Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Pribadi Teladan

Ari Wahyudi, S.Si. oleh Ari Wahyudi, S.Si.
3 Oktober 2010
di Tazkiyatun Nufus
pribadi teladan
Share on FacebookShare on Twitter

Banyak kita temukan gambaran mengenai pribadi teladan di dalam untaian ayat-ayat al-Qur’an. Di antaranya adalah apa yang digambarkan Allah ta’ala di dalam ayat (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa saja yang mampu mereka persembahkan sementara hati mereka merasa takut; bagaimanakah nasib mereka kelak ketika dikembalikan kepada Rabb mereka.” (QS. al-Mu’minun: 60). Inilah gambaran ideal seorang mukmin. Sosok yang mempersembahkan ketaatan dengan sebaik-baiknya. Di saat yang sama, dia juga merasa takut kalau amalannya tidak diterima.

Sebagaimana yang masyhur dari ucapan Hasan al-Bashri rahimahullah, “Seorang mukmin memadukan antara ihsan -perbuatan baik dalam hal amal- dan rasa takut. Adapun seorang munafik -atau fajir- memadukan antara isa’ah/perbuatan jelek dan perasaan aman -dari hukuman Allah-.”

Pribadi semacam ini tak mudah untuk dijumpai, namun bukan berarti tidak ada. Para Sahabat Nabi adalah barisan terdepan dalam mewujudkan keteladanan ini dalam hidup mereka.

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.”

Padahal, kita semua mengetahui betapa agung kedudukan para Sahabat yang dikatakan oleh sebagian salaf bahwa iman mereka itu laksana gunung. Bahkan, sampai-sampai dikatakan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu dalam sebuah riwayat yang disandarkan kepada beliau, “Seandainya iman Abu Bakar [saja] ditimbang dengan iman segenap umat ini -selain para Nabi- niscaya iman Abu Bakar yang lebih berat.” Subhanallah!

Kebanyakan orang tatkala berhasil melakukan kebaikan terlalu larut dengan rasa gembira karena keberhasilannya. Seolah-olah dirinyalah yang ‘menciptakan’ keberhasilan itu. Sehingga tidak jarang muncul dari lisan atau tingkah lakunya yang mencerminkan perasaan ini.

Lupa diri, itulah yang terjadi. Fenomena semacam ini sungguh memprihatinkan. Karena perasaan semacam ini akan menyeret pelakunya kepada ujub yang oleh para ulama dimasukkan dalam kategori syirik; sebab orang yang ujub mempersekutukan Allah dengan -kemampuan- dirinya sendiri (sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rayyis hafizhahullah dalam salah satu ceramah beliau). Oleh karena itu, kalau kita bandingkan kondisi kita hari ini dengan para salafus shalih dahulu, amatlah jauh! Bagaikan langit dengan [dasar] sumur, begitu kata orang…

Suatu ketika, Aisyah radhiyallahu’anha -seorang istri Nabi yang sangat cerdas- bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kandungan ayat dalam surat al-Mu’minun di atas, “Apakah mereka itu -yang merasa takut- adalah orang-orang yang suka minum khamr, berzina, atau mencuri?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan, wahai putri ash-Shiddiq! Akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang suka berpuasa, mengerjakan sholat, dan rajin bersedekah, namun mereka khawatir kalau-kalau amalan mereka itu tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan.” (HR. Tirmidzi, lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amalu, hal. 17).

Mereka menyadari bahwa apa yang mereka persembahkan kepada Allah jauh daripada yang semestinya diterima oleh-Nya. Mereka tidak su’udzan kepada Allah, namun su’udzan kepada dirinya sendiri. Bagi mereka semua kebaikan yang mereka lakukan adalah berkat taufik dari-Nya, bukan hasil jerih payah mereka sendiri. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari-Nya. Kalaulah Allah menerima amal mereka itu jelas karena kemurahan dari-Nya. Namun, kalau misalnya tidak diterima oleh-Nya, maka hal itu semata-mata karena kekurangan dan keteledoran diri mereka, sehingga apa yang mereka persembahkan tidak layak untuk-Nya (lihat al-Fawa’id, hal. 36).

Demikianlah keadaan orang yang mengenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Wallahul musta’aan.

Baca juga: Menjadi Teladan yang Menginspirasi

—

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin1
Ari Wahyudi, S.Si.

Ari Wahyudi, S.Si.

Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".

Artikel Terkait

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

oleh Glenshah Fauzi
13 Juli 2026
0

Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman...

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
0

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Artikel Selanjutnya

Keutamaan Menyebarkan Ilmu Agama

Komentar 4

  1. dedi says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum war.wab
    terima kasih atas artikelnyaa yang bermanfaat
    mohon ijin untuk menerbitkan diweb saya
    wassalamu’alaikum War.Wab

    Reply
  2. ardi mufrodi says:
    16 tahun yang lalu

    assalamualaikum redaksi muslim.or.id
    sy cm mau ngsh saran gmn klo tulisannya d buat lbh mnarik jd pmbc tdk jnuh mmbcny
    trmksh

    Reply
  3. heru nuryadin says:
    16 tahun yang lalu

    Berikan pemahaman yg jelas trims

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah