Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Menyeimbangkan Antara Khauf (Rasa Takut) dan Raja’ (Berharap)

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK oleh dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK
2 April 2018
di Akidah
khauf dan raja'
Share on FacebookShare on Twitter

Pelajaran TAUHID mengenai hal ini cukup penting diketahui, bahwa dalam kehidupan hamba di dunia ini perlu menggabungkan antara mahabbah (cinta), khauf (rasa takut) dan raja’ (berharap).

Dalil Mahabbah dalam ibadah yaitu firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al Baqarah: 165).

Dalil Khauf (rasa takut) dalam Ibadah yaitu firman Allah:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)

Dalil Raja’ (berharap) dalam Ibadah yaitu firman Allah,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Rabbnya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Dalam setiap perbuatan dan ibadah seorang hamba harus ada ketiga hal ini. Sebagaimana seseorang dalam urusan dunianya, ada tiga hal ini. Misalnya seorang mahasiswa yang mengikuti ujian, maka ada:

  1. Rasa takut: tidak lulus ujian dan DO
  2. Berharap: lulus ujian dengan nilai baik
  3. Cinta: Cinta dengan jurusan yang ia tempuh dan ilmu yang ia pelajari karena merupakan pilihannya

Seorang hamba harus menyeimbangkan antara khauf dan raja’ sebagaimana dalam ayat berikut yang menjelaskan seorang hamba berdoa dengan harap dan cemas. Allah berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Apabila terlalu besar dan mendominasi rasa takut (khauf), maka akan terjerumus dalam akidah khawarij yang putus asa dari rahmat Allah padahal Allah Maha Pengasih.

Apabila terlalu besar dan mendominasi rasa raja’ (berharap), maka akan terjerumus dalam akidah murji’ah yang menghilangkan rasa takut kepada Allah, hanya menonjolkan ampunan dan rasa harap padahal Allah juga “syadidul iqab” yaitu keras azabnya.

Karenanya dua hal ini dimisalkan seperti sayap burung, tidak boleh ada yang lebih berat atau rusak sebelah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,

والعبد يسير إلى الله بين الرجاء والخوف كالجناحين للطائر، يخاف الله ويرجوه

“Seorang hamba harus beribadah kepada Allah di antara raja’ dan khauf sebagaimana dua sayap burung.”[1]

Ada beberapa keadaan di mana salah satu dari khauf dan raja’ ini perlu sedikit mendominasi. Misalnya:

Ketika sakit yang akan mengantarkan kematiannya, maka perbanyak rasa raja’ (berharap) kepada Allah akan pahala ibadah-ibadah yang dulu pernah dilakukan. Apalagi ibadah tersebut adalah ibadah yang disembunyikan, hanya Allah dan ia yang tahu serta benar-benar hanya mengharap wajah Allah saja.

Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang mengajarkan kita agar meninggal dalam keadaan berhusnuzhan kepada Allah. Beliau bersabda,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Jangan salah seorang diantara kamu meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah Azza Wa jalla.”[2]

Berikut penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengenai rincian hal berikut,

اختلف العلماء هل يُقدم الإنسان الرجاء أو يقدم الخوف على أقوال:

فقال الإمام أحمد رحمه الله: “ينبغي أن يكون خوفه ورجاؤه واحداً، فلا يغلب الخوف ولا يغلب الرجاء”، قال رحمه الله: “فأيهما غلب هلك صاحبه”، لأنه إن غلب الرجاء وقع الإنسان في الأمن من مكر الله، وإن غلب الخوف وقع في القنوط من رحمة الله. وقال بعض العلماء: “ينبغي تغليب الرجاء عند فعل الطاعة، وتغليب الخوف عند إرادة المعصية”، لأنه إذا فعل الطاعة فقد أتى بموجب حسن الظن، فينبغي أن يغلب الرجاء وهو القبول، وإذا هم بالمعصية أن يغلب الخوف لئلا يقع في المعصية. وقال آخرون: ينبغي للصحيح أن يغلب جانب الخوف، وللمريض أن يغلب جانب الرجاء، لأن الصحيح إذا غلب جانب الخوف تجنب المعصية، والمريض إذا غلب جانب الرجاء لقي الله وهو يحسن الظن به. والذي عندي في هذه المسألة أن هذا يختلف باختلاف الأحوال، وأنه إذا خاف إذا غلب جانب الخوف أن يقنط من رحمة الله وجب عليه أن يرد ويقابل ذلك بجانب الرجاء، وإذا خاف إذا غلب الرجاء أن يأمن مكر الله فليرد ويغلب جانب الخوف، والإنسان في الحقيقة طبيب نفسه إذا كان قلبه حيًّا، أما صاحب القلب الميت الذي لا يعالج قلبه ولا ينظر أحوال قلبه فهذا لا يهمه الأمر.

Para ulama berbeda pendapat mengenai manakah yang lebih didahulukan/didominasikan, apakah rasa harap atau rasa takut kepada Allah, ada beberapa pendapat:

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Hendaknya khauf (rasa takut) dan raja‘ (berharap) itu sama,  tidak boleh mendominasi rasa takut dan tidak boleh mendominsasi rasa berharap

Beliau juga berkata:

“Apabila salah satu dari keduanya mendominasi, orang tersebut akan binasa”

Karena ketika rasa berharap kepada Allah lebih besar, seseorang akan merasa aman dari makar (azab) Allah, dan jika rasa takut lebih besar maka ia akan putus asa dari rahmat Allah

Sebagian ulama mengatakan:

“Hendaknya rasa berharap lebih mendominasi ketika melakukan ketaatan dan rasa takut lebih mendominasi ketika ingin melakukan maksiat”

Karena ketika melakukan ketaatan akan menuntut adanya husnuzhan kepada Allah, sehingga hendaknya rasa harap lebih besar yaitu ia mengharapkan amalannya diterima. Adapun dalam maksiat, hendaknya rasa takut lebih besar agar ia tidak terjerumus dalam maksiat

Sebagian ulama yang lain mengatakan:

“Hendaknya orang yang sehat lebih dominasi rasa takut, sedangkan orang yang sakit lebih dominasi rasa harap”

Karena orang yang sehat ketika ia mengedepankan rasa takut maka ia akan terhindar dari maksiat, sedangkan orang yang sakit ketika ia mengedepankan rasa harap maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.

Menurutku yang tepat dalam masalah ini adalah jawabannya berbeda tergantung keadaannya:

  • Apabila seseorang khawatir ketika rasa takut kepada Allah mendominasi sampai membuat ia putus asa dari rahmat Allah, maka wajib baginya untuk menyeimbangkan rasa takut itu dengan rasa harap kepada Allah
  • Apabila seseorang khawatir ketika rasa berharap kepada Allah mendominasi sampai membuat ia merasa aman dari makar Allah, maka wajib baginya untuk menyeimbangkan rasa harap itu dengan rasa takut kepada Allah

Seseorang itu pada hakikatnya adalah dokter bagi dirinya sendiri, apabila hatinya sehat. Adapun orang yang hatinya mati, maka ia tidak akan berusaha mengobati hatinya, tidak akan menimbang-nimbang hatinya ada pada kondisi apa sekarang, dan ia tidak akan memperhatikan perkara ini. [3]

Baca Juga: Macam-Macam “Rasa Takut” Dalam Pelajaran Tauhid

—

@Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel muslim.or.id

—

Catatan kaki:

[1] Sumber: https://www.binbaz.org.sa/noor/11704

[2] HR. Muslim, 2877.

[3] Majmu’ Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 1/100-101

ShareTweetPin3
dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim"

Artikel Terkait

Kesyirikan yang Mengancam Akal

oleh Glenshah Fauzi
14 Oktober 2026
0

Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori...

Iman kepada Para Rasul: Dari Mengagumi Menuju Mengikuti

oleh Mochammad Wibisono
7 Oktober 2026
0

Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan. Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah...

Karnaval Bertema “Satanic” dan Apa Hukumnya bagi Seorang Muslim?

oleh Muhammad Insan Fathin
29 September 2026
0

Beberapa waktu lalu, media sosial kita sempat ramai disebabkan karnaval yang menampilkan atribut bertema satanik di ruang publik. Ditemukan pentagram...

Artikel Selanjutnya

Jumlah Sifat Allah: Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 2)

Komentar 5

  1. Edwin says:
    7 tahun yang lalu

    Raja atau Rodja?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      7 tahun yang lalu

      Bahasa Arabnya: الرجاء
      Tranliterasi yang baku: ar raja’

      Reply
  2. Jordi says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamualaikum Afwan, bagaimana kondisi nya kpn yg hatinya mati?

    Reply
  3. Jordi says:
    6 tahun yang lalu

    Afwan mksd ana bagaimana kah solusi nya atau seperti apa?

    Reply
  4. Abu Abdirrohman says:
    3 tahun yang lalu

    Afwan. Kalau sifat khawatir sendiri, itu elemen dari khauf ( takut ) ataukah sifat yang berdiri sendiri ustadz? Jazaakallohu khoiro

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan bahwa Anda manusia: 1   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah