Melihat pentingnya pembahasan tentang Qunut Nazilah pada kondisi sekarang ini, juga dikarenakan banyak manusia yang belum memahami hukum dan tata caranya, maka kami akan menjelaskan perihal Qunut Nazilah, hukum dan tata caranya sesuai dengan Sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Penjelasan ini kami bagi menjadi beberapa bagian:
Pertama: Qunut Nazilah disyariatkan ketika terjadi musibah besar, dan boleh dilakukan pada semua salat wajib yang lima
Banyak dalil yang mendasari hal ini, antara lain:
Pertama: Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
قَنَتَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ في صَلَاةِ الصُّبْحِ يَدْعُو علَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، ويقولُ: عُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسولَهُ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan terhadap Ri’lan dan Dzakwan serta ‘Ushayyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” [HR. Bukhari-Muslim, dengan lafadz Muslim]
Kedua: Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: “Suku Ri’lan, Dzakwan, Ushiyyah, dan Bani Lihyan meminta bantuan orang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk berlindung dari musuh, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan bantuan 70 orang Anshor yang kami sebut sebagai Qurra’. Kebiasaan para sahabat yang disebut Qurra’ ini adalah mereka pencari bakar di siang hari dan menegakkan salat lail di malam hari. Ketika 70 orang Anshar ini berada di perjalanan dan sampai di sumur Ma’unah, mereka dibunuh dan dikhianati oleh suku Ri’lan, Dzakwan, Ushiyyah, dan Bani Lihyan. Berita ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, maka beliau melakukan Qunut Nazilah selama sebulan pada salat subuh mendoakan kehancuran terhadap suku Ri’lan, Dzakwan, Ushiyyah, dan Bani Lahyan. Anas berkata: “Kami pernah membacanya ayat Qur’an diturunkan tentang orang-orang yang dibunuh di sumur Ma’unah tersebut, kemudian ayat tersebut diangkat (mansukh) sesudah itu. (Yaitu ayat)
بَلِّغُوا عَنَّا قَوْمَنَا أَنَّا لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَأَرْضَانَا
‘Sampaikanlah kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu dengan Tuhan kami, maka Dia rida kepada kami dan kami rida kepada-Nya.’ “ [HR. Bukhari]
Ketiga: Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada salat Maghrib dan salat Subuh” [HR. Bukhari]
Keempat: Diriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada salat Subuh dan salat Maghrib” [HR. Bukhari]
Kelima: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
“Selama sebulan penuh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ pada raka’at terakhir dari salat Isya beliau membaca doa Qunut:
اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ
Ya Allah, tolonglah ‘Ayyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mu’minin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf “ [HR. Bukhari][1]
Keenam: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Sungguh aku bersungguh-sungguh dalam mencontoh salat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. Dan pernah Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berdoa Qunut pada raka’at terakhir salat Zuhur dan salat Isya serta salat Subuh setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ kemudian ia berdoa untuk kebaikan kaum mu’minin dan keburukan kaum kafir. [HR. Bukhari-Muslim]
Ketujuh: Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut dengan selama sebulan dan dilakukan berturut-turut pada salat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan salat Subuh pada setiap raka’at terakhir setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ beliau mendoakan kehancuran bagi Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwan dan Ushayyah. Kemudian orang-orang dibelakangnya mengamini”. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dengan sanad jayyid. An Nawawi berkata: “Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad hasan dan sahih” [Al Majmu’, 482/3]. Ibnul Qayyim berkata: “Hadis ini sahih” [Zaadul Ma’ad, 208/1]. Al Albani menghasankan hadis ini [Lihat Shahih Sunan Abi Dawud juz 1443]
Dari beberapa hadis di atas dapat disimpulkan:
Pertama: Disyariatkannya doa Qunut Nazilah saat terjadi musibah. Ibnu Taimiyah berkata: “Dianjurkan berdoa Qunut saat terjadi musibah. Pendapat ini adalah pendapat fuqaha ahli hadis dan didasari oleh riwayat-riwayat dari Khulafa Ur Rasyidin” [Majmu’ Fatawa 108/23]
Kedua: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan praktik berdoa Qunut Nazilah pada lima salat waktu. Dalam Sahih Bukhari diriwayatkan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut pada salat Subuh, Zuhur, Maghrib, dan Isya’. Adapun pada salat Ashar diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad jayyid. Sebagaimana telah lewat penjelasannya.
Ketiga: Kebanyakan riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam paling sering berdoa Qunut pada salat Subuh, setelah itu sering dilakukan pada salat Maghrib, setelah itu salat Isya, setelah itu salat Zuhur baru kemudian salat Ashar.
Ibnu Taimiyah berkata: “Disyariatkan doa Qunut saat terjadi musibah pada salat Subuh dan salat wajib yang lain, untuk mendoakan kaum mu’minin dan mendoakan keburukan untuk kaum kuffar. Sebagaimana Umar berdoa Qunut untuk memerangi orang Nashara dengan doa اللهم العن كفرة أهل الكتاب ” [Majmu’ Fatawa 270/22].
Beliau juga berkata: “Doa Qunut paling banyak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada salat Subuh” [Majmu’ Fatawa 269/22]
Ibnul Qayyim berkata: “Petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam berdoa Qunut adalah mengkhususkannya hanya pada saat terjadi musibah dan tidak melakukannya jika tidak ada musibah. Selain itu tidak mengkhususkan pada salat Subuh saja, walaupun memang beliau paling sering melakukan pada salat Subuh” [Zaadul Ma’ad 273/1].
Keempat: Doa Qunut dilakukan pada raka’at terakhir setelah bangun dari ruku’.
Kedua: Yang sesuai dengan syariat, doa Qunut itu ringkas
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak berdoa Qunut dengan bacaan yang panjang. Sebagaimana hadis dari Anas Radhiyallahu’anhu saat ada yang bertanya “Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut pada salat Subuh?”. Anas menjawab: “Ya. Setelah ruku’, dengan doa yang ringkas” [HR. Muslim].
Dan telah jelas bagi kita dari hadis-hadis yang telah lewat bahwa doa Qunut yang dibaca Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah doa-doa yang kalimatnya sedikit. Dan tentulah, kebahagiaan hanya ada pada apa yang sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Ketiga: Membatasi doa Qunut pada apa yang menjadi musibah saat itu
Tidak dianjurkan menambah doa tentang hal lain pada doa Qunut. Karena yang benar adalah mencukupkan doa Qunut pada apa yang menjadi musibah saat itu saja. Inilah yang nampak dari dalil-dalil yang telah lewat dan juga dalil yang lain bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengulang-ulang doa Qunut yang sama ketika beliau melakukan doa Qunut dalam sebulan penuh. Walau terkadang beliau berdoa Qunut dengan doa yang agak sedikit berbeda.
Keempat: Qunut Nazilah hanya dilakukan karena adanya sebab, yaitu musibah besar yang melanda kaum muslimin, jika musibah telah berakhir maka tidak dilakukan lagi
Sedangkan Qunut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang dilakukan selama sebulan penuh sebagaimana telah lalu hadisnya, bukanlah pembatasan. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak meneruskan pelaksanaan Qunut Nazilah setelah sebab yang menjadi alasan beliau untuk melakukan Qunut Nazilah telah hilang. Yaitu dalam hal ini, datangnya para sahabat yang didoakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam doa Qunut dengan selamat. Hal ini didasari oleh hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: “Selama sebulan penuh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ pada raka’at terakhir dari salat Isya beliau membaca doa Qunut: ‘Ya Allah, tolonglah ‘Iyyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mu’minin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf’ ”
Abu Hurairah berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak meneruskan doa Qunut setelahnya. Kemudian aku berkata kepada para sahabat: ‘Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak meneruskan doa Qunut’. Lalu ada yang bertanya: ‘Apakah kalian melihat mereka sudah datang?’” [HR. Muslim] [2]
Ibnul Qayyim berkata: “Qunut Nazilah dilakukan karena ada musibah yang menimpa suatu kaum atau beberapa orang. Dan Qunut Nazilah tidak dilakukan lagi setelah orang yang didoakan tersebut datang, atau telah terbebas dari tawanan, atau telah pulang dengan selamat, atau orang yang didoakan keburukan telah bertaubat. Karena disyariatkan Qunut Nazilah adalah untuk menghilangkan musibah tersebut, maka setelah hilang tidak lagi dilakukan Qunut Nazilah” [Zaadul Ma’ad 272/1]
Baca juga: Lafal Qunut Witir dan Penjelasan Maknanya
Kelima: Qunut Nazilah tidak memiliki lafadz tertentu. Lafadz-nya disesuaikan dengan musibah yang sedang terjadi
Adapun doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada Al Hasan yang berbunyi:
اللّهم اهدِنا فيمَن هَديْت و عافِنا فيمَن عافيْت و تَوَلَّنا فيمَن تَوَلَّيْت و بارِك لَنا فيما …. الخ
Ini adalah doa Qunut pada salat Witir. Dan tidak terdapat riwayat yang menetapkan bahwa doa ini di baca Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada Qunut Nazilah.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Disunahkan untuk melakukan Qunut Nazilah ketika ada musibah, dan disunahkan pula padanya mendoakan kaum muslimin yang sedang diperangi (musuh)” [Majmu’ Fatawa, 155/21]
Beliau juga berkata: “Dianjurkan seseorang yang melakukan Qunut Nazilah berdoa sesuai dengan musibah yang terjadi saat itu. Dan jika dalam doanya ia menyebutkan kaum mu’minin yang diperangi atau mendoakan kehancuran bagi orang-orang kafir yang memerangi mereka, maka itu adalah sebuah kebaikan” [Majmu’ Fatawa, 271/22]
Beliau juga berkata: “Umar Radhiyallahu’anhu melakukan Qunut Nazilah ketika musibah menimpa kaum muslimin. Dan beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan musibah yang terjadi. Sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut pertama kali untuk mendoakan kehancuran bagi Kabilah Bani Sulaim yang telah membunuh para pembaca Al Qur’an. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa sesuai dengan keadaan tersebut. Kemudian pada kesempatan lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendoakan para sahabat yang dalam keadaan lemah. Pada kesempatan ini pun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa sesuai dengan keadaan. Maka sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Khulafa Ar Rasyidin ini menunjukkan dua hal:
- Qunut Nazilah dilakukan karean adanya suatu sebab, adapun melakukannya secara rutin dan terus-menerus bukan termasuk sunah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
- Doa Qunut Nazilah tidak ditetapkan lafadz-nya. Adapun lafadz-nya menyesuaikan dengan musibah yang sedang terjadi. Sebagaimana doa Qunut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang pertama dan kedua. Juga sebagaimana doa Umar Radhiyallahu’anhu kepada orang yang memeranginya saat terjadi fitnah. Beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan musibah yang terjadi. “ [Majmu’ Fatawa, 109/23]
Dan berdoa dengan lafadz doa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang sesuai dengan musibah yang terjadi pada masa kita sekarang ini adalah sebuah kebaikan. Yaitu misalnya dengan lafadz:
اللهم أنج إخواننا المسلمين في فلسطين ، اللهم انصرهم ، اللهم اشدد وطأتك على اليهود المجرمين ومن شايعهم وأعانهم ، اللهم العنهم ، اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف
Artinya: “Ya Allah, berilah kemenangan pada dari kaum muslimin di Palestina. Ya Allah, tolonglah mereka. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang Yahudi yang nista, juga kepada sekutu dan pendukung mereka. Ya Allah, jatuhkan laknat kepada mereka dan jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf”
Karena doa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lebih utama dan juga telah mencakup apa yang dimaksudkan.
Keenam: Di anjurkan bagi imam salat untuk mengeraskan suara saat berdoa Qunut
Hal ini didasari oleh hadis Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika ingin mendoakan kebaikan bagi seseorang, atau mendoakan keburukan bagi seseorang, beliau berdoa Qunut setelah ruku’ setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ beliau membaca: ‘Ya Allah bagi-Mu segala pujian. Ya Allah, tolonglah Walid bin Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah ‘Iyyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mu’minin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf’. Beliau membacanya dengan suara keras” [HR. Bukhari]
Imam An Nawawi berkata: “Hadis tentang Qunutnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam saat dibantainya para pembaca Al Qur’an Radhiyallahu’anhum menetapkan bahwa doa Qunut dibaca dengan suara keras pada setiap salat. Inilah pendapat yang kuat. Adapun pendapat benar tentang hukumnya, disunahkan membacanya dengan suara keras.” [Al Majmu’, 482/3]
Ibnu Hajar berkata: “Yang nampak bagiku adalah bahwa Qunut Nazilah dilakukan pada saat I’tidal bukan saat sujud, walaupun memang doa saat sujud lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan. Sebagaimana ditetapkan hadis: ‘Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya pada saat ia sedang bersujud’. Dan juga ditetapkan dari dalil-dalil yang ada bahwa wajib bagi ma’mum untuk mengikuti imam dalam doa Qunut, juga jika dengan ta’min. Oleh karena itu, disepakati bahwa pembacaan doa Qunut ialah dengan suara keras ” [Fathul Baari, 570/2]
Ketujuh: Dianjurkan bagi ma’mum untuk ta’min (mengamini) doa imam pada saat berdoa Qunut
Berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhuma yang menceritakan Qunut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: Artinya: “Beliau mendoakan kutukan terhadap Bani Sulaim dan terhadap Ri’lan, Dzakwan dan ‘Ashiyyah. Dan orang-orang yng dibelakang beliau pun mengamininya” [HR. Ahmad, Abu Dawud dengan sanad jayyid]
Kedelapan: Dianjurkan mengangkat kedua tangan dalam doa Qunut
Hal ini didasari hadis Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Tidak pernah kulihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam berdoa seperti doanya untuk para Qurra’. Dan pada saat itu aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada salat Subuh beliau berdoa Qunut sambil mengangkat kedua tangannya ” [HR. Ahmad, dengan sanad sahih. An Nawawi berkata: “Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad sahih atau hasan”]. [Al Majmu’, 479/3]
Dari Abu Rafi’, ia berkata: “Aku salat di belakang Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu, beliau berdoa Qunut setelah bangun dari rukuk sambil mengangkat kedua tangannya dan membaca doa dengan suara keras” [HR. Baihaqi, ia berkata “Riwayat ini sahih di nisbatkan kepada Umar”. Dinukil dari Sunan Baihaqi 212/2]
An Nawawi berkata: “Dari Abu ‘Utsman ia berkata: ‘Biasanya Umar Radhiyallahu’anhu mengangkat kedua tangan saat Qunut’. Dan dari Al Aswad ia berkata: ‘Biasanya Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu mengangkat kedua tangan saat Qunut’. Imam Al Bukhari meriwayatkan hadis-hadis tersebut dalam Kitab Raf’ul Yadain[3] dengan sanad sahih. Dan Imam Al Bukhari berkata: ‘Hadis-hadis ini sahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam’” [Al Majmu’. 490/3]
Baca juga: Rasulullah Qunut Shubuh Hingga Meninggal Dunia
Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Praktik Qunut Nazilah
Pertama: Tidak disyariatkan mengusap wajah setelah selesai berdoa
Karena riwayat yang menjelaskan tentang mengusap wajah setelah berdoa derajatnya dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah. Al Baihaqi berkata: “Adapun mengusap wajah setelah selesai berdoa Qunut, aku tidak mendapatkan ada ulama Salaf yang berpendapat demikian dalam doa Qunut. Namun hal ini diriwayatkan sebagian Salaf dalam doa di luar salat. Dan hadis Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang mengusap wajah derajatnya dhaif. Memang hal ini telah dilakukan sebagian salaf di luar salat, tetapi di dalam salat tidak ada hadis sahih, ataupun atsar maupun qiyas yang mendasarinya. Dan yang lebih baik adalah tidak melakukannya dan mencukupkan diri pada apa yang diterapkan para salaf Radhiyallahu’anhum, yaitu mengangkat tangan tanpa mengusap wajah setelahnya. Wabillahit Taufiq” [Sunan Baihaqi, 212/2]
Imam Nawawi Rahimahullah telah menjelaskan ke-dhaif-an riwayat tentang mengusap wajah setelah doa dalam salat, kemudian berkata: “Al Baihaqi memiliki tulisan yang terkenal yang ia tulis untuk Syekh Abu Muhammad Al Juwaini. Ia telah membantah semua hal tentang mengusap wajah setelah Qunut” [Al Majmu’, 480/3]
Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun tentang mengusap wajah dengan kedua tangan tidak ada dalilnya kecuali satu atau dua hadis yang tidak dapat dijadikan hujjah (karena dhoif)” [Majmu’ Fatawa, 519/22]
Kedua: Perlu dikritisi sebagian manusia yang berdoa Qunut dengan lafadz semacam:
اللهم اشدد وطأتك على الصرب النصارى المجرمين برحمتك يا أرحم الراحمين ، أو يا عفو يا غفور
Artinya: “Ya Allah, sempitkanlah jalan-Mu bagi orang-orang Nashara yang berbuat nista, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang ” atau “Wahai Dzat Yang Maha Pengampun”
Karena bertawasul dengan nama dan sifat Allah di sini tidak sesuai dengan konteksnya, yaitu untuk melaknat dan menjatuhkan azab yang keras pada orang-orang kuffar.
Ketiga: Menambahkan selawat kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di akhir doa Qunut Nazilah adalah sebuah kesalahan
Karena hal ini tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sama sekali. Hukum asal ibadah adalah tauqifiyyah, tidak boleh menyengaja dalam doa atau zikir dengan dikaitkan pada sebab atau waktu tertentu kecuali berdasarkan atas dalil. Adapun yang diriwayatkan dari sebagian sahabat adalah pada Qunut dalam salat Witir.
Keempat: Yang ditetapkan oleh dalil-dalil yang ada yaitu bahwa Qunut Nazilah dilakukan pada salat berjama’ah
Sedangkan Qunut Nazilah pada salat Jum’at, atau salat nafilah, atau salat sendirian tidak ada dalil tegas yang menjelaskannya. Abdurrazzaq membuat bab yang berjudul “Bab Qunut pada salat Jum’at” pada Al Mushonnaf (194/3) miliknya. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf (46/2) miliknya membahas tentang Qunut pada Salat Jum’at. Begitu juga Ibnu Mundzir dalam Al Ausath (122/4). Mereka semua menyebutkan riwayat dari para sahabat bahwa mereka meninggalkan dan mencela Qunut pada salat Jum’at. Namun tidak disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut bahwa yang dimaksud adalah Qunut Nazilah. Sedangkan dalil-dalil tidak ada yang secara tegas melarang Qunut Nazilah pada salat Jum’at.
Al Mardawi berkata: “Rasulullah melakukan Qunut pada setiap salat wajib kecuali salat Jum’at. Inilah pendapat yang benar dari mazhabku karena terdapat nash tentangnya. Pendapat inilah yang dipilih Al Majid dalam syarah-nya, juga Ibnu ‘Abdaus dalam At Tadzkir, serta Syekh Taqiyyuddin dalam Al Wajiz merajihkan pendapat ini. Sebagian ulama berpendapat: ‘Qunut Nazilah juga dilakukan pada salat Jumat’. Pendapat ini dipilih oleh Al Qadhi. Namun pendapat ini bertentangan dengan nash ” (Al Inshaf, 175/2). Dan Imam Ibnu Taimiyah memilih pendapat disyariatkannya Qunut Nazilah pada salat sendirian (Al Inshaf, 175/2)
Namun yang jelas, hukum asal ibadah adalah terlarang sampai datang hujjah yang menjelaskan disyariatkannya. Dan masalah ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, wallahu’alam.
Kelima: Ibnu Taimiyah berkata: “Sebaiknya seorang mu’min mengikuti imamnya dalam memutuskan ber-qunut atau tidak
Bila imam berqunut maka ma’mun mengikutinya berqunut. Jika imam tidak berqunut, maka begitu pula ma’mun. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang imam diangkat untuk diikuti”. Beliau juga bersabda: “Jangan kalian menyelisihi imam kalian”. Juga sabda beliau yang terdapat dalam Sahih Bukhari: “Salatlah kalian bersama imam. Jika salatnya imam benar, pahalanya untuk dia dan untukmu. Jika salatnya imam salah, pahalanya untukmu dan dosanya untuk dia” (Majmu’ Fatawa, 115-116/23)
Keenam: Sebagian fuqaha berkata: “Qunut Nazilah dipimpin oleh seorang imam kaum muslimin, dan tidak boleh dipimpin oleh selainnya”
Pendapat ini perlu dikritisi dengan beberapa alasan[4]:
- Hukum asal perbuatan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah berlaku juga untuk seluruh kaum muslimin, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Dan dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan, maka tetap berlaku hukum asal yaitu disyariatkannya bagi seluruh kaum muslimin
- Hadis Malik bin Huwairits Radhiyallahu’anhu yang marfu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ”Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat” [HR. Bukhari]. Hadis ini adalah dalil tegas bahwa perbuatan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam salat adalah untuk kaum muslimin secara umum.
- Abu Hurairah pernah memimpin Qunut Nazilah padahal beliau bukanlah imam kaum muslimin. Sebagaimana dijelaskan hadis yang terdapat dalam Shahihain: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Sungguh aku bersungguh-sungguh dalam mencontoh salat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. Dan pernah Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berdoa Qunut pada raka’at terakhir salat Zuhur dan salat Isya serta salat Subuh setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ kemudian ia berdoa untuk kebaikan kaum mu’minin dan keburukan kaum kafir. [HR. Bukhari-Muslim]
Walhamdulillah Rabbil ‘Alamin.
Baca juga: Hukum Qunut Nazilah saat Terjadi Wabah
—
[Diterjemahkan dari artikel berjudul Qunut Nazilah karya DR. Yusuf bin Abdillah Al Ahmad di website www.islamlight.net, 29 Dzulhijjah 1429]
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] “’Ayyash, Walid dan Salamah” Radhiyallahu’anhum adalah para sahabat yang ditawan oleh kaum musyrikin di Makkah ketika mereka masuk Islam. Dan kaum musyrikin menghalangi mereka untuk ikut hijrah. Dan mereka berjanji untuk memberontak untuk membebaskan diri dari kaum musyirikin. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendoakan mereka. Sabda beliau “Tolonglah kaum mu’minin yang lemah”, yang dimaksud adalah kaum muslimin yang ditawan oleh orang kuffar sehingga tidak bisa mengikuti Hijrah. Orang kuffar menganiaya dan menyiksa mereka. Sabda beliau “Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka”, makna Al Wathoah adalah jalan setapak. Orang yang melewati jalan setapak yang sempit dan terjal dengan kaki telanjang dan biasanya adalah orang yang telah berada dalam kesengsaraan dan kehinaan yang mendalam. Maka maksudnya di sini: ‘Ya Allah, jadikanlah bagi mereka kesengsaraan dan azab yang pedih’. Kemudian sabda beliau: “jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf” seolah-olah mengisyaratkan firman Allah Ta’ala pada surat Yusuf, yang artinya: “Kemudian sesudah itu akan datang 7 tahun yang sulit” [Yusuf: 47]. Karena pada saat itu kaum Yusuf melewati 7 tahun dalam kekeringan dan kekurangan bahan makanan. Maka maksudnya di sini adalah permohonan untuk dijadikan kekeringan yang dahsyat bagi mereka. [Lihat Al Minhal Al ‘Azb Al Maurud 82/8]
[2] Maksudnya “Aku bertanya apakah kalian melihat Walid bin Walid dan rombongannya telah datang dari Madinah dan telah diberi kemenangan oleh Allah dari musuh-musuh mereka?” (Lihat Al Minhal Al ‘Azb Al Maurud 82/8)
[3] Salah satu tulisan Imam Al Bukhari [Lihat Hadyu As Saari hal. 516]
[4] Masalah ini adalah perkara khilafiyah ijtihadiyyah di antara para ulama, pent.




Assalamu ‘alaikum
Bagi para pembaca yang berpendapat bahwa qunut nazilah harus berqunut nazilah bersama pemimpin negara,apabila imam(bukan kepala negara) berqunut nazilah saat shalat Jum’at dan launnya hendaknya dia ikut membaca supaya tak menyelisihi sang imam (bukan kepala negara),kecuali untuk qunut shubuh terus -menerus secara hukum adalah bid’ah maka pendapat yang terkuat dan menenangkan hati saya adalah diam karena tak ketaatan terhadap makhluk selama bermaksiat terhadap sang Khalik(Sang Pencipta). Sekian dari saya. Jazakallah
Assalamu’alaikum,
“Doa Qunut Nazilah tidak ditetapkan lafadz-nya. Adapun lafadz-nya menyesuaikan dengan musibah yang sedang terjadi.”
Afwan…ada yg ingin saya tanyakan berkenaan dengan teks diatas :
1. Bagaimana dengan org yg blm bisa bahasa Arab spt saya jika saya ingin berqunut nazilah untuk mendoakan keburukan bagi Yahudi yg sedang memerangi Palestina? Apakah dibolehkan Qunut Nazilah dengan bahasa Indonesia jika blm bisa bahasa Arab?
2. Di artikel diatas disebutkan bahwa doa Qunut nazilah disyariatkan pada saat setelah bangun dari ruku’. Saya pernah baca ada riwayat dari Anas bin Malik bahwa beliau berqunut sebelum ruku. Yg manakah yg shahih diantara 2 dalil ini?
Terima kasih.
#Tommi
Wa’alaikumussalam,
1. Berdoa di dalam shalat dengan bahasa selain bahasa arab hukumnya makruh. Sebaiknya yang menjadi imam dapat berdoa dengan bahasa arab.
2. Mohon berbagi ilmu kepada kami dengan menyampaikan riwayat tersebut.
Luar biasa
Bismillah. Ana sepakat dengan akh fahrul, Sunnah Nabi pada zaman akhir ini makin banyak ditinggalkan. salah satunya adalah qunut nazilah, tapi yang lucunya bukan sunnah yang diamalkan tapi amalan bid’ah yang banyak dikerjakan seperti qunut shubuh secara terus menerus. sudah saatnya kita menerapkan sunnah walaupun orang menganggapnya asing tapi kita sesuaikan dulu dengan kondisi tempat dan waktunya, agar tidak terjadi salah paham diantara kaum muslimin. hendaknya ulil ‘amri dan masyarakat selalu melakukan qunut nazilah disaat banyak kaum muslimin tertindas oleh kaum kuffar, seperti penindasan kaum muslimin di Palestina, dll. semoga Allah Tabaraka Wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua. ana izin copas filenya ustadz. jazakumullah khairan.
Artikel ini bagus sekali terutama bagi mereka yang belum mengetahui tata cara melakukan Qunut Nazilah atau yang sudah tau tapi tidak sesuai dengan sunnah.
Jazakumullih
ana numpang copas ya
sukron
jazakumullah khoir.
mohon izin share
Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh
Afwan ustadz dari penjelasan di atas ana mau tanya, jadi kesimpulannya doa qunut pada sholat shubuh sunnah atau bid’ah? maklum ya ustadz ana orang awam mohon penjelasannya
Jazakallahu khairon katsir
#Umi Shofi
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.
Terdapat hadits shahih dari sahabat Abu Malik bin Said Al Asyja-i yang langsung menjawab pertanyaan anda. Abu Malik bertanya kepada ayahnya (Sa’id) tentang praktek qunut Nabi, ayahnya menjawab:
صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِي
“‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca Qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah‘” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)
dalam AL Qur’an QS. Ali Imron 128 Rasul ditegur ketika berqunut 1 bulan penuh atas peristiwa pembantaian 70 suhada, setelah itu Nabi dan sahabat2 sampai tabiin tidak melaksanakan qunut walaupun sering terjadi musibah2, dasar ini ana tidak akan berqunut jangan2 terjerumus bid’ah krn Nabi dan sahabat2 sampai tabiin tidak melaksanakan qunut setelah ini.
#Abu Ghazy
Semoga Allah merahmati anda,
Coba anda cermati tafsir pada ulama mengenai ayat ini, tidak ada yang menafsirkan bahwa ayat ini adalah larangan untuk qunut nazilah. Yang dilarang dalam ayat ini adalah mendoakan laknat bagi suatu kaum dengan berkeyakinan bahwa kaum tersebut sudah pasti tidak akan diberi hidayah, baik dalam doa qunut atau di selain doa qunut. Jadi, tidak ada kaitannya.
Pernyataan anda bahwa sejak itu tidak pernah ada qunut lagi tidak sesuai dengan fakta. Karena seperti dijelaskan di atas, Abu Hurairah Radhiallahu’anhu mengimami shalat dan ber-qunut nazilah, sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Para Khulafa Ar Rasyidin pun pernah melakukan qunut nazilah.
Assalamu’alaikum wr.wb
Saya mau tanyakan masalah yg menghantui saya. Suatu waktu saya dan rombongan sholat jama’ berjama’ah dhuhur dan ashar. saat itu teman sy datang agak terlambat jd tdk tahu niatnya yg ternyata jama’-qashar (dia tahunya jama’ biasa tdk qashar). Setelah 2 raka’at salam, teman saya melanjutkan raka’at ke 3 dan 4 kemudian salam (utk menggenapkan niat yg 4 raka’at). Selanjutnya dia sholat sendiri 4 raka’at utk ashar yg dijama’.
Sehabis sholat sy tnya teman sy kok tdk ikut imam apa sholat sendiri? Dia jawab sebenarnya dia ikut imam tapi gak tahu kalau jama’-qashar tahunya jama’ biasa tanpa qashar. Jadi dia bangkit lagi utk mengerjakan 2 raka’at sesuai niat yg 4 raka’at.
Pertanyan:
1. apakah sholat dhuhurnya sah?
2. apakah sholat asharnya juga sah?
3. bagaimana sebaiknya menyikapi situasi seperti itu?
Terimakasih sebelumnya, Assalamu’alaikum wr.wb
#nofian
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh,
Shalat teman anda sah, baik zhuhur maupun ashar. Karena :
1. Meng-qashar shalat ketika safar bukanlah kewajiban, melainkankan rukhshah (keringanan) yang sebaiknya diambil.
2. Tidak ada keharusan men-jama’ shalat dengan berjama’ah, sendirian pun boleh.
3. Antara imam dan makmum boleh berbeda niat.
Sikap teman anda sudah tepat, ia beramal sesuai sangkaan kuatnya dan tidak merubah niat di tengah shalat.
Wallahu’alam.
@al-akh Yulian Purnama
Afwan akh, ini baru ketemu riwayatnya :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
عَنْ الْقُنُوتِ فَقَالَ قَدْ كَانَ الْقُنُوتُ قُلْتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَهُ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا أَخْبَرَنِي عَنْكَ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَقَالَ كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا أُرَاهُ كَانَ بَعَثَ قَوْمًا يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ زُهَاءَ سَبْعِينَ رَجُلًا إِلَى قَوْمٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ دُونَ أُولَئِكَ وَكَانَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهْدٌ فَقَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Ziyad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Ashim berkata, “Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut.” Maka dia menjawab, “Qunut itu benar adanya.” Aku bertanya lagi, “Apakah pelaksanaannya sebelum atau sesudah rukuk?” Dia menjawab, “Sebelum rukuk.” Ashim berkata, “Ada orang yang mengabarkan kepadaku bahwa engkau mengatakan bahwa pelaksanaannya setelah rukuk?” Anas bin Malik menjawab, “Orang itu dusta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakannya setelah rukuk selama satu bulan. Hal itu Beliau lakukan karena Beliau pernah mengutus sekelompok orang (ahli Al Qur’an) yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang kepada Kaum Musyrikin selain mereka. Saat itu antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum musyrikin ada perjanjian. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan doa qunut selama satu bulan untuk berdoa atas mereka (karena telah membunuh para utusannya).” (HR Bukhari)
Bagaimana mengkompromikan riwayat2 yg menyebutkan beliau Shallallahu alaihi Wasallam berqunut sebelum ruku’ dengan berqunut setelah ruku’? Saya masih bingung dengan hal ini. Kiranya tidak keberatan untuk dibahas. Jazakallahu khoir.
#tommi
Jazaakallah khayr atas ilmunya,
Jika demikian adanya, berdasarkan pada hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: Shollu kamaa roaitumuuni usholli, seluruh cara shalat yang pernah dilakukan Nabi itu disyariatkan. Maka keduanya boleh, boleh sebelum ruku’ boleh setelah ruku’. Ini merupakan khilaf tanawwu’ (perbedaan ragam). Wallahu’alam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Disunnahkan untuk melakukan Qunut Nazilah ketika ada musibah, dan disunnah pula padanya mendoakan kaum muslimin yang sedang diperangi (musuh)” [Majmu’ Fatawa, 155/21]
Bantu saudara2 kita di Palestin dan di tempat lain yang saat ini diperangi Yuuk!
Yah minimal tiap sholat Subuh , Nabi paling sering Qunut di Sholat ini kan?
#Fahmi
Mohon cermati kembali tulisan di atas untuk memahami tata caranya. Merutinkan dan mengkhususkan di shalat shubuh itu tidak diperbolehkan. Lagipula mengapa memilih shalat shubuh, bukankah saat itu justru jama’ahnya paling sedikit jumlahnya?
assalamu’alaikum wr. wb.
bagaimana apabila saya sebagai makmum, melakukan sholat shubuh berjama’ah dengan imam yang setiap hari / selalu melakukan qunut shubuh? apakah kita harus ikut mengikuti qunut tersebut dengan mengangkat tangan ataukah saya harus diam saja berdiri?
tolong, jawabannya di kirim ke e-mail saya. terima kasih.
#Anton Jaelani
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh, sebaiknya anda tetap mengangkat tangan dan mengamini doanya. Namun yang terbaik, mencari masjid lain yang imamnya sesuai sunnah, jika memungkinkan. Lebih jelasnya simak: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/
ana cuma ingin menegaskan apakah qunut ada beberapa versi…dan manakah bacaan yang seharusnya di baca
assalamu’alaikum
pertanyaannya… ustadz :
1. Sholat shubuh dengan membaca qunut adalah bid’ah. bagaimana dengan sholat subuhnya sah atau tidak?
2. bagaimana cara memberi pengertian yang bijak tanpa menimbulkan antipati?
3. dari madzhab mana mereka ambil tentang qunut subuh ini?
4. mengapa pada sebagian orang terdapat kecendrungan melaksanakan/ mengamalkan hadits2 dha’if bahkan maudhu?
5. sedikit sekali orang yang ittiba dari pada ibtida. mohon penjelasan.
#ashiddiq
Wa’alaikumussalam,
1. Sah.
2. Nasehati dengan bahasa sopan, ilmiah, dengan akhlak mulia dan dilakukan bertahap serta perlahan
3. Sebagian Malikiyyah dan Syafi’iyyah.
4. Mayoritas karena tidak tahu, sebagian lagi karena taklid buta.
5. Itu sudah sunnatullah. Maka anda sebagai pendakwah semestinya berdakwah dengan hikmah dan penuh kesabaran.
tidak mengapa shalat di masjid yang dekat itu, bila imam qunut maka anda ikut mengangkat tangan tanpa ikut membaca doa qunut.
Terimakasih pa ustad,,saya selalu mengunjungi situs ini mohon ixin dan mohon izin screen shoot
bagaimana bila meng amin kan doa imam g quunut ?
Iya, dianjurkan mengangkat tangan dan mengaminkan.
bagaimana statusnya setiap subuh imam melakukan qunut…..dan doa yang d baca hanya Allahuma fiiman hadait…dst…..tolong penjelasan nya
Qunut yang dilakukan Nabi tdk dikhususkan stlh Shubuh.
Sent from my iPad Air
kesimpulan ustadz…..dan andaikata saya menjadi imam shalat subuh..apa yang saya lakukan?..mohon penjelasannya
Tdk membaca qunut shubuh.
Sent from my iPad Air
Assalamualaikum ustad, kalau sholat subuh imamnya baca qunut yg doanya “allohumma fiiman hadait..” apa yg harus kita lakukan? apakah kita makmum ikut angkat tangan dan meng aminkannya? Krn bingung kadang sy ga ikut angkat tangan, kadang ikut. Tolong penjelasannya pak ustad. Terimakasih. Wassalamu ‘alaikum..
Wa’alaikumussalam, yang sesuai sunnah, ikut angkat tangan.
Bolehkah dalam qunut witir mendoakan saudara kita muslimin dan muslimat?
Boleh
Assalamualaikum..
Kondisi pandemi covid, imam sholat jumat berqunut. Apakah boleh mengikutinya?
Wassalamualaikum..
Qunut yang dilakukan setelah ruku’, baik qunut witir maupun nazilah, itu sebagai pengganti i’tidal di rokaat terakhir (rokaat terakhir tidak ada i’tidalnya) atau ruku’ lalu i’tidal lalu qunut lalu sujud?
Assalamu ‘Alaikum Ustadz,
Ana tinggal di Jabodetabek dan saat ini sudah terbit fatwa MUI yg memperbolehkan shalat shaff dirapatkan, pengajian diadakan dsb, apakah masih disunnahkan melkasakan Qunut Nazilah?
Syukran
Assalamualaikum, apakah saat ini di mana covid sudah mereda apakah masih disunnahkan qunut nazilah? Syukran
Bagai mana kalau yg punya permasalahan cuma saya,, dalam rangkah didzolimi n.
Apakah gak boleh saya mendoakan kehancuran orang yg mendolimin?
Assalamualaikum ustadz ijin bertanya,
1. jika saya solat sendiri, apakah boleh qunut nazilah dengan bahasa indonesia karena spt yg disampaikan bahwa doa qunutnya menyesuaikan dengan musibah. Karena ini musibahnya pribadi sehingga doanya menyesuaikan ke kondisi saya dan kalau dibuat menggunakan bahasa arab, saya belum bisa bahasa arab.
2. Apakah boleh berdoa qunut nazilah atas musibah diri sendiri kemudian menyelipkan doa untuk saudara2 kita di palestina dalam satu rangkaian doa yang sama?
Mohon petunjuknya ustadz. Terima kasih.