Dalam aktivitas dakwah yang semakin masif dan bergerak dalam intensitas yang tinggi, dapat disaksikan bahwa kerap kali seorang pendakwah menggunakan berbagai macam metode dan pendekatan dalam dakwahnya. Namun, sayangnya tidak semua metode itu adalah metode yang sesuai dan dapat menunjukkan umat kepada jalan yang benar, bahkan ada yang cenderung menyimpang dari esensi dakwah yang sebenarnya. Sebut saja dakwah yang isinya justru ideologi-ideologi tertentu, ritual-ritual yang dilabeli Islami tetapi tanpa dasar syar’i, atau malah justru berdakwah untuk hal-hal duniawi dan mendakwahkannya.
Hal seperti itu berpotensi menjauhkan umat dari agama dan mengaburkan esensi dakwah. Karenanya, sangat krusial bagi seorang muslim, terutama pendakwah, agar dakwahnya senantiasa hanya berpedoman dan berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunah, dan selaras dengan paham salafus saleh.
Dari sini muncul pertanyaan, mengapa harus paham salafus saleh?
Ada beberapa alasan mengapa dalam beragama dan menjalankan syariat yang ada dalam Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, secara umum seorang muslim, dan secara khusus pendakwah dalam berdakwah, haruslah selaras dengan paham salafus saleh; seperti dua alasan berikut,
Pertama: Karena paham para salafus saleh telah diridai dan dikonfirmasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala validitasnya. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya,
وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍۢ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 100)
Yang dapat termasuk ke dalam kategori “orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” adalah para tabiin, pengikut tabiin, dan siapa saja yang mengikuti mereka sampai hari kiamat. Mereka inilah yang kemudian dinamakan oleh para ahli ilmu dengan “salafus saleh”.
Konfirmasi atas validitas dan kesahihan para salafus saleh ditandai dalam ayat ini dengan rida Allah kepada mereka dalam beragama dan termasuk dalam bagaimana cara mereka mendakwahkan agama Allah.
Kedua: Karena paham salafus saleh adalah paham dari generasi terbaik yang telah diafirmasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya,
خَيْرُ النّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya lagi.” (HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533)
Hadis ini sekaligus menjelaskan siapa itu salafus saleh, yang kemudian populer di kalangan para ulama dengan sebutan Al-Qurun Ats-Tsalatsah Al-Mufaddhalah (tiga generasi terbaik): 1) generasi Nabi dan sahabat yang membersamainya; 2) generasi tabi’in; dan 3) generasi tabiut tabii’n.
Afirmasi dan pengakuan dari Nabi ini juga yang membuat kita tidak dapat serta merta beragama, terutama berdakwah, dengan tata cara yang tidak dilakukan oleh Nabi, dan juga para ulama di tiga generasi terbaik. Bahkan karena mereka telah diakui lah, kita mempunyai keharusan untuk melanjutkan estafet dakwah mereka yang telah menyebarkan Islam dan membawakan ajaran yang sahih dengan tetap mempertahankan orisinilitasnya, dan tidak dengan cara yang dibuat-buat sendiri.
Kemudian ketika kita cermati dengan baik, dakwah para salafus saleh dan yang mengikutinya dengan sebenar-benarnya, akan ditemukan semacam benang merah kesamaan yang menunjukan konsistensi estafet dakwah, yang dapat disebut pula sebagai keistimewaan dan kekhususan dakwah salafus saleh yang membedakan dengan dakwah non-salafus saleh.
Ada beberapa keistimewaan, di antaranya:
Pertama: Dakwahnya hanya kepada Allah dan untuk Allah
Atau yang lebih populer dengan sebutan “ikhlas”. Ikhlas dalam berdakwah yakni dakwahnya hanya diniatkan untuk Allah dan hanya menyeru dan mendakwahkan kepada Allah. Bukan kepada guru, institusi, kelompok, atau perorangan dan perkumpulan tertentu. Melainkan hanya kepada Allah.
Dampak positifnya adalah ketika bahkan ada yang salah, bahkan jika itu adalah temannya, atau gurunya, atau rekan sejawatnya, tidak segan-segan seorang pendakwah yang ikhlas akan menegurnya. Tidak terkecuali jika dirinya salah, seorang pendakwah yang ikhlas akan dengan sukarela mengakui kesalahannya, karena esensi dakwahnya adalah Allah, tidak reputasi, tidak ketenaran, tidak pula kuantitas jamaah.
Hal ini adalah pengaplikasian yang sebenar-benarnya dari firman Allah Ta’ala,
قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ
“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin.” (QS. Yusuf: 108)
Namun, tidak jarang, terutama di hari-hari ini, ketika kebenaran dan kebatilan hampir tidak dapat dibedakan, sebabnya banyak, seperti ketika seorang pendakwah sudah terafiliasi dengan ideologi tertentu, atau kelompok tertentu, sehingga dakwahnya bersifat tendensius dan cenderung hanya menyampaikan hal-hal yang menyokong dan mendukung kecenderungannya saja dan jauh dari sikap objektif.
Fitnah lainnya adalah harta. Ketika seorang pendakwah sudah tergiur dengan harta, tamatlah sudah kualitas dakwahnya. Tergiur dalam harta di sini adalah ketika orientasi dakwahnya adalah harta dan bayaran, ia memasang tarif tertentu untuk panggilan dakwahnya dan tidak akan datang jika tidak sesuai tarif. Bukan hanya harta, hal-hal menggiurkan lain seperti penghormatan, jabatan, atau pengagungan tertentu juga dapat berperan sama. Yang seperti ini jelas harus dihindari semaksimal mungkin. Meskipun terkait bayaran dan upah, adalah sesuatu yang tidak mengapa selama tidak dipatok tarifnya sejak awal serta tidak mengalihkan niat dakwah yang sesungguhnya.
Hal ironis lainnya adalah retorika dan keindahan dalam berbicara dan menyampaikan yang substansinya tidak menyeru kepada kecintaan dan ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya, dan justru kepada hal-hal lain, bahkan dunia. Brandingnya adalah hal yang lain dan dakwah agama hanya dijadikan sebagai kedok semata. Tentu saja hal seperti ini perlu dijauhi oleh seorang pendakwah demi menjaga keikhlasan dan kualitas dakwah.
Maka hendaknya seorang pendakwah agar tetap ikhlas, dalam artian niatnya adalah diperuntukkan untuk Allah semata dan dakwahnya hanya menyeru kepada Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya yang benar, tanpa kecenderungan akan afiliasi tertentu.
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menuturkan ketika menjelaskan ayat yang telah disebutkan di awal (QS. Yusuf: 108),
وفيها التنبيه على الإخلاص ؛ لأن من الناس من يدعو لكنه يدعو إلى نفسه أو إلى شيخه أو إلى طريقته أو إلى حزبه أو فئته ..
“Pada ayat tersebut terdapat imbauan sekaligus peringatan agar tetap ikhlas, karena di antara manusia ada yang dakwahnya justru menyeru kepada dirinya, gurunya, tarekatnya, kelompoknya, atau faksinya.”
Selain itu, ikhlas dalam berdakwah juga berarti menghadirkan hati. Segala yang disampaikannya tentang agama Allah hendaknya berasal dari hati dan tidak sekadar manis di mulut saja. Karena ketika sesuatu hanya berasal dari mulut saja, seringkali tidak sampai lebih dari telinga saja, berbeda dengan yang disampaikan dengan tulus dari hati, terlebih ini adalah agama Allah, maka akan dapat menggerakkan hati untuk menghayati ajaran yang didakwahkan serta meresapi dan memaknainya.
Baca juga: Perhatian Terhadap Ilmu Syar’i Merupakan Salah Satu Ciri Dakwah Ahli Sunah
Kedua: Skala prioritas yang dibangun atas dasar wahyu
Selain bahwa dasar yang melandasi agama secara berurutan dalam hierarki sumber syariat adalah Al-Kitab (Al-Qur’an) kemudian sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam dakwah secara khusus pun ada skala prioritas dalam menyeru.
Yang dimaksudkan dengan skala prioritas dakwah adalah apa yang paling pertama harus didakwahkan kepada umat, sehingga kemudian pemahaman akan agama akan terbangun secara kokoh dan benar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk dan arahan dengan apa sebuah dakwah seharusnya dimulai dalam sabdanya kepada sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,
إنك تأتي قومًا من أهلِ الكتابِ، فادعُهم إلى شهادةِ أن لا إلهَ إلا اللهُ، وأنِّي رسولُ اللهِ، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمْهم أن اللهَ افترض عليهم خمسَ صلواتٍ في كلِّ يومٍ وليلةٍ، فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن اللهَ افترض عليهم صدقةً تُؤخَذُ من أغنيائِهم فتُرَدُّ على فقرائِهم، فإن هم أطاعوا لذلك فإياك وكرائمَ أموالِهم، واتقِ دعوةَ المظلومِ، فإنها ليس بينَها وبينَ اللهِ حجابٌ
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi orang-orang dari kalangan Ahlul Kitab. Maka,
- ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku (Muhammad) adalah Rasul-Nya. Jika mereka menaati ajakan itu,
- sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan lima salat bagi mereka setiap sehari-semalam. Jika mereka menaati perintah itu,
- beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan zakat, yang diambil dari harta orang kaya dan disalurkan kepada orang miskin. Jika mereka juga menaati, dan waspadalah terhadap harta-harta mulia mereka,
dan takutlah kamu terhadap tuntutan orang yang tertindas, sebab tidak ada penghalang antara dia dan Allah.” (HR. Muslim no. 19 dan Ibnu Abdul Barr dalam “Istidzkar”-nya, 7: 631)
Hadis ini menjelaskan tentang prioritas dalam berdakwah, yang paling pertama dimulai dengan dakwah kepada mentauhidkan Allah, baik dalam pembahasan-pembahasan yang umum maupun rinci melalui pendidikan akidah yang benar dan penyebaran karya-karya yang menjadi sumber kredibel. Ini yang perlu digarisbawahi, karena ketika tidak ada tauhid benar yang tertanam, maka amalan sebanyak apapun dan sekeras apapun seseorang, tidak ada artinya.
Dalam dakwah, tauhid harus menjadi yang diprioritaskan yang pertama dan utama. Dasar dari dakwah sendiri haruslah dimulai dari tauhid. Dalam konteks aktivitas dakwah di masyarakat, hal ini berarti: penanaman dan penguatan akidah yang sesuai dengan tuntunan yang dibawakan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diteruskan keteladanannya oleh para pengikutnya dari sahabat, tabiin, dan seterusnya.
Karena inti dari Islam adalah tauhid kepada Allah, maka ketika ada dakwah yang tidak disertai seruan kepada kebenaran tauhid di dalamnya, maka bisa dipastikan bahwa ada yang salah dengan dakwah tersebut. Bahkan ketika dakwah yang tajuk utamanya adalah pembahasan ilmu lain dalam agama, tetaplah harus dikorelasikan dengan tauhid. Sehingga tauhid tidak menjadi sesuatu yang hanya lewat kemudian terlupakan, tapi termanifestasikan dalam ilmu lain dan kehidupan.
Tahapan berdakwah yang dimulai dengan tauhid dan kemudian disusul perkara-perkara esensial lain dalam Islam ini merupakan pendekatan ideal yang sudah seharusnya kita teladani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan menyeru umat kepada Allah dengan sebenar-benarnya, sebagaimana para salafus saleh juga meneladani hal ini, dan senantiasa menjadikan hal utama dalam dakwah adalah tauhid.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Baca juga: Tantangan Dakwah Tauhid
***
Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Disadur dari kitab “Ta’shil Al-Manhaj Al-Da’awiyah fii Dhau’ Al-Kitab wa Al-Sunnah wa Fahm Al-Salaf Al-Shalih” yang merupakan pembukuan dari ceramah Syekh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh.




