Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 11)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
30 Agustus 2018
di Hadis
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Petikan Hadits
  • Penjelasan
  • Petikan Hadits
  • Penjelasan
    • Faedah:
  • Kesimpulan
  • Petikan Hadits
  • Penjelasan
  • Tarbiyyah Imaniyyah dalam Istikharah

Baca pembahasan sebelumnya Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 10)

Petikan Hadits

ثُمَّ أَرْضِنِي

“Kemudian jadikanlah aku ridho dengan takdir tersebut.”

Penjelasan

Maksudnya: jadikanlah aku ridho dengan kebaikan yang Engkau taqdirkan untukku sehingga aku semangat dalam menjalaninya, karena aku tidak tahu hasil akhirnya nanti, dan ridho terhadap keburukan yang ditaqdirkan dijauhkan dariku, sehingga aku tidak kecewa dan tidak pula bersedih.

Karena bisa jadi seseorang ditaqdirkan kebaikan untuknya, namun ia memandangnya sebagai keburukan sehingga hatinya menjadi membencinya

Atau sebaliknya, ditaqdirkan keburukan jauh darinya, namun justru ia memandangnya sebagai kebaikan sehingga hatinya menjadi kecewa, dan bersedih terluput dari mendapatkannya.

Ia berharap ridho terhadap pilihan Allah untuknya, yaitu tidak ada dalam hatinya keterikatan dengan keburukan yang telah dipalingkan darinya sehingga hatinya tidak galau, tidak pula gusar dan tak gundah gulana. Dan ridho dengan kebaikan penggantinya. Dan ridho adalah tenang dan lapang dada menerima taqdir.

Petikan Hadits

وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Penjelasan

Akan tetapi apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui urusan ini berdampak buruk bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku, atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:….duniaku atau akhiratku-, maka jauhkan urusan tersebut dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengan takdir tersebut.”, ini menunjukkan bahwa terkait dengan keburukan, seorang hamba membutuhkan empat perkara, yaitu:

  1. Dijauhkan keburukan darinya,
  2. Dijauhkan dirinya dari keburukan,
  3. Diberi kebaikan sebagai pengganti keburukan yang dipalingkan,
  4. Dijadikan ridho dengan pilihan Allah tersebut.
Faedah:

– Permohonan agar dijadikan ridho dengan pilihan Allah itu menunjukkan bahwa orang yang Allah telah beri nikmat, selayaknyalah ia ridho terhadapnya sehingga menjadi sempurna keberkahan untuknya, namun sebaliknya, jika ia menggerutu, tidak puas, dan tidak ridho dengan kebaikan yang didapatkannya, maka bisa jadi Allah hilangkan nikmat tersebut.

– Orang yang telah mendapatkan pilihan hasil istikharahnya dan telah mengambil pilihan itu sesuai Sunnah, hendaknya ia jauhkan hatinya dari ketergantungan dengannya, dan hendaknya ia menyandarkan hati hanya kepada Allah dan berprasangka baik kepada-Nya sehingga tenang hidupnya, tidak menghabiskan waktunya dengan kesedihan,penyesalan dan ketakutan terhadap akibat urusannya. Ia meyakini semua yang terluput, pasti ada hikmah-Nya, dan mensikapinya dengan bersabar serta mengharap pahala kepada Allah, serta melakukan usaha baru yang diperlukan.

 

Kesimpulan

Orang yang beristikharah hakekatnya memohon didapatkannya kebaikan dan terhindar dari keburukan, yaitu ia memohon tujuh perkara:

  1. Allah mentaqdirkan kebaikan untuknya sehingga ia diberi kemampuan untuk mendapatkan atau melakukannya.
  2. Allah memudahkan kebaikan itu untuknya, karena kebaikan kalau sulit dan memberatkan akan membutuhkan pengorbanan tenaga, pikiran, harta, dan waktu yang besar, sehingga bisa jadi ia lemah semangat dalam mendapatkannya atau menyelesaikannya.
  3. Allah memberkahi kebaikan tersebut untuknya, sehingga ia mendapatkan manfaat yang banyak dan terus menerus, karena suatu perkara itu kalau tidak diberkahi, bisa cepat hilang atau manfaatnya sedikit.
  4. Dijauhkan keburukan darinya,
  5. Dijauhkan dirinya dari keburukan,
  6. Diberi kebaikan sebagai pengganti keburukan yang dipalingkan,
  7. Dijadikan ridho dengan pilihan Allah tersebut.

Dan sesungguhnya, baru sebatas melakukan dua ibadah yang agung : sholat dan doa Istikharah saja, seseorang telah mendapatkan kebaikan, manfaat, keberkahan yang besar dengan keduanya, bagaimana lagi apabila ditambah dengan tujuh perkara diatas??

Subhanallah! Wallahi, begitu luasnya kasih sayang dan karunia Allah, Robb kita kepada diri kita!! Dan begitu ruginya seseorang yang tidak perhatian kepada Istikharah, sedangkan ia mengakui bahwa ia adalah manusia yang lemah, sedangkan Allah Maha Sempurna dan Maha Kasih Sayang, serta Maha Kuasa atas segala sesuatu!

Petikan Hadits

Ia (Jabir atau perowi selainnya) berkata:

وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

“Dan orang tersebut menyebutkan urusannya.”

Penjelasan

Yang berkata disini adalah perowi, yaitu : Jabir atau perowi selainnya. Berkata Syaikh Ali Al-Qori dalam Mirqotul Mafatih syarhu Misykatul Mashabih:

( قال ) ، أي : الراوي وهو جابر أو غيره ( ويسمي حاجته ) ، أي : عند قوله هذا الأمر

“Ia berkata”, maksudnya : perowi, yaitu Jabir atau selainnya.

“Dan orang tersebut menyebutkan urusannya”, maksudnya: ketika sampai pada kata: هَذَا الْأَمْرَ” (diganti dengan menyebutkan apa urusannya).

 

Tarbiyyah Imaniyyah dalam Istikharah

Didalam syari’at Istikharah terdapat edukasi iman atau tarbiyyah imainyyah sehingga mengokohkan keimanan dan membuahkan kepribadian muslim yang positif, dinamis, optimis, sabar, dan tegar, yang semua itu menyebabkan keridhoan Allah.

Beberapa hal dalam syari’at Istikharah yang dengannya Allah mentarbiyyah keimanan hamba-Nya adalah:

  1. Prinsip memperoleh sesuatu dengan berusaha mengambil sebab, karena Istikharah adalah sebab yang besar untuk didapatkannya kebaikan dan terhindar dari keburukan.
  2. Kesempurnaan ketundukan dan perendahan diri kepada Allah Ta’ala, karena ia mempersembahkan ibadah yang agung: sholat dan doa kepada-Nya.
  3. Ketenangan dan menghindari kegalauan dalam mengambil keputusan dengan menyandarkan hati kepada Allah serta mengambil sebab yang Syar’i.
  4. Kepercayaan dan keyakinan kepada Allah di atas kepercayaannya kepada selain Allah berupa kepercayaan terhadap berbagai macam sebab yang diambil, karena Allah-lah Sang Penyebab sebab, dan semuanya tergantung kepada-Nya. Dan ini membuahkan tawakal hanya kepada Allah Sang Penyebab sebab, dan bukan tawakal kepada sebab!

 

Referensi:

  1. Fathul Bari Syarh Shahihul Bukhari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rahimahullah.
  2. 80 Faidah min du’ail Istikharah, Syaikh ‘Uqail Salim (http://www.alukah.net/sharia/0/4022/#ixzz5KXyldfUc)
  3. Mirqotul Mafatih syarhu Misykatul Mashabih,Syaikh Ali Al-Qori rahimahullah.
  4. Dua’u shalatil Istikharah (https://kalemtayeb.com/safahat/item/1673)
  5. Sunan Ibnu Majah Syarah As-Sindi, Abul Hasan As-Sindi rahimahullah.

 

Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Artikel. Muslim.or.id

ShareTweetPin1
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

oleh Muhammad Insan Fathin
19 Maret 2026
0

Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama...

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Februari 2026
0

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar...

Hadis Arbain An-Nawawiyah

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 3): Hadis 2, Iman, Islam, dan Ihsan

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 November 2025
1

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ...

Artikel Selanjutnya

Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah