Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyah (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
19 Maret 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Baca pembahasan sebelumnya: Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah (Bag. 1)

Orang-orang musyrik jahiliyah juga beribadah kepada selain Allah

Pokok permasalahannya adalah karena di samping menyembah Allah Ta’ala, orang-orang musyrik jahiliyyah juga menyembah banyak sesembahan yang lain. Di antaranya, mereka menyembah para wali dan orang-orang shalih sebagaimana yang terjadi pada kaum Nuh ‘alaihis salaam ketika mereka bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shalih di kalangan mereka seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Kaum Nuh ‘alaihis salaam menyembah kubur orang-orang shalih tersebut di samping mereka juga menyembah Allah Ta’ala. Mereka beralasan bahwa Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr adalah orang-orang shalih yang akan membantu mendekatkan diri mereka kepada Allah Ta’ala dan memberikan syafa’at untuk mereka di sisi Allah Ta’ala. [1]

Inilah kondisi orang-orang musyrik. Mereka juga menyembah para wali, orang-orang shalih, dan malaikat dengan beralasan, “Tidaklah kami menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan diri kami kepada Allah Ta’ala” atau dengan beralasan, “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah Ta’ala.” Mereka tidak mengatakan, “Mereka adalah sekutu-sekutu Allah dalam masalah rububiyyah”, akan tetapi mereka mengatakan, “Mereka adalah hamba-hamba Allah yang menjadi wasilah (perantara) ibadah kami di sisi Allah, memberikan syafa’at bagi kami, dan mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”

Mereka tidak menyebut perbuatan mereka itu sebagai kesyirikan, karena memang setan telah memperdaya mereka bahwa perbuatan tersebut bukanlah kesyirikan. Menurut bisikan setan, perbuatan mereka itu hanyalah dalam rangka tawassul (mencari perantara dalam beribadah) dan tasyaffu’ (mencari syafa’at) dengan orang-orang shalih. Padahal, yang menjadi dasar penilaian bukanlah nama atau istilah yang mereka gunakan, namun hakikat dari perbuatannya. Perbuatan mereka itu tetap dinilai syirik meskipun mereka menyebutnya sebagai tasyaffu’ dan taqarrub. Karena nama atau istilah tidaklah mengubah hakikat sesuatu. Dan Allah Ta’ala tidaklah ridha disekutukan dengan sesuatu apa pun dalam peribadatan kepada-Nya. [2]

Para ulama telah menukil adanya ijma’  (kesepakatan) kafirnya orang-orang yang menjadikan makhluk sebagai perantara ibadah dirinya kepada Allah Ta’ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

فمن جعل الملائكة والأنبياء وسائط يدعوهم ويتوكل عليهم ويسألهم جلب المنافع ودفع المضار مثل أن يسألهم غفران الذنب وهداية القلوب وتفريج الكروب وسد الفاقات فهو كافر بإجماع المسلمين

“Barangsiapa yang menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai perantara (dalam ibadah), mereka berdoa kepadanya, bertawakkal kepadanya, meminta kepada mereka untuk mendatangkan manfaat dan mencegah datangnya bahaya, misalnya meminta kepada mereka agar diampuni dosanya, mendapatkan hidayah, menghilangkan kesusahan, atau memenuhi kebutuhan, maka dia telah kafir dengan kesepakatan kaum muslimin.” [3]

Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah Alu Syaikh rahimahullah berkata ketika mengomentari ijma’ yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas,

“Itu adalah kesepakatan yang benar, dan termasuk dalam masalah agama yang dapat diketahui dengan sangat mudah. Para ulama madzhab yang empat dan yang lainnya telah menegaskan dalam masalah hukum murtad, bahwa barangsiapa yang menyekutukan Allah Ta’ala maka dia telah kafir. Maksudnya, di samping beribadah kepada Allah, dia juga beribadah kepada selain Allah dengan bentuk ibadah apa pun. Dan terdapat juga kesepakatan di dalam Al Qur’an dan As-Sunnah bahwa doa adalah ibadah. Sehingga apabila ditujukan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.” [4]

Dari pejelasan-penjelasan di atas, jelaslah bahwa yang menjadikan orang kafir Quraisy sebagai orang musyrik adalah karena mereka beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping juga beribadah kepada Allah Ta’ala. Mereka tidak mentauhidkan Allah Ta’ala dalam beribadah. Namun mereka juga mendekatkan diri kepada patung dan berhala yang merupakan perlambang orang-orang shalih. Ini merupakan penjelasan yang sangat jelas, bahwa orang musyrik pada zaman Rasulullah tidaklah jauh dari ibadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah orang-orang yang ahli ibadah dan memiliki banyak kebaikan. Sehingga di satu sisi, mereka adalah orang-orang yang terbiasa bersedekah dan berdzikir, namun di sisi yang lain mereka termasuk orang-orang musyrik karena mereka juga beribadah kepada selain Allah Ta’ala. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerangi mereka semuanya, tanpa membedakan apa sesembahan yang mereka sembah selain Allah Ta’ala. [5]

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 3

***

Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL, 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Silakan dibaca tulisan kami:

https://muslim.or.id/32731-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-03.html

[2] Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 20-21; karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.

[3] Majmu’ Fataawa, 1: 124.

[4] Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 194.

[5] Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25; karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Hukum Beatbox

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah