Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bagaimanakah Para Salaf Menjaga Takbiratul Ihram Bersama Imam

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
15 November 2020
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihram
  • Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imam
  • Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)

[lwptoc]

Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihram

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.

Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat Berjamaah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)

Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ

maksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).

التَّكْبِيرَةَ الأُولَى

Maksudnya, takbiratul ihram bersama imam.

بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ

Maksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.

وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

Maksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.

Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imam

Para ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.

Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,

كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة

“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)

Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat Berjamaah

Ghassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)

Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)

Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.

Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)

Abu Daud rahimahullah berkata,

كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا

“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)

Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)

Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)

Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah,

“Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)

Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,

“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.

Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.

Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”

Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”

Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.

Baca Juga:

  • Adab Shalat Berjamaah di Masjid
  • Rajin Shalat Tarawih Tapi Tidak Shalat Wajib Berjamaah di Masjid

[Selesai]

***

@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim

 Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya

Shalat, di antara Wasiat Terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah