Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 8): Teladani Pemimpin Hebat Terdahulu

Glenshah Fauzi oleh Glenshah Fauzi
24 Oktober 2026
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pemimpin itu harus mudah diakses
  • Jadilah ramah dan ikhlas melakukannya
  • Belajarlah dari pemimpin terdahulu
  • Hati-hati dari harta haram
  • Perhatikan, siapa yang menjadi sirkel utama?
  • Kerja efektif dengan fokus pada setiap agenda
  • Para pemimpin layak memegang wasiat Thahir
  • Mutiara hikmah

Pemimpin itu harus mudah diakses

Seorang pemimpin seringkali hidup berjarak dari rakyatnya. Padahal, pemimpin hebat seperti Nabi ﷺ tidak memiliki jarak signifikan dengan rakyatnya. Siapa saja bisa menemui Nabi ﷺ, bertanya, dan melaporkan berbagai perkara. Hal ini juga ditiru oleh Khulafaur Rasyidin.

Oleh sebab itu, Thahir mewasiatkan,

وأكثر الإذن للناس عليك وأبرز لهم وجهك وسكن لهم أحراسك واخفض لهم جناحك وأظهر لهم بشرك ولن لهم في المسألة والمنطق واعطف عليهم بجودك وفضلك

“Biarkan orang sering datang menemuimu, tunjukkan wajahmu kepada mereka (temui langsung). Janganlah penjagamu menghalangi mereka. Rendahkan hatimu kepada mereka. Perlihatkan kepada mereka senyummu. Bersikaplah lembut kepada mereka ketika engkau menyampaikan pertanyaan dan berbicara kepada mereka. Kasihi mereka dengan kemurahan hati dan keutamaanmu.”

Mungkin ada yang beralasan, “Kan zaman Nabi komunitas masyarakatnya masih kecil.” Sebenarnya pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Karena komunitas muslim pada akhir-akhir perjuangan Nabi ﷺ sudah cukup besar, meliputi Madinah, Mekah, dan beberapa kota lain. Namun, pernyataan ini kian terbantahkan ketika kita refleksikan pada kepemimpinan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan setelahnya. Umar radhiyallahu ‘anhu hadir di tengah masyarakat, menerima aduan, menjawab persoalan, bahkan menjemput masalah. Salah satunya adalah kisah Umar yang mendengarkan seorang ibu yang sedang memasak batu untuk menenangkan hati anaknya yang kelaparan. Umar terbiasa berkeliling di malam hari dan memanggul sendiri bantuan kepada kaum muslimin. Ini menunjukkan tidak ada jarak yang signifikan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Jadilah ramah dan ikhlas melakukannya

Thahir berwasiat,

وإذا أعطيت فأعط بسماحة وطيب نفس والتمس الصنيعة والأجر غير مكدر ولا منان فإن العطية على ذلك تجارة مربحة إن شاء الله

“Jika engkau memberi, lakukanlah dengan ramah dan hati bersih. Lakukan demi mencari kebaikan dan pahala di akhirat. Lakukan tanpa menimbulkan masalah dan tanpa mengungkit-ungkit kepada siapa engkau memberi dengan harapan mendapat imbalan. Sebab, pemberian tersebut akan menjadi transaksi yang menguntungkan, jika Allah ﷻ menghendaki.”

Ini menjadi pengingat bagi siapapun, khususnya pemimpin untuk ikhlas dalam beramal. Banyak kita dapati ketika musim pemilihan, para caleg dan beragam calon pejabat turun ke masyarakat memberikan pelbagai pemberian. Mulai dari yang murah-murah sampai hadiah-hadiah besar semisal umroh dan sebagainya. Namun, kita semua mengetahui bahwa tujuan pemberian itu untuk mengajak masyarakat memilihnya di bilik suara. Bahkan sebagian lagi melakukannya tidak dengan cara yang halus, tetapi terang-terangan dan mengancam siapapun yang tidak memilihnya padahal telah diberi. Ini adalah kenyataan yang mudah kita temui. Oleh karena itu, sangat pas wasiat ini untuk kita pelajari dan amalkan di masa kini.

Belajarlah dari pemimpin terdahulu

Kepemimpinan adalah suatu cabang kehidupan yang teramat kompleks. Bidang ini hanya bisa dijalankan dengan perpaduan ilmu, pengalaman, dan taufik dari Allah ﷻ. Karena ada banyak dimensi kepemimpinan yang tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara logis. Ada seni dalam memimpin yang hanya dapat diwariskan dari meneladani pemimpin yang telah mendahului kita. Tentu saja sosok yang diteladani adalah yang berhasil menjadi pemimpin bagi masyarakatnya.

واعتبر بما ترى من أمور الدنيا ومن مضى من قبلك من أهل السلطان والرياسة في القرون الخالية والأمم البائدة ثم اعتصم في أحوالك كلها بأمر الله والوقوف عند محبته والعمل بشريعته وسنته وإقامة دينه وكتابه واجتنب ما فارق ذلك وخالفه ودعا إلى سخط الله

“Ambillah pelajaran dari urusan dunia yang engkau amati sendiri, dan dari orang yang berkuasa dan yang memimpin sebelum kamu pada kurun-kurun lampau dan di antara bangsa-bangsa yang telah lenyap. Kemudian, dalam segala keadaanmu, carilah perlindungan kepada Allah ﷻ, bersandarlah kepada cinta-Nya, bertindaklah sesuai dengan syariat dan sunah-Nya, serta tegakkanlah agama dan kitab suci-Nya. Hindarilah hal-hal yang berbeda dari itu, atau yang bertentangan dengannya, dan yang mengundang murka Allah ﷻ.”

Nasihat Thahir ini mengumpulkan ketiga aspek tersebut: ilmu, pengalaman, dan taufik. Ilmu diraih dengan belajar dan menjadikan orang berilmu sebagai sirkel terdekat pemimpin. Pengalaman didapatkan dari mengambil keteladanan para pemimpin terdahulu. Sedangkan taufik Allah ﷻ kita harapkan dengan menjaga syariat Allah ﷻ serta mengambil mutiara kehidupan dari wahyu-Nya.

Hati-hati dari harta haram

Masalah kepemimpinan juga sangat erat dengan harta yang terkumpul di tangan seorang pemimpin. Hal yang lebih mengerikan adalah harta tersebut bukanlah miliknya, tetapi ia punya kuasa bebas menggunakannya. Jika seseorang tidak memiliki rambu yang kuat, niscaya ia akan jatuh ke dalam permasalahan besar.

Bukan hanya memasang pembatas pada diri sendiri, tetapi seorang pemimpin wajib menjaga diri para pegawainya. Batas-batas ketat itu wajib ia pasang pula pada tim yang membersamainya. Karena satu maksiat yang dilaksanakan kawan seperjuangan, akan mempengaruhi keseluruhan perjuangan.

واعرف ما تجمع عمالك من الأموال وما ينفقون منها ولا تجمع حراما ولا تنفق إسرافا

“Kenalilah apa saja harta yang dikumpulkan para pegawaimu, dan apa saja di antaranya yang mereka belanjakan. Janganlah engkau kumpulkan harta haram dan jangan engkau pergunakan harta (umat) dengan boros.”

Wasiat Thahir yang begitu indah ini juga mengingatkan kita kembali pada sebuah hadis,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ…

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya…” (HR. Tirmidzi)

Perkataan Thahir ini perlu kita pajang di kantor sebagai pengingat agar jangan sekali-kali mencoba duit haram. Juga jangan sekali-kali merasa bebas menghamburkan harta milik umat.

لا تجمع حراما ولا تنفق إسرافا

“Janganlah engkau kumpulkan harta haram dan jangan engkau pergunakan harta umat dengan boros.”

Sehingga ketika hendak mark-up anggaran, akan teringat tentang beratnya urusan ini. Ketika hendak membuat program yang tidak efektif, akan teringat bahwa ini bukan sekadar berbagi kenikmatan dunia. Ketika hendak memainkan anggaran untuk masuk ke dalam kantong pribadi, jadi teringat bahwa risiko yang ditanggung amatlah besar. Semoga ini cukup menjadi pengingat bagi jiwa kita semua.

Perhatikan, siapa yang menjadi sirkel utama?

Masalah ring 1 bagi pemimpin adalah hal yang sangat penting. Mungkin itulah yang menjadi dasar Thahir berulang kali mengingatkan hal ini. Beliau kembali mengajak seorang pemimpin untuk berjalan bersama para ahli ilmu.

وأكثر مجالسة العلماء ومشاورتهم ومخالطتهم

“Sering-seringlah duduk bersama para ulama, bermusyawarah dengan mereka, dan bergaul bersama mereka.”

Tidak hanya dengan ahli ilmu, tetapi juga hidup bersama ilmu. Dalam rupa mempelajarinya, menjalankannya, serta mewujudkannya dalam keseharian sehingga menjadi karakter.

وليكن هواك اتباع السنن وإقامتها وإيثار مكارم الأمور ومعاليها

“Jadikan kesenanganmu adalah mengikuti dan menegakkan sunah Nabi, serta lebih mengutamakan karakter akhlak mulia dan agung.”

Beliau juga memberikan anjuran prioritas dalam sirkel, serta menghargai teman yang paling jujur dalam memberikan nasihat.

وليكن أكرم دخلائك وخاصتك عليك مَن إذا رأى عيبًا لم تمنعه هيبتُك من إنهاء ذلك إليك في ستر، وإعلامك بما فيه من النقص، فإن أولئك أنصح أوليائك ومظاهريك.

“Hendaklah yang paling engkau hormati di antara sirkel khusus dan ring utamamu adalah orang yang ketika melihat kesalahan pada dirimu, tidak terhalang oleh kewibawaanmu untuk menyampaikan kekurangan itu kepadamu, secara rahasia atau secara langsung. Orang seperti itulah yang menjadi teman dan penolong yang paling tulus.”

Baca juga: Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya

Kerja efektif dengan fokus pada setiap agenda

Seorang pemimpin pasti sangat sibuk karena yang diurusnya begitu banyak. Apalagi di zaman modern ini, kompleksitas permasalahan terus meningkat. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki keahlian bekerja efektif dan pandai mengatur waktu. Thahir memberikan wasiat yang cukup mendetail di sini:

Pertama, perhatikan para pegawai yang datang di kediamanmu, dan juga pada sekretarismu.

Kedua, tetapkan waktu setiap hari untuk masing-masing mereka, yang memungkinkannya menghadap kamu dengan membawa seluruh dokumen, perintah, kebutuhan semua pejabatmu, serta urusan negara dan rakyatmu, yang dimilikinya.

Ketiga, fokuskan pendengaran dan penglihatanmu, pikiran dan akalmu, terhadap semua yang disampaikannya kepadamu.

Keempat, perhatikan dan pertimbangkan hal itu secara berulang-ulang.

Kelima, jika itu sesuai dengan yang sebenarnya dan meyakinkan, maka laksanakanlah seraya memohon istikharah kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung.

Keenam, jika itu bertentangan dengannya, maka periksalah permasalahannya dan hendaklah engkau menyelidikinya kembali.

Menjadi pribadi multitasking tidaklah meningkatkan efektivitas kerja. Justru dengan fokus, masalah yang dapat diurai bisa tuntas satu per satu. Hasilnya juga memuaskan dan risiko kesalahannya rendah. Maka, seorang pemimpin didorong untuk fokus dalam memberikan keputusan eksekutif.

Thahir juga mengingatkan, “Jangan mengungkit-ungkit pada rakyatmu kebaikan yang pernah engkau berikan dengan mengharapkan imbalan. Janganlah engkau menerima pemberian dari seorang pun kecuali kesetiaan, keterusterangan, dan dukungan untuk urusan pemimpin kaum muslimin. Jangan engkau lakukan hal-hal kebaikan kecuali dalam kondisi ini.”

Para pemimpin layak memegang wasiat Thahir

Di akhir suratnya, Thahir berwasiat agar anaknya memegang teguh isi suratnya ini. Beliau berkata, “Pahamilah suratku kepadamu ini. Pelajari secara cermat dan selalu bertindak sesuai dengannya. Memohonlah kepada Allah untuk membantu dalam semua urusanmu. Mintalah petunjuk kepada-Nya ketika engkau harus melakukan sesuatu. Allah selalu bersama kebaikan dan para pelakunya.”

Hendaklah langkahmu yang paling penting dan keinginanmu yang terbesar dilakukan sesuai dengan yang diridai oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, demi syariat agama-Nya, demi kemuliaan dan keteguhan kepada umat-Nya, serta demi keadilan dan kesejahteraan pada Islam dan ahli dzimmah. Aku memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan dan keberhasilan serta petunjuk dan perlindungan bagimu. Wassalam!

Imam At-Thabari dalam Tarikh Al-Umam wal Mulk (5: 156) menjelaskan bahwa Abdullah bin Thahir memegang wasiat ini sepenuhnya. Lalu jadilah kepemimpinan Abdullah sebagai kepemimpinan yang luar biasa.

وتوجه عبد الله إلى عمله فسار بسيرته، واتبع أمره، وعمل بما عهد إليه

“Kemudian Abdullah berangkat menuju tempat tugas dan wilayah pemerintahannya. Ia menempuh jalan yang telah digariskan ayahnya, mengikuti perintah-perintahnya, dan melaksanakan amanat serta wasiat yang telah dipercayakan kepadanya.”

Mutiara hikmah

Dari panjangnya surat Thahir kepada anaknya, Abdullah, kita bisa mengambil beberapa inti pesan kepemimpinan, yakni:

Pertama, menjalankan kepemimpinan dengan penuh ketakwaan kepada Allah ﷻ dan ikhlas mengharapkan wajah-Nya.

Kedua, berlaku adil dan memenuhi hak siapapun.

Ketiga, mengelilingi diri dengan ahli ilmu dan orang berkompeten.

Keempat, menjaga diri dari para penjilat dan orang-orang yang buruk.

Hal menarik dari wasiat Thahir adalah sifatnya yang komprehensif menggabungkan nilai kepemimpinan profetik serta relevansinya dengan keadaan lintas zaman. Ia mewasiatkan untuk bertakwa dan memegang teguh sunah. Namun, di saat bersamaan, ia mewasiatkan strategi teknikal dalam manajemen tim dan juga kemasyarakatan yang sangat modern.

Semoga Allah memberikan taufik bagi kita untuk menjadi pemimpin yang terbaik. Wallahu waliyut taufiq.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 7

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Glenshah Fauzi

Glenshah Fauzi

- Alumnus Ma'had Al Ilmi 2023-2024 - Alumni Kimia UGM '20

Artikel Terkait

Ketika Ulama Berkata, “Aku Tidak Tahu” (Bag. 1)

oleh Dimas Setiaji
21 Oktober 2026
0

Suatu hari di Mina, orang-orang datang membawa pertanyaan kepada salah seorang ulama, namun jawaban yang keluar dari lisan beliau adalah,...

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 7): Fokus Bekerja dengan Baik

oleh Glenshah Fauzi
16 Oktober 2026
0

Resep kepemimpinan hebat adalah fokus bekerja dengan baik Jangan sampai ada sesuatu yang menyibukkanmu di luar urusan kepemimpinan. Karena seorang...

Di Tempat Umum, Kita Tidak Sendirian

oleh Mochammad Wibisono
12 Oktober 2026
0

Bayangkan kita sedang duduk di ruang tunggu. Seseorang memutar video dari ponselnya dengan suara keras. Ia tampak menikmati tayangan itu,...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan bahwa Anda manusia: 5   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah