Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fatwa Ulama: Apakah Doa Dapat Mengubah Takdir?

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
18 Februari 2025
di Fatwa Ulama
Doa Dapat Mengubah Takdir
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus
    • Pertanyaan:
    • Jawaban:

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus

 

Pertanyaan:

Apa perbedaan antara qadar (takdir) dan takdir yang tertulis (maktub) dalam Lauh Mahfuzh? Apakah takdir dapat berubah dengan sebab doa? Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.

Tingkatan penulisan takdir: tingkatan penulisan takdir adalah ketetapan Allah Ta’ala atas segala sesuatu -baik yang kecil maupun besar- dalam Lauh Mahfuzh, mencakup segala sesuatu yang telah dan akan terjadi. Ini merupakan salah satu dari empat tingkatan takdir, yaitu:

Pertama, ilmu Allah Ta’ala yang mencakup segala sesuatu.

Kedua, penulisan Allah Ta’ala atas segala sesuatu dalam Lauh Mahfuzh.

Ketiga, kehendak-Nya yang mutlak dan tidak dapat ditolak dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas dalam menciptakan segala sesuatu.

Keempat, beriman bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu dan yang mengadakannya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, ketika disebut “maktub” (tertulis), maka ini adalah bagian dari keseluruhan konsep takdir. Dalil mengenai empat tingkatan ini adalah firman Allah Ta’ala,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَة فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰب مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِير

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ القَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Sesungguhnya hal pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berfirman kepadanya, “Tulislah!” Pena bertanya, “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.” [1]

Sedangkan doa adalah salah satu sebab yang memiliki pengaruh terhadap akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ

“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” [2]

Doa bisa menjadi sebab tertolaknya suatu takdir yang telah ditentukan. Begitu pula dengan kebajikan (birr), yang dapat memperpanjang umur seseorang yang seharusnya lebih pendek jika bukan karena amal baiknya. Dengan demikian, doa, kebajikan, dan sebab-sebab lainnya dapat mempengaruhi perubahan dalam ketetapan takdir.

Namun, perlu dipahami bahwa perubahan tersebut juga telah ditulis dalam takdir karena sebab doa itu sendiri. Hal ini seperti obat yang dapat menyembuhkan penyakit, ia memiliki pengaruh dalam kesembuhan, akan tetapi tetap berada dalam ketetapan (baca: takdir) Allah. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَر

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)

Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. [3]

Baca juga: Hukum Berdoa kepada Allah di Sisi Makam Orang Saleh

***

@Unayzah, 8 Sya’ban 1446/ 7 Februari 2025

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab As-Sunnah, bab tentang Qadar (no. 4700), dan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar (no. 2155) serta dalam kitab At-Tafsir, bab Surat Nun (no. 3319), dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no. 2018).

[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687).

[3] Diterjemahkan dari: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-506

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Fatwa Ulama: Keutamaan Amal Perbuatan Berbeda-Beda, Tergantung Pada Orang dan Keadaannya

oleh Fauzan Hidayat
8 Juli 2026
0

Pertanyaan: Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah)...

Fatwa Ulama: Hukum Menangis Dalam Salat Karena Musibah

oleh Fauzan Hidayat
4 Juli 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Kami sebelumnya mengira bahwa imam yang memimpin salat kami di masjid menangis saat...

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

oleh Reza Mahendra
12 Juni 2026
1

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah   Pertanyaan: Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar...

Artikel Selanjutnya
Bunuh Diri dalam Islam

Bunuh Diri dalam Paradigma Islam (Bag. 1)

Komentar 2

  1. izudin says:
    1 tahun yang lalu

    Artinya doa itu sendiri, perubahaan itu sendiri seandainya ada, sudah tercatat ya Ust? artinya tidak ada satupun yang tidak tercatat di Lauh Mahfuzh?

    Reply
    • M. Saifudin Hakim says:
      1 tahun yang lalu

      Iya, betul, baarakallahu fiik.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah