Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hanya Ada Waktu-Waktu Sisa untuk Belajar Ilmu Agama

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
4 Juni 2019
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kita menengok sejarah hidup kita ke belakang, betapa sabarnya kita dalam mempelajari ilmu-ilmu duniawi.

Kita masuk TK saat masih usia 4 atau 5 tahun, setelah itu 6 tahun di bangku sekolah dasar (SD), lalu 3 tahun di bangku sekolah menengah tingkat pertama (SMP), lalu 3 tahun di bangku sekolah menengah atas (SMA), setelah itu melanjutkan kuliah sarjana 4 tahun. Sebagian orang tidak berhenti sampai di sini. Masih lanjut lagi sekolah magister selama 2 tahun, lalu doktor selama 4 atau 5 tahun, atau bahkan lebih lama dari itu.

Baca Juga: Inilah Derajat Mulia Penuntut Ilmu Agama

Kita menjalani hari-hari itu dengan penuh kesabaran, berangkat pagi, pulang sore atau malam, kadang-kadang begadang. Kita sabar ketika mengerjakan PR, dan bersabar pula ketika menghadapi ujian.

Jika demikian semangat kita belajar ilmu duniawi, lalu bagaimana dengan ilmu agama?

Tidak ada kesabaran, tidak ada ketekunan, tidak ada kegigihan, tidak ada pengorbanan berarti untuk mencarinya. Semua serba ingin instan, cukup googling lalu berfatwa. Duhai, di manakah keadilan itu?

Jika kita bisa bersabar dalam belajar ilmu duniawi, dari sekolah dasar hingga sarjana, mengapa kita tidak bisa bersabar dalam belajar ilmu agama?

Ketika hari-hari kita disibukkan dengan urusan dunia, lalu lalai dengan urusan akhirat, dari situlah awal mula munculnya kebinasaan.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله يبغض كل جعظري جواظ سخاب في الأسواق جيفة بالليل حمار بالنهار عالم بالدنيا جاهل بالآخرة

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci semua orang yang berkata keras, kasar lagi sombong; orang yang rakus namun pelit; orang yang bersuara gaduh, suka berdebat dan juga sombong di pasar; orang yang tidak pernah bangun malam (tidur sepanjang malam); hanya sibuk dengan dunia di waktu siang; sangat pandai dengan urusan dunia; namun bodoh dengan urusan akhirat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra 10: 194. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1878)

Baca Juga: Meraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’i

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang-orang yang di waktu siang hanya sibuk dan rakus mencari dunia, dan ketika malam tiba, dia habiskan untuk tidur tanpa terpikir untuk bangun shalat malam. Tidak berpikir untuk memperbaiki urusan akhiratnya.

Apakah itu adalah potret diri-diri kita? Bisa jadi itulah potret kehidupan kita.

Kita ingin menjadi ahli dan profesional dalam urusan duniawi. Kita ingin menjadi rujukan dalam ilmu duniawi. Kita ingin diakui sebagai pakar dalam urusan duniawi. Untuk itulah kita rela sekolah sampai perguruan tinggi, karena kita tidak ingin menjadi orang awam dalam urusan dunia. Kita tidak ingin memiliki pendidikan rendahan yang hanya setara SD atau SMP. Akan tetapi, untuk urusan akhirat, kita hanya rela menjadi orang awam.

Betapa kita semangat belajar bahasa Inggris, karena itulah salah satu sarana meraih dunia. Namun kita cuek dengan bahasa Al-Qur’an, yaitu bahasa Arab.

Inilah yang juga Allah Ta’ala cela dalam firman-Nya,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.” (QS. Ar-Ruum [30]: 7)

Baca Juga: Ilmu Waris, Ilmu yang Terlupakan

Sebagian orang, mereka sangat mahir dalam urusan duniawi. Hanya dengan memegang sedikit perhiasan emas, mereka bisa tahu apakah ini emas asli ataukah palsu. Kalau asli maka berapa karat kadarnya, dan seterusnya.

Juga sebagian orang jika ditunjukkan sebuah motor, dia bisa tahu detil motor ini keluaran tahun berapa, jika dijual kira-kira laku berapa, dan seterusnya.

Juga sebagian orang sangat paham detil nama pemain sepak bola, posisinya sebagai apa, musim depan dia kemungkinan dijual ke mana, berapa kira-kira harga transfernya, dan seterusnya. Padahal tidak ada manfaatnya untuk dia, bahkan manfaat duniawi sekalipun tidak ada.

Namun …

Ketika ditanya, apa yang harus dilakukan ketika lupa bilangan rakaat shalat, kita bingung menjawabnya.

Ketika ditanya bagaimanakah melakukan tayammum yang benar ketika tidak ada air, kita kebingungan.

Ketika ditanya bagaimanakah ketentuan meng-qashar shalat ketika mereka bepergian jauh, kita tidak tahu.

Ketika ditanya bagaimanakah mereka harus membayar zakat mal, kita pun tidak mau tahu.

Mungkin inilah potret-potret diri kita, termasuk penulis sendiri, yang begitu bersemangat dengan gemerlap duniawi dan kemewahan di dalamnya, namun lalai dengan kehidupan akhirat dan sarana-sarana yang bisa mengantarkan kita untuk bahagia di akhirat.

Bukan berarti ilmu duniawi itu tidak penting dan tidak manfaatnya. Bukan demikian. Karena kalau ilmu duniawi tersebut bermanfaat, dan kita pun belajar dengan niat yang benar, maka insyaa Allah berpahala. Yang kita sesali hanyalah ketidakadilan dan ketimpangan dalam menyikapi ilmu agama, yang hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dari kehidupan kita. Atau bahkan tidak ada alokasi waktu sama sekali untuk mempelajarinya.

Baca Juga:

  • Pentingnya Memahami Ilmu Ushul Fiqh dan Qawa’id Fiqhiyyah
  • Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 25 Ramadhan 1440/30 Mei 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin1
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya

Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar Ramadhan

Komentar 2

  1. Chan says:
    7 tahun yang lalu

    Ya allah… Benar” jd nasihat. Jazakallah. Izin mengcopy artikel nyaa

    Reply
  2. Fahrudin says:
    5 tahun yang lalu

    Awaluddin ma’rifatullah . Awal agama adalah MENGENAL ALLAH .
    engkau kenal Allah ? Kalau kenal kenal apanya ? Kenal nama bila TAK KENAL DGN YG PUNYA NAMA BISA KELIRU tentunya .
    Pikir . Renungkan .

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah