannya bukanlah tugas yang mudah. Bahkan jika bisa dihitung, mencatat dan merangkumnya akan membutuhkan tulisan yang panjang. Namun, kita dapat merujuk pada beberapa peristiwa yang menunjukkan keberanian dan ketegasannya terhadap berbagai musuh, yaitu sebagai berikut:

1) Jihad dan pertempurannya melawan bangsa Tartar;

2) Jihad dan pertempurannya melawan kaum Nasrani;

3) Jihadnya melawan kaum Rafidhah dan para penyerang lainnya. [1]

Perang melawan bangsa Tartar

Salah satu peristiwa penting adalah sikapnya terhadap Raja Tartar, Ghazan. Pada tahun 699 H, ia bersama delegasi dari tokoh-tokoh terkemuka Damaskus pergi menemui raja tersebut. Dalam pertemuan itu, Ibnu Taimiyah berbicara dengan tegas dan keras kepada Ghazan. Keberanian dan ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran menjadi salah satu faktor yang membuat raja tersebut tidak menyerang Damaskus.

Setelah pasukan Tartar pergi, masyarakat tetap merasa takut akan kemungkinan mereka kembali menyerang. Oleh karena itu, penduduk berkumpul di sekitar tembok kota untuk menjaga dan mempertahankan negeri mereka. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berkeliling di antara mereka, menguatkan hati mereka, dan menanamkan keteguhan dalam diri mereka.

Kemudian, pada tahun 700 H, tersebar kabar bahwa pasukan Tartar akan kembali menyerang Syam. Ketakutan pun melanda masyarakat. Banyak pejabat, bangsawan, serta ulama yang melarikan diri. Namun, Ibnu Taimiyah tetap teguh dan duduk di masjid besar (masjid Jami’), mengobarkan semangat jihad di tengah masyarakat, melarang mereka untuk lari, dan mendorong mereka agar berinfak di jalan Allah.

Ketika tersebar kabar bahwa Sultan mundur dari peperangan, Ibnu Taimiyah segera melakukan perjalanan menemuinya. Ia pergi ke Mesir untuk mendorong Sultan agar tetap berjuang dan menguatkan hatinya, serta menjanjikannya kemenangan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan nada tegas, ia berkata kepada Sultan, “Jika kalian berpaling dari Syam dan tidak melindunginya, maka kami akan mengangkat seorang pemimpin yang akan menjaganya dan mengelolanya di masa damai.” [2]

Keberanian Ibnu Taimiyah semakin bersinar dalam jihadnya pada perang Syakhab tahun 702 H. Ia mengobarkan semangat jihad, menguatkan hati Sultan, para panglima, serta para tentara, dan menjanjikan mereka kemenangan. Ia mendatangi Khalifah dan Sultan secara bergantian, menyemangati mereka, dan menguatkan mental mereka.

Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin. Setelah kemenangan itu, kedudukan Ibnu Taimiyah semakin tinggi di mata rakyat dan para pemimpin. Semua orang menyadari keutamaan dan perannya yang besar dalam meraih kemenangan tersebut.

Perang melawan kaum Nasrani

Adapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani, hal ini diceritakan oleh murid sekaligus sahabatnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, berdasarkan kesaksian orang-orang yang melihatnya langsung. Ia berkata,

“Mereka menceritakan bahwa mereka melihat keberanian luar biasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata di dalam diri Ibnu Taimiyah dalam penaklukan ‘Akka. Mereka berkata, ‘Bahkan, beliaulah yang menjadi penyebab utama keberhasilan kaum Muslimin dalam menaklukkan kota itu, berkat tindakan dan nasihatnya.’” [3]

Kemudian, di antara perjuangan Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani adalah peristiwa ketika Sultan Ghazan menguasai kota Damaskus. Saat itu, Raja Karaj datang kepadanya dan menawarkan harta yang sangat banyak sebagai imbalan agar ia diberi kesempatan untuk membantai kaum Muslimin di Damaskus.

Ketika berita ini sampai kepada Ibnu Taimiyah, ia segera bangkit tanpa ragu, menyemangati kaum Muslimin, mendorong mereka untuk meraih syahid, serta menjanjikan kemenangan, keamanan, dan hilangnya ketakutan. Maka, sejumlah tokoh dan pemuka dari Damaskus berangkat bersamanya menuju Sultan Ghazan.

Ketika mereka tiba di hadapan Sultan, ia bertanya, “Siapa mereka ini?”

Dijawab, “Mereka adalah para pemimpin Damaskus.”

Maka Sultan pun mengizinkan mereka masuk.

Ibnu Taimiyah maju terlebih dahulu, dan saat Sultan Ghazan melihatnya, Allah menanamkan rasa segan yang besar dalam hatinya. Sultan segera mendekatkannya dan mempersilakannya duduk. Kemudian, Ibnu Taimiyah mulai berbicara, menolak keputusan Sultan yang hendak memberikan kekuasaan kepada Raja Karaj untuk membantai kaum Muslimin. Ia juga menjamin akan mengumpulkan harta sebagai pengganti tawaran Raja Karaj, serta mengingatkan Sultan tentang keharaman menumpahkan darah kaum Muslimin.

Dengan penuh hikmah, ia menasihati dan memberi peringatan kepada Sultan Ghazan. Akhirnya, Sultan menerima nasihatnya dengan sukarela dan membatalkan rencana tersebut. Dengan demikian, berkat perjuangan Ibnu Taimiyah, darah kaum Muslimin terselamatkan, anak-anak mereka terlindungi, dan kehormatan mereka tetap terjaga. [4]

Dari kisah ini, jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani tidak hanya berupa pertempuran langsung dengan pedang, tetapi juga perjuangan melalui diplomasi, yaitu dengan menggagalkan rencana mereka untuk membantai kaum Muslimin melalui persekutuan dengan pasukan Tartar.

Jihad melawan Rafidhah dan para penyerang

Adapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Rafidhah dan para penyerang, salah satu peristiwanya terjadi pada tahun 704 H. Saat itu, beliau terus berjuang dengan penuh keteguhan melawan penduduk pegunungan Kisrawan. Beliau mengirim surat ke berbagai wilayah Syam, mendorong umat Islam untuk memerangi mereka, serta menegaskan bahwa perang ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah.

Kemudian, beliau sendiri memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, bersama dengan pemimpin wilayah (wakil Sultan) dan pasukan yang menyertainya. Mereka terus mengepung penduduk Kisrawan hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [5]

Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, penduduk Kisrawan diusir, fitnah mereka dipadamkan, dan mereka dipaksa untuk mengikuti syariat Islam dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan.

[Bersambung]

Lanjut ke bagian 2

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Ibnu Taimiyyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zuhroh, hal. 36; dengan sedikit pengubahan oleh penulis.

[2] Al-Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir, 14: 15.

[3] Al-A’lam Al-‘Aliyyah, karya Al-Hafizh Al-Bazzar, hal. 30; dengan sedikit perubahan.

[4] Ibid, hal. 63-64; dengan sedikit perubahan.

[5] Al-‘Uqud Ad-Durriyyah, karya Ibnu Abdi Al-Hadi, hal. 148-149; dengan sedikit perubahan.

ShareTweetPin
Gazzeta Raka Putra Setyawan

Gazzeta Raka Putra Setyawan

- Mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember (2023-sekarang) - Alumnus Ma'had Aly Al Furqon Magelang - Alumnus I'dad Lughowy STDI Imam Syafi'i Jember - Alumnus Safwa University (Online)

Artikel Terkait

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
12 Juli 2026
0

Akidah beliau Salah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari...

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 1)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
10 Juli 2026
0

Nama dan nasabnya Beliau bernama Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad...

Biografi Ibnu Khuzaimah

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
23 Juni 2026
0

Nama dan kelahiran Beliau adalah Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Faqih, Syekhul Islam, Imam para imam: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah...

Artikel Selanjutnya
Jujur Mengakui Kesalahan

Jujur Mengakui Kesalahan: Jalan Memperbaiki Diri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah