Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengenal Penyimpangan-Penyimpangan Jahmiyah dalam Akidah

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
26 Januari 2024
di Akidah
Penyimpangan-Penyimpangan Jahmiyah dalam Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Penjelasan Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh
  • Akidah Jahmiyah dalam al-asma’ was shifat
  • Akidah Jahmiyah dalam masalah iman
  • Akidah Jahmiyah dalam masalah takdir
  • Akidah Jahmiyah dalam masalah perkara gaib

Penjelasan Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh

Jahmiyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi. Dahulu, ia adalah seorang ulama dan ahli fikih. Ia disebutkan sebagai salah satu ulama madzhab Hanafi. Namun, ia memiliki perhatian besar terhadap ilmu logika. Ia suka berdebat dan banyak berdebat, sampai ia pun berdebat dengan sebagian kaum Dahriyah dari India. Kaum Dahriyah adalah kaum yang meyakini bahwa yang mematikan dan menghidupkan adalah dahr (waktu). Sebagian ulama menyebut mereka dengan Duhriyah, dari kata duhr yang artinya kecerdasan. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Al-Murtadha dalam kitab Tajul Arus dan beberapa ulama lain.

Tujuan Jahm bin Shafwan berdebat dengan kaum Dahriyah dari India yang dikenal dengan sebutan As-Sumniyah adalah karena mereka tidak mengimani adanya Allah Ta’ala sama sekali. Jahm bin Shafwan ingin meyakinkan mereka tentang adanya Allah. Sehingga terjadilah perdebatan antara mereka, yang aku sebutkan rincian debatnya di tempat yang lain. Dari situ akhirnya Jahm bin Shafwan pun merumuskan akidah Jahmiyah. Hasil akhir dari perdebatan tersebut dan rinciannya disebutkan oleh Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Khalqu Af’alil Ibad. Hasil dari perdebatan tersebut, Jahm menafikan dan mengingkari sifat-sifat Allah dan mengimani adanya Allah yang mutlak tanpa sifat.

Akidah Jahmiyah dalam al-asma’ was shifat

Dalam masalah akidah, Jahmiyah menafikan seluruh sifat-sifat Allah. Mereka hanya menetapkan satu sifat bagi Allah yaitu sifat al-wujud al-muthlaq (Allah itu ada tanpa sifat). Mereka menekankan syarat al-ithlaq (adanya Allah harus tanpa sifat).

Dalam masalah al-asma’ (nama-nama Allah), Jahmiyah meyakini bahwa nama-nama Allah adalah representasi dari dzat. Dan mereka menafsirkan nama-nama Allah sebagai makhluk yang terpisah dari Allah Ta’ala. Contohnya, nama Allah Al-Karim mereka maknai sebagai dzat yang diciptakan ketika seseorang melakukan ikram (kedermawanan). Nama Allah Al-Qawiy adalah kekuatan yang Allah ciptakan pada diri manusia. Al-Aziz adalah kemuliaan yang Allah ciptakan pada diri manusia. Itu semua ada dalam diri setiap manusia.

Sehingga mereka menafsirkan nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai makhluk yang terpisah dari Allah Ta’ala. Nama-nama tersebut sama sekali tidak mengandung makna sifat Allah karena mereka menafikan sifat-sifat Allah Ta’ala. Mereka menganggap nama-nama Allah sebagai label yang tidak ada tafsirnya dari sisi namanya. Namun, mereka menafsirkan nama-nama tersebut sebagai makhluk yang terpisah dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa Jahmiyah menafikan nama dan sifat Allah. Ini pernyataan yang benar adanya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Jahmiyah tidak menafikan nama-nama Allah. Karena mereka nyatanya tetap menetapkan nama-nama Allah dengan metode mereka, yaitu meyakini bahwa nama-nama Allah adalah representasi dari dzat, tanpa mengandung sifat. Ini semisal jika anda menamai sebuah sebuah sungai dengan nama sungai salsabil, atau menamai sebuah pedang dengan pedang hisam atau pedang mihnad, atau yang lainnya, untuk menunjukkan sesuatu tanpa memiliki makna. Tidak mengandung makna bahwa pedang ini kuat, atau pedang ini dibuat di India atau sifat lainnya. Tidak mengandung makna sama sekali. Maka, Jahmiyah meyakini bahwa semua nama Allah itu menunjukkan kepada dzat yang sama (yaitu Allah), namun tidak mengandung sifat-sifat. Oleh karena itu, mereka menafsirkan ayat-ayat tentang nama Allah sebagai makhluk yang terpisah dari Allah. Maksudnya, nama-nama Allah tersebut memberikan pengaruh pada sifat-sifat yang ada pada makhluk sehingga nama-nama tersebut adalah makhluk.

Baca juga: Makna Ahlussunah Waljamaah dan Sekte-Sekte yang Menyelisihinya

Akidah Jahmiyah dalam masalah iman

Adapun dalam masalah iman, Jahmiyah adalah Murji’ah. Mereka adalah firqah Murji’ah yang paling fatal penyimpangannya. Mereka mengatakan bahwa iman itu cukup sekedar ma’rifah (mengetahui) saja. Oleh karena itu, Fir’aun dan iblis itu beriman menurut Jahmiyah (karena mereka mengetahui adanya Allah).

Jahmiyah mengkafirkan Fir’aun bukan karena Fir’aun tidak beriman, namun karena Fir’aun menyelisihi perintah. Jahmiyah mengkafirkan iblis bukan karena iblis tidak beriman, namun karena iblis menyelisihi perintah. Demikian seterusnya. Akidah mereka ini masyhur karena mereka memang mengatakan bahwa iman itu cukup sekedar ma’rifah (mengetahui).

Akidah Jahmiyah dalam masalah takdir

Adapun dalam masalah takdir, Jahmiyah adalah Jabriyah. Mereka memandang bahwa amalan manusia itu seperti bulu yang tertiup angin. Tidak memiliki pilihan sama sekali. Manusia dipaksa untuk melakukan semua perbuatannya. Perbuatan manusia adalah perbuatan Allah dan bukan pilihan manusia sama sekali.

Akidah Jahmiyah dalam masalah perkara gaib

Adapun dalam masalah perkara gaib, Jahmiyah mengingkari perkara gaib yang menurut mereka tidak masuk akal. Mereka juga mengingkari kekalnya surga dan neraka. Mereka meyakini bahwa surga tidak selamanya ada, dan neraka juga demikian. Karena menurut mereka, jika surga dan neraka itu kekal, maka ini adalah kezaliman. Sehingga surga dan neraka itu semuanya fana, menurut mereka.

Berbeda dengan Mu’tazilah yang mereka juga meyakini surga dan neraka itu fana. Surga adalah negeri kenikmatan dan neraka adalah negeri adzab. Namun, kelezatan surga itu kekal dan kepedihan neraka itu kekal. Menurut Mu’tazilah, kelezatan dan kepedihan itu kekal, namun negerinya yang tidak kekal.

Inilah bermacam-macam akidah dari Jahmiyah, semoga Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita semua dari akidah tersebut dan menjauhkan kita dari perkara-perkara yang membawa kepadanya.

Sumber: Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, karya Syaikh Shalih Alu Asy Syaikh (6: 417).

Baca juga: Mengenal Al Qa’diyah, Salah Satu Sekte Khawarij

***

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 2)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
2 Juni 2026
0

Kurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena Allah Para ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal...

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
1 Juni 2026
0

Di antara syariat agung dalam Islam adalah ibadah yang dilaksanakan pada waktu tertentu sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa...

Artikel Selanjutnya
Petaka di Balik Amarah

Petaka di Balik Amarah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah