Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ibnu Taimiyah dan Lisan Beliau yang Terjaga

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. oleh Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.
22 Januari 2021
di Akhlak dan Nasihat
Lisan Ibnu Taimiyah

Lisan Ibnu Taimiyah

Share on FacebookShare on Twitter

Meski banyak orang, baik dari kalangan alim, qadhi, dan amir, yang memusuhi dan memprovokasi agar masyarakat membenci beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berusaha menahan lisan beliau untuk tidak mencela kehormatan mereka dan hanya membalas jika mereka adalah ahli bidah yang menyeru kepada bidah yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, dalam karya beliau tidak ditemukan umpatan kepada seorang pun kecuali ada alasan tepat yang menuntut hal itu. Misalnya, orang tersebut membuat kedustaan atas diri beliau atau agama. Dalam hal itu, beliau pasti akan melakukan bantahan dan menjelaskan kesalahannya. Di saat yang sama, ulama yang berseberangan pendapat dengan beliau, terkadang begitu gampang menggunakan lisan mereka untuk mencela kehormatan, menuduh niat, dan menyalahkan akidah beliau, bahkan sampai pada taraf mengkafirkan dan menghalalkan darah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah pernah mengatakan,

وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه. وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم. وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه

“Beberapa sahabat senior beliau (Ibnu Taimiyah) kerap berucap, ‘Aku berharap bisa bersikap dengan para sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya.’ Saya sama sekali tidak pernah melihat beliau mendoakan musuh agar tertimpa keburukan, bahkan beliau sering mendoakan agar mereka mendapatkan kebaikan.

Baca Juga: Buah Manis Menjaga Lisan

Suatu hari, aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau, sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un). Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut.

Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, ‘Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan, pasti aku akan membantu kalian’; dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut” (Madaarij as-Salikin, 2: 345).

Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah pribadi yang kerap memuji dan menyanjung ulama yang hidup sezaman dengan beliau. Beliau menggelari mereka dengan gelar yang sesuai dengan kedudukan mereka.

Beliau Rahimahullah menyifati Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied Rahimahullah dengan sebutan seorang syekh di masa itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).

Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyifati Syekh Jamaluddin al-Maraghi Rahimahullah dengan sosok yang alim, arif, dan syekh di zaman itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).

Beliau menyebut Tajuddin al-Anbari Rahimahullah sebagai pakar fikih yang utama (Majmu’ al-Fatawa, 2: 246).

Ibnu Taimiyah menyanjung Syekh Imaduddin ‘Abdurrahman ibn Abi ash-Shu’r al-Anshariy Rahimahullah sebagai sosok tokoh dan teladan kami (Majmu’ al-Fatawa, 2: 463, 18: 98).

Beliau bahkan memuji dan menyanjung Syekh Nashr al-Manbaji, seorang yang terkenal memusuhi beliau. Ibnu Taimiyah Rahimahullah bahkan pernah menulis surat kepada Syekh Nashr al-Manbaji Rahimahullah,

مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تَيْمِيَّة: إلَى الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ السَّالِكِ النَّاسِكِ أَبِي الْفَتْحِ نَصْرٍ فَتَحَ اللَّهُ عَلَى بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ مَا فَتَحَ بِهِ عَلَى قُلُوبِ أَوْلِيَائِهِ وَنَصَرَهُ عَلَى شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ فِي جَهْرِهِ وَإِخْفَائِهِ وَنَهَجَ بِهِ الطَّرِيقَةَ الْمُحَمَّدِيَّةَ الْمُوَافِقَةَ لِشِرْعَتِهِ

“Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada Syekh, al-Arif (yang bijak), al-Qudwah (teladan), as-Salik (penempuh jalan ruhani), an-Nasik (pegiat ibadah), Abu al-Fath Nashr, semoga Allah membukakan batiniah dan lahiriahnya, agar memperoleh berbagai karunia yang dianugerahkan ke hati para wali-Nya. Semoga Allah menolongnya dari setan yang berwujud manusia dan jin, baik di kala ramai maupun bersendiri. Dan semoga Allah menjadikan dirinya sebagai sosok yang menjelaskan kepada umat jalan beragama yang sesuai dengan ajaran Muhammad.”

Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Ibnu Taimiyah Rahimahullah melanjutkan,

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَنْعَمَ عَلَى الشَّيْخِ وَأَنْعَمَ بِهِ نِعْمَةً بَاطِنَةً وَظَاهِرَةً فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَجَعَلَ لَهُ عِنْدَ خَاصَّةِ الْمُسْلِمِينَ – الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا – مَنْزِلَةً عَلِيَّةً وَمَوَدَّةً إلَهِيَّةً؛ لِمَا مَنَحَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ مِنْ حُسْنِ الْمَعْرِفَةِ وَالْقَصْدِ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak hanya menganugerahkan berbagai kenikmatan batin dan lahir kepada Syekh Nashr, tetapi juga menjadikan beliau sosok yang menebarkan kenikmatan batin dan lahir bagi sesama dalam hal agama maupun dunia. Allah Ta’ala menganugerahkan beliau kedudukan yang mulia dan kecintaan yang tulus di hati kaum muslimin yang istimewa, yaitu mereka yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Semua itu diperoleh karena makrifah dan niat tulus yang dikaruniakan Allah Ta’ala pada beliau.”

Di akhir surat, Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendoakan Syekh Nashr dengan ucapan beliau,

وأنا أسأل الله العظيم أن يصلح أمر المسلمين عامتهم وخاصتهم ويهديهم إلى ما يقربهم وأن يجعل الشيخ من دعاة الخير الذين قال الله سبحانه فيهم : { ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون}

“Saya memohon kepada Allah, Dzat yang Mahaagung, agar memperbaiki setiap urusan kaum muslimin, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka agar mampu mengerjakan segala hal yang bisa mendekatkan hati dan menjadikan Syekh Nashr sebagai sosok penyeru kebaikan seperti yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, ‘Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’” (Majmu’ al-Fatawa, 2: 452-479).

Itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Beliau bukanlah sosok yang menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Bukan pula sosok yang gemar mencela kaum muslimin, apalagi karena kesalahan mereka dalam berijtihad. Hati beliau tidak memuat kedengkian kepada musuh, bahkan beliau memuji dan menyanjung mereka. Hal menunjukkan keutamaan mereka kepada kaum muslimin dan mengakui keunggulan mereka.

Maka, sepatutnya bagi orang yang mengaku mencintai Ibnu Taimiyah untuk berhias dengan sifat dan akhlak beliau.

Baca Juga:

  • Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media
  • Kendalikan Lisan

***

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Artikel: Muslim.or.id 

ShareTweetPin2
Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta,

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya
Sembuh Dari Penyakit WasWas

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)

Komentar 1

  1. Akbar Firmansyah says:
    5 tahun yang lalu

    Jazakallah khoiron ustadz…izin copas yah..

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah