Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
15 Februari 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Mencintai Allah Ta’ala adalah syarat keimanan
  • Derajat cintamu, sampai di mana?

Baca pembahasan sebelumnya: Karena Cinta, Aku Rindu Ingin Melihat Wajah-Mu (Bag. 1)

Mencintai Allah Ta’ala adalah syarat keimanan

Mencintai Allah Ta’ala termasuk salah satu syarat iman. Cinta inilah yang hendaknya menjadi tujuan kebahagiaan manusia. Seorang mukmin akan menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang paling dicintai daripada yang lain, termasuk dirinya sendiri. Sehingga apabila dia disuruh memilih antara kekafiran atau dilemparkan ke dalam api, tentu dia akan memilih dilemparkan ke dalam api.

Mencintai Allah Ta’ala akan menumbuhkan pengagungan, penghambaan dan ketundukan kepada-Nya. Oleh karena itu, cinta dalam bentuk seperti ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

”Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Cinta orang-orang musyrik adalah cinta yang mendua, karena di samping mencintai Allah, mereka juga mencintai sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala. Adapun orang-orang yang bertauhid, cinta mereka adalah cinta yang murni untuk Allah Ta’ala, bukan cinta yang terbagi.

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, semua itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah [9]: 24)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa mencintai Allah Ta’ala dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya adalah kewajiban seorang hamba. Tidak boleh kecintaan kepada yang lain melebihi cinta yang wajib tersebut.

Dengan cinta seperti itulah seseorang akan mendapatkan manisnya iman. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ، بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ، مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Yaitu, barangsiapa yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya. Barangsiapa yang mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah. Barangsiapa yang enggan kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia enggan untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 16, 21 dan 6941)

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,

وَاللهِ، لَا تَبْلُغُوا ذِرْوَةَ هَذَا الْأَمْرِ حَتَّى لَا يَكُونُ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَنْ أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Demi Allah, tidaklah kalian akan mencapai puncak perkara ini, sampai tidak ada yang lebih kalian cintai dibandingkan Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang mencintai Al-Qur’an, sungguh dia telah mencintai Allah Ta’ala.” [1]

Derajat cintamu, sampai di mana?

Terdapat dua derajat (tingkatan) seorang hamba dalam mencintai Allah Ta’ala.

Tingkatan pertama, adalah cinta yang wajib, yaitu cinta dalam derajat yang paling minimal. Dalam tingkatan ini, seorang hamba mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan yang menumbuhkan rasa cinta terhadap kewajiban syariat yang Allah Ta’ala bebankan kepadanya dan menumbuhkan rasa benci terhadap segala sesuatu yang Allah Ta’ala haramkan. Dia juga wajib mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendahulukan kecintaan tersebut dibandingkan kecintaan terhadap diri sendiri dan keluarganya. Demikian juga, dia ridha terhadap agamanya dan menerimanya dengan penuh kepasrahan dan ketundukan.

Cinta dalam kadar semacam ini hukumnya wajib. Sehingga barangsiapa yang kadar kecintaan yang wajib ini kurang (tidak sempurna), maka berkuranglah kadar keimanannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Ringkasnya, kadar kecintaan yang wajib ini menuntut seorang hamba untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan berbagai macam larangan (hal yang haram). Inilah derajat hamba Allah dari kalangan al-muqtashidin atau ash-haabul yamiin.

Tingkatan kedua, kecintaan seorang hamba kepada Allah tersebut mendorongnya untuk melaksanakan berbagai macam amal sunnah dan membenci apa yang Allah Ta’ala benci berupa berbagai hal yang hukumnya makruh. Dia juga ridha terhadap takdir Allah yang dia terima berupa berbagai macam musibah. Inilah derajat hamba dan kekasih Allah Ta’ala dari kalangan as-saabiqiin al-muqarrabiin.

Marilah kita meneliti kondisi diri kita masing-masing, sampai di manakah derajat kecintaan kita kepada Allah Ta’ala?

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 3

***

Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 16 Jumadil awwal 1439/ 3 Februari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Syu’abul Imaan, 1: 265; karya Al-Baihaqi.

[2] Di seri ke dua ini, penulis banyak mengambil faidah dari kitab Qa’idatu fil Mahabbah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (cet. Daar Ibnu Hazm, tahun 1434).

ShareTweetPin1
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 2)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
2 Juni 2026
0

Kurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena Allah Para ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal...

Artikel Selanjutnya

10 Terapi Mabuk Cinta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah