Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 5)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
1 Mei 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Aqidah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengenai sifat Kalam Allah dan Al-Qur’an
  • Aqidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah tentang Kalamullah

Baca pembahasan sebelumnya: Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 4)

Aqidah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengenai sifat Kalam Allah dan Al-Qur’an

Imam Asy-Syafi’i hidup sezaman dengan awal-awal kemunculan fitnah golongan yang menyimpang, bahkan pernah berdebat dengan tokoh-tokoh generasi pertama mereka. Beliau memperingatkan mereka, dan juga mengingatkan umat Islam akan ancaman mereka yang berbahaya, serta menyeru agar masyarakat menjauhi mereka. Bahkan, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah telah memvonis kafir sebagian dari orang-orang yang menyimpang dari aqidah ahlus sunnah dalam masalah kalamullah, seperti Hafsh Al-Fard.

Al-Baihaqi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dengan sanad beliau sampai kepada Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (yaitu Imam Asy-Syafi’i), Imam Asy-Syafi’i raimahullah berkata,

القرآن كلام الله غير مخلوق

“Al-Qur’an adalah kalamullah, dan bukan makhluk.” (Al-Manaaqib, 1: 407)

Al-Baihaqi Asy-Syafi’i rahimahullah juga meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Syu’aib Al-Mishri. Abu Syu’aib berkata bahwa beliau mendatangi rumah Imam Asy-Syafi’i dan bersama beliau ada Yusuf bin ‘Amr bin Yazid dan ‘Abdullah bin Hakam. Lalu datanglah Hafsh Al-Fard, seorang tokoh ahli kalam (filosof) yang sering mengajak berdebat.

Hafsh Al-Fard berkata kepada Yusuf, “Apa keyakinanmu tentang Al-Qur’an?”

Yusuf berkata, “(Al-Qur’an adalah) kalamullah. Aku tidak memiliki keyakinan selain ini.”

Setelah itu, mereka mengarahkan kepada Imam Asy-Syafi’i, sehingga Hafsh pun menghadap kepada beliau dan berkata, “Mereka semua meminta (untuk bertanya) kepadamu.”

Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Tinggalkanlah debat semacam ini.” Namun Hafsh terus mendesak beliau.

Imam Asy-Syafi’i pun bertanya kepada Hafsh, “Apa keyakinanmu tentang Al-Qur’an?”

Hafsh menjawab, “Al-Qur’an itu makhluk.”

Imam Asy-Syafi’i pun bertanya lagi, “Dari mana Engkau mengatakan itu?”

Hafsh tetap mengatakan demikian (Al-Qur’an itu makhluk), sementara Asy-Syafi’i tetap membantahnya dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk. Akhirnya, beliau mengkafirkan Hafsh dan memutuskan untuk tidak mempedulikannya.” (Al-Manaaqib, 18: 56)

Kisah yang sama juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui sanad lainnya dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman. Pada bagian akhir kisah, dia mengatakan bahawa Hafsh berkata,

أراد الشافعي قتلي

“Asy-Syafi’i ingin membunuhku.”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Ketika Asy-Syafi’i berbicara kepada Hafsh, Hafsh mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Lalu Asy-Syafi’i mengatakan,

كفرت بالله العظيم

“Engkau (Hafsh) telah kafir terhadap Allah Yang Maha Agung.” (Al-Manaaqib, 1: 407) [1]

Dari sini, jelaslah bahwa aqidah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah di atas aqidah sunnah, dan beliau memberikan pembelaan terhadap aqidah yang lurus ini. Hal ini sekaligus menepis anggapan sebagian orang bahwa beliau hanya pakar dalam bidang fiqh, namun bukan pakar di bidang aqidah. Bagaimana mungkin kita katakan bahwa beliau (hanya) pakar di bidang fiqh, padahal beliau hidup di tengah-tengah fitnah (kerusakan) Jahmiyyah, Mu’tazilah, Khawarij, dan kelompok menyimpang lainnya dalam masalah aqidah, dan beliau membantah mereka semua dengan ilmu dan hujjah yang ada pada diri beliau. Semoga hal ini bisa menjadi bahan renungan bagi saudara-saudara kita yang (mengaku) mengikuti madzhab Asy-Syafi’i dalam masalah fiqh, namun mengikuti Asy’ariyyah dalam masalah aqidah.

Aqidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah tentang Kalamullah

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, setelah beliau beraqidah dengan aqidah Mu’tazilah sampai berusia sekitar 40 tahun, akhirnya bertaubat dan memeluk aqidah ahlus sunnah di akhir kehidupannya [2]. Hal ini tampak pula dengan perkataan-perkataan beliau tentang sifat kalam di salah satu kitab terahir beliau, yaitu kitab Al-Ibaanah.

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,

ونقول: إن كلام الله غير مخلوق

“Kami mengatakan: sesungguhnya kalam Allah bukanlah makhluk.” (Al-Ibaanah, hal. 219)

Beliau rahimahullah juga berkata,

ونقول: إن كلام الله غير مخلوق، وأن من قال بخلق القرآن فهو كافر.

“Kami mengatakan: sesungguhnya kalam Allah bukanlah makhluk. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, dia telah kafir.” (Al-Ibaanah, hal. 226)

Tidak berhenti sampai di sini, beliau rahimahullah juga membahas panjang lebar tentang dalil-dalil penetapan sifat kalam Allah, dan juga mendebat golongan Jahmiyyah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Hal ini tidaklah mengherankan karena beliau lama bergelut dengan aqidah Mu’tazilah dan ilmu kalam sehingga sangat paham tentang cara, metode, dan logika berpikir mereka, yang nenek moyangnya tidak lain dan tidak bukan adalah Jahmiyyah itu sendiri. Ketika Jahmiyyah dan Mu’tazilah menggunakan akal untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka Abul Hasan Al-Asy’ari menggunakan dalil-dalil akal pula untuk merontokkan dalil-dalil akal logika mereka. [3]

Di antara argumentasi beliau, Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata,

ويلزم من يثبت أن كلام الله مخلوقا أن يثبت أن الله غير متكلم ولا قائل، وذلك فاسد، كما يفسد أن يكون علم الله مخلوقا، وأن يكون الله غير عالم.

“Konsekuensi dari mengatakan bahwa kalam Allah itu makhluk adalah menetapkan bahwa Allah itu tidak bisa berbicara (bisu), dan keyakinan ini adalah fasid (rusak). Sebagaimana rusaknya (keyakinan) bahwa ilmu Allah adalah makhluk, sehingga jadilah Allah itu tidak memiliki ilmu.” (Al-Ibaanah, hal. 309)

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata mendebat Jahmiyyah,

ويجب عليهم إذا زعموا أن كلام الله لموسى خلقه في شجرة؛ أن يكون من سمع كلام الله عز وجل من ملك أو من نبي أتى به من عند الله أفضل مرتبة من سماع الكلام من موسى؛ لأنهم سمعوه من نبي ولم يسمعه موسى من الله عز وجل، وإنما سمعه من شجرة

“Konsekuensi dari persangkaan mereka bahwa kalam Allah kepada Musa itu diciptakan di sebuah pohon, maka siapa saja yang mendengar kalam Allah yang datang dari Allah melalui malaikat atau Nabi, itu lebih utama kedudukannya daripada (mendengarnya) Musa. Karena mereka mendengar kalam Allah melalui Nabi, sedangkan Musa tidaklah mendengar dari Allah, karena Musa hanyalah mendengar melalui pohon.” (Al-Ibaanah, hal. 315)

Kutipan-kutipan di atas menunjukkan keteguhan Abul Hasan Al-Asy’ari dalam memegang aqidah ahlus sunnah yang berkaitan dengan sifat kalam Allah.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 6

***

Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 24 Rajab 1439/11 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Dikutip dari: Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbaatil ‘Aqidah, karya Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al-‘Aqil, penerbit Adhwa’ As-Salaf, cetakan pertama, tahun 1429, hal. 363-365.

[2] Silakan dilihat kembali tulisan kami di tautan ini.

[3] Al-Ibaanah ‘an Ushuul Ad-Diyaanah, karya Abul Hasan Al-Asy’ari, tahqiq: Shalih bin Muqbil bin ‘Abdullah Al-Ushaimi At-Tamimi, cetakan pertama, penerbit Daarul Fadhilah, Riyadh KSA, hal. 306-335.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Artikel Selanjutnya

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah