Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
2 Mei 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Baca pembahasan sebelumnya: Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 5)

Munculnya bid’ah “Lafdziyyah” dan bid’ah “Al-Waaqifah”

Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah.

Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,

لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ

“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”

Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,

لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق

“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,

وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق

“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”

Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ

“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11: 289)

Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:

Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.

Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.

Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.

Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,

مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ

“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)

‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,

هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ

“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)

‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,

مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ

“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”

‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”

Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkata

كَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ

“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)

Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,

ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.

“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)

Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”

Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 7

***

Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).

Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).

ShareTweetPin1
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Amalku Buah dari Ilmu (Bag. 5)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah