Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
2 Maret 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Komponen keimanan kepada Allah Ta’ala
  • Pengertian Tauhid Asma’ wa Shifat

Baca pembahasan sebelumnya: Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 1)

Komponen keimanan kepada Allah Ta’ala

Para ulama rahimahumullah menjelaskan bahwa di dalam keimanan kepada Allah Ta’ala tercakup empat masalah (komponen) berikut ini.

Pertama, beriman terhadap wujud (keberadaan) Allah Ta’ala. Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah Ta’ala, maka dia bukan seorang mukmin. Meskipun tidak mungkin kita temukan seseorang yang mengingkari keberadaan Allah Ta’ala dengan hatinya, bahkan Fir’aun sekalipun. Musa ‘alaihis salaam berkata kepada Fir’aun,

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’ [17]: 102)

Kedua, beriman terhadap keesaan Allah Ta’ala dalam masalah rububiyyah. Yaitu beriman bahwasannya Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta.

Ketiga, beriman terhadap keesaan Allah Ta’ala dalam masalah uluhiyyah. Yaitu beriman bahwasannya Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang meyakini bahwa di samping Allah Ta’ala ada sesembahan lain yang berhak untuk disembah, maka dia tidak beriman kepada Allah Ta’ala.

Keempat, beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa menyelewengkan maknanya, tanpa mengingkarinya, tanpa mem-visualisasi-kannya, dan tanpa menyerupakannya dengan para makhluk-Nya. Barangsiapa yang menyelewengkan ayat-ayat atau hadits-hadits tentang sifat Allah Ta’ala, maka dia tidaklah beriman kepada Allah Ta’ala. [1]

Kesimpulannya, di antara tauhid yang dituntut bagi setiap hamba adalah tauhid asma’ wa shifat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

”Di dalam keimanan kepada Allah Ta’ala tercakup empat masalah: beriman terhadap wujud-Nya, rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, serta nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat). Jika seseorang tidak beriman kepada empat masalah ini, maka keimanannya kepada Allah tidak sempurna. Dan keimanan kepada Allah mencakup empat hal ini semuanya. Barangsiapa mengingkari wujud-Nya Allah, maka dia bukan seorang mukmin. Barangsiapa mengingkari rububiyyah Allah –meskipun dalam sebagian makhluk-Nya saja-, maka dia bukan seorang mukmin. Barangsiapa mengingkari uluhiyyah Allah, maka dia bukan seorang mukmin. Dan barangsiapa mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka dia bukan seorang mukmin.” [2]

Pengertian Tauhid Asma’ wa Shifat

Tauhid asma’ wa shifat mengandung pengertian beriman kepada setiap nama (al-asmaa’) dan sifat (ash-shifaat) yang dengannya Allah Ta’ala menamai dan mensifati diri-Nya. Dan juga beriman bahwasannya tidak ada yang menandingi-Nya dalam nama dan sifat tersebut. Mensucikan-Nya dari segala sifat yang tercela, karena Allah Ta’ala benar-benar Maha Esa dengan segala sifat kebesaran dan kesempurnaan. Allah Ta’ala Maha suci dari segala sifat kekurangan dan persamaan dengan makhluk-Nya.

Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menetapkan bagi Allah Ta’ala seluruh sifat yang sampai kepadanya, yaitu sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala bagi diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya atau melalui lisan orang yang paling mengenal Allah Ta’ala, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. [3]

Penetapan sifat-sifat tersebut harus sesuai dengan kebesaran Allah Ta’ala, karena tidak ada satu pun yang menyamai dan menandingi-Nya. Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dalam firman-Nya,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Maha melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman,

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam [19]: 65)

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 3

***

Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 43-44.

[2] Syarh Al-Qowaa’idul Mutsla, hal. 18-19.

[3] Lihat Sittu Duror min Ushuuli Ahlil Atsar, hal. 28.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Haqq”

oleh Muhammad Insan Fathin
27 September 2026
0

Allah Ta'ala menamai Diri-Nya dengan Al-Haqq di dalam Al-Qur'an sebanyak sepuluh kali. Nama ini bukan sekadar gelar, melainkan penegasan bahwa...

Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

oleh Mochammad Wibisono
9 September 2026
0

Menempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri. Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat...

Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia

oleh Mochammad Wibisono
6 September 2026
0

Kesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata. Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik...

Artikel Selanjutnya

Kedudukan Mempelajari Ilmu Duniawi (Sains) dalam Timbangan Syariat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah