Amalku Buah dari Ilmu (Bag. 5)

Amalku Buah dari Ilmu (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Amalku Buah dari Ilmu (Bag. 4)

Bismillah…

Kelima, para salafussholih bergegas mengamalkan ilmu.

Diantara pemaparan yang dapat memperjelas pentingnya topik ini adalah, kisah para salaf dalam hal bergegasnya mereka mengamalkan ilmu sangat menakjudkan. Tidak cukup di sini, mereka juga dapat istiqomah mengamalkan setiap ilmu yang mereka dapat. Begitu mendengarnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atau mendengar hadis beliau shallallahu’alaihi wa sallam, langsung mereka amalkan dan mereka dapat istiqomah mengamalkannya. Kisah mereka dalam hal ini sangat mengagumkan.

Belajar dari Para Sahabat

Banyak riwayat yang menerangkan perhatian dan kesadaran mereka dalam mengamalkan ilmu sangat besar. Diantaranya kisah-kisah berikut :

Kisah Fatimah radhiyallahu’anha puteri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana yang terekam dalam hadis Ali radhiyallahu’anhu, terdapat dalam Shahih Bukhori (no. 5362) dan Shahih Muslim (no. 2727). Ketika Fatimah curhat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta pembantu. Lantas Nabi memberinya petuah,

أولا أدلك على ما هو خير لك من خادم؟! إذا أويت إلى فراشك تسبحين الله تعالى ثلاثاً وثلاثين، وتحمدينه ثلاثاً وثلاثين، وتكبرينه أربعاً وثلاثين

Maukah kamu saya beritahu suatu hal yang lebih baik dari pembantu?! Jika kamu beranjak tidur bertasbihlah 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x.

Setelah mendengar pesan ini, Ali radhiyallahu’anhu mengatakan,

فما تركتها منذ سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم

Semenjak saya mendengarnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, tak pernah sekalipun saya tinggalkan.

Seorang bertanya kepada, “Sampaipun saat malam hari perang Sifin?” Yaitu peperangan yang sangat terkenal, yang tentu saja kondisi sedang berkecamuk. Namun apakah Ali meninggalkan petuah Nabi yang mulia ini? Kita simak jawaban Ali radhiyallahu’anhu,

ولا ليلة الصفين

“Sampaipun malam hari perang sifin, dzikir ini tidak aku tinggalkan !!”

Kisah berikutnya diriwayatkan oleh Dawud bin Abu Hindun, dari Nu’man bin Salim, dari Amr bin Aus beliau menceritakan,” ‘Anbasah bin Abu Sufyan menyampaikan sebuah hadis saat beliau mengalami sakit yang beliau meninggal dunia karena penyakit tersebut, “Aku mendengar Ummu Habibah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً في يوم وليلة بني لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang mengerkan shalat sebanyak 12 raka’at (shalat sunah rawatib), maka akan Allah bangunkan untuknya rumahnya di surga.”

Mendengar pesan agung ini, Ummu Habibah mengatakan,”Semenjak aku mendengar pesan ini dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

Kemudian sikap Ummu Habibah dicontoh oleh ‘Anbasah, ”Semenjak aku mendengar pesan ini dari Ummu Habibah, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

Terus diikuti oleh para perawi setelah beliau, Amr bin Aus,”Semenjak aku mendengar pesan ini dari ‘Anbasah, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

Nu’man bin Salim mengatakan, ”Semenjak aku mendengar pesan ini dari Amr bin Salim, tak pernah sekalipun aku tinggalkan!”

(HR. Muslim, no. 722)

Kisah senada dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu’anhu, berliau pernah mengtakan,

أوصاني حبيحبي صلى الله عليه وسلم بثلاث لن أدعهن ما عشت

“Kekasihku shallallahu’alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku 3 hal, yang tak akan aku tinggalkan selama hidupku…” Kemudian beliau menyebutkan wasiat-wasiat itu. (HR. Muslim, no. 728)

Berikutnya kisah sahabat belia yang bernah Umar bin Abi Salamah radhiyallahu’anhu, beliau sendiri bercerita,

كنت غلاما في حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم, وكانت يدي تطيش في الصحفة, فقال لي : يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك

“Saat aku masih kanak-kanak, aku berada di asuhan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika itu saat aku makan, tanganku berkelana kemana-mana di nampan. Kemudian Nabi menasehatiku, “Ucapkan bismillah nak… makanlah dengan tangan kananmu kemudian makanlah makanan yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022).

Dalam riwayat Bukhori ditambahkan,

فما زالت تلك طعمتي بعد

“Semenjak itu, cara makanku seperti yang dinasehatkan Nabi.”

Coba perhatikan di sini, biasanya anak-anak tak cukup sekali duakali untuk bisa menerima arahan. Namun lihat sahabat belia ini, cukup sekali nasehat langsung beliau kerjakan.

“Semenjak itu, cara makanku seperti yang dinasehatkan Nabi…”

Kisah ini satu sisi menunjukkan kesegeraan mereka dalam mengamalkan ilmu, kemudian sisi yang lain menunjukkan kontinyu mereka dalam mengamalkan ilmu.

Belajar dari Generasi Setelah Sahabat

Kisah-kisah tak kalah menarik juga dari orang-orang hebat di generasi setelah sahabat.

Diantaranya ucapan Sufyan Ats-Tsauri radhiyallahu’anhu,

ما بلغني حديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم الا عملت به

Tak satupun hadis dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam sampai kepadaku melainkan aku amalkan.

Amr bin Qois mengatakan,

اذا بلغك الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعمل به ولو مرة تكن من أهله

Jika ada hadis Rasulullah shallallahualaihi wa sallam sampai kepadamu maka amalkan meski hanya sekali, niscaya anda akan menjadi ahli dalam mengamalkan hadis itu.

Amalkan walau sekali, maksudnya hadis-hadis yang menerangkan amalan sunah. Adapun amalan wajib, tidak cukup dengan mengamalkan sekali kemudian dia bisa disebut ahlinya.

Berikutnya, kisah yang dinukil oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, dari guru beliau; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ketika Syaikhul Islam mendengar hadis dari Ibnul Qoyyim, yakni hadis dari sahabat Abu Umamah, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

من قرأ أية الكرسي دبر كل صلاة لم تكن بينه و بين الجنة الا أن يموت

Siapa yang membaca ayat kursi setiap kali selesai sholat, maka tak ada yang menghalaginya dengan surga kecuali kematian.

Ibnul Qoyyim menceritakan,

بلغني عن شيخ الاسلام ابن تيمية أنه قال : ما تركتها عقيب كل صلاة

Sampai informasi kepadaku bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Aku tidak pernah tinggalkan setiap selesai sholat.” (Zadul Ma’ad 1/285).

Kisah Imam Ahmad rahimahullah juga tak kalah berkesan, beliau pernah mengatakan, “Tak satupun hadis saya tulis di bab-bab kitab Musnad”; sebuah kitab karya beliau yang sangat tebal dan sangat banyak hadisnya, beliau mengatakan,” Tak satupun hadis saya tulis melainkan aku amalkan. Sampai aku mendengar bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam pernah berbekam, lalu beliau beliau memberi uang sebesar satu dinar kepada pembekam. Maka akupun berbekam lalu pembekam saya beri satu dinar.”

Inilah kisah para salafussholih dalam kesungguhan, keistiqomahan dan besarya perhatian mereka terhadap mengamalkan ilmu serta kontinyu dalam pengalaman ilmu.

Semoga Allah merahmati kita dan mereka semua…

***

Merujuk pada : Tsamaroh Al-Ilmi Al-Amal, karya Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al-‘Abbad –hafidzohumallah-.

Yogyakarta, 7 Sya’ban 1439 H

Ditulis olehAhmad Anshori

ArtikelMuslim.or.id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khair

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Ahmad Anshori

Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

View all posts by Ahmad Anshori »