Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Siapa Bilang Salafi Pelit Bershalawat?

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
21 Juli 2011
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • 1. Ketika Masuk Masjid
  • 2. Ketika Keluar Masjid
  • 3. Ketika Tasyahud
  • 4. Ketika disebut nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
  • 5. Ketika selesai mendengar adzan
  • 6. Dalam rangkaian dzikir pagi
  • 7. Dalam rangkaian dzikir sore
  • 8. Ketika hendak berdoa
  • 9. Pada waktu-waktu bebas yang tidak ditentukan
  • 10. Pada hari dan malam Jum’at

Terdapat perkataan miring dari sebagian orang yang membenci dakwah sunnah, bahwa salafiyyin, atau orang yang meneladani generasi salafush shalih dalam beragama, enggan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam atau bahkan dituduh anti-shalawat. Padahal salafiyyin, yang senantiasa berpegang-teguh pada dalil-dalil shahih, bershalawat ratusan kali setiap harinya. Hal ini merupakan konsekuensi dari mengikuti dalil-dalil shahih, karena banyak dalil-dalil shahih yang menganjurkan amalan tersebut. Berikut ini beberapa kesempatan dalam satu hari yang dianjurkan untuk bershalawat, berdasarkan dalil-dalil shahih:

1. Ketika Masuk Masjid

Sebagaimana hadits dari Fathimah Radhiallahu’anha:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل المسجد صلى على محمد وسلم ، وقال : رب اغفر لي ذنوبي ، وافتح لي أبواب رحمتك

“Biasanya, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke dalam masjid beliau bershalawat kemudian mengucapkan: Rabbighfirli Dzunubi Waftahli Abwaaba Rahmatik (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukalah untukku pintu-pintu Rahmat-Mu)” (HR. At Tirmidzi, 314. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

Dan seorang salafi, masuk ke masjid minimal 5 kali dalam sehari.

2. Ketika Keluar Masjid

Sebagaimana kelanjutan hadits dari Fathimah Radhiallahu’anha:

وإذا خرج صلى على محمد وسلم ، وقال : رب اغفر لي ذنوبي وافتح لي أبواب فضلك

“Dan ketika beliau keluar dari masjid, beliau bershalawat lalu mengucapkan: Rabbighfirli Dzunubi, Waftahlii Abwaaba Fadhlik (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukalah untukku pintu-pintu keutamaan-Mu)” (HR. At Tirmidzi, 314. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

Dan seorang salafi, keluar dari masjid minimal 5 kali dalam sehari.

3. Ketika Tasyahud

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يدعو في صلاته لم يمجد الله تعالى ولم يصل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عجل هذا ثم دعاه فقال له أو لغيره إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه جل وعز والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بعد بما شاء

 “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendengar seorang lelaki yang berdoa dalam shalatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa bershalawat. Beliau pun berkata: ‘Orang ini terlalu tergesa-gesa’. Rasulullah lalu memanggil lelaki tersebut lalu menasehatinya: ‘Jika salah seorang diantara kalian berdoa mulailah dengan mengagungkanlah Allah, lalu memuji Allah, kemudian bershalawatlah, barulah setelah itu berdoa apa yang ia inginkan‘” (HR. Abu Daud, 1481. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).

Pada ulama mengatakan bahwa tempat shalawat kepada Nabi di dalam shalat adalah setelah tasyahud awal dan akhir. Bahkan sebagian ulama menggolongkan shalawat setelah tasyahud akhir sebagai rukun shalat.

Dan seorang salafi, minimal ber-tasyahud 10 (5 x 2) kali dalam sehari.

4. Ketika disebut nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang pelit itu adalah orang yang ketika disebut namaku ia enggan bershalawat” (HR. At Tirmidzi no.3546, ia berkata: “Hasan Shahih Gharib”).

Seorang salafi, yang senantiasa bersemangat menuntut ilmu syar’i, ia membaca kitab para ulama, menghafal hadits, duduk di majlis-majlis ilmu, puluhan kali nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam disebut di sana sehingga ia pun puluhan kali bershalawat.

5. Ketika selesai mendengar adzan

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول . ثم صلوا علي . فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا

“Jika kalian mendengarkan muadzin mengumandangkan adzan, ucapkanlah apa yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena setiap seseorang bershalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali” (HR. Muslim, no. 384)

Dan adzan, minimal 5 kali berkumandang setiap harinya.

6. Dalam rangkaian dzikir pagi

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من صلى علي حين يصبح عشرا وحين يمسي عشرا أدركته شفاعتي يوم القيامة

“Barangsiapa bershalawat kepadaku ketika pagi dan ketika sore masing-masing 10 kali, ia akan mendapatkan syafa’atku kelak di hari kiamat” (Dihasankan oleh Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib, 1/314, juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid, 10/123. Sebagian ulama melemahkan hadits ini, semisal Al Albani dalam Adh Dha’ifah, 5788 )

Dan seorang salafi bersemangat menjaga dzikir pagi setiap harinya. Dalam rangkaian dzikir pagi juga banyak disebut nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sehingga ketika mengamalkan dzikir pagi, puluhan kali shalawat diucapkan.

7. Dalam rangkaian dzikir sore

Sebagaimana hadits pada poin sebelumnya. Seperti paparan sebelumnya, ketika mengamalkan dzikir sore pun, puluhan kali shalawat diucapkan.

8. Ketika hendak berdoa

Sebagaimana hadits pada poin 3. Dan seorang salafi bersemangat memperbanyak doa, dalam rangka mengamalkan firman Allah:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada-Ku, akan Aku kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang sombong, enggan beribadah kepada-Ku, akan Aku masukkan mereka ke neraka Jahannam yang pedih” (QS. Al-Mu’min: 60)

Terutama pada waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Dan dalam 1 hari ada puluhan waktu mustajab untuk berdoa. Sehingga seorang salafi, puluhan kali bershalawat sebelum berdoa dalam sehari.

9. Pada waktu-waktu bebas yang tidak ditentukan

Seorang salafi senantiasa menggunakan waktunya agar tidak tersia-sia. Salah satu caranya dengan banyak berdzikir, dan diantara dzikir yang dianjurkan adalah bacaan shalawat kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kapan saja tanpa terikat kesempatan tertentu. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepadanya dan doakanlah keselamatan atasnya” (QS. Al Ahzab: 56)

Juga keumuman sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا

“Karena setiap seseorang bershalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali” (HR. Muslim, 384)

Di perjalanan, ketika menunggu, ketika istirahat, ketika berjalan, ketika dalam majelis, dan waktu-waktu lain kapan saja dan di mana saja.

10. Pada hari dan malam Jum’at

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة علي قال فقالوا يا رسول الله وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت قال يقولون بليت قال إن الله تبارك وتعالى حرم على الأرض أجساد الأنبياء صلى الله عليهم

“Hari jumat adalah hari yang paling utama. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu. Karena sesungguhnya shalawat kalian itu sampai kepadaku”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami sampai kepadamu, sementara kelak engkau dikebumikan?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan bumi untuk menghancurkan jasad para Nabi shallallahu ‘alaihim” (HR. Abu Daud no. 1047. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, 2212)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

أكثروا الصلاة علي يوم الجمعة و ليلة الجمعة ، فمن صلى علي صلاة صلى الله عليه عشرا

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat. Karena orang yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali” (HR. Al-Baihaqi, 3/249. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 1407)

Jelaslah sudah bahwa salafiyyin, orang-orang yang berpegang-teguh pada dalil Qur’an dan sunnah yang shahih, akan mengamalkan shalawat ratusan kali dalam sehari, bahkan lebih. Tentu saja dengan suara lirih, sendiri-sendiri, tidak dikeraskan dan tidak pula beramai-ramai. Namun perlu dicatat, bahwa setiap orang tentu memiliki juhud yang berbeda-beda dalam ibadahnya.

Adapun shalawat yang diingkari oleh salafiyyin adalah shalawat yang dikarang-karang serta dibuat-buat oleh orang, dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam maupun para shahabat serta generasi salafus shalih. Dikarang-karang lafadznya, juga tata-caranya. Para sahabat Nabi, orang yang paling mencintai beliau jauh lebih cinta dari kita semua, mereka tidak pernah mengarang-ngarang shalawat. Mereka bahkan bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam cara bershalawat:

يا رسول الله ، أما السلام عليك فقد عرفناه ، فكيف الصلاة ؟ قال : ( قولوا :اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ، كما صليت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد ، كما باركت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد )

 “Wahai Rasulullah, tata cara salam terhadapmu, kami sudah tahu. Namun bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: ‘Ucapkanlah: Allahumma Shalli ‘ala Muhammad Wa ‘ala Aali Muhammad, Kamaa Shallaita ‘ala Ibrahim Innaka Hamiidum Majid. Allahumma Baarik ‘ala Muhammad Wa ‘ala Aali Muhammad, Kamaa Baarakta ‘ala Ibraahim, Innaka Hamiidum Majid‘”. (HR. Bukhari 4797)

Apalagi shalawat-shalawat yang dikarang-karang oleh sebagian orang, dibumbui dengan khasiat-khasiat tertentu tanpa dalil. Diperparah lagi jika shalawat-shalawat buatan tersebut dilantunkan beramai-ramai menggunakan pengeras suara. Padahal Allah Ta’ala memerintahkan kita berdzikir dengan rendah diri, penuh takut dan bersuara lirih:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ

“Berdzikirlah kepada Rabb-mu dengan penuh kerendahan diri, rasa takut serta tanpa suara yang dikeraskan” (QS. Al A’raf: 205)

Renungkanlah, dari apa yang kita paparkan di atas, andai kita mau mengamalkan shalawat berdasarkan dalil yang shahih, hari-hari kita akan sangat sibuk sekali. Maka, untuk apa kita masih mencari-cari atau mengarang-ngarang shalawat sendiri? Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata:

اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا ، فَقَد كُفِيتُم

“Ikutilah saja (sunnah Nabi) dan jangan berbuat bid’ah. Sesungguhnya sunnah Nabi telah mencukupi kalian“

—

Penulis: Yulian Purnama

Artikel www.muslim.or.id

ShareTweetPin
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
Tauhid

Makna Tauhid

Komentar 31

  1. yulinar says:
    15 tahun yang lalu

    salafush shalih,penerus ajaran nabi
    teladan yang patut di contoh

    Reply
  2. Desi Astuti says:
    15 tahun yang lalu

    Semua perkataan miring dan tuduhan2 mereka terhadap salafiyin akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Salafiyin hanya akan bershalawat sesuai tuntunan dalil2 shahih, bukan dg shalawat2 tnpa dasar yg jelas dn mrupakn tambahan2 belaka.

    Reply
  3. saif al afghan says:
    15 tahun yang lalu

    jalan ini yg ku tempuh,walau beribu fitnah dan cerca

    Reply
  4. Bapak'e Hanifah says:
    15 tahun yang lalu

    semoga kita tidak termasuk orang yg bakhil..

    semoga kita bukan orang yg enggan untuk bershalawat ketika mendengar Nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut

    Reply
  5. Muja says:
    15 tahun yang lalu

    Alhamdalulillah..
    Dengan situs http://www.muslim or.id pemahaman ana tentang agama bertambah. Do’a ketika keluar dari masjid,agar dibukakan nya pintu ‘ke utama’an’ maksud nya apa ya ustadz?
    Jazzakallah.. ^ ^

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      15 tahun yang lalu

      #Muja
      Ada beberapa penafsiran pada ulama dalam hal ini, diantaranya Imam Asy Syaukani mengatakan bahwa keluar masjid mengharapkan fadhl dalam hadits ini cocok dengan ayat:
      فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
      “Jika shalat (Jum’at) telah selesai, bertebaranlah di muka bumi untuk mencari fadhl dari Allah” (QS. Al Jumu’ah: 10)
      Fadhl di sini maksudnya adalah rizki yang halal.

      Reply
  6. muhammad fikri says:
    15 tahun yang lalu

    subhanallah,ternyata islam yg sesungguhnya itu simple dan mudah di amalkan ya,.. tidak seperti yg kebnyakan orang lakukakan yg menambah-nambah amalan tnpa dasar,….
    semoga kita termasuk segolongan orang yg selalu bertawakal terhadap Allah swt.

    Reply
  7. Tarmizi says:
    15 tahun yang lalu

    teruskan aja belaain sunnah hancurkan bid’ah

    Reply
  8. kusnoto says:
    15 tahun yang lalu

    mas admin,
    saya usul, gimana kalo tulisan arab-nya (type dan formatnya) disamakan dgn yg ada di web-nya majalah assunnah ?
    agar kalo di copy ke “MS Word” huruf arabnya tdk berubah ato tdk pindah posisi (yg harusnya ditengah bisa pindah ke depan ato sebaliknya)
    terima kasih

    Reply
  9. zaenal Arifin says:
    15 tahun yang lalu

    banyak tapi tidak berlebihan.

    Reply
  10. dulrohman says:
    15 tahun yang lalu

    bersholawatlah dengan apa yang diajarkan Rasulullah… jangan membuat shalawat sendiri seperti kebanyakan ahlul bid’ah

    Reply
  11. dulrohman says:
    15 tahun yang lalu

    entah itu namanya salafi entah itu wahabi entah sunati dll… yang penting Islam yang benar adalah bermanhaj sunah Rasulullah dan sahabatnya, nama itu tak penting karena hanya karena nama umat islam terpecah-pecah… naudzubillah..

    sebaiknya, kita tidak boleh fanatik dengan sesama muslim dan berpegang teguh dengan apa yang kita prinsipkan

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      15 tahun yang lalu

      #dulrohman
      Silakan simak artikel berikut:
      http://kangaswad.wordpress.com/2011/06/07/sebut-saja-muslim-bukan-salafy/

      Reply
  12. masrul says:
    15 tahun yang lalu

    Mari kita selalu berbenah diri dalam tuntunan Alquran dan sunnah.

    Reply
  13. Abu Ja'far says:
    15 tahun yang lalu

    Subhaanallah, artikel yang bagus yang Insya Allah akan membuka mata hati yang tertutupi.
    Tetapi, kalo menurut analisa pribadi ana, orang2 yang memusuhi sunnah tersebut sebetulnya motifnya tidak semuanya masalah “pendapat”, tapi sudah menjurus ke arah “pendapatan”, bayangkan aja kalo orang2 sudah meninggalkan amalan2 bid’ah tersebut, tokoh2nya akan sepi pemasukan, Wallahu A’lam.

    Reply
  14. masyhudiy says:
    15 tahun yang lalu

    yang dimaksud salafi itu kelompok yang mna ya ahki?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      15 tahun yang lalu

      #masyhudi
      silakan simak: http://kangaswad.wordpress.com/2010/03/18/salah-paham-tentang-salafi-2/

      Reply
  15. ashabul muslimin says:
    15 tahun yang lalu

    mau bertanya pak ustazd, apakah dulu Rasulullah menamakan Islam itu Salafy, sehingga kita harus menyebut islam yang benar itu salafy. saya hanya tahu kalau kita harus bermanhaj Sunah Rasulullah SAW dan Sunah para sahabatnya karena itulah Islam yang sebenarnya.

    mereka yang mengaku Islam akan tetapi tidak mengikutiapa yang Rasulullah SAW ajarkan mereka itu adalah ahlul bid’ah padahal sebenarnya mereka itu sudah bukan orang Islam lagi. seperti Islam Liberal, sangat tidak pantas Islam diembel-embeli istilah kafir begitu. sebenarnya mereka itu beragama kafir “liberal” bukan Islam

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      15 tahun yang lalu

      #ashabul muslimin
      Silakan simak: kangaswad.wordpress.com/2011/06/07/sebut-saja-muslim-bukan-salafy/

      Reply
    • Yulian Purnama says:
      15 tahun yang lalu

      #ashabul muslimin
      Silakan simak: http://kangaswad.wordpress.com/2011/06/07/sebut-saja-muslim-bukan-salafy/

      Reply
  16. Face Jawa says:
    15 tahun yang lalu

    mengenai artikel ini, saya memiliki pengalaman. Ada seorang teman saya, pimpinan jamaah shalawat di kampungnya. Dia saya pinjami buku tentang cara bershalawat ala nabi.

    subhanallah, beliau beberapa hari kemudian menelepon saya dan mengatakan bahwa, dia menangis karena selama ini telah memimpin thoriqohnya bershalawat dengan cara yang berlebihan.

    sehingga, subhanallah pada hari ini beliau ‘insyallah’ telah bertaubat dan rujuk denga tatacara bershalawat sesuai perintah nabi.

    Reply
  17. Lucky says:
    13 tahun yang lalu

    Tuduhan wahabi rentan sekali pada para ahli sunnah, jujur, aneh,,, julukan wahabi itu kalo dinisbatkan karena kehati-hatian mereka dalam mengikuti agama, berarti julukan wahabi itu baik dong ya, Arab Saudi saja wahabi katanya.

    Saya habis buka puasa tadi debat sama nenek ane gara2 bahas orang-orang tasawwuf, iman ane gak terima pas nenek ane bilang kiyai fulan bisa melihat orang-orang di akhirat, mendengar orang teriak-teriak dikuburan, ane yg tau jelas itu bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahwa semua makhluk mendengar orang disiksa di kuburan kecuali Jin dan Manusia.

    Terus nenek ane cerita kalo kiyai fulan ga sholat jum’at dimesjid di kampung kami, tapi langsung sholat di mekkah.

    Ane gak heran sih, karena kiyai fulan itu Ahli Tasawwuf (Yang bagi orang awam tasawwuf itu adalah ilmu yg baik)

    Bahkan orang tua protes lagi pas saya tunjukkan dalil,,, mereka bilang “Dijawa kan ada wali yg mati 9 kali”,,, nah itu lebih bertoak belakang pada AL Qur’an dan Hadits.

    Semua keganjilan itu semua dibungkus dengan istilah “Karomah”

    Wallahu’alam, ane hanya bisa husnudzon kepada para ulama, dan kiyai yg mereka ceritakan itu, karena semua cerita tentang karomah menyimpang itu diceritakan dengan sempelan kata “Katanya ….”

    Ilmu Allah memang luas, sumbernya sama AL Qur’an dan Hadits, tapi pemahamannya bisa beda-beda, terserah Allah, jika disesatkan Allah maka sesatlah, jika diberi petunjuk maka tidak akan sesat.

    Tapi jujur saya tidak khawatir pada ahli tasawwuf, wali, ahli bid’ah, dsb, karena itu urusan dia pribadi dengan Allah, saya hanya khawatir pada Syi’ah, dan Ajaran sesat lainnya yg jelas dan nampak kesesatannya.

    Sekali lagi, Ilmu kita dangkal, sangat sensitif bisa terpecah belah umat jika kita terlalu cepat memvonis.

    Soal perselisihan Salafy dan NU bukan urusan kita-kita yg awam ini, semua itu urusan orang alim dikedua kubu tersebut. Karena jika kurang Ilmu maka debat pun bisa kacau. Banyak tuh debat Salafy VS NU yang ujung-ujungnya kalah, kenapa tak sama dengan yg ada diwebsite salafy?, di video-video ceramah salafy?

    Reply
  18. Amer Fadillah says:
    13 tahun yang lalu

    Alhmadulillahi….ketemu juga yang ane cari…

    Reply
  19. Varius says:
    13 tahun yang lalu

    sangat bermanfaat izin share mksh

    Reply
  20. achmad faisol says:
    11 tahun yang lalu

    Mau nanya ustadz:

    Kata ustadz, mengarang shalawat yang
    lafazd/redaksinya tidak dari Rasul Shallallaahu ‘Alayhi wa-Sallamitu
    bid’ah… Kok ulama-ulama salafi juga mengarang (atau setidaknya mencantumkan) shalawat yang redaksinya
    tidak pernah diajarkan Rasul Shallallaahu ‘Alayhi wa-Sallam. Hal ini
    bisa dibuka di kitab-kitab bagian muqaddimah. Ini bid’ah atau bukan,
    ustadz?

    Adapun contoh shalawat yang dikarang (atau setidaknya dicantumkan) ulama salafi bisa
    dibaca di buku/kitab mereka bagian mukadimah. Berikut ini beberapa
    shalawat karangan ulama salafi:
    1. Kitab تيسير علوم الحديث للمبتدئين لعمرو عبد المنعم – مقدمة
    صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم
    2. Kitab منهج النقد عند المحدثين لعمرو عبد المنعم – مقدمة
    صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلّم تسليما كثيرا
    3. Kitab الأصول من علم الأصول للعثيمن- مقدمة المؤلف
    صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليماً
    4. Kitab زادُ الداعِيَة إلى الله للعثيمن- مقدمة المؤلف
    فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليماً
    5. Buku Ringkasan Pokok Aqidah Salafiyyah Tentang Keimanan versi 2 – Maktabah Abu Salma al-Atsari – Lampiran (9 of 40)
    والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن سار على نَهْجِه إلى يوم الدين
    6. Buku Kitab Tauhid Oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab – Alih Bahasa M. Yusuf Harun, MA – Kata Pengantar
    وصلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه ومن اهْتَدَى بهَدْيِه
    7. Kitab صفة صلاة النبي للألباني
    مقدمة الطبعة الجديدة
    والصلاة والسلام على رسول الله و آله وصحبه ومن اهتدى بهديه وصلى بصلاته إلى يوم الدين
    مقدمة الطبعة العاشرة
    والصلاة والسلام على نبيه الصادق الأمين وعلى آله وصحبه الغُرِّ الميامين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
    Bahkan Imam Syathibi pun yang sering dijadikan rujukan oleh ulama salafi mengarang (atau setidaknya mencantumkan) shalawat sbb:
    8. Kitab الإعتصام للشاطبي – خطبة الكتاب (مقدمة المؤلف)
    والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد نبي الرحمة وكاشفِ الغُمَّة…

    Terima kasih saya haturkan atas jawaban ustadz…

    Reply
  21. Mirna says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamualikum, saya ingin bertanya perihal solawat, apakah hukum membaca sholawat munjiyat?

    Reply
  22. Abu Abdurrohman says:
    4 tahun yang lalu

    Bagaimana cara membalas perkataan ‘hanya setan yang tidak suka mendengarkan sholawat’ ketika kita peringatkan kebid’ahan sholawat mereka?

    Reply
  23. Antu Priyambodo says:
    3 tahun yang lalu

    Mohon izin admin, bahwa pada dasarnya Shalawat tidak dibatasi pada hal-hal yang telah di tentukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ada juga perkataan para Shahabat yang termasuk/di anggap sebagai shalawat, dan Rasulullah menyetujuinya. Bagaimana dengan hal ini, apakah ini juga di anggap sebagai hal yang bid’ah?

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah