Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang Dzalim (Bag. 3)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
23 April 2018
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Baca pembahasan sebelumnya: Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang Dzalim (Bag. 2)

Tidak boleh menghina dan menyebarkan aib atau keburukan penguasa dzalim di muka umum

Hendaknya diketahui bahwa stabilitas masyarakat Islam dibangun di atas dua pilar pokok: (1) ketaatan terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya; dan (2) ketaatan terhadap para ulama dan para penguasa (pemerintah).

Allah Ta’ala befirrman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Ayat di atas memerintahkan kita untuk taat kepada pemilik otoritas kekuasaan atau pemilik kewenangan atas masyarakat, dengan nama (sebutan) apa pun, baik itu disebut presiden, gubernur, bupati, menteri, raja atau sebutan-sebutan yang lainnya. Karena merekalah yang secara riil memiliki kewenangan mengatur urusan rakyat, memiliki hak untuk memerintah aparat kepolisian, tentara atau lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أَنْ تَعْبُدُوهُ، وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala meridhai atas kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara atas kalian. (Pertama) Allah ridha kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. (Ke dua) kalian berpegang teguh dengan tali (agama) Allah dan jangan berpecah belah. Lalu Allah membenci atas kalian, (pertama) berita burung yang tidak jelas; (ke dua) banyak bertanya yang tidak ada gunanya (atau banyak meminta harta orang lain, pen.); dan (ke tiga) menyia-nyiakan (membuang-buang) harta.” (HR. Muslim no. 1715)

Imam Malik rahimahullahu Ta’ala dan lainnya menambahkan untuk poin yang ke tiga,

وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ

“Dan hendaklah kalian menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada orang yang Allah Ta’ala berikan kepadanya kekuasaan untuk mengatur urusan kalian.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 1796, Ahmad 2: 327, Ibnu Hibban dalam Shahih 8: 182, Abu ‘Uwanah dalam Musnad 4: 165 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 8: 163)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari al-ghill (yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) komitmen dengan jamaah kaum muslimin (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)

Lihatlah bagaimana petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita hidup tenang dan terbebas dari hati yang memiliki al-ghill (perasaan dongkol, jengkel, permusuhan, dan semacamnya), agar tidak terbebani banyak pikiran. Salah satu caranya adalah dengan menginginkan kebaikan kepada para penguasa. Yang dia pikirkan bukan hanya kejelekan dan kebobrokan penguasa, mengapa kondisinya begini dan mengapa kondisinya begitu. Karena hal itu hanya akan membuat hatinya sempit. Akan tetapi, mereka juga memikirkan kebaikan yang ada pada penguasa mereka dan bersabar atas kedzaliman mereka (itupun kalau mereka benar-benar telah berbuat dzalim).

Berdasarkan hadits di atas, maka mencela dan menghina penguasa hanya akan menimbulkan perpecahan dan menimbulkan kebencian dalam hati rakyat, sehingga rakyat akan seenaknya saja berbuat kerusakan, tersebarlah kekacauan dan hilanglah rasa aman. Karena jika rakyat benar-benar menginginkan kebaikan atas pemimpinnya, maka bagaimana mungkin mereka kemudian mencela, menghina atau merendahkan pemimpinnya di muka umum? Semua perbuatan ini menunjukkan bahwa mereka tidak menginginkan kebaikan, namun hanya menginginkan kekacauan dan keburukan, dan menjatuhkan kehormatan sang penguasa.

Diriwayatkan dari sahabat Tamim Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.” Kemudian para sahabat bertanya, “Untuk siapa (wahai Rasulullah)?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat pada umumnya.” (HR. Muslim no. 55)

Al-Khaththabi rahimahullahu Ta’ala berkata,

النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له

“Nasihat adalah perkataan (kalimat) yang disampaikan untuk menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasihat.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1: 219)

Oleh karena itu, marilah kita merenungkan, ketika kita mencela dan merendahkan penguasa di hadapan masyarakat umum, sebetulnya kita sedang menghendaki kebaikan atau sebaliknya, yaitu menghendaki keburukan?

Sahl At-Tusturi rahimahullahu Ta’ala mengatakan,

لا يزال الناس بخير ما عظموا السلطان والعلماء، فإذا عظموا هذين أصلح الله دنياهم وأخراهم، وإذا استخفوا بهذين أفسد دنياهم وأخراهم

“Kaum muslimin akan senantiasa berada di atas kebaikan selama mereka memuliakan penguasa dan ulama. Jika mereka memuliakan keduanya, maka Allah Ta’ala akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Jika mereka meremehkannya, maka rusaklah dunia dan akhirat mereka.” (Tafsir Al-Qurthubi, 5: 260)

Beliau rahimahullahu Ta’ala juga mengatakan,

هذه الأمة ثلاث وسبعون فرقة: اثنتان وسبعون هالكة، كلّهم يبغض السلطان، والناجية هذه الواحدة التي مع السلطان

“Umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Tujuh puluh dua kelompok akan binasa, mereka semua (sepakat untuk) membenci penguasa. Adapun satu kelompok yang selamat, mereka selalu bersama penguasa (tidak membenci penguasa, pen.).” (Quut Al-Quluub, 2: 242)

Maksudnya, kelompok yang selamat tersebut tidaklah menjadikan penguasa sebagai musuh.

Imam Al-Barbahari rahimahullahu Ta’ala berkata,

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة

“Jika Engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek kepada penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah). Jika Engkau melihat ada seseorang yang mendoakan kebaikan kepada penguasa, maka ketahuilah bahwa dia di atas sunnah (petunjuk Nabi).” (Syarhus Sunnah, hal. 113)

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 4

***

Diselesaikan di siang hari, Lab EMC Rotterdam NL, 25 Rajab 1439/ 12 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Khaqiqatul Khawarij fi Asy-Syar’i wa ‘Abra At-Taarikh, karya Syaikh Faishal Qazaar Al-Jaasim, hal. 137-139 (penerbit Al-Mabarrah Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an wa As-Sunnah, cetakan pertama tahun 1428)

ShareTweetPin1
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya

Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap Berbakti?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah