Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
25 November 2017
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • “Buktinya saya sembuh”
  • Inilah cara berfikir jahiliyyah

“Buktinya saya sembuh”

Di antara fenomena kaum muslimin yang kita lihat sekarang ini adalah anggapan mereka bahwa sesuatu itu dianggap benar (sesuai dengan syariat) jika hal tersebut berhasil mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan. Sebagian masyarakat kita menempuh metode-metode syirik untuk sembuh dari penyakit. Di antaranya dengan mendatangi dukun, paranormal, atau mendatangi makam wali untuk meminta kesembuhan kepada mereka. Atau dengan memakai jimat tertentu di bagian-bagian tubuh yang sakit. Hal ini juga tidak lepas dari budaya nenek moyang kita di masa lalu bahwa benda-benda di alam seperti batu, pohon dan sejenisnya, bisa jadi memiliki “kekuatan ajaib” yang dapat menentukan nasib manusia, termasuk masalah sembuh tidaknya dari penyakit.

Lalu ketika kita sampaikan bahwa hal itu diharamkan karena termasuk syirik, serta merta mereka langsung membantahnya dan tetap keras kepala dengan mengatakan, ”Nyatanya, banyak kok yang sembuh!” Demikianlah, mereka membantah bukti-bukti kebenaran dengan “bukti” tercapainya tujuan yang mereka inginkan.

Inilah di antara penyakit masyarakat kita saat ini. Mereka seolah tidak peduli lagi, apakah perbuatan mereka itu sesuai dengan syariat atau tidak, yang penting bagi mereka adalah bukti nyata berupa tercapainya tujuan kesembuhan yang mereka harapkan. Tidak perlu lagi mempedulikan mana yang halal, mana yang haram, mana yang tauhid, mana yang syirik, yang penting tindakan mereka itu cepat mendatangkan tujuan yang mereka cita-citakan.

Mereka seolah-olah tidak peduli lagi, apakah tindakannya itu menyebabkan aqidahnya “menjadi sakit” atau tidak, yang penting bagi mereka adalah badan mereka menjadi lebih sehat, dan penyakit jasad yang mereka derita menjadi hilang seketika. Mereka lebih memilih hati dan akalnya yang menjadi buta sehingga tidak bisa menerima “indahnya” dalil-dalil syariat, daripada matanya yang menjadi buta sehingga tidak bisa lagi melihat keindahan duniawi dan segala kesenangan di dalamnya.

Oleh karena itulah, mereka tidak peduli lagi dengan dalil, tidak peduli lagi dengan “Allah Ta’ala berfirman … ”, tidak peduli lagi dengan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda … “, apalagi dengan “Ulama fulan berkata demikian dan demikian …”. Mereka juga lebih memilih keselamatan di dunia dari berbagai penyakit dan dari kemiskinan daripada keselamatan di akhirat dengan terhindar dari adzab-Nya yang sangat pedih.

Inilah cara berfikir jahiliyyah

Marilah kita bandingkan bantahan itu dengan sikap orang-orang jahiliyyah dahulu, ketika mereka mengukur kebenaran dan kebatilan dengan banyaknya pengikut dan kondisi para pengikutnya, bukan dengan melihat dalil syariat. Menurut mereka, apabila perbuatan itu diikuti orang banyak, maka itulah kebenaran. Sedangkan apabila pengikutnya sedikit, maka itulah kebatilan. Inilah salah satu ukuran yang mereka gunakan ketika melihat kebenaran. [1]

Padahal, Allah Ta’ala justru menyatakan bahwa mayoritas manusia itu tidak mengetahui dan justru akan menyesatkan kita dari jalan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidaklah mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 187)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6]: 116)

Begitu pula, apabila ada suatu perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang kaya berkecukupan, para bangsawan, dan para pembesar kerajaan, maka itulah kebenaran. Namun, apabila yang melakukan perbuatan itu adalah orang-orang rendahan, orang-orang miskin, orang-orang hina, maka itulah kebatilan. Menurut mereka, jika mereka berada di atas kebenaran, tidak mungkin menjadi orang lemah dan miskin. [2]

Lihatlah, bagaimana kaum Nuh ‘alaihis salaam mendustakan Nabinya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,

قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

“Mereka berkata,’Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?’” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 111)

Mereka juga mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,

وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud [11]: 27)

Inilah di antara cara berfikir masyarakat jahiliyyah. Mereka menggunakan ukuran-ukuran duniawi untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau batil. Ketika para rasul berdakwah mengajak mereka kepada kebenaran dengan bukti-bukti dan hujjah-hujjah dari Allah Ta’ala, mereka justru berpaling dengan berpatokan pada ukuran-ukuran duniawi tersebut.

Lalu bandingkanlah dengan keadaan masyarakat kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi yang tidak jauh berbeda. Apabila kita sampaikan kepada mereka tentang syiriknya berobat ke dukun atau paranormal, berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merta mereka membantahnya dengan ucapan-ucapan seperti itu. Lihatlah, bagaimana mereka menggunakan ukuran duniawi (berupa kesembuhan dari penyakit) untuk melegalkan dan menghalalkan perbuatan syirik yang mereka lakukan. Menurut mereka, sembuhnya penyakit mereka setelah berobat ke dukun, merupakan bukti bahwa tindakan mereka itulah kebenaran, itulah tauhid, sedangkan apa yang kita sampaikan di sini adalah tidak benar dan dusta semata.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 1 Muharram 1439/21 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 60.

[2] Lihat Syarh Masail Jahiliyyah, hal. 72.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 2)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
2 Juni 2026
0

Kurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena Allah Para ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal...

Artikel Selanjutnya

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah