Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bimbingan Islam dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
15 Oktober 2023
di Akhlak dan Nasihat
Menyikapi Kesalahan Orang Lain
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Kapan dianjurkan taghaful?
    • Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat
    • Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah
  • Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan
    • Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah
    • Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi

Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya.

Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ

“Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,

العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل

“Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful,

وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari)

Kapan dianjurkan taghaful?

Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat

Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285)

Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya.

“Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim)

Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah

Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas.

Allah Ta’ala berfirman,

وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34)

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri?

Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan

Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah

Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة

“Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad)

إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323)

Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah.

Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!”

Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177)

Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'”

‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).”

Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.”

Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan).

Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah

***

Penulis: Arif Muhammad N.

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
9 Juni 2026
0

Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin...

Nafsu, Kekayaan, dan Kehancuran Moral Manusia

oleh Fauzan Hidayat
6 Juni 2026
0

Akhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika...

Wahai Jiwa, Jangan Kembali Kepada Kehinaan Maksiat!

oleh Glenshah Fauzi
5 Juni 2026
0

Jiwa kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat...

Artikel Selanjutnya
Tuntunan Nabi dalam Mendidik Istri

Tuntunan Nabi dalam Mendidik Istri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah