Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Tafsir Surat Al-Fatihah

Ari Wahyudi, S.Si. oleh Ari Wahyudi, S.Si.
12 Mei 2008
di Al-Qur'an
tafsir al fatihah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Keutamaan Surat Al-Fatihah
    • Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat
    • Al-Fatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Al Quran
  • Penjelasan Tentang Bacaan Ta’awwudz dan Basmalah
    • Makna bacaan Ta’awwudz
    • Makna bacaan Basmalah
  • Penjelasan Kandungan Surat Al Fatihah
    • Makna Ayat Pertama
    • Makna Ayat Kedua
    • Makna Ayat Ketiga
    • Makna Ayat Keempat
    • Makna Ayat Kelima
    • Makna Ayat Keenam
    • Makna Ayat Ketujuh
  • Kesimpulan Isi Surat

Minimal kita membaca surat Al-Fatihah sehari 17 kali dalam shalat fardhu, tapi sudahkah kita paham tafsir Al Fatihah?

Keutamaan Surat Al-Fatihah

Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sabda yang lain beliau mengatakan,

“Barangsiapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur’an (surat Al-Fatihah) maka shalatnya pincang (khidaaj).” (HR. Muslim)

Makna dari khidaaj adalah kurang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut, “Tidak lengkap”. Berdasarkan hadits ini dan hadits sebelumnya para imam seperti imam Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca Al-Fatihah di dalam shalat adalah wajib, tidak sah shalat tanpanya.

Al-Fatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Al Quran

Dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?’ Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?”‘ Maka beliau bersabda, ‘(surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al-Fatihah), itulah As Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.'” (HR. Bukhari, dinukil dari Riyadhush Shalihin cet. Darus Salam, hal. 270)

Penjelasan Tentang Bacaan Ta’awwudz dan Basmalah

Makna bacaan Ta’awwudz

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

Maknanya; “Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan godaan syaitan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.” Syaitan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Syaitan bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan umat manusia. Allah menceritakan sumpah syaitan ini di dalam Al Quran,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُ

“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (yang diberi anugerah keikhlasan).” (QS. Shaad: 82-83)

Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas.

Isti’adzah/ta’awwudz (meminta perlindungan) adalah ibadah. Oleh sebab itu ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang demikian takut kepada syirik sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah,

ً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Ini menunjukkan bahwasanya tauhid yang kokoh akan menyisakan kelezatan di dalam hati kaum yang beriman. Yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah orang-orang yang benar-benar memahaminya. Syaitan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam ayat yang artinya,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

“Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).” (QS. Al An’aam: 112) (Diringkas dari Syarhu Ma’aani Suuratil Faatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).

Makna bacaan Basmalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Maknanya; “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki. (Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah)

Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dengan disertai rasa cinta, takut dan harap. Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah dua nama Allah di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Maknanya adalah Allah memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu.

Akan tetapi, Allah hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini. (lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 19)

Penjelasan Kandungan Surat Al Fatihah

Makna Ayat Pertama

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ

“Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”

Makna Alhamdu adalah pujian kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan juga karena perbuatan-perbuatanNya yang tidak pernah lepas dari sifat memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Allah senantiasa mengandung hikmah yang sempurna. Pujian yang diberikan oleh seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan dalam dirinya kepada Allah. Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.

Makna dari kata Rabb adalah Murabbi (yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara). Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka.

Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.

Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami. (lihat Taisir Lathiifil Mannaan, hal. 20)

Makna Ayat Kedua

الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah nama Allah. Sebagaimana diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah. Allah ta’ala berfirman,

“Milik Allah nama-nama yang terindah, maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebutnya.” (QS. Al A’raaf: 180)

Setiap nama Allah mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah. Dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ini kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan yaitu:

1) Musyabbihah

2) Mu’aththilah

3) Ahlusunnah wal Jama’ah

Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk. Mereka terlalu mengedepankan sisi penetapan nama dan sifat dan mengabaikan sisi penafian keserupaan sehingga terjerumus dalam tasybih (peyerupaan). Adapun Mu’aththilah adalah orang-orang yang menolak nama atau sifat-sifat Allah. Mereka terlalu mengedepankan sisi penafian sehingga terjerumus dalam ta’thil (penolakan).

Ahlusunnah berada di tengah-tengah. Mereka mengimani dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat sekaligus mengimani dalil-dalil yang menafikan keserupaan. Sehingga mereka selamat dari tindakan tasybih maupun ta’thil. Oleh sebab itu mereka menyucikan Allah tanpa menolak nama maupun sifat. Mereka menetapkan nama dan sifat tapi tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Inilah akidah yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta para imam dan pengikut mereka yang setia hingga hari ini. Inilah aqidah yang tersimpan dalam ayat yang mulia yang artinya,

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11) (silakan baca Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan juga ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallahu ta’ala).

Allah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat. Akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Meskipun namanya sama akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna sedangkan makhluk adalah sosok yang penuh dengan kekurangan.

Sebagaimana sifat makhluk itu terbatas dan penuh kekurangan karena disandarkan kepada diri makhluk yang diliputi sifat kekurangan. Maka demikian pula sifat Allah itu sempurna karena disandarkan kepada sosok yang sempurna. Sehingga orang yang tidak mau mengimani kandungan hakiki nama-nama dan sifat-sifat Allah sebenarnya telah berani melecehkan dan berbuat lancang kepada Allah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebagaimana semestinya.

Lalu adakah tindakan jahat yang lebih tercela daripada tindakan menolak kandungan nama dan sifat Allah ataupun menyerupakannya dengan makhluk? Di dalam ayat ini Allah menamai diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Di dalamnya terkandung sifat Rahmah (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Allah tidak serupa persis dengan kasih sayang makhluk.

Makna Ayat Ketiga

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang Menguasai pada hari pembalasan.”

Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.

Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya.

Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya.

Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).

Makna Ayat Keempat

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”

Maknanya; “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’buduka yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya.

Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”

Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah.

Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39).

Makna Ayat Kelima

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”

Maknanya; “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya.

Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do’a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do’a ini (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).

Makna Ayat Keenam

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ

“Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.”

Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para Nabi, orang-orang yang shiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih. Termasuk di dalam cakupan ungkapan ‘orang yang diberi nikmat’ ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Allah ta’ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengerti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Allah murka.

Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Allah ta’ala. Inilah jalan Islam. Islam yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan. Sehingga dengan ayat ini kita kembali tersadar bahwa Islam yang kita peluk selama ini merupakan anugerah nikmat dari Allah ta’ala. Dan untuk bisa menjalani Islam dengan baik maka kita pun sangat membutuhkan sosok teladan yang bisa dijadikan panutan (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 12).

Makna Ayat Ketujuh

غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”

Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 13 dan Taisir Karimir Rahman hal. 39).

Kesimpulan Isi Surat

Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya.

Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul.

Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil.

Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah.

Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (disadur dari Taisir Karimir Rahman, hal. 40).

Allaahu akbar, sungguh menakjubkan isi surat ini. Maka tidak aneh apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai surat paling agung di dalam Al Quran.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari jalan orang yang dimurkai dan sesat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Mengabulkan do’a. Wallahu a’lam bish shawaab.

Baca juga: Tafsir Ayat Kursi

—

Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi

Artikel: Muslim.or.id

Tags: tafsir
ShareTweetPin
Ari Wahyudi, S.Si.

Ari Wahyudi, S.Si.

Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".

Artikel Terkait

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 5): Keadaan Akhir Manusia di Hari Kiamat

oleh Dany Indra Permana, S.Si., M.H.
20 Juni 2026
0

Allah Subhanahu wa Ta'ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal...

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 4): Kokohnya Langit dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat

oleh Dany Indra Permana, S.Si., M.H.
8 Juni 2026
0

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir'aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan...

Sepuluh Wasiat Agung dari Surah Al-An’am (Bag. 2)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
27 Mei 2026
0

Wasiat keenam, menjaga harta anak yatim Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,...

Artikel Selanjutnya
MENGIKUTI AJARAN NABI BUKAN TERORIS

Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Bukanlah Teroris (Bag. 1)

Komentar 65

  1. adiputra says:
    18 tahun yang lalu

    Maaf mau tanya boleh tidak sebagian artikel Saya posting untuk blog Saya…

    Reply
  2. Akhiabdul says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum, afwan ya akhi ana copi artikel tafsir Surah Al Fatihahnya, bolehkan …! jazakumullah

    Reply
  3. Akhiabdul says:
    17 tahun yang lalu

    Akhi afwan ya ana mau tanya ini artikel antum ana ambil untuk tugas kuliah ana jadi ana butuh referensinya yang asli afwan ya tapi kalo boleh antum bisa sebutin ini tafsirnya siapa Ibnu katsir or siapa Jazakumullah ya akhi…..

    Reply
  4. Hidayat says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamualaikum,ada seorang imam ditempat saya ketika membaca surah Al-Fatihah pd ayat Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in, Ka nya musti dipanjangkan atau ditambah satu harkat.menjadi iyyaakaa na’budu wa iyyaakaa nasta’in(u). alasannya :karena iyyaakana adalah nama Syetan.Apakah betul itu pak Ustadz ? Mohon jawaban dari Pak Ustadz !

    Reply
    • Nana says:
      11 bulan yang lalu

      afwan saya ikut bantu jawab. contoh memanjangkan kaf tidak ada dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. para imam pun tidak ada yang membaca seperti itu. Al-Qur’an murni turun dari Allah dengan panjang pendek yang sudah mutlak. apabila Al-fatihah ini diubah-ubah lagi huruf dan panjang pendek nya justru hal ini dapat membatalkan shalat nauzubillahi min dzalik

      Reply
    • Nana says:
      11 bulan yang lalu

      bantu jawab ya.
      alfatihah dan surat-surat Al-Qur’an lain tidak boleh diubah seenaknya sesuai keinginan sendiri. iyyaka itu bahasa arab. sementara nama setan belum jelas sumbernya dari mana. dan bahasa apa juga itu. mengubah dan menambahkan huruf dalam membaca alfatihah ketika shalat dapat membatalkan shalat

      Reply
  5. fahrul azmi says:
    17 tahun yang lalu

    manatap bikin hati jadi tenang,,,,,jauh dari setan yang terkutuk yoiii.. dekat ma allah dan rasulnya jelas donk.

    Reply
  6. dedi says:
    17 tahun yang lalu

    assalamualaikum
    boleh ya saya copy untuk referensi pribadi
    terimakasih dan
    wassalamualaikum wrwb

    Reply
  7. ruang angan says:
    17 tahun yang lalu

    Assalammualaikum Wr.Wb.

    maaf mas, minta ijin untuk saya posting di fb ya… biar ilmunya bisa menyebar…
    terimakasih…

    Wassalammualaikum Wr.Wb.

    Reply
  8. hardianto says:
    17 tahun yang lalu

    asslm,,
    akhi saya mau mnta izin mau mengkopi artikel ini,,
    karna saya pengen rasa na membaca nya berulng-ulang x,,
    mkasih,,
    wasslm.

    Reply
  9. Nono says:
    17 tahun yang lalu

    Saudaraku teruskan dakwahmu untuk memberi cahaya bagi kita-2 ini yang sangat perlu cahaya qur an. terimakasih saudaraku.

    Reply
  10. zainal abidin says:
    17 tahun yang lalu

    mohon izin untuk copy artikel Bapak..

    Reply
  11. Nurulhidayah says:
    17 tahun yang lalu

    Salam, saya dari malaysia, saya sangat gembira dapat membaca makna ayat al-fatihah ini, oleh yang demikian saya minta izin untuk buat salinan untuk rujukan semua famili dan rakan-rakan saya. terima kasih

    Reply
  12. vicha says:
    17 tahun yang lalu

    makasih ya ud bantu Q bkin PR
    Q seneng…..
    PRq cpT sLs ne…

    Reply
  13. GaL says:
    17 tahun yang lalu

    :)
    Mohon ijin juga untuk share ini di blog saya :)

    Reply
  14. Harisman says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum wr wb, bolehkah kami mengcopy artikel surah Al-Fatihah?

    Reply
  15. dank elchianjury says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum…
    akhi, ana copy sebagian file’nya.. mudah2an bermanfat untuk umat..
    syukron

    Reply
  16. amir says:
    16 tahun yang lalu

    afwan
    minta izin mengcopy artikelnya dan minta ridhonya dalam mempelajarinya,
    syukron katsiron.

    Reply
  17. farida says:
    16 tahun yang lalu

    apa faedah fatihah untuk jenazah

    Reply
  18. Dwi says:
    16 tahun yang lalu

    31 Maret 2010

    Assalamulaikum Wr. Wb
    Kami mohon ijin untuk mengcopy artikel tafsir Al-Fatihah antum sebagai bahan perbendaharaan ilmu pengetahuan saya dan smoga Alloh Ridho pada kita semua Amin

    Wassalammualikum Wr.Wb

    Reply
  19. edi says:
    16 tahun yang lalu

    Assalamulaikum Wr. Wb

    mohon izin copas

    jazakumullah
    Wassalammualikum Wr.Wb

    Reply
  20. setiono says:
    16 tahun yang lalu

    semoga menjadi ilmu manfaat amin.

    Reply
  21. zubaedah says:
    16 tahun yang lalu

    semoga kita termasuk hamba yang di beri kerinduan pda ayat-ayat Allah…

    Reply
  22. Yazid says:
    16 tahun yang lalu

    SALAM, saya meminta izin untuk mencetak tafsiran ini, semuga saya keluarga dan semua umat dapat manafaat daripada nya. Terima kasih.

    Reply
  23. fabian says:
    16 tahun yang lalu

    Afwan akhi ..
    boleh ya saya copy artikelnya ..
    buat makalah ..

    Reply
  24. ade kresna says:
    16 tahun yang lalu

    Bagus sekali. Sgt bermanfaat utk menambah wawasan kami. Terimakasih atas sharing-nya.

    Reply
  25. m.misbah says:
    16 tahun yang lalu

    syukran lakum ‘ala hadzihil maqalah, akhudzuha litta’lim.

    Reply
  26. Abu Nushoibah Jum'at says:
    16 tahun yang lalu

    Syukron katsiron atas materinya antum.

    Reply
  27. A.Toyib Bahtiar says:
    16 tahun yang lalu

    Terima kasih akhi afwan boleh dicofy

    Reply
  28. supri says:
    16 tahun yang lalu

    ass wr wbr, mohon maaf pada pelulisaan ta awud kelihatan terbalik. huruf varabnya mohon di cek mkembali trims

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      16 tahun yang lalu

      #supri
      Sudah kami cek dan tidak terbalik. Coba cek setting bahasa di PC anda.

      Reply
  29. khamim says:
    16 tahun yang lalu

    asssalamu’alaikum. wr.wb. Mohon izin untuk mencopy artikelnya ya? mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan pada antum .wassalam

    Reply
  30. Anshar says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah………
    Syukran jazilan ‘alaa risalatikum
    moga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi amal jariyah….

    Reply
  31. hikmah yusida says:
    16 tahun yang lalu

    AFWAN……..SY SUKA SEKALI MEMPRINT OUT ARTIKEL INI SEBAGAI BAHAN PELAJARAN BERHARGA BAGI SY YG MISKIN ILMU AGAMA. SYUKRON KATSIRAN

    Reply
  32. adit KMM says:
    15 tahun yang lalu

    wah luar biasa tafsirnya…izin copas ^^

    Reply
  33. ramdhani says:
    15 tahun yang lalu

    :)
    “sampaikanlah ilmu walau satu ayat”
    anda telah mengerjakannya semoga anda selalu dalam rahmat allah yang sempurna

    Reply
  34. ikhya says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamualaikum…
    minta izin tuk kami share tulisan ini di note fb radiopengajian…
    syukron…
    http://www.facebook.com/notes/radio-pengajian/tafsir-surat-al-fatihah/10150200389802627

    Reply
  35. Yudaningsih says:
    15 tahun yang lalu

    Jazakaloh atas tebaran ilmunya moga kian manfaat dan barokah.Amien

    Reply
  36. reno says:
    15 tahun yang lalu

    semoga menjadikn hikmah utk smua muslim dan mempertebal kimanan kita kpd ALLA SWT…

    Reply
  37. Nurmilah says:
    15 tahun yang lalu

    Alhamdulillah bisa menambah penjelasan kepada anak2. Izin copy ya?

    Reply
  38. anhenu says:
    15 tahun yang lalu

    asalamualaikum wr wb
    mohon ijin mengunduh ustadz, untuk menambah materi makalah dan presentasi di kelas…
    wasalam
    syukron..

    Reply
  39. Genthallo Suraji says:
    15 tahun yang lalu

    Al Qur’an adalah wisata hati yang sangat sempurna baik dunia yang utamanya akherat, amin

    Reply
  40. 5AfrIzaL says:
    15 tahun yang lalu

    thanks dh membri infrmasi

    Reply
  41. Rillo Aldisela Ramdhani says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum. Wr. Wb

    Terima kasih Pak Ustadz buat tafsir Surat Al-Fatihah ini.

    Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur’an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)

    Jazakallah…

    Wass. Wr. Wb

    Reply
  42. puput says:
    15 tahun yang lalu

    mhn izn mengunduh artikel ni untk bhn artikel ni.tp carany gmna ya alna syg mmbuka web ni melalui hp.syukron

    Reply
    • Fatih says:
      6 tahun yang lalu

      Izin mengcopy sebagian artikel,semoga menjadi pahala jariyah bagi pemilik artikel

      Reply
  43. SiDAH says:
    15 tahun yang lalu

    izin copas.. ^^ syukron..

    Reply
  44. SiDAH says:
    15 tahun yang lalu

    Mohon iZin Copas :)

    Reply
  45. SiDAH says:
    15 tahun yang lalu

    Saya izin copas ya pak :)

    Reply
  46. Ermanto says:
    15 tahun yang lalu

    Lanjutkan …ak jg ingin unduh artikel ini,buat tambah pengetahuan … Mhn ijin ustadz.

    Reply
  47. agungsetiawan says:
    15 tahun yang lalu

    semoga bsa lebih diperdalam lg….

    Reply
  48. hendri yanto says:
    14 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum. Wr. Wb
    Pak Ustad terima kasih untuk penjelasanya semoga kita semua bisa menjadi org2 yang ihklas dlm beribadah kepada ALLAH dan iklhas dlm mejalani hidup ini.

    Reply
  49. alwantohadinarwanto says:
    14 tahun yang lalu

    subhanalloh

    Reply
  50. Sucipno. ST says:
    14 tahun yang lalu

    Syukron katsiro
    Mohon ijin untuk disampaikan dalam pengajian

    Reply
  51. antoni says:
    12 tahun yang lalu

    Afwan boleh sebagiannya di copy

    Reply
  52. Rahmad Fauzi says:
    7 tahun yang lalu

    izin Copy ilmunya gais

    Reply
  53. galangnugraha says:
    7 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum akhi,
    Izin unduh artikelnya untuk belajar
    Jaazakallahu Khairan

    Reply
  54. Ridwan says:
    6 tahun yang lalu

    mohon izin unduh artikelnya ustadz

    Reply
  55. Rifqi Rasyid says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum
    Ustadz, saya mau nanya sedikit ihwal nomor ayat Surat Al-Fatihah diatas. Di dalam Al-Qur’an bukankah ayat pertama itu Basmalah? Dan ayat terakhir (ketujuh) itu Sirotolladzi…? Mohon penjelasannya jika ada sedikit kekeliruan.

    Reply
  56. Iyan Adriyana says:
    6 tahun yang lalu

    Masya Allah sunsgguh penjelasan yang sangat lengkap dan komplit, semoga berkah duni dan akhirat. Amin

    Reply
  57. anonim says:
    6 tahun yang lalu

    sedikit koreksi, ayat pertama surat Al-Fatihah adalah basmalah

    Reply
  58. Salman Arrasyid says:
    6 tahun yang lalu

    Izin Copy artikelnya, terimakasih

    Reply
  59. Sofian says:
    3 tahun yang lalu

    tolong direvisi itu tulisannya, stlh bacaan basmalah dr surat Al Fatihah kurang huruf yaa dan nun

    Reply
  60. Nana says:
    11 bulan yang lalu

    afwan, dalam artikel ini basmalah tidak termasuk ayat pertama ya? berarti penulis menggunakan riwayat siapa saya lupa?
    kalau yang masyhur di mushaf indonesia dan Madinah itu basmalah termasuk ayat pertama dan potongan غير المغضوب bukan awal ayat ke tujuh

    Reply
    • M. Saifudin Hakim says:
      11 bulan yang lalu

      Bisa dibaca di tulisan ini:

      https://konsultasisyariah.com/38897-basmalah-termasuk-al-fatihah-atau-bukan.html

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah