Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 3)

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 2)

Kiat Kedua: Berdoa di Waktu yang Mustajab

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada enam keadaan waktu mustajab terkabulnya doa, yaitu:

1. Saat Sepertiga Malam Terakhir

Waktu ini adalah di antara waktu yang paling mustajab terkabulnya doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa pada-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Barangsiapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Aku beri. Barangsiapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Aku ampuni.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwasanya waktu ini merupakan waktu mulia yang penuh dengan keberkahan dan sekaligus merupakan waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Maka hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam mengambil kesempatan baik ini dan bersemangat agar tidak terluput satu malam pun untuk berdoa kepada Allah Ta’ala di waktu yag penuh berkah ini.

2. Ketika Selesai Azan

Maksudnya adalah waktu tepat setelah azan selesai dikumandangkan, karena sesunggguhnya saat ini merupakan waktu yang agung untuk berdoa. Waktu ini lebih spesifik dibanding waktu antara azan dan iqamah. Karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa barangsiapa mendengar azan, kemudian mengikuti ucapan muadzin, kemudian langsung berdoa setelah selesai azan, maka doanya mustajab. Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah hadis,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ

“Ada seseorang yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh para muadzin telah mengungguli kami dalam kebaikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab, ‘Ucapkanlah seperti yang mereka kumandangkan. Jika  telah selesai, maka berdoalah, niscaya akan dikabulkan.’ (HR. Abu Dawud, hasan)

Hadis ini menunjukkan keterkaitan doa dengan mendengar azan dan mengikuti ucapan muadzin. Apabila seorang muslim mendengar azan, kemudian mengikuti ucapan muadzin, kemudian mengucapkan doa setelah azan, hendaknya setelah itu dia tidak berhenti. Namun dilanjutkan dengan berdoa dengan permohonan yang diinginkannya karena waktu tersebut adalah kesempatan besar untuk diijabahnya doa.

3. Antara Azan dan Iqomah

Terdapat hadis mengenai keutamaan berdoa di waku antara azan dan iqomah. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.“ (HR. Tirmidzi, sahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا نُودي بالصلاةِ فُتِّحتْ أبوابُ السماءِ ، و اسْتُجيبَ الدعاءُ

Apabila azan dikumandangkan, maka terbukalah pintu-pintu langit dan doa dikabulkan.”  (HR. Ath-Thuyalasi dalam musnadnya, sahih)

Baca Juga: Bolehkah Berdoa “Rahimahullah” untuk Seorang Muslim yang Masih Hidup?

Maka hendaknya setiap mukmin memperbanyak untuk dirinya di waktu-waktu ini dengan doa meminta kebaikan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

4. Di Akhir Salat Wajib

Maksudnya adalah di akhir salat wajib sebelum salam. Keadaan ini merupakan waktu yang utama. Ini merupakan waktu yang tepat terkabulkan doa karena di sini terkumpul banyak sebab-sebab terkabulnya doa. Pada saat ini seorang muslim dalam kondisi yang suci, menghadap ke arah kiblat, sebelumnya bertakbir dan mengagungkan Allah serta membaca firman-Nya, kemudian rukuk dan sujud dengan penuh penghinaan diri kepada Allah Rabbul ‘aalamiin, kemudian duduk tasyahud setelah amal-amal yang agung sebelumnya, kemudian mengucapkan doa tahiyat, kemudian setelahnya mengucapkan persaksian tauhidullah, kemudian berselawat kepada Nabi dengan selawat yang sempurna –yaitu shalawat Ibrahimiyyah-. Aktifitas ini seluruhnya merupakan bentuk penghambaan yang agung yang menjadikan kondisi sebelum salam ini merupakan waktu yang paling penting pengkabulan Allah terhadap setiap doa orang yang salat dan meminta kepada-Nya. Oleh karena itu, terdapat hadis dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan tasyahud akhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثم يتخير من الدعاء أعجبه إليه فيدعو

Kemudian hendaknya ia memilih dari doa yang paling ia senangi, lalu ia berdoa.” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Doa Berlindung Dari Virus Corona

5. Ketika Khatib Naik Mimbar Sampai Selesai Salat Jumat

Terdapat hadis yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنَّ في الجُمُعَةِ لَساعَةً، لا يُوافِقُها مُسْلِمٌ، يَسْأَلُ اللَّهَ فيها خَيْرًا، إلَّا أعْطاهُ إيَّاهُ

Sesungguhnya pada hari Jum’at ada suatu waktu, tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah kebaikan melainkan Allah akan berikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya waktu yang dimaksud yaitu sejak naiknya imam ke atas mimbar sampai selesainya salat Jumat. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,

هي ما بَينَ أن يجلِسَ الإمامُ إلى أنْ تُقضَى الصَّلاةُ

Waktu tersebut adalah antara duduknya imam sampai berakhirnya salat.“ (HR. Muslim)

Sudah selayakanya setiap muslim bersemangat mengaminkan doa khatib dan menaruh perhatian untuk banyak berdoa takala menunaikan salat jumat, lebih-lebih lagi tatakala sujud. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Keadaan paling dekat antara hamba dengan rabb-Nya adalah tatakala sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu. “ (HR. Muslim)

Demikian pula hendaknya bersungguh-sungguh untuk bedoa ketika tasyahud akhir sebelum salam, karena hal ini merupakan waktu terkabulnya doa sebagaimana penjelasan di atas.

6. Waktu Setelah Asar Hari Jumat

Yang dimaksud adalah waktu akhir setelah shalat asar sampai terbenamnya matahari di hari Jumat. Terdapat hadis yang sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Siang hari jumat ada dua belas jam. Tidaklah seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah, kecuali Allah pasti akan kabulkan. Maka mintalah di waktu  setelah salat ashar. “ (HR. Abu Dawud, sahih)

Oleh karena itu, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab beliau Zaadul Ma’aad bahwasanya yang paling rajih tentang batas waktu yang utama di hari Jumat yang merupakan waktu terkabulnya doa adalah dua pendapat berikut:

Pertama, ketika imam naik mimbar sampai berakhirnya waktu salat Jumat.

Kedua, akhir waktu setelah salat asar sampai sebelum maghrib di hari Jumat.

Hendaknya setiap muslim bisa menyemangati dirinya sendiri untuk tidak melewatkan dua waktu yang utama ini dengan bersungguh-sungguh berdoa di waktu tersebut serta menaruh perhatian yang khusus sehingga bisa meraih kebaikan yang banyak.

Inilah di antara enam kondisi yang merupakan waktu terkabulnya doa. Tentunya penyebutan enam kondisi di atas hanyalah contoh dan bukan merupakan pembatasan. Masih banyak kondisi lain yang juga merupakan kondisi terkabulkannya doa sebagaimana disebutkan dalam banyak dalil  lainnya.

Inilah kiat penting yang kedua agar doa dikabukan, yaitu memperhatikan waktu dan kondisi mustajab terkabulnya doa.  Insya Allah bersambung dengan penjelasan kiat-kiat lainnya agar doa dikabulkan.

[Bersambung]

Sumber : Ad Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syekh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah yang diunduh dari : https://www.al-badr.net/ebook/192

Baca Juga:

Penyusun : Adika Mianoki

Artikel: Muslim.or.id

🔍 Belajar Agama Islam, Ciri Ciri Aliran Sesat Dalam Islam, Hadits Tentang Larangan Isbal, Membongkar Kesesatan Syiah, Nasehat Untuk Pria

About Author

dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi, S1 Kedokteran Umum UGM, penulis buku "Jawaban 3 Pertanyaan Kubur"

View all posts by dr. Adika Mianoki, Sp.S. »

Leave a Reply

Mau Aliran Pahala Tanpa Putus?

donasi muslim.or.id

Donasi Sekarang