Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Nikmat Lapangnya Hati

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
27 Februari 2024
di Tazkiyatun Nufus
Nikmat Lapangnya Hati
Share on FacebookShare on Twitter

Lapangnya hati, terbebasnya hati kita dari kegalauan dan kegundahan adalah sebuah nikmat yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Lapangnya hati dapat dirasakan dengan ketenangan, kedamaian, dan terjaganya hati dari berbagai kotoran. Hati pun akan merasa bahagia dalam menjalani kehidupan ini.

Dengan sebab hati yang lapang, yang dihindarkan dari galau, resah, dan gelisah, seseorang dapat meraih maslahat agama dan dunia. Dia menjadi mudah melakukan berbagai macam ibadah dan amal kebajikan. Berbeda dengan seseorang yang hatinya sempit, ia selalu gelisah dan sedih. Akibatnya, banyak urusan dunia dan akhiratnya menjadi terbengkalai. Dia tidak mampu dan tidak bersemangat beramal kebaikan, karena hidupnya hanya berpindah dari satu kesedihan menuju kesedihan berikutnya, atau dari satu kegelisahan menuju kegelisahan selanjutnya. Oleh karena itu, sempitnya hati adalah musibah yang paling besar dialami oleh seorang hamba.

Lapangnya hati adalah kekuatan dalam hidup kita. Perhatikanlah doa Nabi Musa ‘alaihi as-salam di saat beliau diperintah oleh Allah Ta’ala untuk mendakwahi Fir’aun,

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

  ‎وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  

“Musa mengucapkan doa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” (QS. Thaha: 25-26)

Allah juga menjelaskan dan menyebutkan suatu nikmat yang amat besar yang telah didapatkan Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. As-Syarh: 1)

Lapangnya hati adalah sebab yang terbesar seseorang dapat mendapatkan hidayah. Dan sebaliknya, sempitnya hati adalah sebab tersesatnya seorang manusia. (Lihat Syifa’ Al-‘Alil, 1: 351; karya Ibnul Qayyim)

Namun, perlu diperhatikan bahwa satu-satunya cara untuk dapat memperoleh nikmat kelapangan hati ini adalah dengan mengamalkan ajaran Islam. Kadar kelapangan hati yang diperoleh oleh seseorang itu selaras dan sebanding dengan kadar keistikamahannya di dalam menjalankan agama ini. Lapangnya hati seorang hamba itu akan bisa diperoleh dengan dua sebab berikut ini:

Pertama, taufik dari Allah dan pertolongan-Nya untuk mendapatkan kelapangan hati.

Kedua, nikmat hati yang lapang tidak akan mungkin didapat kecuali dengan menjadi hamba Allah yang taat dan istikamah mengamalkan ajaran Islam.

Mengapa demikian? Karena hati kita berada di tangan Allah, Allah mampu membolak-balik hati kapan pun sesuai dengan yang Allah Ta’ala kehendaki. Segala hal yang Allah kehendaki, pasti akan terjadi. Sebaliknya, yang tidak Allah kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Siapa saja yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125)

Allah Ta’ala juga berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)

Dua ayat tersebut menunjukkan bahwa kelapangan hati hanya akan didapatkan karena taufik Allah semata. Oleh karena itu, dalam upaya menggapai kelapangan hati, hendaknya dipastikan bahwa kelapangan hati tersebut diusahakan dengan mengamalkan syariat-Nya, berdoa, dan bersandar kepada Allah Ta’ala.

Ada beberapa tanda bagi seseorang yang hatinya lapang. Tanda-tanda ini sangat tampak pada diri seorang mukmin, yaitu:

Pertama, adanya kesadaran dan selalu ingat kehidupan yang lebih abadi, yaitu akhirat.

Kedua, adanya kesadaran untuk menjauh dari kehidupan yang fana dan semu, yaitu dunia.

Ketiga, senantiasa mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kematian dan kehidupan sesudahnya.

Apabila tiga tanda di atas ada pada diri seseorang, maka itu pertanda dia sedang mendapatkan kelapangan serta ketenangan hati. (Lihat Miftaah Daaris Sa’adah, 1: 421; karya Ibnul Qayyim)

Adapun seseorang yang tertimpa kegelisahan, kesempitan, dan kesedihan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa yang hendaknya setiap kita bisa mengamalkannya. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا  أَصَابَ أَحَدًا قَطٌّ هَمٌّ وَلاَ حَزَنٌ فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ،أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ إِلاَّ أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحاً قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ قَالَ:بَلَى، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا

“Jika seorang hamba yang tertimpa kegelisahan dan kesedihan berdoa, ‘Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, anak hamba (perempuan)-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku pada diriku, takdir-Mu merupakan keadilan bagiku. Saya memohon kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan sendiri untuk diri-Mu, yang Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu; agar Engkau menjadikan Al-Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelenyap kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku’; niscaya Allah Ta’ala akan menghilangkan kegelisahannya dan mengganti kesedihannya dengan kegembiraan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami mempelajari doa tersebut?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Bahkan setiap muslim yang mendengarnya patut mempelajarinya.’” (HR. Ahmad no. 3712, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 199)

Baca juga: Agar Rezeki Lapang dan Umur Panjang

***

@Kantor Pogung, 12 Sya’ban 1445/ 22 Februari 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 61; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

oleh Glenshah Fauzi
13 Juli 2026
0

Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman...

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
0

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Artikel Selanjutnya
Cara Mengusap Imamah dan Kerudung ketika Wudu

Ketentuan dan Tata Cara Mengusap Imamah dan Kerudung ketika Wudu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah