Di antara hakikat paling agung yang menjadi poros ketenteraman jiwa manusia adalah kesadaran bahwa alam semesta beserta seluruh isinya tunduk di bawah kekuasaan satu Pencipta. Fitrah manusia dirancang untuk menyembah satu sesembahan. Tatkala hati terpecah menyembah banyak tandingan atau menggantungkan harapan kepada makhluk yang serba lemah, jiwa akan terombang-ambing dalam kegelisahan yang tiada berujung. Ketenangan sejati baru akan bersemi manakala seorang hamba menyerahkan ketundukan, cinta, dan rasa takutnya hanya kepada Zat yang Maha Tunggal lagi Maha Berdiri Sendiri. Keagungan tauhid ini berpijak kokoh pada dua nama Allah yang amat mulia, yaitu Al-Waahid dan Al-Ahad.
Memahami makna dua nama yang agung ini merupakan kunci pembuka gerbang keikhlasan sekaligus pembebas jiwa dari belenggu kesyirikan. Di dalamnya terkandung penegasan bahwa Allah Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya, tidak ada tandingan dalam kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan tidak ada yang berhak diibadahi selain Diri-Nya semata. Pada tulisan ini, kita akan menelusuri dalil-dalil penetapan nama Al-Waahid dan Al-Ahad di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, membedah makna kebahasaan serta perbedaan halus di antara kedua lafaz tersebut, menyelami penjelasan para ulama salaf mengenai hakikat keesaan Allah, dan memetik buah amaliah yang semestinya terpatri dalam sanubari seorang mukmin. Semoga Allah senantiasa membimbing dan melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Dalil nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”
Nama Allah Al-Waahid termaktub di dalam Al-Qur’an pada berbagai tempat, baik berdiri sendiri maupun digandengkan dengan nama-Nya yang lain, seperti Al-Qahhaar (Yang Maha Menundukkan). Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Allah juga berfirman tatkala mengabarkan seruan dakwah Nabi Yusuf ‘alaihis salaam di dalam penjara,
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan?” (QS. Yusuf: 39)
Dan firman-Nya tatkala menegaskan kekuasaan mutlak-Nya di hari kiamat,
يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“(Yaitu) pada hari ketika mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan.” (QS. Ghafir: 16) [1]
Serta firman-Nya,
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لا يَمْلِكُونَ لأَنْفُسِهِمْ نَفْعاً وَلا ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Katakanlah: Siapakah Rabb langit dan bumi? Katakanlah: Allah. Katakanlah: Patutkah kalian mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak dapat mendatangkan kemanfaatan dan tidak pula menolak kemudaratan bagi diri mereka sendiri? Katakanlah: Samakah orang buta dengan orang yang melihat, atau samakah kegelapan dengan cahaya? Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ar-Ra’d: 16)
Adapun nama Allah Al-Ahad, disebutkan secara jelas dan mandiri di dalam surat yang paling agung dalam perkara pemurnian tauhid, yakni surah Al-Ikhlas,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1) [2]
Di dalam As-Sunnah an-Nabawiyyah, nama Al-Ahad dan Al-Waahid termaktub dalam doa yang amat agung. Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang sahabat berdoa dengan mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, Yang Maha Esa, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
Mendengar doa tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ
“Sungguh, dia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung (Al-Ism Al-A’zham), yang apabila Dia dimintai dengannya, niscaya Dia memberi; dan apabila diseru dengannya, niscaya Dia mengabulkan.” (HR. Abu Daud no. 1493, At-Tirmidzi no. 3475, dan Ahmad no. 22965; dinilai sahih oleh Al-Albani) [3]
Demikian pula hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai seorang sahabat yang selalu menutup bacaan salatnya dengan surah Al-Ikhlas. Ketika ditanya alasannya, sahabat tersebut menjawab, “Karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Rahman, dan aku sangat mencintai membacanya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ
“Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)
Rangkaian dalil di atas mempertegas bahwa sifat keesaan adalah inti dari seluruh risalah para Nabi dan Rasul, sekaligus pilar utama yang membedakan keimanan dari kekafiran.
Kandungan makna nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”
Untuk menangkap keagungan makna yang tersimpan di balik dua nama ini, kita perlu meninjau akar bahasanya terlebih dahulu, kemudian mengkaji perbedaan susunan lafaznya, serta menyelami uraian para ulama salaf mengenai penetapan sifat keesaan bagi Allah Ta’ala.
Makna bahasa dari “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”
Kedua nama ini berakar dari huruf waw, haa’, dan dal (و – ح – د) yang menunjukkan arti tunggal, menyendiri, dan tidak berbilang. Ibn Faaris memaparkan pokok asal kata ini,
الْوَاوُ وَالْحَاءُ وَالدَّالُ: أَصْلٌ وَاحِدٌ يَدُلُّ عَلَى الِانْفِرَادِ. مِنْ ذَلِكَ: الْوَحْدَةُ، وَهُوَ الِانْفِرَادُ. وَتَقُولُ: رَأَيْتُهُ وَحْدَهُ… وَالْوَاحِدُ: أَوَّلُ الْعَدَدِ، وَكَذَلِكَ الْأَحَدُ
“Huruf waw, haa’, dan dal adalah satu pokok makna yang menunjukkan arti menyendiri (al-infiraad). Di antaranya adalah al-wahdah yang bermakna keterasingan atau kesendirian. Engkau mengatakan, ‘Aku melihatnya sendirian (wahdahu)…’ Dan Al-Waahid adalah pembuka bilangan, demikian pula Al-Ahad.” [4]
Al-Jauhari menguraikan kaidah bahasa mengenai kedua lafaz tersebut,
وَاحِدٌ: أَوَّلُ عَدَدِ الْحِسَابِ، وَتَقُولُ: وَاحِدٌ وَاثْنَانِ… وَالْأَحَدُ: بِمَعْنَى الْوَاحِدِ، وَهُوَ أَصْلُ الْبِنَاءِ، وَيُقَالُ: أَحَدٌ وَإِحْدَى
“Waahid adalah awal dari hitungan angka. Engkau mengucapkan: waahid, itsnan (satu, dua)… Dan Al-Ahad bermakna sama dengan Al-Waahid, ia merupakan pondasi bangunan kata. Dikatakan pula untuk bentuk mudzakkar: ahad, dan bentuk muannats: ihda.” [5]
Ibn Manzhur merangkum pengertian ini dalam Lisan al-Arab,
فَاللَّهُ تَعَالَى هُوَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ وَلَا مِثْلَ، وَلَا شَرِيكَ لَهُ وَلَا صَاحِبَةَ وَلَا وَلَدَ
“Maka Allah Ta’ala, Dialah Al-Waahid Al-Ahad, Zat yang tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak memiliki istri, dan tidak pula memiliki anak.” [6]
Perbedaan bentuk lafaz dan nuansa makna antara “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”
Meskipun kedua nama ini bersumber dari akar kata yang sama dan sama-sama menunjukkan keesaan Allah Ta’ala, para ulama pakar bahasa dan akidah merumuskan adanya perbedaan halus (furuq lughawiyyah wa ‘aqadiyyah) yang sangat mendalam di antara keduanya:
Penggunaan lafaz dalam kalimat positif (al-Itsbat) dan negatif (an-nafy)
Nama Al-Waahid dapat digunakan dalam susunan kalimat penetapan (itsbat) maupun peniadaan (nafy), serta lazim digunakan dalam hitungan bertingkat (al-‘adad), seperti: waahid, itsnan, tsalatsah (satu, dua, tiga). Adapun lafaz Al-Ahad, dalam kaidah bahasa Arab umum tidak digunakan pada kalimat itsbat, melainkan hanya dalam kalimat nafy (peniadaan), seperti ungkapan, “Maa jaa-ani ahadun” (Tidak ada seorang pun yang datang kepadaku).
Namun, khusus bagi Allah Ta’ala, nama Al-Ahad digunakan dalam kalimat penetapan (itsbat), sebagaimana firman-Nya: Qul Huwallahu Ahad. Ini merupakan kekhususan mutlak bagi Allah, yang menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain Dia yang berhak menyandang sifat tunggal secara mandiri dari segala sisi. [7]
Keesaan Zat berbanding dengan kesempurnaan sifat
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Waahid menonjolkan makna bahwa Allah itu Esa secara Zat dan bilangan, yakni Zat-Nya satu, tidak terbagi-bagi, tidak tersusun dari bagian-bagian, dan tidak ada sekutu yang membantu-Nya dalam mencipta.
Sedangkan Al-Ahad mencakup makna yang lebih luas dan puncak, yakni Allah Maha Esa dalam seluruh kesempurnaan sifat dan keagungan-Nya; tidak ada satu pun makhluk yang serupa, sebanding, atau menyamai hakikat sifat-sifat-Nya. [8]
Syekh Abdurrazzaq Al-Badr menjelaskan kaitan indah antara kedua nama ini,
وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ (الْوَاحِدَ) يُفِيدُ نَفْيَ الشَّرِيكِ وَالنَّظِيرِ، وَ(الْأَحَدَ) يُفِيدُ مَعَ ذَلِكَ نَفْيَ الْمِثْلِ وَالْكُفْءِ، فَلَا يُسْتَعْمَلُ (الْأَحَدُ) فِي الْإِثْبَاتِ إِلَّا لِلَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّهُ لَا كُفْءَ لَهُ وَلَا نَظِيرَ لَهُ سُبْحَانَهُ
“Perbedaan antara keduanya adalah bahwa Al-Waahid memberikan faidah peniadaan sekutu dan tandingan; sedangkan Al-Ahad, di samping meniadakan sekutu, ia juga meniadakan segala bentuk permisalan dan kesetaraan. Maka nama Al-Ahad tidak pernah digunakan dalam kalimat itsbat (penetapan mutlak) kecuali hanya untuk Allah Ta’ala, karena tidak ada yang setara dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.” [9]
Makna “Al-Waahid” dan “Al-Ahad” dalam konteks sifat Allah
Ketika sifat keesaan disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maknanya melingkupi kesempurnaan mutlak yang menepis segala bentuk kekurangan yang biasa melekat pada konsep “satu” pada makhluk. Satu pada makhluk menunjukkan keterbatasan dan kelemahan; seorang manusia dikatakan sendirian karena ia tidak memiliki kawan pembantu. Adapun keesaan Allah adalah keesaan yang berpadu dengan kemahaperkasaan, kemandirian, dan kekayaan yang mutlak.
Abu Ja’far Ibn Jarir ath-Thabari menafsirkan firman Allah “Wa ilaahukum ilaahun waahid” dengan menyatakan,
وَإِلَهُكُمْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِلَهٌ وَاحِدٌ، يَقُولُ: مَعْبُودُكُمْ الَّذِي يَجِبُ عَلَيْكُمْ عِبَادَتُهُ، وَيَلْزَمُكُمْ طَاعَتُهُ، مَعْبُودٌ وَاحِدٌ، لَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ، فَلَا تُشْرِكُوا بِهِ غَيْرَهُ، وَلَا تَعْبُدُوا سِوَاهُ
“Dan Tuhan kalian, wahai sekalian manusia, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maknanya: Sesembahan kalian yang wajib kalian ibadahi dan harus kalian taati adalah sesembahan yang satu, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluhiyyah-Nya. Maka janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan janganlah kalian menyembah selain-Nya.” [10]
Az-Zajjaj merumuskan pengertian nama Al-Waahid secara ringkas dan padat,
الْوَاحِدُ هُوَ الَّذِي لَا ثَانِيَ لَهُ، وَلَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا نَظِيرَ لَهُ، وَاللَّهُ تَعَالَى وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ، وَاحِدٌ فِي صِفَاتِهِ، وَاحِدٌ فِي أَفْعَالِهِ
“Al-Waahid adalah Zat yang tidak ada yang kedua bagi-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya. Allah Ta’ala Maha Esa dalam Zat-Nya, Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya, dan Maha Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya.” [11]
Abu Sulaiman al-Khaththabi menerangkan hakikat kedua nama ini dalam kitab Sya’n ad-Du’aa’,
الْوَاحِدُ: هُوَ الْفَرْدُ الَّذِي لَمْ يَزَلْ وَحْدَهُ وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ آخَرُ. وَالْأَحَدُ: هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِالْوَحْدَانِيَّةِ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ، فَلَا يُشَارِكُهُ فِي صِفَاتِهِ أَحَدٌ، وَلَا يُقَاسُ بِهِ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ
“Al-Waahid adalah Zat yang Maha Tunggal yang senantiasa menyendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bersama-Nya. Dan Al-Ahad adalah Zat yang menyendiri dengan sifat keesaan pada Zat dan sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya dalam sifat-sifat-Nya dan tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang dapat dianalogikan dengan-Nya.” [12]
Qiwamussunnah Al-Asbahani turut mempertegas pemaknaan ini dengan berkata,
الْأَحَدُ: هُوَ الَّذِي لَا شَبِيهَ لَهُ وَلَا مِثْلَ، وَالْوَاحِدُ: الَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي خَلْقِهِ وَلَا فِي مُلْكِهِ، فَالْوَاحِدُ مُنْفَرِدٌ بِالْمُلْكِ وَالْخَلْقِ، وَالْأَحَدُ مُنْفَرِدٌ بِالذَّاتِ وَالصِّفَاتِ
“Al-Ahad adalah Zat yang tidak ada penyerupa bagi-Nya dan tidak ada permisalan bagi-Nya. Dan Al-Waahid adalah Zat yang tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan-Nya dan tidak pula dalam kerajaan-Nya. Maka Al-Waahid adalah Zat yang menyendiri dalam kekuasaan dan penciptaan, sedangkan Al-Ahad adalah Zat yang menyendiri dalam Zat dan sifat-sifat-Nya.” [13]
Tatkala menafsirkan surah Al-Ikhlas, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan keagungan makna Al-Ahad,
أَيْ: الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ وَلَا وَزِيرَ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيهَ وَلَا كُفْءَ، وَلَا يُطْلَقُ هَذَا اللَّفْظُ عَلَى أَحَدٍ فِي الْإِثْبَاتِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لِأَنَّهُ الْكَامِلُ فِي جَمِيعِ صِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
“Yaitu: Zat yang tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak ada pembantu bagi-Nya, tidak ada padanan, tidak ada penyerupa, dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Dan lafaz ini tidak dimutlakkan kepada seorang pun dalam konteks penetapan (itsbat) kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena Dialah Zat yang Maha Sempurna dalam seluruh sifat dan perbuatan-Nya.” [14]
Syekh Abdurrahman as-Sa’di memberikan uraian yang sangat jernih dan komprehensif mengenai kedua nama ini,
(الْوَاحِدُ الْأَحَدُ) وَهُوَ الَّذِي تَوَحَّدَ بِجَمِيعِ الْكَمَالَاتِ، بِحَيْثُ لَا يُشَارِكُهُ فِيهَا مُشَارِكٌ، وَيَجِبُ عَلَى الْعَبِيدِ تَوْحِيدُهُ عَقْلًا وَقَوْلًا وَعَمَلًا، بِأَنْ يَعْتَرِفُوا بِكَمَالِهِ الْمُطْلَقِ، وَتَفَرُّدِهِ بِالْوَحْدَانِيَّةِ، وَيُفْرِدُوهُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كُلِّهَا
“(Al-Waahid Al-Ahad) adalah Zat yang Maha Esa dalam seluruh sifat kesempurnaan, sekira tidak ada satu pun sekutu yang menyertai-Nya dalam kesempurnaan tersebut. Dan wajib bagi seluruh hamba untuk mentauhidkan-Nya secara akal, ucapan, dan perbuatan; yaitu dengan mengakui kesempurnaan mutlak milik-Nya, pengesaan-Nya dengan sifat wahdaniyyah, serta memurnikan seluruh jenis peribadahan hanya untuk-Nya semata.” [15]
Imam Ibnul Qayyim dalam bait Al-Kafiyah asy-Syafiyah (An-Nuniyyah) melantunkan bait-bait indah tentang keesaan Allah,
وَكَذَاكَ رَبُّ الْعَرْشِ شَيْءٌ وَاحِدٌ … لَا كَالْأَنَامِ وَلَيْسَ ذَا نُقْصَانِ
سُبْحَانَهُ مَلِكًا عَظِيمًا شَأْنُهُ … فَرْدًا بِلَا مِثْلٍ وَلَا أَعْوَانِ
“Dan demikian pula Rabb pemilik Arsy adalah Zat yang Maha Esa, tidak serupa dengan makhluk dan tidak memiliki kekurangan.
Maha Suci Dia sebagai Raja yang Maha Agung urusan-Nya, Maha Tunggal tanpa ada permisalan dan tanpa butuh para penolong.” [16]
Hikmah penggabungan nama “Al-Waahid” dengan “Al-Qahhaar”
Di dalam Al-Qur’anul Karim, nama Al-Waahid disebutkan sebanyak enam kali berdampingan secara langsung dengan nama Allah Al-Qahhaar (Yang Maha Menundukkan dan Maha Mengalahkan), seperti dalam QS. Ar-Ra’d: 16, QS. Ibrahim: 48, QS. Shaad: 65, QS. Az-Zumar: 4, dan QS. Ghafir: 16. Penggabungan dua nama ini memiliki keterikatan makna yang sangat mendalam.
Sifat keesaan (al-wahdaniyyah) yang sejati tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika pemiliknya memiliki kekuasaan mutlak yang menundukkan seluruh makhluk (al-qahr). Betapa banyak raja atau penguasa di dunia yang ingin menjadi penguasa tunggal, namun kekuasaannya rapuh karena tidak sanggup menundukkan para pesaing dan musuh-musuhnya. Adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dialah Al-Waahid (Maha Esa) karena seluruh makhluk berada di bawah genggaman, pengaturan, dan penundukan-Nya (Al-Qahhaar). Tidak ada satu pun makhluk yang dapat keluar dari kehendak-Nya, dan tidak ada yang mampu menolak takdir-Nya.
Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan hikmah ini dengan sangat indah,
وَاقْتِرَانُ اسْمِ اللَّهِ (الْوَاحِدِ) بِاسْمِهِ (الْقَهَّارِ) فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يَكُونُ وَاحِدًا عَلَى الْإِطْلَاقِ إِلَّا مَنْ كَانَ قَهَّارًا لِكُلِّ شَيْءٍ، وَلَا يَكُونُ قَهَّارًا إِلَّا مَنْ كَانَ وَاحِدًا لَا شَرِيكَ لَهُ، فَالْقَهْرُ يَسْتَلْزِمُ الْوَحْدَانِيَّةَ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ تَسْتَلْزِمُ الْقَهْرَ
“Penyandingan nama Allah Al-Waahid dengan nama-Nya Al-Qahhaar menunjukkan dalil bahwa tidak ada yang berhak menjadi Zat yang Maha Esa secara mutlak kecuali Zat yang menundukkan segala sesuatu. Dan tidaklah menjadi Zat yang Maha Menundukkan kecuali Dia yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Maka sifat al-qahr mengharuskan adanya al-wahdaniyyah, dan al-wahdaniyyah mengharuskan adanya al-qahr.” [17]
Konsekuensi keimanan terhadap nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad” bagi seorang hamba
Mengenal dan mengimani bahwa Allah adalah Al-Waahid dan Al-Ahad bukan sekadar wawasan teoritis di dalam benak, melainkan harus membuahkan pengaruh nyata dalam akidah, ibadah, dan akhlak seorang mukmin:
Pertama, memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata (ikhlas ad-din)
Konsekuensi paling mendasar dari keimanan kepada Al-Waahid dan Al-Ahad adalah memurnikan seluruh ibadah lahir maupun batin hanya kepada-Nya, serta meninggalkan segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil (riya’ dan sum’ah). Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta yang Maha Esa dalam memberi rezeki dan mengatur alam semesta (tauhid rububiyyah), maka akal sehat dan fitrah yang lurus menuntut agar Dia pula satu-satunya Zat yang disembah, dimintai pertolongan, ditakuti, dan dicintai dengan puncak ketundukan (tauhid uluhiyyah). Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Kedua, menyatukan ketergantungan hati (tauhid al-qashd wal-iradah)
Hamba yang meyakini bahwa Tuhannya adalah Al-Ahad, dia tidak akan membiarkan hatinya terbelah kepada banyak tumpuan harapan. Ia tidak akan meminta pertolongan kepada kuburan keramat, tidak meminta berkah kepada jimat dan dukun, serta tidak menggantungkan masa depannya kepada makhluk yang sama-sama lemah. Hatinya bersatu (jami’ul qalb) hanya tertuju kepada Allah dalam setiap hajat dan kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan prinsip ini kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah; dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Ketiga, meruntuhkan rasa takut dan berharap kepada selain Allah
Keyakinan bahwa Allah adalah Al-Waahid Al-Qahhaar menumbuhkan keberanian dan keteguhan iman dalam menghadapi intimidasi manusia. Seorang mukmin sadar bahwa seluruh makhluk berada di bawah takdir dan kekuasaan Allah yang Maha Tunggal. Tidak ada satu pun manusia yang mampu mendatangkan manfaat atau menimpakan mara bahaya melainkan atas izin Allah. Hatinya merdeka dari rasa takut yang menghinakan kepada sesama makhluk, dan ia hanya takut kepada kemurkaan Zat yang Maha Menguasai ubun-ubun seluruh hamba.
Keempat, mengesakan Allah dalam ketaatan syariat dan hukum
Konsekuensi dari nama Al-Waahid adalah menetapkan bahwa hak membuat syariat dan hukum tertinggi hanyalah milik Allah semata. Seorang mukmin tidak menjadikan hawa nafsu, adat istiadat yang menyimpang, maupun perkataan tokoh mana pun berada di atas firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menerima seluruh ketetapan hukum syariat dengan lapang dada dan kepasrahan yang utuh.
Semoga Allah Ta’ala meneguhkan keimanan kita di atas tauhid yang murni, membersihkan hati kita dari noda-noda syirik yang samar, mengaruniai kita kecintaan membaca dan mentadabburi surah Al-Ikhlas, serta mengumpulkan kita di akhirat kelak bersama para hamba-Nya yang mengesakan Al-Waahid Al-Ahad. Aamiin.
***
Penulis: Muhammad Insan Fatin
Artikel Muslim.or.id
Catatan Kaki:
[1] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 131; Dr. Nawal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 108.
[2] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 131.
[3] HR. Abu Daud (no. 1493), At-Tirmidzi (no. 3475), dan Ahmad (5: 350, no. 22965). Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud, 1: 415.
[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 6: 90.
[5] Al-Jauhari, Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-’Arabiyyah, 2: 552.
[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 3: 447.
[7] Lihat penjelasan rinci kaidah bahasa ini oleh Al-Khaththabi dalam Sya’n ad-Du’aa’, hal. 91–92, dan Ibnul Atsir dalam An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, 1: 35.
[8] Muhammad bin Hamud an-Najdi, An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 148–149.
[9] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 132.
[10] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil Aayi al-Qur’an, 3: 264.
[11] Az-Zajjaj, Tafsiir Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 58.
[12] Al-Khaththabi, Sya’n ad-Du’aa’, hal. 90–91.
[13] Qiwamussunnah al-Asbahani, Al-Hujjah fi Bayaan al-Mahajjah, 1: 153.
[14] Ibn Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim, 8: 527.
[15] Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan, hal. 948.
[16] Ibnul Qayyim, Al-Kaafiyah asy-Syaafiyah fi al-Intishaar lil-Firqah an-Naajiyah, hal. 198.
[17] Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 133.
Daftar Pustaka
Al-Asbahani, Qiwamussunnah Abu al-Qasim Ismail bin Muhammad. 1991. Al-Hujjah fi Bayaan al-Mahajjah wa Syarh ‘Aqidah Ahlis Sunnah. Riyadh: Dar ar-Rayyah.
Al-Badr, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin. 2015. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.
Al-‘Ied, Nawal binti Abdul Aziz. 2019. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-Hadits.
Al-Jauhari, Abu Nasr Ismail bin Hammad. 1987. Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-’Arabiyyah. Beirut: Dar al-’Ilm lil-Malayin.
Al-Khaththabi, Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad. 1984. Sya’n ad-Du’aa’. Damaskus: Dar al-Ma’mun.
An-Najdi, Muhammad bin Hamud. 2020. An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah al-Imam adz-Dzahabi.
As-Sa’di, Abdurrahman bin Nasir. 2000. Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. 1980. Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wiil Aayi al-Qur’an. Makkah: Dar at-Tarbiyah.
Az-Zajjaj, Abu Ishaq Ibrahim bin as-Sari. 1975. Tafsiir Asmaa’ Allah al-Husna. Kairo: Dar al-Ma’mun.
Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. 1979. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah. Kairo: Dar al-Fikr.
Ibn Katsir, Abu al-Fida’ Ismail bin Umar. 1999. Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim. Riyadh: Dar Thaibah.
Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram. 1994. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Shadir.
Ibnul Atsir, Majduddin Abu as-Sa’adat al-Mubarak. 1979. An-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal-Atsar. Beirut: Al-Maktabah al-’Ilmiyyah.
Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. 2007. Al-Kaafiyah asy-Syaafiyah fi al-Intishaar lil-Firqah an-Naajiyah (An-Nuuniyyah). Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id.



