Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Keutamaan Doa Memohon Rezeki Halal dan Kecukupan dari Allah

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
20 April 2025
di Doa dan Zikir
Doa Memohon Rezeki Halal
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Redaksi hadis
  • Makna doa
  • Hubungan rezeki halal dengan keberkahan
  • Keutamaan mengamalkan doa ini
    • Pertama: Dijauhkan dari perkara syubhat dan haram
    • Kedua: Mendapatkan kecukupan yang berkualitas
    • Ketiga: Menguatkan tawakal
  • Praktik dalam kehidupan sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim senantiasa dihadapkan pada ujian rezeki. Tidak jarang, godaan untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang tidak halal muncul, terutama ketika kesulitan menghampiri. Namun, Islam mengajarkan bahwa rezeki yang baik dan berkah hanya datang dari Allah Ta’ala. Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“ALLAAHUMMAKFINI BIHALALIKA ’AN HARAMIK, WA AGHNINI BIFADHLIKA ‘AMMAN SIWAK.”

(“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung pada selain-Mu.”)

Redaksi hadis

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ada seorang budak mukatab (yang berutang pada tuannya ingin memerdekakan dirinya) yang mendatangi ‘Ali, ia berkata,

إِنِّي عَجِزْتُ عَنْ كِتَابَتِي فَأَعِنِّي

“Aku tidak bisa membayar utang pembebasan diriku, maka tolonglah aku.”

Ali pun berkata,

أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيْهِنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلٍ دَيْناً أَدَّاهُ اللهُ عَنْكَ ؟

“Maukah kuberitahukan kepadamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkannya padaku, yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya?”

Ucapkanlah doa,

اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

‘ALLAAHUMMAKFINI BIHALALIKA ’AN HARAMIK, WA AGHNINI BIFADHLIKA ‘AMMAN SIWAK.’

(artinya: Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 3563. Hasan menurut At-Tirmidzi. Syekh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadis ini.)

Makna doa

Doa di atas mengandung tiga permintaan utama, yaitu: memohon kecukupan rezeki halal, meminta dijauhkan dari yang haram, dan memohon kekayaan hati agar tidak bergantung kepada makhluk.

Ketiga permintaan ini saling terkait. Rezeki halal tidak hanya membawa manfaat secara fisik, tetapi juga menenangkan jiwa. Sementara itu, permintaan untuk dijauhkan dari yang haram mencerminkan kesadaran bahwa kehalalan rezeki adalah prinsip hidup yang tidak bisa ditawar. Terakhir, permintaan agar tidak bergantung pada selain Allah, menunjukkan tauhid yang utuh, di mana seorang hamba meyakini bahwa hanya Allah yang mampu mencukupi segala kebutuhan.

Doa ini diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis, termasuk Sunan At-Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Salah satu riwayat yang menjadi landasannya adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka, bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syekh Al-Albani)

Selain itu, Allah juga berfirman,

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah. Tugas manusia hanyalah berikhtiar secara halal dan bertawakal, serta memastikan bahwa ia berkomitmen untuk menjauhi segala potensi dosa yang dapat menjerumuskannya dalam memperoleh rezeki yang tidak halal.

Baca juga: Doa Memohon Ilmu, Rezeki, dan Amal yang Diterima

Hubungan rezeki halal dengan keberkahan

Saudaraku, renungkanlah! Ketika seseorang mengonsumsi yang haram, hatinya tentu akan menjadi keras, ibadah terasa berat, dan doa sulit dikabulkan. Sebaliknya, rezeki halal akan melapangkan hati, memudahkan penerimaan amal, dan mendatangkan ketenangan.

Doa dalam kalimat: اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ

“ALLAHUMMAKFINI BIHALALIKA …”

juga mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam sikap tamak. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kaya adalah kayanya jiwa.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, Tirmidzi no. 2373, dan Ibnu Majah no. 4137)

Artinya, kekayaan sejati terletak pada rasa cukup (qana’ah) dengan pemberian Allah, bukan pada jumlah materi yang dimiliki. Hal inilah yang semestinya senantiasa kita sadari. Karena, kadangkala hidup di tengah-tengah lingkungan yang melulu mengejar hal yang bersifat duniawi dapat mempengaruhi cara kita berpikir dan bernalar tentang makna qana’ah. Maka, sadarilah bahwa kekayaan jiwa adalah yang utama dan perlu kita kedepankan tanpa mengesampingkan pula ikhtiar kita dalam aspek dunawi sesuai dengan koridor syariat.

Keutamaan mengamalkan doa ini

Pertama: Dijauhkan dari perkara syubhat dan haram

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui kebanyakan orang. Maka, barangsiapa menjauhi syubhat, ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Mudah-mudahan dengan membaca doa ini, kita memohon perlindungan Allah dari segala bentuk syubhat yang bisa menjerumuskan dan semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita ketika dihadapkan pada perkara syubhat, serta Allah berikan kita kekuatan iman dan takwa untuk segera menghindar dari segala perkara syubhat.

Kedua: Mendapatkan kecukupan yang berkualitas

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.’” (QS. Ibrahim: 7)

Doa ini mengandung sikap syukur karena memilih rezeki halal, sehingga Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya. Memilih rezeki halal meski secara duniawi terlihat sedikit adalah contoh dari ikhtiar kita dalam memanifestasikan rasa syukur kepada Allah. Memang, terasa berat untuk konsisten dengan kebiasaan ini. Akan tetapi, ingatlah bahwa ganjarannya tidak hanya diperoleh di akhirat nanti, di dunia pun akan kita memperolehnya, yaitu berupa nikmat yang selalu bertambah.

Ketiga: Menguatkan tawakal

Saudaraku, ketahuilah bahwa dengan mengakui bahwa hanya Allah yang mencukupi, kita melatih diri untuk tidak bergantung pada manusia atau materi. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Praktik dalam kehidupan sehari-hari

Pertama: Selalu cek sumber penghasilan dengan memastikan pekerjaan atau bisnis yang dijalankan sesuai syariat. Hindari riba, penipuan, atau transaksi yang merugikan pihak lain.

Kedua: Berdoalah di setiap pagi dan petang. Amalkan doa ini secara rutin, terutama setelah salat. Rasulullah mengajarkan bahwa waktu antara azan dan ikamah adalah saat mustajab untuk berdoa.

Ketiga: Bersedekahlah untuk membersihkan harta. Karena sedekah tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga membersihkan harta dari hak orang lain yang mungkin tanpa sengaja tercampur.

Doa “ALLAAHUMMAKFINI BIHALALIKA…” adalah bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Sang Pemberi rezeki. Mudah-mudahan, dengan mengamalkan doa ini, Allah akan mencukupkan kebutuhan kita dan memberikan perlindungan dari segala bentuk keputusasaan dan ketergantungan kepada selain Allah. Marilah kita jadikan doa ini sebagai bagian dari zikir harian, sembari terus berikhtiar mencari rezeki yang halal dan berkah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Sebab-Sebab Rezeki yang Ada di Dalam Al-Qur’an

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

- Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta (2020) - S2 Universitas Gadjah Mada - D4 Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Artikel Terkait

Doa Ketika Terlilit Utang

oleh Prasetyo Abu Ka'ab
25 Januari 2026
0

Seorang muslim tidak sepantasnya meremehkan perkara utang, menganggapnya sepele, atau bersikap longgar dalam melunasinya. Sebab, dalam As-Sunah, terdapat banyak hadis...

Ketenangan Hati

Zikir dan Ketenangan Hati

oleh Fauzan Hidayat
14 Oktober 2025
0

Setiap manusia mendambakan ketenangan hati. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, bahkan hiburan. Namun semakin dicari pada selain Allah,...

Bacaan Tasbih Tahmid dan Takbir

Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat

oleh Firdian Ikhwansyah
30 September 2025
0

Zikir merupakan salah satu ibadah harian yang sering kita lakukan. Salah satu jenis zikir yang pasti kita rutinkan setiap harinya...

Artikel Selanjutnya
Fikih Salat Tawaf

Fikih Salat Dua Rakaat Tawaf

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah