Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 5)

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 4)

Kiat Keenam: Mengangkat Tangan ketika Berdoa

Diriwayatkan dari sahabat Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dalam keadaan hampa” (HR. Abu Dawud, shahih)

Allah Yang Maha Kaya malu kepada hamba-Nya apabila ada hamba yang menengadahkan tangan kepada Allah kemudian tidak mendapatkan apa-apa. Hal ini karena keadaan mengangkat kedua tangan -yakni menghadapkan punggung telapak tangan ke atas atau ke arah kiblat- merupakan kondisi yang menunjukkan sangat fakir, rendah, dan hina, serta tampak sekali menunjukkan keadaan sangat membutuhkan. Sehingga hal ini merupakan sebab terkabulnya doa di sisi Allah.

Hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Nabi mengangkat tangan ketika berdoa sangatlah banyak. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh mengangkat kedua tangan beliau dalam kondisi sulit dan genting. Hal ini di antaranya beliau lakukan saat perang Badar. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat banyaknya jumlah pasukan kaum musyrikin dibandingkan kaum muslimin, beliau pun kemudian menghadap kiblat serta menjulurkan kedua tangan beliau ke atas seraya berdoa. Hal ini diceritakan oleh ‘Umar bin Khattab. Beliau mengatakan,

 فَما زَالَ يَهْتِفُ برَبِّهِ، مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، حتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عن مَنْكِبَيْهِ

Beliau terus memohon kepada Allah disertai mengangkat kedua tangannya menghadap kiblat, sampai-sampai sorban beliau terjatuh dari pundaknya.” (HR. Muslim)

Demikian pula ketika terjadi kekeringan, beliau berdoa di atas mimbar saat salat istisqa’. Anas bin Malik rahimahullah mengkisahkan,

 أنه رفع يديه حتى رأيت بياض إبطيه

Rasulullah berdoa kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sampai saya melihat putih kedua ketiak beliau. ” (H.R Bukhari)

Kiat Ketujuh: Memulai dengan Memuji Allah dan Mengucapkan Selawat sebelum Berdoa

Diriwayatkan dari Fadholah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah mendengar salah seorang berdoa saat salat tanpa disertai dengan memuji Allah dan berselawat kepada Nabi. Maka Nabi memperingatkan orang tersebut agar jangan terburu-buru dalam berdoa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ اللهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ.

”Apabila salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaknya dia memulai dengan tahmid dan pujian kepada Allah, kemudian berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berdoa dengan apa yang dikehendakinya.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Sikap yang lebih sempurna bagi seorang muslim apabila berdoa hendaknya memulai doanya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian berselawat kepada Nabi, setelah itu baru dilanjutkan berdoa dan meminta kepada Allah sesuai apa yang diinginkan.

Kiat Kedelapan: Taubat dan Istighfar ketika Berdoa 

Sesungguhnya dosa-dosa merupakan penghalang yang nyata untuk terkabulnya doa, sebagaimana hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Ada seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku … Wahai Rabb-ku …’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Orang ini telah terkumpul pada dirinya sebab-sebab terkabulnya doa. Dia berdoa dalam keadaan safar serta juga  mengangkat kedua tangannya ke langit ketika berdoa.

Akan tetapi, dia tidak menjaga dari perkara haram. Pakaian, minuman, dan makanannya berasal dari yang haram. Ini semua merupakan penghalang terkabulnya doa.

Salah seorang ulama saleh terdahulu berkata,

لا تستبطئ الإجابة وقد سددت طريقها بالذنوب

Janganlah Engkau menganggap Allah terlambat mengabulkan doamu, karena sungguh Engkau telah menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu.”

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali dan juga memotivasi umatnya untuk melakukannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يا أيها الناس، توبوا إلي الله واستغفروه ، فإني أتوب في اليوم مائة مرة

Wahai sekalian manusia, bertaubat dan minta ampunlah (istighfar) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim)

Maka hendaknya setiap mukmin menasihati dirinya untuk memperbanyak istighfar dan taubat dengan mengakui perbuaan dosanya, menyesal sudah melakukannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Terlebih lagi ketika berdoa, karena itu merupakan sebab Allah menerima taubatnya dan dikabulkan doa serta dipenuhi permintaanya oleh Allah.

Baca Juga:

Insyaallah bersambung dengan penjelasan kiat-kiat lainnya agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.

[Bersambung]

Sumber : Ad-Du’aa alladzii Laa Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah yang diunduh dari https://www.al-badr.net/ebook/192

Penyusun: Adika Mianoki

Artikel: Muslim.or.id

Buku Putih Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

Buku Putih Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

Dapatkan ebooknya langsung di email Anda

🔍 Dzikir Setelah Shalat Fardhu, Asal Usul Segitiga Bermuda Menurut Islam, Tujuan Khalifah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, Berjimak Menurut Islam

About Author

dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi, S1 Kedokteran Umum UGM, penulis buku "Jawaban 3 Pertanyaan Kubur"

View all posts by dr. Adika Mianoki, Sp.S. »

Leave a Reply

Jadwal Kajian

Ikut Kajian