fbpx

Pentingnya Pemahaman dalam Mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Pentingnya Pemahaman dalam Mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini karena mayoritas manusia diberikan ilmu, namun tidak diberikan pemahaman (al-fahmu). Tidaklah cukup bagi seseorang kalau hanya menghapal Al-Qur’an dan menghapal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mudah baginya, namun tidak memiliki pemahaman. Betapa banyak orang yang berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga dengan itu, mereka pun terjatuh dalam kesesatan.

Salah dalam pemahaman itu lebih berbahaya

Oleh karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kesalahan dalam pemahaman itu lebih berbahaya daripada kejahilan (tidak berilmu sama sekali). Hal ini karena seseorang yang bodoh, kemudian terjatuh dalam kesalahan, dia tahu bahwa dia tidak berilmu (bodoh) sehingga hal itu mendorong dirinya untuk belajar.

Adapun orang yang salah dalam pemahaman, dia mengira bahwa dirinya orang yang berilmu. Dia juga mengira apa yang dia pahami itu adalah apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Baca Juga: Makna Kata “Al Wail” di Dalam Alquran

Antara Nabi Dawud dan Sulaiman ‘alaihimassalaam

Allah Ta’ala berfirman,

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)

Dalam masalah ini, Allah Ta’ala memberikan keutamaan lebih kepada Nabi Sulaiman ‘alahis salaam dibandingkan dengan Nabi Dawud ‘alaihis salaam, karena adanya pemahaman yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman ‘alahis salaam. Allah Ta’ala mengatakan,

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ

“Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”

Namun, hal itu bukanlah celaan terhadap ilmu Nabi Daud ‘alaihis salaam, karena Allah Ta’ala mengatakan,

وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً

“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”

Perhatikanlah ayat ini, kita bisa melihat bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman berupa pemahaman. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pula keutamaan Nabi Daud ‘alaihis salaam,

وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ

“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.”

Sehingga mereka pun saling mengungguli satu sama lain. Meskipun ada dua hal yang mereka berserikat (sama) di dalamnya, yaitu hikmah dan ilmu. Lalu Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang membuat masing-masing dari mereka lebih unggul dari yang lain. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman (al-fahmu).

Baca Juga: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran

Contoh salah dalam pemahaman

Contoh dalam pemahaman adalah kasus semisal ini. Jika ada dua wadah, satu wadah berisi air hangat dan satu wadah berisi air dingin. Ketika itu sedang musim dingin, dan ada seseorang yang ingin mandi wajib (mandi janabah). Sebagian orang akan berkata bahwa yang lebih afdhal (lebih utama) adalah memakai air dingin, Karena jika memakai air dingin, kondisinya lebih berat (ada masyaqqah), sehingga lebih besar pahalanya. Kemudian di pun berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)

Di manakah kesalahan dalam kasus ini?

Kesalahannya terletak dalam masalah pemahaman. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, 

إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ

”Menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Pilihlah air dingin ketika wudhu.”

Dua ungkapan ini jelas sekali berbeda. Karena maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah dinginnya air mencegah seseorang dari menyempurnakan wudhu. 

Selain itu, Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. (QS. Al Baqarah (2): 185)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39) 

Sangat jelas bahwa Allah Ta’ala menghendaki kemudahan kepada para hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan.

Baca Juga:

***

@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 23-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email

About Author

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. »

Leave a Reply