Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Menjaga Lisan dari Ucapan-Ucapan Kotor (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
15 Oktober 2019
di Akhlak dan Nasihat
Menjaga Lisan dari Ucapan-Ucapan Kotor
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Dosa yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke Neraka
    • Dosa Akibat Buruknya Lisan
  • Menjaga Lisan Adalah Sumber Keselamatan
  • Menjaga Lisan Adalah Pokok-Pokok Kebaikan
  • Catatan Kaki

Baca pembahasan sebelumnya Menjaga Lisan dari Ucapan-Ucapan Kotor (Bag. 1)

[lwptoc]

Dosa yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke Neraka

Dosa (karena) lisan adalah di antara perbuatan yang paling banyak memasukkan ke neraka

Dosa lisan termasuk dalam dosa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Hal ini karena bisa jadi seseorang sangat hati-hati menjaga dirinya dari makanan yang haram, namun ceroboh dan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisannya. 

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang (amal) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ

“Takwa kepada Allah Ta’ala dan akhlak yang baik.”

Baca Juga: Larangan Mengolok-olok Fisik Orang Lain (Body Shaming)

Dosa Akibat Buruknya Lisan

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الفَمُ وَالفَرْجُ

“(Dosa) lidah dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Dosa yang disebabkan oleh lisan dan dosa yang disebabkan oleh kemaluan (yaitu berzina) adalah dosa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Karena sebab lisan inilah seseorang bisa terjerumus dalam banyak masalah. Sebagaimana yang bisa kita saksikan di jaman ini, betapa mudahnya seseorang menulis status di media sosial, berkomentar sana-sini, setelah itu dia pun mendapatkan banyak masalah karena status dan komentarnya. 

Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau suatu ketika menemui Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang sedang menarik lidahnya. ‘Umar berkata kepada Abu Bakr,

مَهْ. غَفَرَ اللهُ لَكَ

“Ada apa ini, semoga Allah Ta’ala mengampunimu.”

Abu Bakr berkata,

إِنَّ هذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ

“Sesungguhnya (lidah) ini menjerumuskan kita dalam banyak masalah.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ 2: 988 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11841)

Oleh karena itu, perkara (dosa) lisan adalah perkara yang paling dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menimpa para sahabatnya.

Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Abdullah Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah, ceritakan (sampaikan) padaku suatu hal yang bisa aku jadikan sebagai pedoman.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan, “Rabbku adalah Allah”, kemudian istiqamahlah.” 

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang paling Engkau takutkan padaku?” 

Beliau memegang lidah beliau, lalu menjawab, 

هَذَا

“Ini.” (HR. Tirmidzi no. 2410 dan Ibnu Majah no. 3972, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Baca Juga: Bahaya Mengejek Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Menjaga Lisan Adalah Sumber Keselamatan

Sehingga siapa saja yang dapat menahan dan menjaga lisannya, hal itu adalah sumber keselamatan baginya. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ

“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dapat menjamin bagiku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (yaitu mulut, pen.) dan di antara kedua kakinya (yaitu kemaluan, pen.), maka aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari no. 6474)

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan dengan lafadz,

مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan sesuatu yang ada di antara kedua jambangnya (yaitu lisan, pen.) dan kejahatan apa yang ada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluan, pen.), maka dia masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 2409, dinilai hasan shahih oleh Al-Albani)

Baca Juga: Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?

Menjaga Lisan Adalah Pokok-Pokok Kebaikan

Tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa menjaga lisan adalah di antara pokok kebaikan. Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang, di akhir hadits disebutkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ

“Maukah Engkau aku kabarkan dengan sesuatu yang menjadi kunci itu semua?” 

Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” 

Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda, 

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

“Tahanlah (lidah)-mu ini.” 

Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?” 

Beliau menjawab, 

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! [1] Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi no. 2616, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Baca Juga: 4 Pilar Utama Bagi Pengusaha Muslim

Menjaga Lisan Adalah Tanda Benarnya Iman

Mengingat betapa besar bahaya dosa lisan, kita dapati petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengaitkan benarnya keimanan seseorang dengan apa yang keluar dari lisannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya [2]. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 47. Lafadz hadits ini milik Bukhari.)

Ucapan yang baik itu bisa dilihat dari bagaimanakah niat seseorang ketika mengucapkannya. Bisa juga dilihat dari cara penyampaiannya dan juga akibat (dampak) dari ucapan tersebut. Inilah tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam mengucapkan sebuah kalimat.

Seseorang yang benar dan jujur imannya kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, tentu dia akan menjaga lisannya, dia hanya mengucapkan ucapan-ucapan yang baik. Ketakwaan dan isi hatinya, akan tercermin dari apa yang keluar dari lisannya.

Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan tunduk kepada lisan lalu berkata, “Takutlah kepada Allah untuk kami, kami bergantung padamu. Bila Engkau lurus, kami pun lurus. Dan bila Engkau bengkok, kami pun bengkok.” (HR. Tirmidzi no. 2407, dinilai hasan oleh Al-Albani) 

Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua, terutama di jaman kita sekarang ini. [3]

Baca Juga:

  • Mengenal Sihir Dan Bahayanya
  • Kafirkah Kaum Mukminin Yang Saling Berperang?

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 18 Dzulhijjah 1440/19 Agustus 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan Kaki

[1] Ini adalah ungkapan untuk menunjukkan keheranan. 

[2] Terdapat beberapa pendapat di kalangan ulama tentang definisi tetangga. Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah mengembalikan definisi tersebut kepada adat budaya masing-masing daerah.

[3] Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 73-78.

ShareTweetPin100
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya
Apakah Minum Nabeez Sunnah Ta’abbud

Apakah Minum Nabeez (Rendaman Kurma) adalah Sunnah Ta’abbud?

Komentar 1

  1. Ibnu says:
    6 tahun yang lalu

    Ijin simpan

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah