Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hukum Menggantungkan Diri kepada Sebab

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
16 Juli 2022
di Akidah
bergantung kepada sebab
Share on FacebookShare on Twitter

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

 

Pertanyaan:

Apa hukum menggantungkan diri kepada sebab?

Jawaban:

Menggantungkan diri kepada sebab itu ada beberapa macam:

Pertama, yang menafikan tauhid secara total. Yaitu ketika seseorang menggantungkan diri kepada sesuatu (sebab), padahal sesuatu tersebut tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Dia menggantungkan diri secara total dan berpaling dari Allah sama sekali. Misalnya, penyembah kubur yang menggantungkan dirinya kepada si mayit untuk melepaskan diri dari musibah. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hukum untuk pelakunya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh Manusia

Kedua, seseorang bersandar kepada sebab-sebab yang dibenarkan secara syariat, akan tetapi dia melupakan pencipta sebab tersebut, yaitu Allah Ta’ala. Maka, ada unsur kesyirikan di sini, meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama (Islam). Hal ini karena dia bergantung kepada sebab yang benar, namun melupakan Allah sebagai pencipta sebab.

Ketiga, seseorang menggantungkan diri kepada sebab, namun semata-mata hanya sebagai sebab saja, dia tetap menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala. Dia meyakini bahwa sebab tersebut berasal dari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah bisa memutusnya (sebab tersebut menjadi tidak memiliki efek, pent.). Dan jika Allah berkehendak, Allah bisa melanggengkannya (sebab tersebut berhasil, pent.). Hal ini karena sebab itu tidaklah berpengaruh di luar kehendak Allah Ta’ala. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tauhid, baik pokok maupun penyempurna tauhid.

Dengan adanya sebab-sebab yang diijinkan oleh syariat, hendaknya seseorang tidak menggantungkan dirinya kepada sebab tersebut. Bahkan, dia tetap bergantung kepada Allah. Seorang karyawan yang menyandarkan hatinya kepada gaji secara totalitas dan melalaikan Allah, maka ada unsur kesyirikan di dalamnya. Adapun jika dia meyakini bahwa gaji itu hanya sebagai sebab saja, sedangkan pencipta sebab adalah Allah, maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tawakal. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengambil sebab (berusaha), namun tetap menggantungkan hatinya kepada pencipta sebab, yaitu Allah Ta’ala.

Baca Juga:

  • Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?
  • Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh

***

@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijah 1443/ 11 Juli 2022

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Artikel: www.muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 71-72, pertanyaan no. 24.

ShareTweetPin2
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
jenis kehendak Allah

Jenis-Jenis Iradah (Kehendak) Allah

Komentar 1

  1. Budi says:
    4 tahun yang lalu

    Alhamdulillah luar biasa ini buat informasi ummat, terimakasih banyak semoga menjadi amal soleh

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah